Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Berpedang


__ADS_3

...Happy reading...


.......


.......


Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah fakta yang tiba-tiba saja datang tanpa diundang pulang pun tanpa dijemput. Apa itu? Itu adalah pelajaran, dan pelajaran berpedang (ᗒᗩᗕ)


Aku membenci itu. Ya kalian tau bukan kalau aku itu juga termasuk salah satu dari kalian, para kaum yang Mageran (malas gerak)


Jangankan untuk belajar pedang, mau belajar jahit dan etika saja sudah sangat terpaksa sekali.


Mungkin kalau saja aku masih dalam tingkatan bangsawan biasa, sudah pasti kutinggalkan pelajaran-pelajaran feminim yang amat tak penting itu.


Etika masih penting, ya karena aku juga masih mau punya muka dihadapan banyak orang. Terlebih, aku ini seorang putri kerajaan. Putri mana yang nantinya makan pake tangan? lompat-lompat pecicilan? Pelajaran Etika masih bisa kumaklumi ʘ‿ʘ


Tapi untuk menjahit, akh sangat tidak penting. Bagi kalian yang tidak setuju, oke aku akui kalau ilmu menjahit itu sangat penting.


Maksudku ayolah kawand, apa gunanya menjahit sebuah sapu tangan dengan berbagai gambar ditengahnya? Dan itu nantinya hanya akan diberikan kepada seorang pria. Kugaris bawahi sekali lagi, diberikan!


Sebagai ugh mantan pria sejati, aku juga tau apa saja yang disukai oleh para pria!


Kami itu cukup simpel. Cukup kalian berikan kami gunung dan rawa-rawa itu, dengan itu saja kami sudah bahagia sekali (。•̀ᴗ-)✧


Dan kalau kalian para betina ingin mencari alternatif lain, kami juga bisa menerima masakan rumahan buatan kalian.


Jika kalian membuat itu dengan seluruh cinta dan kasih sayang (Apalagi menyajikan itu dengan raut wajah minta dipuji), pasti kami akan mengatakan itu enak meski derajatnya sebelas dua belas sama makanan kambing ( ꈍᴗꈍ)


Ugh maafkan aku para betina. Jangan pukul aku, aku imut! (◍•ᴗ•◍)


Btw ngomong soal masak-masak, kuberitahukan bahwa juga seorang gadis bangsawan didunia ini dilarang memasak.


Sebenarnya bukan dilarang sih, ini seperti tingkat gengsi tersendiri untuk mereka.


Mereka menganggap bahwa memasak itu adalah tugas dan pekerjaan para pelayan, yang biasanya terdiri dari kalangan rakyat jelata.


"*Un*tuk apa seorang bintang sepertiku melakukan apa yang sebuah batu lakukan?"


Begitulah kira-kira gambaran kecilnya.


Kasta masih ada didalam sistem kerajaan ini. Tidak ada yang namanya pemilihan oleh rakyat, hanya ada garis keturunan sebagai pilihan jabatan.


Yah begitulah Monarki berjalan, aku tidak dapat membantah apalagi mengubah. Cukup sudah hanya kakakku saja yang mengurus itu semua, sedangkan aku akan tidur dan menikmati seluruh hidupku tanpa beban.


Itu yang selalu kuharapkan setiap harinya, sampai semuanya hancur berantakan.


"Perkenalkan tuan putri, nama saya David van Daihama. Saya yang akan menjadi guru berpedang anda."


Paman itu terus tersenyum padaku, huh apa yang harus kulakukan sekarang?


"Paman, siapa yang menyuruh paman kemari? apa itu kakakku?" Aku tidak ingin lama-lama, langsung to the points ajalah ಠ‿ಠ


"Saya kemari atas desakan keluarga saya dan yah, ada sedikit permintaan dari ayah anda." Jawabnya santai.


Aku mengangguk paham, rupanya kakak sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini.


Tapi tunggu sebentar, Daihama?


"Paman seorang Daihama?" Celutukku bertanya.


Daihama, salah satu keluarga pemegang medali Crystal¹ terbaik di Celestine. Mereka juga dijuluki sebagai pedang emasnya Celestine, karena para setiap keturunan mereka yang pasti memiliki bakat dalam berpedang.


Bakat yang paling menonjol dari mereka ialah kekuatan fisik. Fisik yang kuat dan tenaga yang selalu terbilang prima meski sudah diumur tua, tak jarang mereka juga sering disebut Barseker.


Dan sekarang, seorang Daihama menjadi guru pribadiku. Apa ada yang salah disini? ಠ﹏ಠ


"Yah kalau tuan putri mengenal Richard, saya adalah kakak sepupunya." Ia lagi-lagi menjawab dengan santai, akh sungguh apa orang ini tidak punya sisi serius?


