Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Guild


__ADS_3

"Selena, aku yakin dia sudah merencanakan sesuatu."


Pagi ini Harry bangun cukup cepat. Biasanya jika ia kehabisan mana, tubuhnya akan terus lemas dan berakhir tertidur bahkan sampai sore hari.


Tapi rasanya entah kenapa kali ini tidak, sepertinya Harry harus melakukan lagi pengetesan kapasitas mana. Siapa tau kapasitas mana yang meningkat sehingga ia bisa jadi seperti ini.


Harry bangkit dari kasur, memeriksa dari kejauhan lingkaran sihir yang terpasang pada pintu dan jendela kamarnya.


"Baguslah, itu bertahan dengan baik." Ucapnya.


Sihir yang Harry pasang adalah sihir penyegelan, salah satu dari banyaknya sihir kuno yang ada.


Sebelum tidur, ia menggunakan mana terakhir yang dimilikinya untuk menyegel semua jalan masuk.


Itu dilakukan untuk antisipasi. Jika kamu bertanya antisipasi buat apa, yah Harry malas untuk menjelaskannya.


Lelaki itu melepaskan sihirnya. Begitu ia membuka pintu, ia dihadapan sebuah kejadian aneh tak terduga.


Bruak!


"Aduh!"


Itu Selena yang terjatuh!


Dilihat dari tampilannya, sepertinya gadis itu tidur menyandar semalaman didepan pintu kamar Harry.


Pakaiannya sama sekali tidak berubah. Dengan wajah bantal, ia menoleh ke arah Harry. "O-oh, selamat pagi." Sapanya.


Ini dia Selena, sahabatnya yang selalu membuatnya geleng-geleng kepala. Harry mengambil tubuh Selena, menggendongnya ala tuan putri kerajaan.


"Ha-harry." Selena tidak bisa tidak terkejut, apalagi ia yang mendapatkan sera–


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku hanya akan membawamu tidur dikasur."


Uh, pupus sudah harapan Selena. Harry benar-benar hanya membawanya keatas kasur!


"Aku ingin mandi, kamu lanjutkan saja tidurmu." Ucap Harry, setelahnya ia segera pergi menuju kamar mandi.


Pintu kamar tertutup, yang mana sekarang hanya menyisakan Selena yang tengah termenung didalam.


"Dasar lelaki yang tidak peka!"


..._____...


"Harry, kamu bangun pagi sekali!"


Aku baru saja selesai membasuh seluruh tubuhku. Begitu sampai di bawah, seorang wanita paruh baya menyapaku.


Dia Wei Hitori, penjaga bar sekaligus pemilik tempat makan di guild Holden.


Yang kutahu, wanita ini berasal dari timur. Timur yang kumaksud bukan dari kekaisaran, tapi asli benua timur.


Ia memiliki rambut berwarna hitam, rambut yang cukup sulit ditemukan di benua ini. Terlebih, ia juga memiliki kulit yang putih dan mata yang agak sipit.


Bahasanya juga unik, dibeberapa kesempatan aku kadang mendengar ia mengucapkan kata-kata yang tak ku mengerti ketika ia sedang marah.


Yah mungkin itu merupakan bahasa dari kampung halamannya.


"Hehehe, iya bibi Wei."


Semua orang di guild, tanpa kecuali memanggilnya bibi Wei.


Bibi Wei tersenyum, menatapku dengan tatapan menggoda.


"Bagaimana semalam? Apa kamu berhasil melumpuhkan Selena?" Tanyanya.


Aku mengangkat satu alisku, tak paham dengan pertanyaannya. Tapi ketika melihat ia yang sangat bersemangat menunggu jawabanku, akhirnya aku hanya dapat mengangguk.


Entah kenapa dapat kulihat senyum bibi Wei yang makin melebar, "Huh, enaknya menjadi anak muda!" Ujarnya.


Aku memilih tak peduli. Ketika aku naik hendak kembali ke kamarku, pintu guild tiba-tiba saja terbuka.


Terbukanya pintu itu tak sekeras seperti biasa, yang dimana mereka para anggota yang selalu saja membanting pintu ketika masuk.


Itu juga salah satu yang membuat bibi Wei selalu marah pada anggota guild, tindakan mereka itu ribut dan dapat membuat pintu rusak lebih cepat.

__ADS_1


Tapi karena kebiasaan buruk itu, aku jadi tau sesuatu. Orang yang masuk ini, mereka pasti bukan orang dari sini.


Orang itu masuk, rupanya mereka terdiri dari tiga orang.


Meski tertutup karena mengenakan jubah, aku dapat menebak jelas bahwa mereka itu dua orang gadis dan satu orang lelaki.


Dua gadis berjalan didepan, lalu disusul lelaki itu setelahnya.


Melupakan itu semua, aku merasa ada yang aneh dengan salah satu dari gadis itu.


Ia seperti dipenuhi akan energi. Itu bukan energi Mana ataupun energi roh, itu terkesan terlihat seperti energi alam.


Tak ada manusia yang dapat menggunakan energi alam, kecuali mereka mencampurkan Mana mereka kedalamnya.


Intinya, tak ada sembarang makhluk yang dapat menggunakan energi alam sepenuhnya.


Melihat gadis itu yang dikelilingi oleh energi alam, membuatku sedikit tertarik.


Siapa dia?


Mereka berjalan menuju tempat bibi Wei berada. Gadis yang kumaksud itu menarik paksa gadis satunya, tak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba saja bersemangat sehingga berlari ke arah bibi Wei.


Begitu sampai pada bibi Wei, gadis itu terlihat membuka obrolan. Aku tak dapat mendengarnya dari sini, sepertinya aku harus mendekat.


"Ah naruhodo."


Lagi-lagi aku mendengar bibi Wei mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ku mengerti.


