
Beberapa daun pohon yang kulihat mulai berjatuhan, kereta kuda yang juga awalnya stabil kini mulai sedikit bergetar.
"Jadi sebutkan alasanmu, kenapa kamu tiba-tiba ingin membawa ku?"
[Master, saya merasa ada yang tidak beres]
Pertanyaan Olivia dan pernyataan Exsalia terdengar bersamaan oleh telinga dan otakku.
Apa itu? Bisa kamu jelaskan, Exsalia?
"Kakakku memintaku untuk mencari tangan kanan, dan akhirnya aku menemukanmu."
Karena memikirkan situasi yang berubah, aku terpaksa membuat jawaban acak untuk Olivia.
Dapat kulihat ia yang sedang mengamati ku lamat-lamat, sudah seperti kedapatan mencuri saja aku ini.
Ah tapi masa bodoh, untuk sekarang bukan itu yang harus kupikirkan!
[Saya dapat merasakan beberapa monster mendekat kearah kita, jika dihitung mungkin jaraknya dua pohon dari jalan]
Sudah kubilang, Exsalia ini peri aneh ಠ,_」ಠ
Kita memang berada dijalan yang dikelilingi oleh pepohonan, tapi yang dia maksud itu yang pohon yang mana!
Bagus jika pohon itu besar, berarti jarak dua pohon yang dimaksud masih cukup jauh.
Bagaimana jika sebaliknya? Uhh, sepertinya aku harus menservis kembali otak udang peri kecil ini.
"Menemukan? Kau kira aku barang hah!"
Belum juga selesai urusan sama si peri, si terong yang tiba-tiba teriak juga ikut-ikutan buat masalah.
Olivia, apa perlu kuremas dulu dua melon itu untuk membuatmu diam?
Uh, tidak mungkin bukan jika aku bilang begitu ಠ﹏ಠ
Ta-tapi maksudku, akh pokoknya ini salah terong itu sampai membuatku berfikiran aneh begini!
Lihat saja bagaimana dia menonjolkan kedua melon itu, aku yakin bahwa kedua tangannya itu sengaja melakukannya.
Keduanya sangat besar, bahkan jika diperhatikan itu seperti dua kali lipatnya dari milikku (ノಠ益ಠ)ノ
Apa mungkin itu sama seperti milik kak Fall?
Ugh, dasar pemilik oppai besar! Mereka selalu saja membangga-banggakan kedua lemak itu, padahal itu bukanlah apa-apa!
"Kau cukup mengesalkan ju–"
"TUAN PUTRI, ADA SEGEROMBOLAN MONSTER YANG MENGHALANGI KITA!"
Suara seorang prajurit menginterupsi perkatanku, kembali aku tersadar dengan perkataan Exsalia beberapa saat yang lalu.
Ukh, aku jadi melupakan masalah monsternya!
"Olivia, jangan pernah angkat pantatmu dari sana."
Telunjukku kuarahkan pada tempat yang Olivia duduki, mengintruksikannya agar tidak kemanapun.
Huhuhu, sepertinya para monster itu bisa jadi pelampi–
[Master, apa anda merasa iri hanya karena dada besar milik nona Olivia?]
A-apa?! Ma-mana mungkin aku iri!
__ADS_1
Ketika ingin membuka pintu dan keluar, kedua bahuku dicengkeram kuat oleh seseorang.
"Kamu kira aku ini gadis lemah?" Aku dapat mendengar suara Olivia di telingaku, suara itu terdengar sangat datar nan dingin.
"Aku yang akan menyelesaikan semuanya, hitung-hitung sebagai tugas pertamaku sebagai tangan kananmu." Lanjutnya, suara serasa langsung masuk tanpa melewati daun telingaku.
Setelah mengucapkan itu, Olivia mengambil kenop pintu sebelah dan membukanya.
Dari jendela, aku dapat melihat dengan jelas gadis itu yang mengangkat kedua tangannya keatas.
Jarak yang cukup jauh, terlebih dengan pintu kereta yang sudah tertutup rapat membuatku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Olivia lafalkan disana.
