Realita Hidup

Realita Hidup
4


__ADS_3

di sebuah ruangan yang tidak asing bagi Bastian yang mulai membuka matanya serta perlahan mengumpulkan kesadarannya sambil mengingat kejadian yang telah terlewatkan. ia melihat ke sekeliling dan ia menganali tempat itu adalah ruangan khusus yang di bangun nya untuk beristirahat di restorannya.


setelah Bastian pingsan ia tidak di bawa ke rumah sakit , itu karena kebetulan salah satu pelanggan ada seorang dokter dan setelah di periksa keadaannya tidak terlalu parah dan hanya mengalami pingsan biasa saja


pesta pun sudah selesai terlihat para pengunjung sudah tidak ada lagi berada disana itu berarti tugas para karyawan juga sudah selesai .


pintu ruangan Bastian terbuka menandakan ada seseorang yang ingin masuk . Bastian menoleh kearah pintu tersebut dan menatap kearah orang tersebut.


" Anda sudah bangun pak"


" iya "


" bagaimana keadaan anda"


Bastian tidak menjawab pertanyaan itu ia malah balik bertanya


"bagaimana pesta nya" tanya nya kepada manajernya


yang datang ke ruangan itu adalah sang manajer restoran itu


" semua berjalan dengan baik dan lancar pak" dengan menurehkan senyuman


Bastian menghela nafas


"syukurlah"


ia melirik tangannya yang sudah terbalut dengan kain kasa dan sudah di obati dengan baik itu lalu ia bertanya lagi kepada sang manajer


" siapa yang mengobati lukaku ini"


" yang mengobati adalah seorang dokter pak , kebetulan salah seorang pelanggan ada yang berprofesi sebagai dokter jadi setelah bapak pingsan langsung di periksa dokter itu dan ternyata keadaan bapak tidak terlalu parah makanya kami tidak membawa bapak ke rumah sakit " jelas manajer panjang lebar dengan detail


Bastian hanya memangut-mangutkan kepalanya mendengar penjelasan manajernya seketika ia teringat dengan Dinda dan ingin menanyakan keberadaan nya .belum sempat ia berkata pintu kembali terbuka memperlihatkan Dinda di sana Bastian mengurungkan niatnya


Dinda masuk kedalam sambil memberi hormat kepada atasan serta manajernya dan menyapa mereka


" Anda sudah sadar tuan" tanya Dinda


"iya seperti yang kau lihat" jawab Bastian


"maafkan saya tuan karena saya terlalu erat memeluk anda sehingga membuat anda kehabisan nafas " ucapnya sambil menunduk


Bastian teringat kembali mengapa ia menjadi pingsan dan hal itu membuatnya menjadi malu sendiri. bagaimana tidak, ia pingsan karena menahan nafas ketika wajahnya di hadapkan dengan buah dada Dinda


saat itu Bastian sangat menikmati keadaan itu dan itu merupakan keuntungan yang tak terduga bagi dirinya namun hal yang tak terduga pun terjadi sehingga iapun pingsan


" tidak apa apa , seharusnya aku berterima kasih kepadamu karena kamu dengan berani ingin melindungi ku" akhirnya Bastian berucap setelah beberapa saat berperang dengan pikirannya


manajer yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka sedikit terkejut dan heran dengan jawaban Bastian yang berbicara tidak biasa kepada Dinda , tidak seperti atasan kepada bawahan


Dinda pun juga terlihat bingung dan canggung


tetapi Bastian yang peka dengan keadaan kembali berkata


" dia adalah teman ku dulu pak waktu saya masih tinggal di sini"


sang manajer mengangguk tanda mengerti dengan maksud Bastian


hening sesaat


tiba-tiba Bastian berucap


"saya ingin mengangkat kamu menjadi manajer di sini Dinda"


Dinda yang mendengar hal itu sangat terkejut

__ADS_1


begitupun dengan sang manajer


" Anda jangan bercanda tuan , saya tidak pantas menjadi manajer karena saya hanya lulusan ..." Dinda tidak melanjutkan kata-katanya ia terlihat sedih


" aku tidak bercanda din, kamu berhak anggap ini adalah bonus dan hadiah dari saya karena kamu telah menolong saya"


" tapi pak"


" berhenti memanggil aku dengan seformal itu" tegas Bastian tak terbantahkan


memang saat ini Dinda masih memanggil Bastian secara formal itu karena di ruangan itu masih ada manajer nya


" saya...emmch maksud ku ..aku nggk berpengalaman menjadi manajer Tian " jawabnya dengan sedikit canggung


" kamu akan mendapat pengalaman jika mendapatkan kesempatan Dinda ,ini kesempatan kamu untuk membuktikan kalau kamu bisa dan pantas "


Dinda hanya terdiam ..


