
"Aluna Bunda sudah siapkan kamar untukmu nak!" ucap Diana memecahkan keheningan diruang makan.
"Tidak Aluna akan tidur dikamarku!" tolak Raka mentah-mentah
Pletak "Aw Bunda," keluh Raka yang mendapatkan pukulan dengan centong nasi di kepalanya.
"Dasar anak nakal... menikah dulu baru tidur satu kamar."
"Yasudah biar aku yang tidur dikamar tamu," sahut Raka dengan senyum liciknya.
"Halah kamu pikir Bunda ini bodoh bisa dibohongi oleh kamu.. kamarmu itu kan pakai sidik jarimu.. bisa saja malam nanti kamu menyusup seperti maling," sindir Diana yang tidak percaya dengan akal-akalan anaknya.
"Tida bisa nanti Aluna kabur.. Aluna akan tetap tidur dikamarku," kekeh Raka.
"Apa kau meragukan keamanan di rumahku ini Raka," kali ini Hanung yang angkat bicara, mansion yang Hanung dan keluarganya tempati sangatlah ketat penjaga yang menjaga dua puluh empat jam, untuk mewanti-wanti saingan bisnisnya berbuat yang tidak-tidak pada keluarga tercintanya.
"Bukan seperti itu Yah, maksud Rak.."
"Okey berarti kau sudah setuju biarkan Aluna tidur dikamar tamu,, Ayah yang jamin dia tidak akan bisa pergi tanpa izin dari kita," potong Hanung cepat.
Bagaimanapun Hanung dan Diana tidak akan membiarkan hal yang tidak-tidak terjadi dirumahnya, berdua dengan seorang gadis yang dicintai dalam satu ruangan tanpa ikatan pernikahan, bisa saja setan akan menggoda habis-habisan Raka dan membuat Raka melakukan perzinahan dirumahnya.
"Yah.." Rengek Raka masih tidak terima dengan keputusan yang Hanung buat.
"Apa mau bantah Bunda dan Ayah sana pergi dari rumah ini....biar Aluna disini.. biasanya kau kan pulang ke Apartemenmu itu.. sana pergilah," usir Diana.
"Bunda usir Raka," tanya Raka dengan tidak percaya.
"Iya.. pusing Bunda punya anak kayak kamu.. Bunda mau angkat Aluna aja jadi anak.. dia jauh lebih manis dari kamu."
"Bunda.." Raka tidak jadi melanjutkan perkataannya saat melihat Aluna tersenyum dengan manis.
Bibir Raka ikut terangkat, ia juga ikut bahagia melihat Aluna bisa tersenyum lagi.
****
Tok tok tok Aluna baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya diketuk.
"Siapa," tanya Aluna sebelum membuka pintu kamarnya.
"Ck aku Raka," suara berat Raka yang terdengar kesal, membuat Aluna terkekeh, dia pasti sebal karena tidak bisa masuk kedalam kamarnya sesuka hati seperti kemarin.
__ADS_1
"Ada apa," tanya Aluna malas setelah pintu terbuka setengah.
"Siap-siap kita akan pergi."
"Kemana," tanya Aluna dengan dahi mengkerut.
"Butik,, mencoba gaun pengantin," ucap Raka dengan menyadarkan sebelah bahunya pada pintu.
"Aku tidak mau.. aku tidak mau menikah dengan mu," tolak Aluna, hinaan sisil waktu itu masih melekat didalam ingatan Aluna, Aluna tidak mau orang lain juga mengatakan hal yang sama kalau dia menikah dengan Raka hanya untuk memanfaatkan harta yang Raka punya.
"Apa karena sisil yang datang marah-marah kerumahmu?"
"Ehhh kenapa dia bisa tau, diingat-ingat aku tidak menceritakan kejadian itu padanya," pikir Aluna yang merasa aneh Raka tau tentang kejadian Sisil yang melabrak dirinya.
"Dari mana kau tahu," cicit Aluna pelan.
"Tidak perduli aku tahu dari mana, yang jelas jangan pedulikan wanita gila itu,, aku tidak suka dia.. aku hanya suka dirimu," ujar Raka dengan mengedipkan sebelah mata menggoda Aluna.
Plakk, "Masih pagi gak usah gombal," balas Aluna setelah memberikan pukulan manjanya pada lengan Raka.
Semalam setelah Diana mengantar Aluna kekamar yang telah disiapkan Diana, Hanung menahan Raka dan mengatakan tentang Sisil, Raka tercengang setelah mendengar cerita Ayahnya, berani-beraninya gadis itu membuat Aluna tidak jadi menikah dengannya.
