
Tubuh ku menegang setelah melihat wajah itu secara langsung, Dia Raka, laki-laki yang dulu menjadi prioritas hidup ku, laki-laki yang ku harap dapat membalas rasa cinta ku.
Kenapa.. kenapa harus Aku bertemu dengan Raka saat keadaan ku menyedihkan seperti ini, Dia tetap tampan dengan wajah yang tampak tegas dan berwibawa berbeda sekali dari terakhir kali Aku bertemu dengan nya.
Aku terus menundukkan kepala ku, berharap ia tak akan mengenali diri ku, meski aku tau walaupun aku bertemu dengan nya ia juga tak akan perduli pada ku, tapi setidak nya aku tak mau terlihat menyedihkan di mata nya.
Hingga acara penyambutan selesai aku tak berani lagi menegakkan kepala, bahkan Nola yang mengajak bicara saja tak ku ladeni, Aku takut menarik perhatian dan akhirnya terlihat oleh nya, untung lah berhasil, aku sangat bersyukur ia tak melihat ku. kok
"Lun, kamu sakit.. " tanya Nola sambil memeriksa suhu di kening ku.
"Enggk kok,, Aku gak papa" ucap ku sambil menyingkirkan tangan Nola dari kening ku.
"Tapi muka mu pucet gitu.."
"izin aja gih, balik aja" saran Nola.
"Aku gak papa.. beneran deh" tolak ku lagi.
"Tim pemasaran siapin perwakilan untuk rapat dengan CEO yang baru" ucap mba Asa yang baru tiba dari luar.
Aku hanya diam, berdo'a bukan Aku yang dikirimkan seperti biasanya.
"Aluna... Aluna hei.." mba Asa melambai-lambaikan tangan didepan wajah ku.
"Ehhh iya mba.. gimana" ucap ku yang langsung tersadar dari lamunan.
"Kamu gak denger saya ngomong.."
Aku menggeleng pelan "ck kamu siap-siap Aluna 15 menit lagi harus sudah berada diruang rapat.
"Tapi mba.." jawab ku cepat.
"Aku lagi gak enak badan" lanjut ku lagi.
Mba Asa heran mendengar nya, biasanya Aku pasti akan semangat berangkat.
__ADS_1
"Aduh Lun.. gak bisa dipaksain apa.. divisi ini ngandelin kamu lo buat laporan ke CEO kita, kan kamu yang paham konsep nya" ucap mba Asa memaksa ku untuk ikut.
"Mba Asa ini gimana.. lihat tuh muka nya Aluna pucet masak di paksa ikut rapat sih" protes Nola di samping ku.
"Terus gimana ini.. siapa orang yang bisa gantiin kamu" tanya mba Asa yang sudah panik.
"Gini aja mba, ini catatan poin-poin penting yang bakalan di sampaikan di rapat udah Aku catat jadi ntar mba Asa tinggal baca dari tulisan ini" usul ku sambil menyodor kan note yang biasa ku bawa.
"Yaudah deh, gini aja gak papa.. kamu kalau mau pulang, pulang aja nanti Aku yang izinin sama ketua divisi" ucap mba Asa pada ku.
"Gak usah mba kalau cuman duduk ngerjain disini Aku masih sanggup" tolak ku.
"Okey deh.. aduh deg deg kan Aku ini,, kamu gak kompromi dulu sih sama sakit nya.. biasanya kan kamu yang laporan Lun.. kalau Aku salah ngomong gimana" keluh mba Asa sambil membaca catatan yang Aku berikan.
"Ya gimana mba nama nya sakit.." balas ku.
"Pasti bisa mba.. semangat" sambung ku sambil mengepal kan tangan memberi kan sangat.
Huuuuh akhirnya hari ini Aku bisa terselamatkan tapi bagaimana untuk besok-besok nya lagi tak mungkin aku beralasan sakit terus.
"Lun beneran gak mau pulang.. kepala mu sakit ya sampai di pijat gitu" tanya Nola khawatir.