"Hai, Oba-san!" Ucap gadis itu.


Kali ini aku dapat mendengar suaranya. Ia juga mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak ku mengerti, apa itu artinya ia juga sama seperti bibi Wei?


"Harry, bisa kamu kesini sebentar?"


Bibi Wei melihat kearah ku, tangannya yang melambai nampak mengintruksikan ku untuk mendekat.


Aku mengangguk dan berjalan mendekat. Ini bukan hal yang merugikan, lagipula aku penasaran dengan gadis itu.


"Ada yang bisa kubantu, bibi Wei?"


Aku ingat dengan jelas bagaimana wajah Guild master yang mabuk tadi malam, berteriak didepan wajahku ketika menyerahkan guild ini.


Bukan berarti menyerahkan secara kepemilikan, ia mempercayakan guild ini kepadaku.


Pagi ini ia menerima undangan entah kemana, aku tidak terlalu mendengarkan.


Yang pasti, itu akan memakan waktu paling tidak dua minggu.


"Pertama, bisakah aku memberikan pertanyaan kepada mereka?"


Bibi Wei mengangguk atas ucapanku, ia kembali melihat kearah gadis itu.


"Sorede kare wa itta, dō yatte?"


Lagi-lagi bibi Wei mengucapkan apa yang tidak aku mengerti. Tapi melihat bagaimana gadis itu yang mengagguk dan mulai berjalan kearahku, sepertinya bibi Wei mengatakannya dengan baik.


Aku berjalan lebih dulu, ku yakin mereka berjalan mengikuti ku dibelakang.


Ruang guild master ada di lantai tiga, dan niatku ingin membawa mereka kesana.


Umumnya jika ingin menjadi petualang disini, maka mereka harus melewati beberapa ujian.


Seperti ujian fisik, kekuatan, Mana, dan lain sebagainya.


Untuk sekarang aku tau, mereka bertiga ini sangatlah kuat. Percuma jika mengadakan ujian sekarang.


Karena guild master yang cinta kekuatan dan super keras kepala itu tidak ada, aku memiliki hak penuh atas keputusan ini.


"Kalian bukan orang benua ini?"


"Tidak, kami berasal dari benua ini."


Benua ini?


"Bisa kalian lepaskan tudung kepala kalian? Tempat ini cukup aman jika hanya untuk wajah kalian."

__ADS_1


Kami sudah di lantai tiga, beberapa langkah lagi sampai ke tempat guild master.


"Ren, Leo, cepat buka!"


Aku dapat mendengar gadis tadi berseru kepada kedua temannya. Sepertinya ia sudah lebih dulu melepaskan tudungnya, uh entah kenapa ingin rasanya aku berbalik dan melihat langsung wajah gadis itu.


"Kalian bisa masuk."


Pintu kubuka, dan aku masuk lebih dulu. Seperti biasa, ruangan ini sama sekali tidak dikunci.


Guild master yang cukup teledor.


"Wah, tempat ini cukup mewah."


Aku tak bisa menyangkal ucapan gadis itu.


Ruangan ini merupakan tempat biasa guild master untuk bekerja dan tidur, bisa dibilang ini juga merupakan rumah kedua baginya.


Karena itu, ruangan ini dirancang senyaman dan semewah itu.


Tak jarang juga ruangan ini menjadi tempat rapat dadakan, karena itu tersedia cukup banyak sofa disini.


"Kalian bisa duduk."


Aku menunjuk salah satu sofa yang ada. Mengambil langkah lebih dulu, kududukan dengan nyaman diriku di sofa yang berhadapan langsung dengan sofa yang sebelumnya kutunjukan untuk mereka.


Akhirnya, aku dapat melihat wajah gadis itu.


"Terimakasih."


Hanya satu kata, cantik.


Ia memiliki rambut hitam keunguan sebahu, warna rambut itu hampir sama seperti milik bibi Wei yang hitam legam.


Pupil gadis itu berwarna coklat, dengan bulu mata yang lentik dan bibir tipis yang menggoda.


Menggoda? A-apa yang kupikirkan?!


"Jadi tuan, apa syarat yang harus dipenuhi jika ingin menjadi seorang petualang?"


Ayo sadar, Harry!


"Kalian hanya perlu memberitahukan job kali–"


"Job?"


Gadis dengan rambut emas madu menyela perkataanku, ia menatapku dengan heran.


Jika dilihat-lihat lagi, gadis ini juga sangat cantik.


Kenapa aku baru menyadarinya? Atau karena aku terlalu fokus pada gadis yang satunya?


Tidak-tidak, jangan alihkan fokusmu Harry!


"Job bisa berarti keahlianmu, kita disini menyebutnya seperti itu."


Kulihat kedua gadis mengagguk. Entah ini hanya perasaanku saja, tapi kenapa lelaki disana kenapa terus menatapku dengan tajam?


Lelaki itu masih mengenakan tudung kepala, tapi aku sangat yakin ia memberikan tatapan permusuhan untukku.


"Bisa kalian perkenalkan diri kalian dulu?" Aku menatap kedua gadis satu persatu, lalu beralih ke arah si lelaki.


"Tenang tuan, aku tidak memiliki maksud jahat dengan kedua gadismu."


Maksudku menjelaskan agar ia menghentikan tatapan mengerikan itu. Huh, sepertinya tak berhasil.


Lihat bagaimana ia yang masih menatapku seperti itu.


"Aku Via." Gadis berambut hitam itu menunjuk dirinya.


"Yang ini Ren, dan yang disana itu Leo." Lanjutnya memperkenalkan kedua rekannya.


Jadi namanya Via ya...


"Aku Harry, bisa dibilang sebagai pengganti guild master sementara."

__ADS_1


..._____...


__ADS_2