Beberapa kali aku mencoba memutar-mutar kenop pintu, tapi pintu ini masih seakan tetap teguh dengan pendiriannya.
Aku yakin tanpaku sadari sebenarnya Olivia pasti sudah menguncinya dari luar, dasar gadis yang licik.
Sebenarnya bisa saja ku rusak pintu ini, tapi hatiku seketika menolak tak kala melihat lingkaran sihir yang terbentuk sempurna dibawah kaki Olivia.
Lingkaran besar itu berwarna merah dan dengan cepat membesar membuat tanah yang disekitarnya ikut tergambar olehnya, semua motif yang terbentuk didalamnya berputar hebat tak kala Olivia mulai menurunkan tangan kanannya.
Beberapa Orc yang sudah masuk didalam daerah lingkaran terhisap dan mulai keluar gumpalan asap yang meluap, seakan tanah datar yang tadinya mereka pijak berubah menjadi hamparan lava panas.
Satu tangan Olivia yang masih diatas akhirnya turun pelan-pelan, namun tak lama setelahnya tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari Orc lainnya.
Suara demi suara terdengar seakan mereka semua bersahutan. Sungguh, teriakan yang melengking hebat itu cukup memekikkan telingaku.
Teriakan itu bukan tanda perlawanan, teriakan itu berasal dari mereka yang berusaha meluapkan seluruh kesakitan.
Semua yang berada dalam lingkaran sihir besar Olivia mulai habis terhisap dan menghilang, sedangkan mereka yang berada diluar terus saja digencar bola api yang terus datang tak tau arah.
Selesai dari kanan, lingkaran sihir kecil terbentuk mengeluarkan sebuah bola api yang kini menyerang dari kiri. Lalu setelahnya dari bawah, atas, belakang, depan, samping, sebelah, uh pokoknya bertubi-tubi.
Itu tidak akan selesai sampai mereka semua tumbang. Beberapa dari Orc itu ada yang mencoba kegigihannya, tapi akhirnya ia hanya harus berakhir dengan tubuh yang menjadi abu.
Berapa yang menyerang kita, Exsalia?
[Semuanya ada kurang lebih tiga puluh dua, Master]
Aku mengangguk paham. Ini termasuk waktu yang cepat karena Olivia yang kulihat sudah menghentikan sihirnya, sepertinya seluruh Orc itu sudah tewas.
"Bukannya Orc itu memiliki ketahanan yang cukup besar terhadap untuk sihir?"
Yang kulihat dari Olivia barusan, jelas itu semua sihir. Bukanlah energi roh.
Orc adalah salah satu monster yang dianugerahi armor yang cukup tebal terhadap sihir, oleh karena itu harusnya pedang adalah jawaban terbaik untuk melawan mereka.
Tapi apa yang kulihat ini, mereka semua bahkan tumbang dengan cepat hanya dengan sihir api.
[Master, apa anda sadar?]
"Apa?"
[Ketika nona Olivia menggunakan sihirnya, kedua anting miliknya bersinar]
"Maksudmu, anting itu memiliki kekuatan khusus?"
Seperti yang kucurigai sejak awal, ada yang aneh dengan anting itu. Sekali lihat anting itu memang hanya seperti antik mewah biasa, tapi jika diperhatikan lebih dalam anting itu seperti memiliki sesuatu yang seakan menarik kedalam.
Menarik yang kumaksud itu bukan seperti memilikinya, tapi seperti ingin lebih tau tentangnya.
Jika bisa, sebenarnya aku ingin sekali mengambil dan segera memeriksanya. Hanya sekedar itu, kalau sudah selesai ya kukembalikan.
Aku tidak seburuk itu sampai harus mengambil paksa milik seseorang, upss.
__ADS_1
[Itu seperti memberikan kekuatan lebih, tapi juga dilain sisi seperti meningkatkan kualitas sihir]
Benar kata Exsalia, itu seperti memberikan kekuatan lebih. Aku masih tidak tau seberapa besar mana yang dimiliki Olivia, tapi untuk menggunakan sihir dengan banyak sekaligus, itu hanya dapat dilakukan oleh penyihir berkapasitas tinggi.