"Kalau paman itu kakak sepupunya tua. Richard, bukannya seharusnya anda yang memiliki posisi medali Crystal itu?"


Dari yang kulihat, paman ini tidak berbeda jauh dari tuan Richard. Tidak-tidak, bahkan sepertinya paman ini lebih kuat (ʘᗩʘ’)

__ADS_1


Paman itu terkekeh, "Tuan putri, posisi itu sungguh melelahkan!" ia mulai menyentuh ujung pegangan pedang yang masih menggantung dipinggangnya, "Lagipula saya bukan orang yang kompeten dalam hal itu, merepotkan!" Lanjutnya.


Aku dibuat menganga sama jawabnya, bahkan lebar gua mulutku itu diberitakan sudah selebar mulutnya si ular si serial manusia ungu.


"Paman orang yang aneh–" Senyum miringku mulai timbul, "–tapi aku suka memiliki orang yang aneh sebagai guruku."


...______...


"Silla, apa kamu yakin kalau Lauren kecilku akan baik-baik saja?" Falley bertanya dengan cemas.


Sudah jalan seminggu sejak awal mula latihan Lauren bersama David dan dalam seminggu itu juga, Falley selalu saja melihat adiknya yang berakhir lemas disaat makan malam bersama.


"Menurut penuturan yang mulia, tuan putri pasti akan baik-baik saja." Itu yang dikatakan oleh raja Celestine sekaligus ayah dari kedua orang putri cantik itu, Silla hanya sekedar menyampaikan.


Falley melemparkan tatapan kesal kearah tangan kanannya, "Silla, kenapa harus pedang? bukannya sihir juga bisa?!" cemberutnya.


Senyum kecil Silla terbit, akh sungguh sahabatnya ketika cemberut seperti ini sangat imut sekali pikirnya.


"Mungkin saja yang mulia ingin berencana memasukkan tuan putri Lauren kedalam akademi sihir, untuk itu pelajaran berpedang dimajukan sekarang." Jelas Silla.


Menurut Silla, hanya itu jawaban yang pasti sekarang. Jika Falley hebat dalam sihir roh, politik dan pemerintahan, maka sudah pasti sang raja menginginkan Lauren untuk menguasai bidang lainnya.


Tapi jika kalian berfikir sang raja itu memaksakan kehendaknya, maka kalian salah besar. Meski dalam medan perang sekalipun, Fansev sama sekali tak luput dari mengawasi kedua putrinya.


Dan apa yang Fansev dapatkan dari laporan tentang Lauren ialah ia selalu kabur-kaburan dalam pelajaran etika, tata krama, dansa dan hal lain yang berbau wanita lainnya, gadis itu selalu saja kadang menghilang tiba-tiba.


Dilihat dari pelajaran ilmu pengetahuannya yang luar biasa, akhirnya Fansev menarik kesimpulan. Putrinya, Lauren itu gadis yang tomboy.


Jika alasannya karena pelajaran dalam ruangan yang membuatnya kabur-kaburan, lantas kenapa dalam jam pelajaran ilmu pengetahuan ia tak pernah bolos?


"Kurangi beberapa jam pelajarannya tapi tidak dengan ilmu pengetahuan. Dan lagi, panggilkan David sebagai guru pribadinya."


Begitulah kira-kira isi dari titah Fansev.


Setelah semua itu, kini pelajaran-pelajaran Lauren mengalami penurunan dan banyak digantikan oleh ilmu pedang.


"Tapi bukannya ayah terlalu tega, Lauren itu bahkan baru sepuluh tahun!" Falley mulai menggebu-gebu, "Dan bahkan dia tak memberitahukan ku terlebih dahulu, dasar ayah!" sambungnya.


"Silla, cepat siapkan perkamen sihir." Mencelupkan ujung pena bulunya kedalam tinta, Falley mulai tersenyum tipis. "Aku akan menuliskan surat langsung untuk ayah tercinta." lanjutnya bersmirik.


"Fa-falley, aku masih ingin bekerja dan menerima gaji besar disini."


Pertengkaran selanjutnya, memperebutkan sebuah perkamen (◔‿◔)


..._____...


Orang gila, kuakui bahwa lelaki bernama lengkap David van Daihama itu ialah orang yang tidak waras!


Sudah hampir sebulan dari kedatangannya kemari dan menjadi guru pribadiku. Dan kalian tahu, selama itu aku rasanya seperti dineraka ಠ益ಠ


Bagaimana tidak, minggu pertama latihanku hanya diisi oleh siksaannya! Tidak-tidak, bahkan selama ini hanya seperti disiksa olehnya!


