
"Ren, kenapa kamu tidak pernah bertanya apapun kepadaku?"
Lauren yang tadinya ingin masuk kedalam alam mimpinya dibuat mengerjap. Melirik kesamping, ia mendapati Olivia yang tengah menatapnya lekat.
Mereka berdua tidur dikasur yang sama, itu bukannya Lauren modus atau apa ya. Memang penginapan tempat mereka menginap sekarang hanya menyisakan dua kamar. Tak mungkin jika Leo dan Lauren satu kamar, apalagi kalau Leo dan Olivia yang satu kamar.
Nanti bisa ada yang marah, xixixi ( ꈍᴗꈍ)
Karena itu, Lauren dan Olivia sepakat untuk satu kamar. Lagipula, mereka berdua sudah pernah tidur berdua di istana Celestine sebelumnya.
"Aku tidak mau melewati batas, Via."
Olivia terperangah. Bertumpukan kedua tangannya, ia maju kian menumpahkan seluruh pandangannya kearah Lauren disana.
"Tapi kamu bahkan mencari tau semua asal usul ku ketika masih di kekaisaran, apa itu tidak bisa disebut melewati batas?"
Pertanyaan dari Olivia berhasil membuat kedua pipi Lauren memerah sempurna karena malu. Mengambil bantal yang tengah ia kenakan, Lauren dengan pelan melemparkannya kearah Olivia.
"I-itu karena penasaran! Hanya penasaran!"
Olivia yang tertawa renyah membuat kesempatan untuk Lauren mengambil kembali bantalnya. Gadis itu balik ke bagian ranjang empuknya, dengan tangan yang sudah mulai menarik selimut.
Meski ditengah kegelapan, Olivia dapat dengan jelas melihat bagaimana ekspresi yang Lauren buat. Jarang sekali dapat melihat seorang gadis dingin yang malu-malu, apalagi sampai melemparkan bantal seperti tadi.
Walaupun bantal itu tepat mengenai wajah Olivia, ia sama sekali tidak mempermasalahkannya.
"Ren, aku ingin cerita sesuatu."
Lauren sama sekali tak menjawab. Melirik lepas Olivia, ia seakan mempersilahkan lawan bicaranya untuk melanjutkan kembali ceritanya.
"Aku bukanlah anak kandung dari Duke Vealiq, aku hanyalah anak tirinya."
"Ibuku menikah dengan Duke Vealiq tepat setelah beberapa hari kelahiran ku, mereka berdua secara tidak sengaja bertemu karena gubuk kecil yang ibu bangun memang berada di daerah Vealiq."
"Duke yang kala itu sedang berburu, secara tidak sengaja bertemu sebuah gubuk dengan ibu yang masih tak dapat bergerak selepas persalinan. Dari sana mereka mulai menjalin hubungan, dan akhirnya berakhir menikah."
"Di kekaisaran, mereka masih menetapkan manusia sebagai makhluk terbaik. Kerena itu begitu sampai di daerah pusat Vealiq, Duke meminta ibu dan aku untuk memakai anting ini."
Olivia menyentuh pelan anting yang masih terpasang di daun telinganya, terlihat ia yang juga mengelus-elus benda kecil itu.
"Selang dua tahun menikah, ibu tiba-tiba saja menderita sakit keras. Para pendeta yang memeriksa bilang, ibu mengalami gejolak mana besar didalam dirinya."
"Setiap pendeta, bahkan penyihir terbaik yang dipanggil sama sekali tidak dapat menyembuhkan gejala Mana milik ibu."
"Mulai dari sana, ibu tiriku berulah. Wanita ular itu menyuap salah satu pendeta yang datang untuk memberikan penjelasan bahwa aku lah dalang dari semuanya. Aku dianggap sebagai janin yang dulunya membahayakan kesehatan sang ibu karena luapan Mana yang ku punya, proses persalinan yang sama sekali tidak ada prosedur membuat penyakit yang terbentuk berjalan secara berskala."
"Bukannya hal itu mungkin?"
Lauren menyela, menatap Olivia dengan pandangan menerka.
"Itu memang bisa menjadi kemungkinan, tapi semua tanda-tanda yang ditunjukkan oleh ibu sangat berbeda."