Dan untuk peningkatan kualitas sihir, itu juga benar. Sihir api bertipe Lava adalah salah satu sihir tingkat tinggi, terlebih itu dilakukan dengan lingkungan yang sangatlah tidak mendukung.
Bagi penyihir biasa, itu terkesan sangatlah mustahil.
Olivia yang kutahu hanya terpaut dua tahun dariku, yang berarti sekarang ia harusnya masihlah berumur 17 tahun.
Sihir tingkat tinggi untuk umur 17 tahun, apa ia merupakan seorang berbakat sepertiku? Atau mungkin juga ia orang yang bekerja keras sepertiku?
Entahlah, semua itu masih terasa samar.
Tanpa kusadari, senyuman kecilku terbit. Aku tak tau kenapa, tiba-tiba saja rasa puas seakan menguasai diriku.
"Sepertinya memang pilihanku tidak pernah salah."
..._____...
"Kalian, tolong urus semuanya." Olivia memerintahkan kepada seluruh ksatria yang ada.
Para ksatria dengan cepat mengangguk sigap. Sebenarnya dalam hati ada sedikit rasa tak enak, karena bagaimanapun orang yang seharusnya mereka lindungi malahan melindungi mereka.
Aku sungguh malu! Batin mereka serempak.
Para ksatria yang dikirim untuk menjaga putri Celestine semuanya terdiri atas ksatria yang dikirim dari istana kekaisaran. Bagi yang bertanya kemana para ksatria Celestine, mereka masih menetap dikekaisaran bersama Silla.
Awalnya Silla menolak keras permintaan dari Lauren yang ingin pulang secepatnya, karena bagaimanapun tugas dikekaisaran masih belum selesai. Silla tak mau menyelesaikan semuanya sendiri, paling tidak Lauren juga harus merasakan penderitaannya!
Tapi ketika rujuk rayu keluar bersamaan dengan kedua mata besar yang berkaca-kaca, seketika semuanya pecah dan membuat pertahanan Silla goyah.
Selama dikekaisaran, Silla jarang sekali mendapatkan sifat manis nan manja dari Lauren. Gadis itu lebih sering terlihat serius, anggun dan pendiam.
Tiba-tiba saja ditembak tepat di kepala seperti itu, siapa yang tidak mati karena luluh!
Akhirnya semuanya berjalan sesuai keinginan Lauren, bahkan gadis itu yang memberitahu Silla mengenai ia yang membawa Olivia bersamanya sama sekali tidak digubris oleh Silla.
Sungguh, sisi imut Lauren itu bagai obat keras untuk Silla. Enak tapi menghanyutkan.
Tunggu saja nanti, apa yang akan Silla semprotkan tak kala ia yang sudah kembali pada kenyataan.
"Bagaimana menurutmu penampilanku tadi?"
Lauren dapat melihat raut wajah Olivia yang seperti ingin sekali dipuji, dapat dilihat dari semua bintang-bintang bersinar yang mengelilingi dirinya.
Bahkan ketika sudah duduk pun, gadis itu masih saja menampakkan ekspresi sebelumnya.
Helaan nafas pelan dari Lauren terdengar, "Ya, cukup baik." Pujinya.
Kedua alis Olivia bertaut, "Kamu pasti tidak tulus bukan mengatakannya?!" Terkanya, dan sayangnya itu tepat sasaran untuk pihak sana.
Lauren lagi-lagi menghela nafasnya, menghadap Olivia ia mulai mengeluarkan senyum terpaksanya.
"Aku ikhlas mengatakannya, Olivia."
Beberapa saat, Lauren merasa Olivia tak kunjung menjawabnya. Biasanya setelah ia selesai berkata, pasti saja gadis itu akan langsung menjawabnya. Entah itu jawaban, perlawanan, atau mungkin pertanya–
"Lauren, ikhlas itu apa?"
Ikhlas? Akh aku kelepasan!
..._____...
__ADS_1