
"Kak Selena, bisa kakak berikan ini ke kak Harry?" Selena yang baru saja selesai membasuh diri dihampiri oleh seorang gadis kecil.
Gadis kecil itu menyodorkan sebuah gulungan berpita merah ke depan Selena, "Ibu bilang sebelumnya kalau kak Harry ada di ruangan pak guild master." Lanjutnya.
Selena mengagguk, lalu mengambil gulungan itu dari tangan kecil si gadis kecil.
"Fei, dimana bibi Wei?"
Selena bertanya mengenai keberadaan ibu dari gadis itu. Sejak Selena turun, bibi Wei sudah tidak terlihat ditempat. Tidak seperti biasanya.
Padahal ini juga belum siang, masih dibilang pagi hari tapi bibi Wei sudah tidak ada.
Fei, gadis kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Fei juga tidak tahu, tadi ibu bilang ingin keluar sebentar."
Selena mengagguk, tak lagi ada niatan untuk bertanya lebih lanjut. Tangannya terangkat untuk mengusap pelan kepala si gadis kecil, "Fei, kamu sudah istirahat?" Tanyanya.
Fei mengagguk, "Iya, Fei sudah istirahat penuh malam tadi!" Jawabnya antusias.
Fei Hitori, anak perempuan satu-satunya Wei Hitori. Gadis berumur sembilan tahun itu menjadi maskot dari guild Holden, meski sudah dapat penolakan keras dari bibi Wei selaku ibunya.
Gadis kecil itu sangatlah rajin, tak jarang ia selalu terlihat membantu ibunya sebagai pelayan.
Meski sudah dilarang langsung oleh bibi Wei, tapi sifat keras kepala dari Fei mengalahkan omelan ibunya.
Fei juga sangatlah disayangi oleh seluruh anggota guild tanpa terkecuali. Karena selain rajin, gadis itu juga memiliki penampilan yang imut dan cantik.
"Kalau begitu kakak keatas dulu, kamu kalau bekerja jangan sampai lelah ya!"
Selena teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu. Itu adalah ketika Fei yang tiba-tiba saja pingsan saat ia mengantarkan makanan, para dokter yang memeriksa bilang kalau Fei sangatlah kelelahan.
Berita itu sempat membuat seluruh anggota guild menjadi overprotektif terhadap Fei, terlebih bibi Wei.
Ia dilarang untuk membantu, bahkan untuk sekedar makan saja harus wajib disuapin.
Sekarang sudah dapat melihat gadis kecil itu tersenyum bersama dengan anggukan antusiasnya, tak dapat menahan rasa gembira didalam hati Selena.
Selena memeluk gadis kecil itu, menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menempel pada tubuhnya.
"Ka-kak Selena, sesak tau!"
Oke, sepertinya Selena hampir membuat gadis kecil itu menangis karena sesak.
...____...
__ADS_1
Selena sampai didepan pintu guild master, tentunya setelah melewati beberapa drama dengan Fei sebelumnya.
Tok tok tok
"Harry, ini aku." Ucap Selena sedikit meninggikan suaranya, takut orang didalam sana tidak mendengarnya.
Dari informasi beberapa orang dibawah, Selena tau bahwa sekarang Harry tengah menemui seorang tamu.
Tak tahu dengan jelas tamu dari mana, yang pasti mereka beranggotakan tiga orang.
"Masuk!"
Suara yang sangat Selena tau menjawab dari dalam, membuatnya tak lagi ragu untuk memutar gagang pintu yang sudah sejak tadi dipegangnya.
Begitu pintu dibuka, Selena dapat melihat Harry yang duduk disana.
Lelaki itu duduk di sofa yang arahnya tepat menghadap kearah pintu. Sedangkan pada sofa diseberangnya, Selena hanya dapat melihat tiga kepala dari belakang.
Kepala di ujung kiri bersurai hitam, sedang yang disebelahnya bersurai emas madu. Untuk yang diujung kanan, ia sedikit lebih tinggi dan masih mengenakan tudung kepala.
Sepertinya tamu kali ini terdiri atas dua orang gadis dan satu orang lelaki, itu yang dapat Selena tangkap.
"Oh Selena, ada apa?"
Selena tersenyum, berjalan pelan mendekati sahabatnya disana.
Iya, hanya sahabatnya.
"Aku mengantarkan surat."
Selena memberikan gulungan yang dibawanya kepada Harry. Masih sambil berdiri disamping sofa tempat Harry, gadis itu mulai menatap para tamu yang masih duduk manis ditempatnya.