" pak Rizal akan membantumu juga nanti kau tenang saja , jika ada sesuatu yang tak kau mengerti tanyakan saja padanya"


Dinda melirik kearah pak manajernya itu dan terlihat ia menganggukkan kepalanya Tanda setuju dengan perkataan Bastian itu


Dinda menarik nafasnya panjang dan iya akan mencoba jabatan barunya itu


" baiklah aku akan mencobanya" jawabnya dengan mantap


Bastian yang mendengar itu terlihat senang


dan memberikan beberapa motivasi untuk Dinda


pak manajer pun akhirnya memutuskan untuk keluar dan akan bersiap untuk pulang karena hari sudah mulai gelap ,ia berpamitan untuk keluar dan di iyakan oleh Bastian.


tinggal lah Bastian dan Dinda di ruangan itu


" emchh sepertinya aku juga akan pulang "


" ......" tidak ada jawaban dari Bastian


" kau juga pulang kan " tanya nya lagi


"......" Bastian masih diam


Dinda yang merasa di acuhkan menjadi kesal serta malu dan memutuskan untuk keluar ruangan itu namun tangannya di cegat oleh Bastian


" kau ingin meninggalkanku sendirian disini"


akhirnya Bastian berbicara


" dari tadi kau hanya diam dan mengacuhkanku" keluh nya


Bastian hanya tersenyum


"aku ingin pulang dan kau sebaiknya juga pulang"


" aku tidak bisa pulang , lihatlah tanganku ini terluka bagaimana aku bisa mengemudi"


Dinda memperhatikan tangan Bastian yang memang sedang terluka itu


" apakah itu sangat sakit" tanya Dinda dengan khawatir


Bastian mengangguk dan mendramatisir keadaan padahal itu hanya luka biasa dan tidak sakit parah seperti yang ia keluhkan


Dinda yang melihat hal itu merasa iba dan bingung harus apa. karena ia tidak mungkin menyetir kan mobil Bastian sementara ia tidak bisa menyetir sama sekali selama ini ia hanya menggunakan sepeda motor dan itupun motor jenis metik


" bagaimana ini aku tidak bisa menyetir mobil dan yang lain sudah pulang "

__ADS_1


terlihat Dinda ingin menghubungi seseorang namun Bastian mencegahnya


" apa yang kau lakukan "


" aku ingin menghubungi teman yang bisa mengemudikan mobil"


"memang kau miliki teman"


" Dinda menggeleng"


" Bastian terkekeh"


memang selama ini Dinda tidak memiliki teman yang akrab dengan nya


Bastian terlihat santai dengan suasana ini dan terkesan menikmati sedangkan Dinda terlihat sedikit panik dengan situasi ini


akhirnya Bastian pun memberikan sebuah ide


" bagaimana kalau kau yang mengantarku naik motor"


" iya ya , kenapa itu tidak terpikirkan olehku tapi bagaimana dengan mobilmu"


"gampang saja itu urusan nanti"


akhirnya mereka pun berangkat dengan motor milik Dinda yang sudah jelas Dinda yang akan membonceng Bastian


keadaan ini agak sedikit lucu karena wanita yang membonceng pria namun Bastian tidak begitu memperdulikan karena hari sudah malam itu tidak terlalu mencolok terlihat oleh orang orang


perasaan Dinda sedari tadi tidak karuan karena baru pertama kali ia membonceng orang serta yang ia bonceng adalah orang yang ia kagumi .detak jantungnya tidak beraturan ditambah lagi tangan Bastian sedari tadi melingkar di perutnya


( gimana tuh rasanya jadi Dinda ..hahaaa)


tidak begitu lama perjalanan menuju hotel Bastian menginap hanya perlu waktu 30 menit akhirnya mereka sampai


akhirnya sampai juga batin Dinda


" ekhem ,,Tian kita udah sampai"


"....."


"tiann"


"....."


Dinda menoleh ke samping dan ternyata Bastian tertidur dengan kepala yang menyender ke belakang Dinda


"sudah ku duga" keluh Dinda namun dengan senyum di bibirnya


.


.


.


.


.


.


.


*bersambung...


RE²

__ADS_1


__ADS_2