Mulai dari keliling seluruh istana (Yang luasnya ga ngotak) sebanyak sepuluh kali, lalu dilanjutkan dengan push up, shut up, pull up, back up, lompat tali dan berbagai jenis olahraga lainnya seratus kali, dan itu pakai waktu!


Lambat dikit, ditambah. Mengeluh sedikit, ditambah. Melarikan diri? ugh jangan ditanya, dilipat gandakan jadi sepuluh kali lipat!


Minggu pertama selesai, kukira hidupku akan berakhir damai. Tapi rupanya takdir berkata lain...


Dalam minggu kedua, hari-hariku lebih suram. Hari yang hanya kuhabiskan dengan mengayun pedang sebanyak lima ratus kali, menjaga kuda-kuda kaki selama hampir setengah hari dan yang paling parah, lelaki gila itu juga menambahkan jumlah lariku!


Dan sekarang minggu ketiga, aku hanya menjadi samsak pedangnya. Katanya latihan bertarung, kenapa rasanya orang gila ini seperti serius sekali!


Prang


"Aku menyerah, paman." pedangku yang entah sudah terlempar kemana menandakan kekalahanku.


Paman David tersenyum tipis, lalu ia mulai menarik ujung pedangnya dari leherku. "Kau harus lebih banyak mengayunkan pedang lagi, tuan putri." ucapnya sambil menyarungkan kembali pedangnya.


"Paman bercanda? Apa seribu ayunan didepan boneka jerami setiap harinya itu masih kurang?" tanyaku tak terima. Aku membuat kedua mataku berkaca-kaca, agar ia melihatnya seperti aku ingin menangis.


Rasakan itu pak tua! Meski aku malas mengakuinya, tapi kali ini kamu ak–

__ADS_1


"Hahahhaha!"


Bukannya merasa iba, lelaki itu malah tertawa. Bahkan tertawanya itu sangat keras!


"Kenapa kau malah tertawa!" Aku cukup kesal, ada apa dengan paman satu ini!


"Itulah sebabnya aku melarangmu memanggilku guru." Ia mulai tersenyum remeh kearahku, "Dari awal kita latihan, aku tidak satupun melihat niat darimu."


Tatapannya kurasa kian menajam, "Kalau bukan karena sang raja, aku tidak akan pernah mau mengajarkan orang yang tidak niat sepertimu!"


"A-aku..."


"Tuan putri, anda pikir anda akan selalu aman diistana ini?" Ia tertawa kecil dengan masih menatap remeh kearahku, "Tidak, kita tidak tau akan ada apa kedepannya!"


"Ilmu berpedang itu tidak bisa didasari dengan keterpaksaan, ilmu berpedang itu harus dari hati!"


Aku hanya dapat mengangguk kecil, perkataannya kali ini betul-betul seperti langsung menembakkan sebuah bom atom kehatiku. Sakit rasanya!


"Saya tanya sekali lagi, apa anda ingin bersungguh-sungguh tuan putri Lauren?"


Aku mendongak, "A-aku akan bersungguh-sungguh!" ujarku tegas.


Paman David menaikkan satu alisnya, "Sungguh?" tanyanya memastikan.


Aku mengangguk, kini terlihat sangat antusias dengan rambut panjangku yang seperti naik turun. "Iya, aku serius!"


"Baiklah, semuanya akan dimulai dari sekarang."


Sore itu menjadi saat dimana sangat bersejarah bagiku. Hari dimana, tekad seorang Lauren van Cyles Celestine perlahan-lahan mulai bangkit kepermukaan.


Sesuatu yang putih dan tumpul, mulai menamai dirinya sendiri dengan...


Taring yang merobek segalanya.


..._____...


¹. Mendali Crystal.


Dikerajaan Celestine, ada yang namanya tingkatan baik itu untuk para profesor, ksatria, penyihir dan penyihir roh.


Itu semua terbagi menjadi beberapa tingkatan.




Mendali Crystal, mendali tertinggi dan hanya memiliki satu mendali masing-masing. Orang yang biasanya memegang mendali ini sudah sangat diakui kekuatannya, baik itu dikerajaan sendiri ataupun diluar.




Mendali Emas, mendali yang terbilang tidak cukup banyak dan tidak cukup sedikit juga pemiliknya. Intinya, orang yang sudah memiliki ini harusnya kekuatannya sudah diakui satu kota, diakui oleh sang pemilik mendali Crystal atau juga lulusan terbaik diakademi.




Mendali Perak, mendali terakhir sekaligus paling tidak terlalu berharga. Orang magang :v




.


.


.


.

__ADS_1


Oke, see you to next chapter!


__ADS_2