Tidak ada satupun yang boleh menyakiti Aluna, dia akan berurusan dengan Raka Argantara jika itu terjadi.
"Aku tunggu dibawah.. sepuluh menit.. ahh tidak lima menit dari sekarang kau harus sudah menemuiku."
"Apa kau pikir waktu segitu cukup.. wanita butuh persiapan untuk pergi."
"Waktumu tinggal 4 menit 49 detik," ucap Raka dengan melihat jam ditangannya.
"Kau sudah tidak waras."
Brakkk setelah mengucapkan kata itu Aluna menutup dengan keras pintu kamarnya tidak peduli apakah itu akan rusak.
"Dengar jika kau tidak turun dengan waktu segitu.."
"Jangan berani mengancamku Raka atau kau pergi saja sendiri.. coba gaun itu sendiri," teriak Aluna memotong perkataan Raka.
"Bukankah aku bilang lima menit, ini apa kau membuatku menungguh setengah jam disini," kesal Raka melihat Aluna yang baru turun.
"Kan aku sudah bilang wanita butuh persiapan kalau mau pergi," sahut Aluna santai, Aluna tersenyum menang dalam hati, dia sengaja menonton tv dulu, membiarkan Raka menunggunya dibawah.
__ADS_1
"Dia pikir aku tidak bisa mengerjainya hehehe," kekeh Aluna dalam hati yang tersenyum mengejek.
"Sudah jangan marah-marah ayo berangkat," sambung Aluna berjalan mendahului Raka.
Huuuhh menarak nafas kasar Raka memilih mengalah, padahal dia sudah kesal setengah mati sekarang, Raka sangat tidak suka menunggu, jika ini dengan kliennya sudah dipastikan Raka akan membatalkan kontrak mereka, bagi Raka disiplin itu hal utama yang harus dimiliki oleh manusia.
"Raka bagaimana keadaan papah," tanya Aluna untuk memecahkan keheningan dimobil.
"Baik-baik saja..," jawab Raka singkat.
"Kau tidak menanyakan mamah mu?" tanya Raka dengan hati-hati.
Lama Aluna terdiam tidak menyahut perkataan Raka, sesekali Raka melirik Aluna yang membuang wajahnya kesamping.
"Tidak aku tidak perduli padanya.. toh dia sudah hidup bahagia dengan keluarganya yang kaya itu," ketus Aluna.
"Dia meninggalkan laki-laki itu.. kau tau kemarin saat pergi menemuimu dia meninggalkan kopernya di pos satpam rumahku,, dia sekarang tidak punya tempat tinggal lagi... dia.."
"Cukup Raka aku tidak perduli dengan dia.. bagiku mamahku sudah mati... tidak punya tempat tinggal apa perduliku.. dia saja tidak perduli aku dulu hidup seperti apa."
"Aluna dulu mamahmu bilang.."
"Jika kamu masih membicarakannya turunkan aku disini, aku sudah bilang mamahku sudah mati" potong Aluna yang jengah mendengar Raka seperti membela mamahnya.
Setelah itu hanya ada keheningan disana, Aluna menggigit bibir bawahnya berusaha menyingkirkan pikiran tentang mamahnya, jauh dilubuk hatinya dia juga cemas mamahnya ada dimana sekarang.. tapi semua itu tertutup dengan rasa kecewanya.
Andai dulu mamahnya berbalik setidaknya membantu membawa papahnya kerumah sakit mungkin rasa kecewa Aluna tidak sedalam ini.
Teriakan mengiba Aluna.. bagaimana dengan angkuhnya mamahnya tetap melangkahkan kaki,, tanpa mau berbalik kebelakang,, berputar dikepala Aluna.
"Dia tidak akan mau hidup susah sebentar lagi juga dia akan kembali bersama keluarganya yang kaya itu," ucap Aluna dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
Melihat Aluna yang hanya diam, Raka menyentuh tangan Aluna, "Maaf.. aku tidak akan memaksamu lagi untuk memafkannya,, tapi aku sangat yakin kau gadis pemaaf dirimu hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang mamahmu torehkan.. tapi percayalah aku melihat sendiri betapa serius mamahmu ingin mendapat maaf darimu."
****
Hayyy hayy author up lagi... terima kasih ya sudah setia membaca dan memberikan like dan komennya.
Ingat tinggalkan jejak dengan like, komen dan berikan rating, jika memang berkenan memberikan tips dan vote author sangat berterima kasih...
salam hangat dari Raka dan Aluna☺️☺️☺️
__ADS_1