
seseorang yang ingin masuk itu adalah Aldi yang sedari tadi merasa penasaran mendengar suara gaduh yang samar-samar ia dengar . Namun saat ia ingin masuk pada saat itu juga ia terkena lemparan boneka oleh Kay, wajahnya kelihatan tidak ramah dan siap untuk meledakkan amarahnya Kay yang melihat wajah garang kakak nya takut dan bersembunyi di balik selimut ranjang nya namun sebelum amarah Al terjadi Re secepat kilat menutup pintu dengan rapat dan segera menguncinya.
Al yang tak dapat lagi menahan rasa kesalnya terus menggedor pintu kamar itu berharap untuk dibukakan sembari terus mengumpat tak jelas , namun orang yang didalam seakan menulikan pendengaran mereka sampai akhirnya Al menyerah dan meninggalkan kamar Re dan Kay.
setelah tidak terdengar lagi suara dari luar Kay memberanikan diri untuk membuka selimut yang menutupi tubuh mungilnya itu.
dilihatnya sang kakak yang sedang duduk di sofa sambil kembali membaca buku komik nya dengan santai seakan tidak terjadi apa-apa.
Kay sungguh tidak mengerti dengan kakak nya mengapa sikapnya bisa setenang itu padahal ia begitu takut melihat ekspresi kakak nya Al tadi.
" kakak lihat kan wajah kak Al td sungguh menakutkan" adu Kay dengan sedikit bergidik
" tidak" jawab re singkat
" kakak tidak takut dengan kak Al" Kay merangkak menaiki sofa mendekat kearah Re
" untuk apa takut padanya" jawab re acuh dan masih fokus membaca bukunya
" kak Al sering menarik kupingku jika dia marah , kuping kakak pasti juga akan ditarik" jawab kay sambil menguap dengan mata sayu nya terlihat gadis kecil itu mengantuk
Re melirik Kay yang menatapnya dengan mata yang mengantuk karena memang ini sudah saat nya jam tidur siang
" dia tidak akan bisa menarik kupingku" jawab re kembali fokus dengan buku bacaannya
Kay mendaratkan kepalanya di kaki Re yang sedari tadi duduk bersila sepertinya ia sangat mengantuk namun masih ingin mengobrol dengan kakak nya . Sementara Re menundukkan kepala menatap sang adik manja dengan kening berkerut.
"Kuping kay tidak mau lagi di tarik , kak re harus lindungin Kay dari kak Al" jawab kay dengan memejamkan mata sambil mencari posisi ternyaman untuk kepalanya yang berada di asuhan Re
Re tidak menjawab lagi ia terus menatap sang adik dengan ekspresi yang tidak terbaca dan ia kembali melanjutkan membaca novel kesukaan nya yang sedikit lagi selesai ia baca
helaan napas teratur terdengar dari Kay yang tidur dengan nyenyak nya sekarang di pangkuan Re , sementara itu setelah beberapa menit Re pun sudah selesai membaca bukunya dan ia pun terlihat beberapa kali menguap akhirnya ia juga ikut tertidur dengan bersandar di sofa sambil memangku kepala Kay
pintu kamar mereka sedikit terbuka menampakkan seseorang yang mengintip dari luar kamar menyaksikan Re dan Kay dari jauh kemudian orang itu menutup pintu kembali lalu ia mengembalikan kunci cadangan yang ada di lemari yang cukup tinggi dekat kamar itu dan meninggalkan nya disana lalu turun kebawah .
.....
Di ruang tamu telah berkumpul para orang tua menikmati waktu senggang sambil minum teh dan juga makanan ringan . hari memang sudah sore menandakan mereka sudah pulang dari pekerjaan masing-masing.
Dinda terlihat menuruni tangga dan ingin bergabung dengan yang lain di ruangan itu ia mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang kosong di ruangan itu .
