Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Busquets


__ADS_3

"Ren, kemana tujuan kita sekarang?" Dibelakang, aku dapat mendengar pertanyaan dari Olivia.


Kemana? Jika kamu bertanya kepadaku pun, aku juga tak tahu harus kemana.


Dunia ini sangatlah luas, bahkan untuk sekedar mengelilingi benua ini aku sama sekali belum pernah.


Jika diibaratkan, mungkin benua yang kutempati sekarang itu seperti benua Amerika. Masih ada benua-benua besar lainnya diluar sana hanya saja aku sama sekali tak pernah menjamahnya, seperti Eropa, Asia dan kawan-kawan.


Apa aku harus kembali ketujuan awalku saja? Mencari semua hal tentang Nuela, ibuku.


Exsalia, kamu tau dimana letak terakhir kali Mana ibu dapat dideteksi?


[Terakhir ada pada hutan besar Great, didaerah selatan benua]


Butuh waktu berapa lama jika menggunakan kereta kuda?


[Mungkin sekitar dua minggu, Master]


Wilayah kerajaan Celestine membentang luas dari utara hingga ke barat daya benua, sedangkan kekaisaran Destegraf mengambil keseluruhan wilayah timur dari benua.


Untuk bagian barat sampai selatan, itu dihuni oleh beberapa kerajaan-kerajaan kecil.


Jika mengambil dari tempat kita berangkat, maka perjalanan akan dimulai dari Utara ke Selatan!


Uh, ini sama saja hampir mengelilingi setengah benua!


"Via, apa kamu pernah mendengar tentang hutan Great?"


Olivia merupakan putri dari Duke Vealiq, Duke yang menguasai dan mengatur penuh wilayah bagian selatan kekaisaran.


Seharusnya ia tidak asing dengan itu.


"Hutan Great? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya mengenai hutan mengerikan itu?"


Hutan mengerikan?


"Apa maksudnya?"


Tidak pernah ada disebutkan bahwa hutan itu mengerikan, bahkan Exsalia sama sekali tidak pernah menyebutkan itu.


"Ah aku lupa, kamu bukan orang dari kekaisaran."


Olivia terlihat menggesek-gesek telapak tangan kanan pada tengkuk leher belakangnya, seperti orang yang tak sengaja mengucapkan hal yang tak seharusnya.


Itu semakin membuatku penasaran, sebenarnya ada apa ಠ⁠,⁠_⁠」⁠ಠ


"Disana diceritakan bahwa pernah ada pembantaian besar-besaran, entah siapa pelakunya masih menjadi misteri."


Ketika Olivia baru saja ingin membuka mulutnya, Leo menyela dengan penjelasan singkatnya.


Dapat dilihat wajah Olivia yang memerah. Merah disini bukan lantaran malu, tapi karena kesal.


"Hey, aku baru saja ingin memberitahunya!" Protes Olivia.


Tunggu-tunggu, lupakan itu.


"Pembantaian, bagaimana maksudnya?" Rasa penasaranku sudah diambang batas. Mungkin jika aku tak mendapatkan jawabannya sekarang, aku bisa saja mati ditempat.


Bercanda.


Olivia nampak menatap Leo, yang mana langsung dihadiahi gendikan bahu acuh dari lelaki itu.


Ada apa ini? Apa ini hal yang tabu untuk diceritakan?


"Informasi ini sebenarnya hanya diketahui oleh para keluarga petinggi kekaisaran." Ucap Olivia, gadis itu nampak menatapku dengan serius.

__ADS_1


"Dulunya akademi Finden pernah mengadakan ujian di hutan itu, dan yang seperti dibilang Leo tadi, sebuah pembantaian tiba-tiba saja terjadi." Lanjutnya.


Ujian? Finden?


"Beberapa pihak menemukan bukti bahwa pembantaian itu dilakukan oleh gerom- ah tidak-tidak, seorang Iblis, lebih tepatnya seorang Greater Demon."


Tunggu, jika dia menyebutkan Greater Demon. Bukannya itu tingkatan iblis yang satu tingkat dibawah raja iblis?


"Ini akan menjadi cerita yang cukup panjang."


..._____...


Disebuah ruangan kerja yang nampak mewah, seorang lelaki berdiri didepan jendela yang terbuka sambil menyesap pelan batang berasap ditangannya.


Produk yang dikeluarkan oleh perusahaan Evergreen itu membuatnya sungguh ketagihan. Meski sudah diberitahu mengenai konsekuensi yang akan diterima apabila menggunakan produk ini, ia sama sekali tidak mempermasalahkannya.


Batang berasap ini disebut sebagai Rokok. Baru satu bulan masuk serta mulai dipasarkan, semua orang sudah saling memperebutkannya.


"Charles."


Seseorang memanggilnya. Suara lembut itu seakan sudah menempel lekat di telinganya, sehingga membuatnya dengan mudah mengenali itu siapa.


"Ibunda, kenapa sampai harus repot-repot kemari?" Charles mematikan rokoknya, membuang puntung itu tepat pada tempat sampah yang tak jauh darinya.


Wanita yang dipanggil 'ibunda' itu tersenyum, menatap lembut putra semata wayangnya.


"Ibu ingin melihat putra ibu, apa itu salah?" Ujarnya.


Charles dengan cepat menggeleng dan menghampiri ibunya, "Tidak, ibu boleh kesini kapanpun! Bahkan semua yang ada disini itu milik ibu!" Serunya.


Elena tersenyum tipis, telapak tangannya terangkat dan mulai mengelus lembut surai coklat putranya.


"Kamu ada masalah?"