"Jika itu penyakit yang berjalan secara berkala, maka sejak aku lahir semua bentuk penyakitnya akan timbul meski hanya dalam bentuk kecil."
"Setelah melahirkan ku, ibuku terlihat sangat sehat. Terlepas dari pengurusnya yang ditangani langsung oleh pihak Duke, ibu juga sama sekali tidak memiliki satupun riwayat penyumbatan jalur Mana. Semua sehat, sampai tiba-tiba ia saja jatuh sakit."
"Aneh bukan, jika mendengar orang yang sangat sehat dengan tanpa satupun riwayat penyakit tiba-tiba saja jatuh sakit sangat keras. Terlebih, itu terjadi ketika Duke yang memulai perjalanannya keluar selama seminggu."
__ADS_1
"Dan lagi, itu langsung mengenai bagian paling berbahaya. Jalur Mana."
Elf adalah makhluk yang sangat tergantung pada sihir nan Mana. Jalur Mana itu sendiri sudah bagai pembuluh darah untuk mereka, sangking pentingnya.
Seluruh tubuh mereka bahkan terdiri atas bentukan energi sihir, salah satu faktor yang membuat Elf memiliki umur yang sangat panjang.
"Olivia, bukannya saat itu kamu masih bayi?" Lauren mendudukkan dirinya, dengan selimut yang masih menutupi bagian kakinya. Setengah badannya dengan santai menyender pada kepala ranjang, menatap Olivia yang masih menunduk dibawah sana.
"Apa ada hal lagi yang kamu sembunyikan dari ku?"
...____...
"Apa yang sedang kau lihat?"
Edmond yang sedang memperhatikan objek yang sangat dikenalnya tersenyum tipis, bahkan suara keras dari seseorang yang menegurnya sama sekali tidak ia anggap.
Kedua matanya yang dapat menembus kegelapan, bahkan dari atap bangunan yang sangat jauh dari tempat objeknya berada, ia dapat melihat semua.
Semua ekspresi gadis disana terlihat. Dari ia yang tertawa, ia yang tiba-tiba saja serius lalu terlihat marah, dan rautnya yang seperti ingin menangis. Sekarang, gadis disana entah kenapa nampak tegang. Mungkin itu karena ucapan yang diucapkan lawan bicaranya.
Srast
Sebuah pedang tipis terhimpit diantara putihnya kulit leher Edmond. Ah, karena keasikan mengawasi objeknya ia jadi melupakan kutu yang tiba-tiba saja datang.
"Aku hanya sedang menatap seseorang, apa masalahmu?"
Edmond tau, lelaki yang sekarang sedang bersamanya itu sangat kuat. Bahkan ia sejak awal sama sekali tidak dapat mendeteksi kehadiran awalnya.
"Seseorang yang kau tatap itu, ia rekanku."
Leo tersenyum sinis disana. Bilah pedangnya mulai mengeluarkan aura hitam, bentuk kobarannya seakan siap melahap tenggorokan Edmond kapan saja.
Sudah lama sekali sejak Edmond melihat seorang manusia yang memiliki aura yang bahkan dapat menggores kulitnya, hal ini membuatnya semakin bersemangat.
Aku ingat, terakhir kali yang hanya dapat menyentuhku hanyalah 'dia'.
"Kau sudah kalah, maka tepatilah janjimu untuk ikut perjalanan bersama kami!"
"Dasar bodoh."
Bersama jentikan jari, wujud Edmond tiba-tiba saja menghilang.
Hal itu membuat Leo jelas tak menyangka, apalagi jejak aura miliknya yang harusnya sudah menempel sama sekali tidak dapat dideteksi.
"Manusia, mungkin kita akan bertemu lagi."
Berhembus layaknya terbawa angin, kata-kata itu seakan-akan terucap tanpa pernah terdengar.
...____...
"Leo, kamu dari mana?"
Lauren yang keluar dengan gaun tidur seakan-akan membuat Leo menatapnya tanpa satupun kedipan. Rambut putih keabu-abuan yang digerai bebas, bibir yang pucat dengan netra biru yang menatapnya lekat seakan meminta sebuah jawaban.
Selama beberapa malam ini, mereka tak pernah mendapatkan tempat atau sebuah penginapan. Karena itu, hutan dengan segala konsekuensi menjadi rumah malam mereka.
