
Dinda sejenak mematung akibat pertanyaan itu terlebih lagi saat ini ia bertatapan langsung dengan putrinya itu
" ayahmu meninggal akibat kecelakaan saat usia mu belum genap " jawab dokter Andi yang berada di sebelah Dinda
" Benarkah " tanya Re dengan masih terus menatap Dinda karena ia mengira ayah nya orang yang datang bersama Dinda waktu itu
" i..iya nak , ayah mu sudah tiada" jawab Dinda dengan nada bergetar dan mata berkaca kaca
prasangka Re melihat Dinda seperti sangat terpukul dengan kenyataan itu dan terlihat rapuh , padahal kenyataan nya adalah Dinda merasa Sesak dan merasa bertambah bersalah karena telah membohongi anak nya
Hening sesaat ...
Tidak jauh dari ruang tamu sedari tadi Mina menguping pembicaraan mereka dan di sisi lain terlihat semua pengurus panti itu juga ikut mengintip . mereka juga ingin tau apa yang akan terjadi
beberapa dari mereka ada yang ikut tersentuh dengan kisah yang ada di ruangan itu dan tentu saja kesedihan mereka akan bertambah setelah nanti anak kesayangan mereka akan pergi dari panti itu.
Re mengalihkan pandangan nya kepada sang ibu terlihat sang ibu sedari tadi tak kuasa menahan kesedihan nya air matanya tidak dapat ia bendung dan terus mengalir
Re tak bergerak dari tempat duduk nya tatapan matanya yang biasa dingin dan terkesan tanpa ekspresi kini berubah menjadi sendu dan terus memandangi ibu nya yang duduk di sebelah nya
" ibu " dengan nada lirih nya
sang ibu menoleh dan menghadap kearah Re dengan berderai air mata
" apa ...aku boleh pergi"
sang ibu langsung memeluk putri nya dengan erat dan Re pun akhirnya ikut menangis
adegan itu memang terlihat memilukan ditambah suara Isak tangis semakin menambah suasana menjadi menyedihkan
" tentu saja kau boleh pergi nak , ibu mana yang tidak mengizinkan anak nya untuk meraih kebahagiaan nya" melepas pelukan mereka
" ibu terimakasih selama ini sudah merawat ku dan menyayangi ku " sudah berhenti menangis
" kau adalah hadiah dari Tuhan untuk kami dan ibu bersyukur dapat kesempatan merawat mu nak"
mereka saling tersenyum di tengah kesedihan itu
" emmmm sepertinya masalah ini sudah terselesaikan dan saya ingin permisi undur diri banyak pasien yang harus saya tangani mari Bu , nyonya" menyalami satu persatu
" terima kasih dokter atas bantuan nya selama ini " ucap Dinda dengan tulus
" itu sudah menjadi tugas saya nyonya , mari saya permisi " melangkah ke luar dan hilang dari pandangan mereka.
kini tinggal lah mereka ber 3 di ruangan itu
suasana menjadi canggung setelah kepergian dokter Andi
ibu panti memulai percakapan
" kapan nak Dinda akan membawa Re "
" hari ini juga saya akan membawa nya pulang Bu " tersenyum dan melirik ke arah Re
"kalau begitu saya tinggal dulu ya untuk menyiapkan barang Re"
" ah iya Bu saya akan ikut membantu"
" tidak usah nak kalian mengobrol lah disini"
ibu panti segera meninggalkan mereka
__ADS_1
kecanggungan kembali terjadi
Dinda memulai percakapan
" kau tumbuh dengan baik disini dan mereka sangat menyayangimu ya nak" Dinda mulai mengajak Re bicara dan mencoba mengakrab kan diri tak lupa dengan senyuman nya yang memperlihat kan lesung pipi nya
" tentu saja" jawab Re singkat
Dinda terus mengajak nya bicara
" emmm kau sudah masuk sekolah"
" iya"
" kelas berapa nak" tetap dengan senyum nya
lagi lagi Re melihat lesung pipi itu
"2"
Dinda tidak habis pikir mengapa sikap anak nya begitu dingin bahkan untuk menjawab pertanyaan pun sangat pelit kata kata
jika melihat anak anak seumuran Re pada umumnya akan sangat cerewet bicara jika di tanya, namun anak nya ini sungguh berbeda
namun Dinda terus mencoba mengajak anak nya itu untuk mengobrol
" nak mulai sekarang bisakah kau memanggilku ibu seperti kau memanggil ibu panti disini" bertanya dengan penuh harap
" tidak" jawab nya dengan dingin
Dinda merasa kecewa dan sedih
" kenapa nak, apakah kau tidak ingin punya ibu seperti ku " mata mulai berkaca kaca
" aku sudah mempunyai ibu dan tidak akan memanggil mu ibu juga , tapi akan ku panggil mama"
Dinda begitu senang dan kembali tersenyum sumringah mendengar jawaban dari anak nya ini dan juga kesenangan nya bertambah setelah mendengar kalimat yang di ucapkan cukup panjang kali ini.
