Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Kamu gila!


__ADS_3

"Dale, kenapa kamu tidak bilang apapun kepadaku?" Viona menatap nanar lelaki didepannya.


Air mata perlahan meluncur di pipi tirus gadis itu, pelupuk matanya yang sejak tadi mencoba untuk kuat tak dapat lagi menahan bobotnya.


Dale mengambil tangan Viona dengan lembut, "Vio, maaf aku sudah merahasiakan semuanya."


Perkataan lelaki itu dipenuhi akan rasa bersalah. Rasa bersalah yang ia tunjukkan bukan hanya ada pada gadis didepannya, tapi juga gadis yang baru saja dicampakkannya didepan banyak orang.


"KAMU KENAPA TIDAK PERNAH BILANG KALAU OLIVIA ITU TUNANGANMU!" Viona sudah tak mementingkan apa status lelaki didepannya, perasaan dan emosi yang tiba-tiba membuncah seakan sudah mengontrol semuanya.


"KAMU TAU BUKAN OLIVIA ITU SAHABATKU?" Viona melepaskan dengan paksa tangan Dale yang memegang pergelangan tangannya, "SEHARUSNYA AKU MENO-"


Perkataan Viona berhenti tak kala Dale menarik tubuh kecilnya kedalam pelukan yang tak terduga, "Stttt..."


Suara detakan jantung Dale yang cepat dapat terdengar sangat jelas oleh Viona yang memang berada didalam dekapannya.


"Bisa beri aku waktu untuk menjelaskan?" Tanya Dale pelan, lelaki dengan gelar seorang putra mahkota kekaisaran itu mengelus halus punggung sang pujaan hatinya.


Merasa Viona yang masih belum membalas pelukannya, Dale merasa ada yang kurang. Tapi melihat bagaimana kondisi gadisnya sekarang, ia mengurungkan niatnya untuk meminta itu padanya.


"Aku memiliki kesepakatan dengan Olivia." Dale menghadap kebawah dengan senyum, disana ia dapat melihat gadisnya yang masih dalam sesenggukan tangisnya.


"Baik, mulai dari mana aku sebaiknya?"


Viona mengangkat kepalanya menghadap Dale disana, berharap ia mendapatkan jawabannya. Tapi sesuatu tak terduga terjadi, dimana Dale tiba-tiba saja mengangkat paksa dagu Viona dan mulai melancarkan tembakan.


Bibirnya dan bibir Viona bertemu. Namun itu tidak lama karena Viona yang tanpa perasaan menggigit bibir dari pihak sana.


"DALE!"


..._____...


Didalam pesta yang ditinggalkan oleh sang tokoh utama, terlihat seorang gadis cantik menarik perhatian lebih disana.


Selain karena wajahnya yang rupawan dan status tingginya yang sangat diharapkan oleh setiap orang, gadis itu mengambil seluruh perhatian karena terlihat berani menyeret dengan paksa seorang seorang putri Duke terhormat.


Ia adalah Lauren, dan tentu saja putri Duke yang dimaksud ialah Olivia.


Sepanjang perjalanan, Olivia terus menggerutu dan membombardir Lauren dengan semua pertanyaan.


"Lauren, kemana kamu membawaku sekarang?"


"Lauren, pelan-pelan jalannya!"

__ADS_1


"Lauren, kenapa harus cepat-cepat?"


"Hey, jangan asal menarik ku!"


Semburat merah mulai terlihat di dahi cantik Lauren, gadis itu berbalik dengan tatapan dinginnya.


"Olivia, bisa kamu diam saja dan ikut dengan tenang?" Ucapan Lauren terdengar sangat datar, seakan ia sama sekali tak mau dibantah.


Olivia terdiam, sesaat tegang karena tatapan dingin yang ditunjukkan padanya.


"A-aku kan hanya bertanya, la-lagian ka-kamu yang tiba-tiba saja menarikku!" Olivia berucap dengan menyangkal setiap rasa takutnya.


Sungguh, tatapan Lauren itu sangatlah mengintimidasi baginya. Tapi mengingat karena merasa baru kenal dengan gadis cantik didepannya, ia disini harus mempertahankan harga dirinya.


Masa aku harus tunduk pada gadis ini?!


Lauren terlihat berbalik dan kembali menarik paksa Olivia disana, sepertinya gadis itu sama sekali tak menggubris perkataan Olivia.


Disisi lain, sejauh mata memandang kini Silla tak dapat lagi menemukan batang hidung Lauren didalam acara.


"Sepertinya aku terlalu lengah." Ia sejak tadi terpaksa harus meladeni pembicaraan dengan beberapa bangsawan, tentu itu tak ia lakukan semata-mata hanya untuk kesenangan.


