Realita Hidup

Realita Hidup
25


__ADS_3

setelah masuk ke kamar itu Re tercengang dengan apa yang dilihat nya, kamar itu penuh dengan boneka serta desain kamar yang berwarna pink bercampur putih ditambah tirai dengan warna senada dengan aksen kamar terkesan peminim dan anggun . namun keindahan kamar itu tidak membuat Re terkagum seperti Kay justru ia malah sangat tidak menyukai desain itu . bagi anak seperti Re yang terkesan tomboy dan cuek dengan sekitar akan lebih menyukai warna-warna yang gelap .


" apa ini toko boneka" tanya re kepada ibu nya


pasalnya memang kamar itu dipenuhi dengan boneka berbagai jenis dan ukuran ada di situ


" ini kamar kamu sayang , apa kamu suka"


" tidak suka" jawab re cepat


" loh kok tidak, bukan kah di rumah kakek kamar nya juga penuh boneka" tanya Dinda


" itu bukan kamar aku " jawab re dengan datar


" Kay suka kok kamar nya Tante" celetuk Kay


re yang mendengar itu mengerutkan kening menatap Kay yang berada di samping nya gadis kecil itu sedari tadi sibuk mengamati ruangan itu.


" apa maksud kamu ...ini"


belum selesai perkataan re, Kay sudah memotong perkataan nya


" wahh kamar ini bagus sekali Kay suka terima kasih Tante cantik"


puji Kay dengan wajah imut khas nya


Dinda merasa senang mendapatkan pujian walaupun bukan dari anak nya


Re semakin menajamkan pandangan nya menyaksikan interaksi ibu dan adik di depan nya yang terlihat seperti anak dan ibu kandung.


" buang semua boneka itu"


suara re terdengar


Dinda dan Kay menoleh ke belakang menghadap ke arah re


" dibuang "


jawab mereka bersamaan dengan bingung


Re menatap kedua orang itu bergantian sambil menganggukkan kepala tanpa bersuara


" kenapa"


tanya mereka lagi dengan bersamaan


hal itu membuat Dinda dan Kay saling menoleh dan merasa lucu mereka pun tertawa cekikikan


namun re menatap mereka dengan tidak ramah alias garang . seketika mereka menghentikan tawa saat menyadari raut wajah yang di depan tidak bersahabat


" apa nya yang lucu" tanya re dingin


Kay sedikit takut dengan tatapan mata kakak nya itu ia sedikit berlindung di belakang Dinda agar aman namun tidak bagi Dinda wanita itu merasa rindu dengan tatapan itu . tatapan yang akhir-akhir ini jarang dilihat nya


" tidak ada kok sayang "

__ADS_1


jawab Dinda dengan suara lembut nya sembari tersenyum kearah re yang menampakkan sebelah lesung pipi nya


tatapan tajam re perlahan mulai berubah menjadi biasa alias dingin kembali


" buang semua boneka yang ada di kamar ini " pinta re kembali kepada ibu nya


Kay yang mendengar itu berani menampakkan dirinya dari lindungan Dinda


" kok di buang sih kak"


tanya Kay sedikit manyun


" aku tidak suka boneka" jawab re tenang


" Kay suka boneka, semua anak kecil perempuan suka boneka kenapa kakak tidak" tanya Kay lagi


Dinda hanya menjadi penonton percakapan kedua anak kecil itu , ia juga penasaran mengapa anak nya tidak menyukai boneka dan hal-hal yang berkaitan dengan anak perempuan lain nya


" jangan samakan aku dengan yang lain dan dirimu"


jawab re menatap tajam ke arah Kay membuat nyali gadis imut itu menciut kembali


Kay menundukkan pandangan ke bawah dengan bibir cemberut nya sambil memainkan ujung baju yang di pakai nya . anak kecil itu tidak akan pernah menang jika berdebat dengan kakak nya yang super dingin itu


Dinda yang menyaksikan itu menjadi gemas sendiri melihat tingkah kedua nya


tok ...tok


terdengar 2 kali ketukan pintu kamar itu berbunyi belum di persilahkan masuk orang yang mengetok sudah masuk tanpa aba aba semua yang ada di ruangan itu menoleh kearah pintu , dan ternyata itu adalah Riana ibu Kayla


" mamiiii " Kay berlari kearah Riana dengan wajah manyun dan sedikit sedih


" kenapa sayang anak mami " bingung Riana


" Kay sedih " dengan wajah cemberut


" kenapa kay sedih" Riana masih bingung


" kak re mau buang semua boneka itu" tunjuk Kay kearah boneka yang ada di kamar itu