__ADS_1
Al juga terlihat disana bersama dengan Widya sang nenek yang sibuk mengupas apel untuk dirinya . sementara Hendra dan Kevin sibuk bermain catur dan Riana sibuk memainkan hp nya namun sejenak melirik Dinda yang baru datang dan langsung menyapanya
" bagaimana Din keadaan mereka " tanya Riana langsung setelah Dinda duduk
" mereka baik-baik saja ,saat ini sedang tidur" jawab Dinda tenang
Rupanya Al mengadukan kejadian tadi siang kepada para orang tua
"syukurlah" tersenyum kearah Dinda dan dibalas juga oleh nya
Hening sesaat
" Om ada yang ingin aku sampaikan " tiba-tiba Dinda membuka suara
Hendra dan Kevin menoleh di ikuti oleh Riana tapi tidak dengan Widya yang sibuk mengupas apel namun telinganya siap siaga untuk mendengar
" apa nak" jawab Hendra tenang
" aku akan membuka usaha kecil-kecilan dengan modal tabungan ku yang masih ada tersimpan dulu " jelas Dinda terhenti sejenak untuk bernafas dan kembali ia lanjutkan
" aku merasa tidak enak jika terus bergantung dengan keluarga paman dan tante , maka dari itu aku ingin membuka usaha agar bisa membiayai hidup aku dan anakku" jelas Dinda kembali
Hendra sejenak menatap istrinya yang sedikit kejam itu tapi setelah itu ia menatap Dinda kembali
" apakah kau sudah memikirkan nya nak "
" tentu saja paman, keputusan ku sudah bulat"
" baiklah paman hanya bisa mendukung semua keputusan mu" jawab Hendra tersenyum ramah.
"usaha apa yang akan kamu buka Dinda" tanya Riana antusias
" sepertinya usaha toko bunga di kota A"
"wah bagus sekali ide mu, apakah aku juga bisa ikut di usaha mu" tanya nya penuh harap
" kau juga ingin berbisnis " tanya Dinda memastikan
" tentu saja aku ingin, aku merasa bosan dirumah terus
__ADS_1
" boleh saja kau ikut tapi kau juga harus ikut memberikan modal kepada usaha kita
" tentu saja akan ku berikan berapapun tapi mengapa kau memilih kota itu yang lumayan jauh dari kita
" tempat itu adalah tempat yang paling strategis untuk usaha itu . selain mudah untuk mendapatkan bahan bunga untuk di petik, kota itu juga memiliki minat tinggi terhadap bunga . jadi sangat cocok membangun usaha disitu. jelas Dinda menyakinkan
"wah kau memang pandai menganalisis " puji Riana kepada Dinda
" cihhh " terdengar decihan dari Widya yang tidak jauh dari sana karena memang sedari tadi ia mendengarkan percakapan kedua ibu muda itu.
....
beberapa bulan kemudian
Dinda dan Riana memang serius dengan ucapan mereka dalam beberapa bulan ini mereka sibuk mempersiapkan usaha baru mereka yang hampir bisa untuk di jalankan sampai mereka tidak sadar dan ingat lagi kepada putra putri mereka
seperti hal nya saat ini sekolah akan mengadakan lomba yang akan di hadiri oleh orang tua dari pihak ibu namun karena kesibukan mereka tidak bisa datang
Re tidak bisa ikut lomba itu karena tidak ada wali yang mendampingi nya terlebih lagi ia juga tidak tertarik mengikuti lomba seperti itu sementara Al dan Kay ada Widya yang mewakili jadi mereka bisa mengikuti lomba
beberapa bulan ini Re dan Dinda terhitung jarang bertemu karena kesibukan Dinda yang begitu fokus dengan usahanya , berbeda dengan Riana yang tidak terlalu sibuk sehingga ia masih memiliki waktu luang untuk mengurus anak-anak nya .
baru sebentar rasanya Re merasakan sedikit kasih sayang dari seorang ibu tapi sekarang rasanya sama saja seperti waktu itu , waktu ia masih berada di panti asuhan bahkan jika ia harus memilih ia akan lebih bahagia berada di panti daripada di rumah itu .
jika dulu ia begitu di sayangi oleh ibu panti dan bibi club nya namun sekarang secara terang-terangan mama nya mengabaikan nya.
dalam sebulan ini Dinda jarang berada dirumah itu , rupanya wanita itu menyewa rumah di dekat toko nya dengan alasan jarak antara rumah Hendra dengan usaha miliknya cukup jauh maka dari itu ia memutuskan untuk tinggal di dekat sana.
kini rasa kebencian kembali muncul dalam diri Re kepada mama nya itu . namun anak itu begitu pandai menyembunyikan fakta itu .
.
.
.
***Bersambung...
RE²***
__ADS_1