Selain diberikan tugas untuk menjaga Lauren, Falley juga menyelinapkan beberapa titah diatasnya.


"Membosankan." Silla berhasil menjauh dari keramaian, wanita itu memilih untuk mengambil potongan kue yang memang merupakan sajian pesta.


"Aku harap ini segera selesai."


..._____...


"Lauren, kamu sudah gila." Olivia bergidik ngeri atas senyum tipis Lauren yang terarah untuknya.


Mereka berdua sekarang tengah berada didalam ruang pertemuan untuk tamu, dengan Lauren yang duduk disofa lembut dan Olivia yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa tidak duduk? Bukannya disini banyak sofa?"


Semburat merah muncul dari pihak Olivia tak kala ia yang mendengar pertanyaan Lauren disana, "Kamu pikir aku bisa duduk diseberang seorang raja?!" Ucapnya kesal.


Lauren terlihat heran, tergambar bagaimana ia yang mengangkat satu alisnya. "Kenapa tidak?" Tanya ia akhirnya.


"Kamu sudah gila." Hardik Olivia.


Orang yang dihardik memilih tak peduli. Menghadap ke depan, Lauren memilih untuk menunggu apa yang memang dimintanya.

__ADS_1


"KAISAR DESTEGRAF, YANG MULIA GUSTAVO LE AXSEL GRAFON MEMASUKI RUANGAN!"


..._____...


"Yang mulia Ratu, berilah waktu untuk diri anda agar beristirahat."


Perkataan lembut seorang wanita membuat Falley mengalihkan pandangannya, senyum tipisnya terbentuk diantara dua tumpukan besar kertas di mejanya.


Untuk sekarang penampilan Falley bisa dibilang kurang baik. Kedua mata yang memerah dengan kantung mata yang tebal, rambutnya yang sedikit acak-acakan tak seperti biasa dan wajahnya yang nampak agak pucat.


"Tak apa bi Ana, ini sudah biasa." Ungkap Falley dengan suara lemahnya.


Juliana Evans, wanita yang dulunya menjabat sebagai dayang pribadi dari Ratu sebelumnya itu hanya dapat mengulas senyuman tipis.


Juliana juga dulu merupakan pengasuh Falley, bahkan wanita itu sempat menjadi ibu susu Falley ketika Nuela yang tiba-tiba saja mengalami demam tinggi paska melahirkan.


Semenjak kehilangan Nuela, Juliana seakan kelihatan arah untuk hidup. Sampai akhirnya ia yang tiba-tiba meminta izin kepada sang raja untuk berhenti bekerja di istana dengan alasan ingin berkelana.


Meski sudah berstatus orang luar sekarang, Juliana masih disambut dengan baik ketika wanita itu ingin berkunjung ke istana.


Ia kemari awalnya hanya untuk melepaskan rindu pada dua putri angkatnya, siapa lagi kalau bukan Falley dan Lauren.


Ketika sampai diistana, beberapa pelayan yang bekerja memberitahunya jika sudah beberapa hari ini yang mulia Ratu kerajaan Celestine itu terus saja memaksakan semuanya.


Kerena kesal mendengar itu, Juliana sampai-sampai mendatangi kamar Fansev secara paksa. Bahkan wanita baya itu sampai menjewer telinga sang mantan raja sambil memberikan ceramahnya karena mengira Fansev yang sudah memberikan banyak tugas itu pada putrinya.


"Bukan aku Ana, Falley sendiri yang memaksakan dirinya!"


Merasa tak percaya dengan ucapan Fansev, akhirnya Juliana memilih untuk mendatangi Falley seorang diri.


Kedatangannya tak diketahui siapapun, karena mau bagaimanapun salah satu tujuannya juga membuat kejutan untuk kedua putri angkatnya.


"Kenapa datang tidak memberitahu?" Falley bertanya masih dengan suara lemahnya.


Wanita itu berdiri dari tempat duduknya, berjalan pelan kearah Juliana yang masih berdiri ditempatnya.


"Mari bi Ana, duduk dulu." Falley membimbing Juliana untuk duduk di kursi yang tersedia, tapi dengan tegas Juliana menggeleng.


"Falley, ayo ikut bibi!" Juliana secara paksa mengambil lengan Falley di genggamannya.


Melihat bibir Falley yang sudah ingin terbuka untuk berbicara, Juliana secepat kilat memotongnya. "Tidak ada penolakan, ayo ikut!"


Setelahnya, entah kenapa dari kamar Falley tiba-tiba saja terdengar banyak ******* indah.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2