Riana mengalihkan pandangan nya kearah yang di tunjuk oleh anak nya . ia sejenak memperhatikan seluruh ruangan lalu tiba-tiba wanita itu tertawa kearah Dinda yang duduk di salah satu kursi depan meja belajar kamar itu


Dinda tentu saja merasa aneh dengan tingkah Riana yang tiba-tiba tertawa tanpa alasan yang jelas


Kay yang berada di pelukan ibu nya juga ikut merasa aneh


sementara Re hanya cuek dengan suasana apapun di ruangan itu sambil menuju sofa kecil yang terletak di samping tempat tidur kamar nya karena sedari tadi ia hanya berdiri kaki nya terasa pegal


" kenapa mami tertawa" tanya Kay penasaran


" mami ketawain kamar ini " jawab Riana ambigu


yang ada disana berusaha mencerna ucapan dari Riana namun sulit untuk mengerti


" apa maksud kamu na" sekarang Dinda yang bertanya

__ADS_1


" nanti aku jelaskan Din" jawab Riana santai


sekarang Riana sudah berhenti tertawa dan berjongkok menghadap anak nya karena sedari tadi Kay memeluk kaki nya


" sayang ini kan kamar kakak kamu jadi terserah kakak dong mau di apakan " jelas Riana kepada anak kesayangan nya yang manja itu


" tapi mami, Kay kan kasihan sama boneka nya kalau di buang" kembali cemberut wajah kay setelah tadi kebingungan


" nggk di buang kok sayang nanti boneka nya di pindah ke tempat lain , iya kan Tante Dinda" Riana menoleh kearah Dinda dengan memberikan kode kedipan mata beberapa kali berharap di iyakan perkataan nya itu


Dinda mengerti dengan kode itu dan mengiyakan ucapan Riana


" iya , nanti boneka nya di pindahkan" jawab Dinda lalu ia menoleh ke arah Re


" tuh denger kan kata Tante , jadi Kay jangan sedih lagi dong" ucap Riana memeluk anak nya dengan gemas


pelukan itu dibalas oleh Kay sambil tersenyum sumringah


Dinda yang menyaksikan itu merasa iri dengan kedekatan ibu dan anak itu namun tidak terlihat oleh siapapun selama ini ia selalu pandai menyembunyikan ekspresi nya di hadapan semua orang . entah apa yang menjadi penyebab ia dan anak nya tidak bisa seperti itu yang terlihat jelas sekarang adalah jarak yang menjadi penghalang untuk saat ini ia berharap setelah nanti mereka tinggal bersama hubungan mereka bisa menjadi lebih dekat lagi


sementara Re sebentar melirik namun ia mengakhiri pandangan nya dengan memejamkan mata sambil merebahkan tubuhnya ke sisi sofa yang pas dengan tubuh nya.


jika Dinda merasa iri dengan pemandangan itu hari ini maka bagi re sudah biasa baginya , setiap hari ia harus menyaksikan pemandangan seperti itu . tentu saja ia merasa iri setiap kali melihat hal itu namun buah tidak jauh jatuh dari pohon nya jika orangtuanya pandai menyembunyikan ekspresi maka anaknya juga demikian


anak itu lebih ahli dalam menutupi ekspresi dengan topeng wajah datarnya yang dingin tapi memang pada dasarnya ia memiliki sifat tertutup dan tidak pernah ambil pusing dengan keadaan apapun .namun adakalanya ia juga bisa lelah untuk berpura pura acuh dengan sekitar . karena ia orang yang perasa maka hal sekecil apapun akan mudah untuk di ketahui nya tapi ia akan selalu menghindar dan memilih diam lalu menjauh .


Dinda sejenak memperhatikan anak nya ia menghampiri Re ke sofa dan bermaksud untuk menyuruhnya naik ke ranjang untuk tidur dan di iyakan oleh re karena memang ia lelah dan perlu tidur sejenak


Re menyingkirkan beberapa boneka yang ada di ranjang itu dengan melemparnya ke sembarang arah dan mulai merebahkan tubuhnya dengan nyaman karena ia sudah sangat mengantuk . beberapa saat setelah ia memejamkan mata Kay juga ikut merebahkan diri dengan memungut salah satu boneka yang di lempar Re tadi dan memeluk boneka itu dan juga kakak nya .


Riana dan Dinda terkikik melihat kelakuan dua anak kecil itu


Dinda


"ayo kita keluar "


Riana


" ayo , ada yang ingin ku bicarakan


di episode selanjutnya"


.


.


.


.


.


***Bersambung ...


RE²***

__ADS_1


__ADS_2