Realita Hidup

Realita Hidup
6


__ADS_3

malam itu menjadi sebuah malam yang tidak akan terlupakan bagi keduanya terutama untuk Dinda .di malam itu ia tidak bisa berpikir jernih dan mengendalikan dirinya begitupun dengan Bastian yang selama ini jauh dari istri yang membutuhkan kehangatan


malam itu terjadi sebuah hubungan yang terlarang untuk dilakukan .


namun nasi sudah menjadi bubur yang sudah terjadi tidak akan bisa kembali lagi . mereka melakukan itu atas kemauan mereka sendiri dan ada rasa saling ingin memiliki diantaranya sehingga terjadi hal itu.


matahari sudah menampakan sinarnya dan jam sudah menunjukan pukul 10 siang namun kedua insan itu masih terlelap dengan tidurnya.


bunyi telpon Bastian sedari tadi terus berbunyi nyaring pertanda ada yang menelepon


Dinda yang lebih dahulu bangun karena mendengar suara berisik dari dering telpon itu, ia mulai membuka mata namun tidak langsung bangkit


saat kesadarannya sudah terkumpul dengan cepat ia merotoki dirinya yang begitu bodoh semalam. ia melirik ke samping dan mendapati Bastian yang masih terlelap memeluknya


perlahan ia membuka selimut yang menutupi tubuh mereka .dan matanya terbelalak kaget air matanya terjatuh membasahi pipi mulusnya. saat ini ia kacau dan merasa takut karena ini merupakan pengalaman pertamanya .


airmata nya sedari tadi tidak berhenti mengalir ia mencoba untuk bangkit namun pergerakannya membangunkan Bastian


Bastian yang baru bangun juga terlihat kaget dengan keadaan mereka saat ini. ia tidak dapat berkata kata ,hanya hening yang terjadi dan terdengar isakan dari Dinda.


telepon Bastian berbunyi lagi untuk kesekian kalinya dan kali ini Bastian mengangkatnya , ia turun dari tempat tidur itu menuju ke arah jendela untuk menjawab telpon itu .


" halo" dengan suara rendahnya


" halo sayang , kau sudah sampai mana hari ini kau pulangkan"


deggg


Bastian terbelalak ia melupakan hari pesta anak nya


" akh tentu saja aku pulang , aku sedang bersiap"


Dinda berusaha untuk bangkit dari tempat tidur dengan segala kesakitan nya


Bastian melihat pergerakan Dinda yang sedikit tertatih itu dan menutup telponnya segera.


tanpa basa basi Bastian menggendong tubuh Dinda ke kamar mandi dan Dinda hanya diam


Bastian meletakan Dinda ke dalam bathup dan mengisi nya dengan air hangat . tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Dinda hanya raut sedih yang di tampilkannya.


Bastian keluar dari kamar mandi itu dan di luar ruangan itu ia melihat kekacauan yang terjadi akibat kejadian semalam.


tak di pungkiri mereka melakukan hal itu dengan sadar dan atas dasar suka sama suka namun wajah Bastian terlihat cemas dan khawatir mengingat mereka melakukan itu tanpa pengaman dan ia beberapa kali mengeluarkannya di dalam.


hal itu terjadi tanpa adanya rencana dan persiapan

__ADS_1


20 menit berlalu akhirnya Dinda keluar dengan menggunakan pakaian yang semalam ia kenakan . kecanggungan terjadi di kamar itu dan Bastian memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu


sementara Dinda yang melihat beberapa barang yang berserakan mencoba untuk membersihkannya .