" terima kasih nak, apapun panggilan yang kau berikan mama akan setuju" senyum lagi
ibu panti pun datang dengan membawa 1 buah tas jinjing yang khusus untuk membuat pakaian karena pakaian Re memang tidak banyak jadi hanya perlu 1 tas saja.
semua penghuni panti itu berkumpul di sana
Re berpamitan dengan para pengurus disana
" bibi club Re pamit" mendekat ke arah mereka dan memeluk secara bersamaan
Re sering memanggil para pengasuh dengan sebutan bibi club , mereka terdiri dari 3 orang yang umur nya tidak jauh beda dengan ibu panti mereka juga bergantian mengurus Re sedari kecil bahkan terkadang berebut untuk mengurus Re semasa bayi.
suasana haru kembali terjadi mereka begitu sedih karena baby kesayangan mereka akan pergi
" bibi club , terima kasih karena sudah merawat ku maaf telah merepotkan
" baby ku yang cantik , kau tidak pernah merepotkan kami" pungkas salah satu dari mereka dan di angguki oleh yang lain
Re beralih ke ibu nya ia hanya memeluk ibu nya dengan erat tanpa berkata .
setelah memeluk ibunya ia mengalihkan pandangan nya kepada Mina kakak nya yang pasti akan paling senang jika ia pergi dari sana
perlahan ia mendekati sang kakak yang berada cukup jauh dari kerumunan orang disana . sekarang Re tepat berada di dekat sang kakak yang sedari tadi hanya menatap ke arah lain .
__ADS_1
" aku pergi"
"....." diam saja
" sekarang kau pasti sangat senang "
"...." tetap diam
" kak Mina"
" apa" akhirnya ia menoleh
" kau harus menjaga ibu "
" tentu saja aku akan menjaganya dia ibuku"
" kau jangan malas membantunya"
" sejak kapan aku malas membantunya" kesal Mina
" sejak dulu kau malas membantu ibu" jawab Re dengan santai nya
Mina selalu di buat kesal jika berbicara dengan adiknya ini
" itu semua gara gara kau " memalingkan wajah nya
" iya , dan sekarang aku akan pergi " lirih Re
Mina sedikit melirik Re
" Bagus lah "
" kak aku..aku pergi"
dan akhirnya Mina memeluk Re sejenak dan berlalu pergi menuju kamarnya
Re merasa senang dengan pelukan kakanya yang sebentar itu
mereka yang ada di sana sedikit terhibur dengan perdebatan mereka dan juga merasa heran dengan sikap kedua kakak beradik itu
Re membalikan tubuhnya menghadap teman teman sebaya nya yang juga ada di sana walaupun mereka tidak terlalu akrab tapi tetap saja ia harus berpamitan
Re memperhatikan mereka satu persatu dan untuk pertama kalinya Re menampilkan senyuman di bibir nya . dan tentu saja lesung pipi nya tercetak dengan indah disana
mereka yang melihat begitu takjub dan tak menyangka dengan apa yang mereka lihat pasal nya selama ini Re tidak pernah tersenyum dan ternyata senyum nya begitu indah di pandang
.
.
.
.
.
.
.
***Bersambung...
__ADS_1
RE²***