Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Nightmare


__ADS_3

"Sudah pagi, ayo bangun."


Disamping telingaku, aku dapat merasakan bisikan seseorang. Hal itu membuatku spontan duduk, untuk dapat mengetahui siapa orang yang berani-beraninya mendekatiku.


Dengan kesadaran yang masih setengah, remang remang dapat kulihat seorang lelaki yang tengah duduk tepat di hadapanku.


"Leo?"


Meski tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku sadar bahwa suara sebelumnya itu milik Leo.


"Hm, sudah pagi."


Saat aku hendak mengucek mataku, agar dapat menetralkan kembali penglihatan ku, Leo menghentikannya.


"Jangan dikucek, aku sudah menyiapkan kain dan air diluar."


Diluar katanya? Uh ak malu jika harus menampakkan wajah baru bangun tidurku keluar!


"Leo, aku malas untuk berjalan!"


Aku tak mendengar jawaban dari Leo. Entah karena bangun tidur atau apa, aku jadi melupakan satu hal yang rasanya cukup penting.


"Biar ku gendong, pegangan."


Ah hal ini yang ku lupakan. Leo tiba-tiba saja menggendongku ala bridal style. Dapat kurasakan kepalaku yang sempat menabrak perut sixpack nya, tidak-tidak, bukannya ini eightpack?


Rasa penasaran itu membuatku lupa akan kontrol diri. Kedua tangan yang tadinya menggantung di leher Leo, turun salah satunya untuk mengelus sesuatu yang menjadi bahan penasaran.


Dengan jari lentik ku, aku menyasar lembut perut Leo diantara kain yang menjadi pakaiannya. Lelaki itu sekarang tengah mengenakan kaos santai, yang entah kenapa membuatnya terlihat hot saja.


"Re-ren, apa yang kamu lakukan?"


Suara Leo terdengar mengerang. Akh, apa yang sudah kulakukan!


"Ma-maaf Leo, a-aku hanya penasaran."


Leo berhenti ditempat, dengan posisi masih menggendongku. Pintu kereta yang merupakan sebuah kain sudah tepat berada didepan kami. Jika Leo melangkah sedikit, aku yakin kita pasti sudah dapat keluar.


"Kamu bilang, hanya penasaran? Setelah menyentuhku seperti itu?"


Sleep crust yang tadinya menghalangi penglihatan ku kini seakan menghilang entah kemana, memaksaku untuk menatap Leo yang kini menghadap ku.


Dari bawah sini, dapat kulihat wajah Leo yang memerah. Meski agak gelap, aku dapat memastikan bahwa itu benar.


Apa dia terpancing karena sentuhanku?


[Master, hati-hati anda akan diterkam oleh hewan buas itu]


Suara Exsalia terdengar didalam kepalaku. Uh, setelah sekian lama tak muncul, sekali muncul ia malah mengatakan sesuatu yang tidak penting.


Aku juga tau itu!


"Le-leo, maaf bisa kamu bawa aku untuk mencuci muka? Mataku tiba-tiba saja terasa pedih."


Untuk sekarang, aku memilih untuk berakting sakit. Daripada pagi-pagi harus mengalami tragedi suami dan istri, lebih baik aku berbohong untuk kebaikan.


Beberapa kali kucoba mengedipkan mataku, berharap agar air mata bekas uapan kantuk sebelumnya dapat kembali berlabuh.


Dan hal itu berhasil, dapat dilihat dari mataku yang kini sudah berkaca-kaca.


"Maaf, aku tidak memperhatikanmu."


Leo keluar, aku dapat merasakan ia yang sedikit berlari kecil membawaku ketempat yang sepertinya dimana air dan kain yang sudah ia siapkan.


Kini di depanku, terdapat sebuah ember kayu yang sudah penuh dengan air yang terlihat segar nan bersih.


Leo menyodorkan sebuah kain kepadaku, "Terimakasih, Leo."


Kuambil kain itu, dan dengan cepat ku celupkan kedalam air untuk membasuh seluruh permukaan wajahku


Akh, rasanya sangat segar!


Kini penglihatan ku sudah kembali seratus persen. Cahaya matahari pagi, yang menyembul diantara rindangnya pepohonan menyambut ku pertama kali.


"Indah."


Yah, meski sudah beberapa kali melihatnya, aku tetap merasa bahwa semua pemandangan ini sangat indah.


Hutan pagi yang bercahaya, dengan pepohonan yang masih menyimpan embun pagi diantaranya.

__ADS_1


Beberapa kupu-kupu terlihat terbang kesana kemari, bersama dengan burung yang bertengger manis disalah satu ranting pohon yang sama sekali tak nampak sunyi.