Bastian keluar kamar mandi dan mendapati Dinda yang duduk di sofa .ia sudah mengenakan baju dari dalam kamar mandi itu dan langsung menuju sofa


" aku akan menikahimu" dengan tiba tiba Bastian berkata begitu


tentu saja yang mendengar itu terkejut


Dinda tidak menjawab ia hanya tertunduk


"aku akan bertanggung jawab" timpal nya lagi dan sekarang ia berani menghadap ke arah Dinda


" kau tidak perlu melakukan itu" jawab Dinda dengan nada bergetar dan mata berkaca kaca


Bastian akhirnya memberanikan diri untuk menggenggam tangan Dinda


" tidak , aku akan tetap menikahimu" ucapnya mutlak


bukan tanpa alasan Bastian melakukan itu ia yakin Dinda akan hamil nanti mengingat mereka melakukan tanpa pengaman dan yang di takutkan Bastian nanti adalah jika Dinda meminta pertanggung jawabannya secara paksa di kemudian hari hal itu yang tidak di ingin kannya.


Bastian akan menikahi Dinda secara diam diam saja dan bertanggung jawab atas perbuatannya . mengingat ia sudah mempunyai seorang istri dan juga seorang anak


" hari ini aku akan kembali , kau urusi dulu kelengkapan pernikahan kita disini aku kembali juga untuk mengurusnya disana"


" percayalah kepadaku heem" mendekap Dinda erat Dinda hanya mengangguk di pelukan Bastian


percakapan itu telah selesai dan Bastian pulang ke rumahnya yang ada di ibu kota


untuk pesta putrinya yang akan di gelar sore menjelang malam hari.


2 Minggu telah berlalu dan Bastian pun membuktikan ucapannya untuk menikahi Dinda . bagaimana dengan Dinda??


tentu saja ia sangat bahagia menikah dengan orang yang di cintai nya walaupun dengan sebuah kesalahan


dan setelah 2 Minggu menikah Dinda positif hamil , dugaan Bastian benar akan hal itu walaupun ia menikah karena tidak ingin terjadi masalah namun hal ini di syukurinya karena ia akan memiliki anak lagi dan berharap anak itu laki laki dan akan menjadi penerusnya kelak.


Bastian harus bulak balik dan membagi waktunya untuk 2 istrinya itu . tidak mudah memang membagi waktu antara istri istri dan juga pekerjaannya namun kewajibannya harus tetap di jalankan .


Dinda terlihat bahagia dengan pernikahannya itu , karena Bastian memperlakukannya dengan baik semasa kehamilannya perasaan cintanya semakin tumbuh besar kepada Bastian


sementara Bastian juga terlihat lebih bahagia bersama Dinda di bandingkan celine mungkin karena harapannya kepada Dinda yang akan memberikannya keturunan laki laki yang membuatnya begitu.


akhirnya momen yang di tunggu tunggu pun datang, Dinda saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anak pertama bersama Bastian

__ADS_1


Bastian pun harap harap cemas dengan hal itu .ia berharap Dinda melahirkan anak laki laki seperti yang di inginkan ya


namun takdir berkata lain .Dinda melahirkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik namun mirip dengan Bastian . bayi itu benar benar cetakan Bastian versi wanita tetapi Bastian yang mengetahui hal itu kecewa .


" selamat pak bayi anda perempuan dan sehat" ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin


wajah Bastian hanya datar ,tidak ada ekspresi ia hanya menatap bayi itu diam , entah apa yang dipikirkan nya


" Anda ingin mengazani nya " tanya dokter itu lagi


Bastian mengangguk singkat dan mengambil alih bayi itu dan langsung mengazani nya


Dinda sudah di pindahkan ke ruang rawat dan sudah sadarkan diri Bastian datang dengan seorang perawat yang menggendong bayi mereka senyum merekah terlukis di bibir Dinda terlihat kebahagiaan terpancar di wajahnya


perawat menyerahkan bayi nya kepada Dinda dengan hati hati ia menggendong bayi nya untuk yang pertama kali. ia tersenyum kepada Bastian namun Bastian bersikap acuh tak acuh


"Tian lihatlah anak kita mirip sekali denganmu"


"............." ekspresi datar


"kamu terlihat tidak senang Tian"


" aku menginginkan anak laki laki " datar


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


pliss jadikan favorit ya cerita aku


like sama vote juga biar aku tetep semangat


terima kasih*

__ADS_1


RE²


__ADS_2