Aku tersenyum lemah, maaf ya La aku belum bisa cerita, kalau pusing ku ini sebenar nya bukan karena aku sakit tapi memikirkan bagaimana bersembunyi dari CEO kita yang baru.
"Enggk La.. gak papa kok" kata ku berusaha meyakinkan nya.
"Yaudah.. kalau kamu gak mau pulang.. tapi janji ya kalau terasa sakit banget bilang sama Aku" balas nya.
Aku mengangguk "iya.. aku pasti bilang"
"Aku ke pantri dulu buatin kamu teh anget.. siapa tau abis minum jadi mendingan" ucap nya dan langsung pergi meninggal kan ku.
Aku penasaran bagaimana reaksi Raka jika tau aku bekerja di perusahaan nya, kaget, kesal atau bagaimana.
Apa dia akan berpikir aku mengikutinya sampai kesini agar bisa bersama dengan nya, seperti dulu.
__ADS_1
Rasa nya hidup ku ini sangat lucu, aku tak tahu bahwa ego ku ini masih begitu besar, hingga Aku tak rela terlihat menyedihkan oleh orang-orang masa lalu ku.
Bahkan sahabat ku saja sampai sekarang Aku tak tahu apa kabar nya, Aku tahu keysa dan bella berteman dengan ku tulus tampa memandang bahwa dulu Aku anak orang kaya.
Tapi setelah Aku kehilangan semua harta, rasa nya Aku tak ingin membuat mereka khawatir, Aku yakin dulu jika tahu Aku dalam keadaan susah mereka akan siap membantu ku dengan uang yang mereka miliki.
Tapi rasanya Aku enggan meminta bantuan keysa dan bella, ahhh apa kabar nya mereka berdua, bertemu dengan Raka mengingatkan Aku dengan dengan mereka, tiba-tiba Aku merasakan rindu sekali pada ke centilan keysa dan kepolosan bella.
Sekarang mereka pasti sudah menjadi orang sukses, apa mereka masih mengingat ku ya?.
Aku tersenyum sambil memejam kan mata ku mengingat masa-masa ku bersama keysa dan bella, mengingat bagaimana gigih nya Aku mengejar Raka, semuanya berputar di kepala ku.
Perlahan ku buka mata saat ada yang menepuk-nepuk pipi ku "Lun kamu beneran sehat kan.. masih sadar kan.. masih inget Aku siapa kan" ucap Nola panik.
Aku heran ada apa dengan Nola kenapa panik seperti itu "Aku gak papa La.. tadi kan udah bilang cuman pusing aja" ucap ku.
"Huuuuhh syukur lah.. kamu buat Aku jantungan aja.. senyum sendiri sambil mata mejem.. Aku pikir kamu kesurupan" sahut nya.
"Astaufirullah Nola ihh.. ngomong nya kok gitu" kata ku sambil memukul pelan lengan nya.
"Ya salah siapa senyum sendiri" kilah nya.
"Udah nih minum dulu teh nya mumpung masih anget" sambung nya sambil memberikan ku secangkir teh hangat.
"Uhh baik banget sih.. makasih sayang ku" kata ku sambil memasang ekspresi lucu.
"Udah gak usah ngelawak dulu.. energi nya simpen dulu biar cepet sembuh" omel nya pada ku.
"Ha ha ha ha.. emang bisa gitu ya" ucap ku tertawa menanggapi perkataan Nola.
"Iya bisa dong kalau ngelawak kan butuh berpikir ngabisin energi.. nah kalau energi nya habis sakit nya gak bakal sembuh" jelas nya pada ku dengan berkacak pinggang.
.
"Iya.. iya deh bu dokter Nola" kata ku menggoda nya.
__ADS_1
Pikiran ku sedikit teralih kan dari Raka biarlah apa yang akan terjadi selanjut nya, ku serahkan saja semuanya pada Tuhan, tapi sebisa mungkin Aku akan menghindar agar tak bertemu dengan nya.