Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Itu, kamu?


__ADS_3

Silla menatap kedua lelaki dihadapannya bergantian, "Kenapa jadi berakhir seperti ini?!"


Leonardo mengendikan bahunya acuh, sedangkan Aamon hanya dapat menunjukkan senyuman simpulnya.


"Leo mengajakku kemari, jadi jangan tanya aku." Ucap Aamon membela dirinya.


Setelah menyelesaikan perjanjiannya dengan Silla, Leonardo entah kenapa tiba-tiba saja mengajak Aamon untuk bertemu.


Setelah itu inilah yang terjadi. Secara mendadak ketika ingin berangkat untuk pulang ke Celestine, Aamon muncul dan berkata ikut karena diajak oleh Leonardo.


Ketika Silla tanya, Leonardo hanya menjawab dengan anggukan. Sungguh, lelaki yang sangat dingin.


Begitulah itu semua terjadi. Karena itu, sekarang mereka bertiga bisa berada di kereta kuda yang sama.


"Bisa berikan setidaknya alasannya saja?" Silla sudah muak jika harus bertanya kepada Leonardo, pasti lelaki itu hanya akan mengendikan kedua bahunya.


Jalan satu-satunya sekarang hanya bertanya pada Aamon, tapi lihatlah bagaimana lelaki itu menjawabnya.


"Silla, aku hanya mengikuti permintaan Leo tidak lebih."


Sama saja, Aamon sepertinya juga enggan untuk memberitahukan alasannya pada Silla.


Wanita yang menjadi satu-satunya perempuan di dalam kereta itu mengepal erat kedua tangannya, semua gigi yang sudah merapat cukup menggambarkan bagaimana kekesalannya.


"KALIAN BERDUA INI MENGESALKAN!"


...____...


"Silla, selamat datang kembali." Falley memberikan senyuman terbaiknya. Ingin sekali rasanya ia datang dan segera memeluk Silla, tapi sayangnya itu hanya sebatas angan-angan tak kala melihat seorang lelaki yang turun dari kereta kuda setelahnya.


Falley sepenuhnya mengenal lelaki itu, "Aamon." Tanpa sadar nama itu terucap oleh Falley, yang membuat si empu yang merasa terpanggil menoleh.


Mata mereka berdua bertemu, sesaat setelahnya Falley memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan Aamon disana juga melakukan hal yang serupa.


"Falley, kamu hampir saja membunuhku."


Ucapan Silla seakan menjadi alasan tersendiri untuk Falley. Wanita itu mengambil kedua tangan Silla dan menggenggamnya, "Maafkan aku Silla, aku tidak tahu akan sesulit itu." Ucapnya.


Seperti yang sudah diketahui, Silla itu cukup sulit dengan yang namanya keimutan. Niat ingin marah-marahnya seketika lenyap tak kala melihat raut wajah penuh bersalah Falley, apalagi ditambah dengan suara lembut yang tak dapat bisa disalahkan.


"Hufh." Padahal niatnya begitu sampai itu memaki-maki Falley, kenapa malah jadi begini?


"Tenanglah Fall, itu bukan hal yang sulit."


Setelah mengucapkan itu, Silla tiba-tiba saja teringat akan sesuatu. Menghadap kebelakang, ia masih mendapati kedua lelaki yang dipungutnya dari kekaisaran.


"Fall, ada yang harus kubicarakan dengan Lauren."


..._____...


Niatku ingin menjelajah sedikit tertunda. Itu semua buntut karena kedatangan Silla yang tiba-tiba, hah tidak asik.


Aku bersama Olivia sekarang. Kita berdua sama-sama berbaring santai di kasur king size ku, lelah habis perang bantal.


"Ren, sepertinya ajudan kak Fall telah tiba." Aku menoleh kesamping, ketempat Olivia berada.


Wajahnya dibanjiri beberapa bulir keringat, mungkin itu karena perang bantal kita barusan.


Kalau saja diperhatikan lebih dalam, Olivia itu gadis yang super duper cantik.


Tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya untuk berbaring di kasur yang sama bersama seorang wanita cantik, apalagi itu untuk diriku yang dulu.


Sekarang entah kenapa itu terjadi, tapi dengan konsekuensi yang mana aku juga adalah seorang gadis.