Sebagai seseorang yang pernah lahir di pulau Kalimantan, aku sangat merindukan ini semua. Sejak dulu, hanya ini yang selalu kuharapkan.


Semua kemewahan yang selama ini ada itu sama sekali tidak cocok dengan diriku. Berdiam diri, dan hanya terus taat pada perintah.


Aku benci menjadi burung indah yang cuma bisa berdiam diri didalam sangkar. Aku ingin bebas, dan karena itulah perjalanan ini bisa ada.


"Ya, sama seperti kamu."


Celetukan Leo terdengar jelas di telingaku. Indah? Sama seperti kamu? Apa lelaki ini tengah coba menggodaku?


"Y-ya, aku tau bahwa aku itu indah."


Walaupun aku tau itu garing, tapi entah kenapa jika Leo yang menyebutkannya, aku merasa aneh sendiri.


Jangan tanya aku kenapa bisa begini, aku sendiri juga tidak tau!


Tunggu, sepertinya aku kembali melupakan sesuatu yang penting.


Exsalia?


[Hm, apa master memanggil saya?]


Benar, aku tidak salah lagi. Apa yang aku dengar sebelumnya bukan khayalan belaka, ini suara Exsalia.


Darimana saja kamu? Kenapa baru muncul sekarang!


[Beberapa hari sebelumnya saya memindahkan kesadaran saya ke suatu tempat, untuk menyelesaikan sebuah masalah]


[Saya minta maaf, jika sudah membuat master khawatir]


Jika boleh jujur, aku dapat merasakan suara Exsalia yang cukup lemas. Itu tak terdengar sama seperti biasanya, yang mana ia yang seakan tak memiliki batasan akan keenergika nya.


Yah, aku cukup senang jika kamu sudah kembali.


Kalau dikatakan khawatir, tentu saja aku khawatir. Peri kecil ini adalah teman pertamaku, seseorang yang mengenalkan lebih luas dunia ini kepadaku.


Tak merasakan suaranya dalam beberapa hari membuatku kelabakan sendiri. Ingin mencari ke ruangan domain buatannya, itu semua mustahil tanpa ada undangan tersendiri dari Exsalia.


Bisa dibilang, untuk sekarang jika saja Exsalia menghilang, aku sama sekali tak tau harus mencarinya kemana.


Sepertinya karena itulah dia menyebut memindahkan kesadarannya, bukan pergi untuk sementara.


[Master, saya merasa ada beberapa makhluk sihir yang mendekat]


"Ren, akan ada yang datang."


Suara Exsalia dan Leo yang masuk secara bersamaan menginterupsi ku, membawaku kembali ke duniaku.


Apa jenisnya?


"Kamu tau jumlahnya, Leo?"


Pertanyaan berbeda ku lontarkan, dengan timing yang bersamaan.


[Ini sejenis beruang, dugaan saya itu adalah Nightmare Bear]


"Tiga, dengan semua yang mengarah ke kita."


Nightmare bear digambarkan sebagai beruang besar berbulu hitam legam dengan tanduk runcing yang ada diujung kepalanya.


Selain fisiknya yang sekuat beton, makhluk itu juga dapat menggunakan sihir melalui tanduk runcingnya.


Sebagai seekor makhluk sihir, mereka juga diuntungkan untuk dapat menggunakan energi alam sepuasnya. Karena itu melawannya dari jarak jauh pun cukup sulit, karena sihir yang ia tembakan nantinya tak akan pernah habis.


Jika bertarung di jarak dekat, sebagai hewan buas pada umumnya, tentu saja mereka akan semakin brutal. Apalagi didukung dengan fisiknya yang sangat kuat, ini akan menjadi lawan yang sangat merepotkan.


Dan juga, jumlahnya ada tiga. Sepertinya mereka sepasang keluarga, yang dengan tanpa sengaja kita malah memasuki daerah kekuasaannya. Setahuku, Nightmare Bear tidak akan terganggu jika mereka sama sekali tak merasa terusik.


Sepertinya aku dibawa Leo cukup jauh dari gerombolan, apalagi aku baru sadar bahwa sekarang kita sedang berada ditengah hutan!


Entah aku yang bodoh, atau Leo yang bodoh. Apa karena Leo yang membawaku, aku malah jadi percaya-percaya saja? Uh, sepertinya aku lebih bodoh disini.


[Master, harap siapkan pedang anda]


"Ren, apa kamu bisa mengatasi salah satu dari ketiganya?"


Huh, merepotkan!

__ADS_1


...____...


Kamu harus pergi ke benua Elf, jika ingin mengetahui semua tentang kebenarannya.


"IBU!"


Olivia tersentak. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, ia segera duduk bersama rasa was-was yang tiba-tiba saja datang menghantuinya.