Tidak ada siapapun yang mengetahui Charles lebih daripada Elena. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkannya seorang diri, Elena sudah tau bagaimana karakter dari putranya.


Charles terkejut sesaat, namun setelahnya hanya tatapan lembut untuk sang ibu.


"Aku memang tidak dapat menyembunyikan apapun dari ibunda, ya." Charles mendekap ibunya, membiarkan kehangatan sang ibu menyelimutinya.


"Sejak kita masuk ke dalam istana ini delapan tahun yang lalu, kamu selalu saja dilanda berbagai masalah."


Elena mendekap kedua pipi anaknya, mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening Charles disana.


"Ibu harap, nama Busquets itu sama sekali tidak meng–"


"Ibu, ini pilihanku." Charles dengan cepat memotong. Tatapan yang ia berikan ke ibunya seakan memberitahukan bahwa pembahasan itu tak perlu dilanjutkan.


Elena mengangguk, "Ibu akan ikuti semua pilihanmu, Ar."


Ar merupakan panggilan kecil untuk Charles, tak banyak orang yang mengetahui mengenai panggilan ini.


Teruntuk Elena, sudah pasti ia tau.


"I-ibu, a-aku ini sudah dua puluh enam tahun!" Dibalik penolakannya, tercetak senyuman kecil diwajah Charles.


Dengan adanya sang ibu, Charles sangat yakin dapat menghadapi semuanya.


Sekalipun itu untuk memperebutkan tahta kerajaan dengan kakaknya, bukan hal yang sulit.


"Tunggu waktu kalian semua, bajingan."


..._____...


Berjalan terus, tanpa terasa kami bertiga sudah sampai pada pintu keluar hutan.

__ADS_1


Sejauh ini sama sekali tidak ada monster ataupun makhluk buas, karena memang wilayah Celestine sendiri terbilang cukup aman.


Karena memang wilayahnya yang ada di utara benua, Celestine sedikit memiliki hawa yang dingin. Disini bahkan memiliki musim dingin yang lebih lama dari daerah-daerah kerajaan lainnya.


Karena itu, tak banyak monster dan hewan buas yang dapat ditemukan disini.


"Pertama, kita akan melewati perbatasan dan menuju ke kerajaan Busquets."


Usulan dari Olivia adalah pilihan paling tepat. Kerajaan Busquets merupakan kerajaan kedua terbesar setelah Celestine, yang mana kekuasaannya berada tepat ditengah-tengah benua.


Wilayah kerajaan ini sama sekali tidak memiliki perairan selain satu sungai yang tepat mengalir di wilayah ibukotanya, karena itu mereka sangat kurang di faktor pertanian dan bahan pangan.


Melupakan itu semua, kekuatan ekonomi kerajaan Busquets lebih kepada faktor tambangnya.


Disana terdapat tambang emas, berlian, perak dan yang paling penting, tambang batu Mana.


Busquets merupakan pemasok batu Mana terbesar yang ada. Karena itu, kerajaan ini bisa dibilang juga sebagai kerajaan yang makmur.


Pemerintahannya juga cenderung netral. Ketika peperangan antar Celestine dan Destegraf, mereka sama sekali tidak memihak kepada siapapun.


"Aku ingat, ketika pesta kemarin pihak Busquets hanya mengirimkan surat tidak dapat hadir kepada kaisar."


Ucapan Olivia kuangguki tanpa sadar. Memang benar, kemarin Silla juga bilang ia tidak dapat menemui perwakilan dari Busquets.


"Bukannya mereka sedang terlibat perang dingin didalam?"


Aku sempat menguping pembicaraan Silla dan Kak Fall, dan itu yang kudapatkan.


"Benar, katanya ada sedikit masalah antara putra mahkota dan pangeran kedua."


Pangeran mahkota dan pangeran kedua, apa lagi itu kalau bukan tentang perebutan kekuasaan.


Yang kutahu, kekuasaan yang dicari didunia ini tak hanya sebatas mengenai keuntungan.


Lain dari pemerintahan yang berdasarkan demokrasi, dunia ini lebih mengenal sistem monarki absolut.


Sistem dimana ada raja, dan hanya keturunannya saja yang dapat berkuasa.


Karena sistem ini, menimbulkan ego yang besar di setiap para penguasa. Baik itu raja ataupun para bangsawannya.


Jangan heran jika ada seorang bangsawan yang menatap jijik pada rakyat jelata, karena sejatinya para bangsawan itu sudah dikendalikan egonya sendiri.


Sebenarnya hubungan antar penguasa dan rakyatnya itu tak bisa dilepaskan. Penguasa tak bisa jadi penguasa jika tidak ada rakyatnya, dan begitu pula sebaliknya.


"Via, menurutmu bagaimana mengenai pangeran mahkota Busquets itu?"


Raut wajah Olivia seketika berubah ketika mendengar pertanyaanku.


Seolah mengingat hal yang amat menjijikan, ia melihatku. "Apa yang kamu maksud itu lelaki brengsek itu?" Ucapnya.


Aku tak tahu apa yang sudah dilaluinya. Tapi satu hal yang kutahu, pasti Olivia memiliki kesan yang sangat buruk padanya.


"Mak–"


"Ren, kenapa kamu bertanya tentang lelaki itu?"


Entah kenapa, rasanya aku tiba-tiba saja merasa ditatap tajam oleh seseorang.


Itu Leo!


Aku menghadap kearahnya, dapat kulihat ia yang masih melayangkan tatapan tajamnya untukku.


Tunggu-tunggu...


Apa lelaki ini tengah...

__ADS_1


Cemburu?


..._____...


__ADS_2