Jika kalian bertanya apa aku menyesal menjadi seorang gadis, jawabannya tentu saja tidak!


Awal-awalnya sempat ada penolakan. Tapi ketika kujalani semua secara perlahan, itu menjadi hal yang biasa.


Malahan bagiku kehidupan sebagai Lauren ini sangatlah spesial. Semua yang tidak pernah kumiliki sebelumnya, sekarang dapat kumiliki didunia ini.


"Bagaimana jika kita kesana? Kamu ingin segera melakukan perjalanan bukan?" Olivia berdiri, dapat kulihat gadis itu yang ingin menarikku untuk juga ikut berdiri.

__ADS_1


"Ayo Ren!" Tangan kananku ditariknya, uh entah kenapa rasanya tubuhku terasa berat untuk meninggalkan kasur.


"Iya Via." Mau tak mau aku harus menuruti kemauan Olivia.


...____...


"Tuan putri, nona Silla ingin melakukan pertemuan pribadi dengan anda."


Kedua alisku bertaut, sedikit bingung. Tak biasanya Silla mengajakku untuk bertemu secara pribadi.


"Tunjukkan jalannya." Pelayan itu mengangguk dan segera berjalan lebih dulu.


Dapat kulihat Olivia yang kini tak lagi menggenggam tanganku, "Ren, sepertinya ini harus kamu sendiri yang menyelesaikannya."


Tumben sekali aku dapat melihat sisi Olivia yang seperti ini, pengertian dan dewasa.


Sejak mendengar namanya pertama kali, aku tertarik untuk mencari tahu semua tentangnya.


Olivia memang dirumorkan sebagai gadis yang dewasa nan anggun, ditambah ia sangat pintar dan menjadi salah satu murid paling berbakat di akademi.


Dirinya yang juga merupakan putri seorang Duke sangatlah pandai dalam bersosialisasi, mau itu dalam berbagai golongan.


Aku lebih sering bersosialisasi dengan masyarakat dan orang awam, jadi terdapat kelemahan terbesar jika aku bersosialisasi dengan para bangsawan dan orang besar.


Jika pada orang biasa, aku lebih bisa terbuka akan semua hal tanpa harus sibuk-sibuk mengatur dan membuat sebuah kata-kata untuk disampaikan.


Umumnya pada seorang bangsawan, mereka mengenal yang namanya perang lisan.


Perang lisan sendiri terbagi menjadi dua tipe. Ada yang mulutnya memuji, tapi pujian yang dikeluarkan memiliki arti untuk mengejek.


Ada juga yang kadang memuji sebagai maksud untuk menyinggung, kadang juga menggunakan perlindungan rendah dari sebagai ujung tombak penyerang.


Aku sama sekali tidak pandai untuk itu. Maka dari itu aku menyerahkan semua pada Silla, dan memilih kabur mengasingkan diri.


Tunggu sebentar, ngomong-ngomong soal kabur. Apa Silla memintaku untuk bertemu itu karena ini?!


Bukannya itu gawat?!


Tanpa sadar, aku sudah berada didepan pintu ruangan yang dimaksud.


"Masuk."


Aku kenal suara itu, Silla.


Pelayan tadi membukakan ku pintu. Sebenarnya aku bisa saja membukanya sendiri, tapi entah kenapa aku mengurungkan niatku.


Bukannya dibukakan itu lebih keren ಡ⁠ ͜⁠ ⁠ʖ⁠ ⁠ಡ


"Duduklah, Lauren."


Begitu masuk, aku sudah disambut dengan tatapan mengerikan dari Silla. Bahkan secara samar, aku juga dapat melihat auranya yang lepas.


Ku dudukan pantatku diatas sofa yang lembut, sofa yang mana berhadapan langsung dengan Silla.


"Ja-jadi kak Silla, a-apa yang kakak ingin bicarakan?" Aku entah kenapa tiba-tiba saja gugup.


Antara takut dan tidak enak, takut karena tatapan mengerikan Silla dan tak enak karena harus meninggalkan tanggung jawab yang harusnya kuemban kepadanya.


"Lauren, aku akan langsung ke intinya." Silla tak lagi menatapku dengan tajam.


Jika diperhatikan lebih seksama, aku dapat melihat sebuah lingkaran hitam dibawah matanya.


Dia tidak tidur?