Keringat dingin nampak membasahi wajah cantiknya, rambut hitam panjangnya terlihat sedikit berdampak karenanya.


"Cih, lagi-lagi mimpi itu!"


Mimpi yang memperlihatkan seorang yang tengah menangis karena kelahirannya. Bukan ibunya, karena ia dapat melihat gambaran ibunya yang tengah terbaring lemas paska melahirkannya.


Seseorang itu adalah lelaki yang pertama kali menggendongnya, bahkan menenangkan tangisan pertamanya ketika baru saja sampai didunia.


Setelah gambaran itu semua, entah kenapa semua tiba-tiba saja gelap. Dan selalu saja berganti dengan sebuah rumah yang terbakar bersamaan dengan banyaknya orang mati di dalamnya.


Bercak darah dimana-mana, beratus-ratus anak panah berapi serasa menghujani setiap saat.


Ibunya berhasil lolos, dan membawanya pergi. Penglihatan terakhirnya berakhir dengan senyuman dari lelaki itu yang sampai sekarang Olivia sama sekali tidak tahu bagaimana rupa wajahnya.


Ia berdiri disana, mengadang semua yang berniat mengejar ibu dan diri kecilnya.


"Siapa dia?"


Pertanyaan itu selalu terucap, entah sudah berapa kali Olivia menanyakan itu pada dirinya.


Melewati banyak buku, bahkan seluruh pelajaran mengenai sejarah dan arti mimpi sudah ia lalui. Tapi dari itu semua, ia sama sekali tidak menangkap maksud dari apa yang selalu ia anggap sebagai mimpi buruk.


Semua seakan masih semu. Olivia diminta untuk mencari jarum diantara tumpukan jerami, dengan orang yang memintanya sudah menghilang tanpa Olivia tau kalau didalam jerami itu betul-betul terdapat sebuah jarum.


Benar, ini adalah teka-teki yang ditinggalkan oleh orang yang sudah mati.


Kenapa tidak langsung beritahu saja sih, Bu!


"Tunggu, aku sempat melupakannya." Seolah baru sadar kalau seseorang yang menemaninya tidur semalam sudah tidak ada, Olivia menggeram.


"Bisa-bisanya dia meninggalkan ku!"


...____...


"Leo, bocah itu berani bermain-main ya denganku."


Disebuah tempat yang didominasi oleh warna putih, terlihat seorang wanita dengan rambut biru mudanya yang menjuntai sangat panjang hingga menyusuri dasar lantai.


Dengan senyum aneh, ia memandangi bingkai cermin berbentuk lonjong yang tengah melayang dihadapannya.


Jika ini Lauren, maka ia akan dapat langsung menebak bahwa tempat ini adalah domain milik Exsalia.


Tapi, semua itu salah.


Daripada disebut domain, tempat ini sudah seperti dunia tersendiri untuk wanita itu.


Bingkai cermin yang ada didepannya bukan berisi pantulan akan dirinya, melainkan gambaran seorang gadis yang baru-baru ini menarik perhatiannya.


Terlihat disana, ia tengah kesulitan dalam menghadapi makhluk yang sudah menjadi salah satu mainannya.


"Mereka sudah ditanamkan sedikit energi ku, apalagi aku sudah meletakkan kebencian yang amat sangat untuk mereka."


Senyumnya kian merekah, apalagi ketika mengingat ini semua sudah tersusun sangat rapi dengan tanpa adanya satupun individu yang tau mengenai campur tangannya.


"Aku yakin, si pengawas itu juga sama sekali tak tahu apapun."


Baginya, sosok yang ia maksud pengawas itu cukup menyusahkan. Selain dia yang memiliki hubungan langsung dengan dewa dunia yang sudah lama mati, kekuatan yang dia miliki juga sangat merepotkan bagi makhluk sepertinya.


"Dan sekarang aku sudah menemukan kemana arahmu berjalan, Exsalia."


Wanita itu terkekeh, dengan tawa yang sudah seakan mengetahui semua. Kedua netra emasnya dengan jelas terlihat memantulkan gambaran seorang gadis bersama Surai silver nya yang berkibar dengan cantik karena sebuah pertarungan.


"Pasti dengan semua tipu dayanya, ia berniat untuk membangkitkan kembali dewa sialan itu."


Dibelakangnya, tiba-tiba saja muncul sebuah tempat duduk yang empuk. Dengan perlahan, wanita itu mulai menempatkan bokongnya diatasnya.


"Dapat dengan mudah menarik Leo menggunakan sosok gadis itu, sepertinya aku sudah tak dapat menganggap remeh wadah yang telah ia siapkan."


"Aku Deste, tak akan membiarkannya berbuat dengan mudah."


...____...

__ADS_1


__ADS_2