Sejak tadi Selena sudah penasaran bagaimana rupa para tamu ini. Aura yang mereka pancarkan, bahkan karena itu saja dapat membuat Selena berdecak kagum walau hanya melihat dari belakang.
"Nona Ren, Nona Via, Tuan Leo, ini adalah sahabat sekaligus rekan party saya, Selena."
Harry memperkenalkan sahabatnya, sedang orang yang dikenalkan malah termenung sambil menatapi kedua wajah cantik yang tercetak jelas di netranya.
"Sangat cantik."
Sekali lagi, hanya itu yang dapat Selena ucapkan sekarang. Baginya yang sudah banyak melihat berbagai bentuk kecantikan seorang gadis, kecantikan dua gadis dihadapannya ini terkesan cukup berada di luar nalar manusia.
Mungkin jika mereka berada di daerah terpencil saja, sudah pasti disana mereka berdua akan disembah sebagai Dewi kecantikan dunia.
"Ah terimakasih."
__ADS_1
Via, gadis yang paling dekat menjawab dengan senyuman khasnya.
"Aku Via, yang disebelahku Ren dan yang disamping sana itu Leo." Lanjutnya.
Selena mengagguk dengan kepala yang sedikit menunduk, rasanya ia cukup malu untuk memuji orang tepat dihadapannya. Terlebih, pujian itu keluar dengan sendirinya.
"Aku Selena, salam kenal untuk kalian bertiga."
Via mengagguk, lalu kembali fokus ke Harry didepannya. Dapat dilihat lelaki itu sudah membuka gulungan dari Selena sebelumnya, arah pandangnya juga sudah ada pada bagian bawah gulungan.
"Harry, apa isinya?" Selena bertanya dengan penasaran.
Pita merah bukan berarti tanpa arti. Biasanya gulungan dengan pita merah bisa disebut sebagai permintaan darurat yang berbahaya, kadang juga bisa diartikan sebagai permintaan rahasia ataupun kiriman dari orang penting negara.
"Gulungan itu, ada kutukan dibalik segelnya bukan?"
Harry yang baru saja menggulung kembali gulungan tersebut tersentak, lalu dengan cepat menatap siapa orang yang berbicara sebelumnya.
"Nona Ren, kamu tahu tentang segel ini?"
Apa yang ada di gulungan adalah sihir kuno jenis penyegelan. Selain itu, keberadaan sihir itu juga disamarkan dengan sihir kuno jenis kutukan.
Karenanya tidak dapat ada yang membukanya sembarangan. Selain dapat menerima dampak tiba-tiba dari kutukan yang belum dinetralkan, membuka sihir penyegelan juga butuh penggunaan Mana yang banyak.
Senyum samar Ren terbit, wajahnya yang sejak tadi datar akhirnya menampakkan sebuah ekspresi.
"Kamu hebat juga dapat menyelesaikan kedua sihir kuno itu dalam waktu yang singkat." Ucapnya.
Harry terkekeh kecil, matanya mulai menyipit hingga nampak membentuk bulan sabit.
"Tak banyak yang tau mengenai sihir yang melindungi gulungan ini."
Harry meletakkan gulungan pada meja yang terdapat diantara dua sofa didepannya, terlihat dua buah lingkaran sihir berwarna hitam nampak pada kedua ujung gulungan tadi.
"Matamu cukup tajam juga ya, nona."
Lingkaran sihir hitam itu menghilang seakan kembali masuk kedalam. Namun berselang setelahnya, muncul lagi sebuah lingkaran sihir ungu yang menempati tempat dilingkarkan sihir sebelumnya.
Lingkaran sihir ungu itu sama seperti lingkaran hitam sebelumnya, menghilang seakan masuk terserap kedalam gulungan.
"Sihir itu, tetap kamu biarkan disitu?"
Harry mengagguk atas ucapan Ren, "Aku hanya dapat membukanya sesaat, tapi tidak untuk menghancurkannya." Ucapnya.
Senyuman tipis masih terpatri diwajah cantik Ren. Gadis itu mengambil gulungan yang tergeletak diatas meja dengan santainya, lalu mengarahkan tatapannya tepat di netra Harry yang sudah melihatnya tak percaya.
__ADS_1
"Kalau aku hancurkan kedua sihir ini, apa kamu bisa langsung menjadikan kami petualang dengan sendok emas?"
..._____...