"Karena tugasmu, aku terpaksa harus membuat perjanjian dengan seseorang." Aku masih mendengarkan dengan seksama, sama sekali tak berniat untuk memotong perkataannya.


Toh ini juga karena salahku juga, aku tak boleh lebih egois lagi tentang ini.


"Orang itu ingin menjadi ksatria pribadimu, ksatria yang akan mengabdikan dirinya untukmu."


Dapat kulihat Silla yang mengalihkan pandangannya kearah pintu ruangan, "Leonardo, masuklah!" Teriaknya tiba-tiba.

__ADS_1


Tu-tunggu sebentar...


Aku sepertinya mengingat nama itu.


Terlambat, belum sempat aku menggali ingatanku, orang yang dimaksud Silla itu sudah masuk.


Seorang lelaki berwajah rupawan dengan hidung yang mancung dan rahang yang tegas, bersurai pirang kecoklatan dan yang paling mencolok, netra hijau yang sedikit nampak menyala.


Aku kenal dengan lelaki ini. Ia orang yang pernah kutemui lima tahun yang lalu, dia adalah...


"Leo." Tanpa sadar nama itu terucap dari bibirku.


Dapat kulihat Leo yang melemparkan senyuman tipisnya padaku, kedua netranya itu menatap ku dengan hangat.


"Lauren, kita bertemu lagi." Ucapnya pelan.


Leo berjalan mendekatiku, sampai dimana kita yang sudah berhadap-hadapan.


Aku sekarang harus mendongak jika ingin melihat wajahnya, perbedaan tinggi kita yang cukup jauh itu sedikit mengejutkanku.


Mungkin jika diukur, aku sekarang hanya setinggi bahunya.


Ini kejutan, Leo yang dulunya hanya bocah tengik kini menjadi lelaki tinggi yang sangat tampan!


"Leo." Lagi dan lagi tanpa sadar aku mengusap pipinya, tak enak rasanya melihat wajah tampan ini yang tiba-tiba saja nampak sedih.


Akh, ada apa denganku ini ಠ⁠﹏⁠ಠ


Ketika ingin menarik kembali tanganku, Leo dengan cepat menahannya. "Biarkan saja seperti ini, Lauren." Ucapnya.


Ia menutup matanya, nampak menikmati telapak tanganku yang berada di pipinya.


"Ehemm..."


Silla yang berdehem membuatku menarik tanganku secara paksa, "Tidak baik bermesraan-mesraan disini."


Ucapan Silla membuatku sungguh malu. Aku memalingkan wajahku ke sembarang arah, tak mau mereka melihat wajahku yang mungkin sudah seperti kepiting rebus.


"Aku sama sekali tidak menyangka kalau kalian itu sudah saling kenal." Silla kini memicingkan matanya ke Leo, lelaki itu terlihat memalingkan wajahnya sama sepertiku.


"Yah baguslah kalau begitu, aku jadi tenang kalau Leonardo menjadi ksatria pribadimu."


Ksatria pribadi?


Ah aku baru sadar sekarang, jadi Leo yang Silla maksud akan menjadi ksatria pribadi ku?


"Ka-kak Silla, maksudnya?"


Aku masih tak percaya dengan semua ini, apa ini serius!


Silla menatapku seolah melihat orang aneh, "Ternyata cinta dapat membuat gadis pintar sepertimu menjadi bodoh juga ya." Gumamnya.


Aku yakin ia sama sekali tidak menutup gumaman nya itu, pasti Leo juga mendengarnya.


"A-aku kan hanya bertanya!"


Siapa juga yang dia sebut cinta dengan Leo?!


Aku sebatas hanya tak menyangka, tak menyangka! Catat itu!


Leo dulu memang tampan, tapi aku tak mengira ia akan menjadi jauh lebih tampan seperti sekarang ini.


Sebagai mantan lelaki, aku juga sedikit merasa terkesima.


Bukan berarti aku menyukainya, a-aku hanya penasaran bagaimana ia menjadi sangat tampan seperti ini!


"Leonardo mulai sekarang akan menjadi ksatria pribadimu." Silla nampak menjeda kalimatnya, mengalihkan pandangannya kearah Leo.


"Baik kamu melakukan perjalanan atau tidak, dia akan tetap ada di sampingmu."


Ah, habislah.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2