Meskipun Leo selalu melihat bagaimana gadis pujaan hatinya ketika tidur, tapi ia tak pernah melihat gaun itu ada pada tubuhnya.
__ADS_1
Diluar bisa saja terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, terlebih hawanya sangat dingin. Siapapun orang yang beristirahat di dalam hutan, tak ada yang akan memakai gaun tidur.
Sekarang, melihat Lauren dibalut dengan gaun tidur biru muda tipisnya. Itu semua membuat Saliva Leo seakan tertahan!
"Leo, apa kamu mendengar ku?!" Lauren menyebut nama Leo untuk kedua kalinya. Nadanya yang agak ketus sangat menggambarkan bagaimana perasaannya.
Wajah garang disana tak membuat Leo gentar, malah yang ada lelaki itu terlihat menerbitkan senyumnya.
"Aku baru saja keluar untuk mencari angin." Leo berjalan mendekat, memangkas jaraknya dengan Lauren yang masih pada tempatnya.
"Dan kamu, apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"
Pertanyaan Leo dijawab gelengan pelan dari Lauren, "Aku merasa ada yang mengawasiku dan Via, tapi begitu aku keluar semua itu hilang."
Leo jelas tau apa yang dimaksud oleh Lauren. Karena bagaimanapun, ia yang baru saja mengusir stalker yang mengikuti mereka.
Tak mau Lauren terus pada kegelisahannya, Leo mencoba memikirkan kalimat penenang.
Apa yang harus kukatakan?
Ia sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk seorang wanita, bahkan seumur hidupnya. Baginya, semua wanita itu sama saja. Makhluk yang cerewet dan hanya ingin dimengerti, belum lagi keserakahan mereka yang kadang hanya memandang seseorang dari paras dan kekayaan.
Leo muak dengan semua itu. Entah kenapa, memikirkannya saja sudah membuatnya ingin muntah.
Tapi itu semua terpatahkan ketika ia bertemu dengan Lauren, gadis kecil yang tiba-tiba saja datang untuknya.
Pertemuan mereka yang tak disengaja, membuat itu semua seakan melekat keras pada ingatan Leo. Ia yang tanpa sengaja menabraknya, ia yang selalu menampilkan senyuman polosnya, dan ia yang selalu penuh akan rahasia.
Apapun tentang Lauren, Leo menyukai semuanya.
"Hey Leo, apa kamu lagi-lagi mengabaikanku?!" Lauren menyilangkan kedua tangannya, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Leo tersenyum tipis. Menyentuh kedua bahu Lauren dengan pelan, membuat si empu sedikit terhenyak ditempat.
"Tak apa, semuanya sudah baik-baik saja." Setelah membisikkan kata-kata itu tepat disebelah daun telinga Lauren, Leo kini mulai mengusap halus pucuk kepala gadis itu.
"Tanganmu!" Lauren mencekal tangan Leo, setelahnya gadis itu menghempasnya dengan wajah kesal.
"Ja-jangan a-asal pegang-pegang!"
Ucapan gugup Lauren kian memancing minat Leo disana. Tangannya yang dihempas cukup kuat ia biarkan, sengaja membuat Lauren seakan menang atas dirinya.
"Apa sekarang kamu gila?! Tolong perhatikan senyuman yang terus ada di wajahmu itu!"
"Kenapa dengan senyumanku?" Leo makin memangkas jarak diantara mereka. Lelaki dengan tinggi hampir 180 cm itu menunduk, membuat ujung batang hidungnya menyentuh perlahan permukaan pipi Lauren.
"Leo!"
Lauren seakan tak dapat bergerak, apalagi ketika Leo mengangkat dagunya.
Keduanya saling menatap. Leo yang menangkap cerminan wajahnya diantara netra biru disana dan Lauren yang sekuat tenaga mencoba menolak semuanya, tapi sama sekali tak berdaya.
Saliva yang tertelan, bersamaan dengan bibir Leo yang secara perlahan mulai mendekat.
Otak Lauren entah kenapa mengintruksikan kepada kedua matanya untuk tertutup, serta mempersiapkan bibir ranumnya.
Le-leo akan menciumku?!
__ADS_1
"REN! COBA LIHAT INI!"
...____...