Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Silla dan Lauren


__ADS_3

"Kak Silla? Apa itu benar?"


Silla mengangguk menjawab pertanyaan gadis yang sudah ia anggap sebagai adik kecilnya, "Iya Lauren, apa pernah kakak berbohong padamu?"


"Tapi, bukannya kita masih terlibat perang dingin dengan mereka?" Lagi dan lagi pertanyaan dari Lauren berhasil membuat senyuman kecil Silla tak kunjung terbenam.


"Iya memang seperti itu keadaannya, tapi apa putri Lauren tau?" Silla sedikit menunduk, mensejajarkan Lauren yang memang hanya setinggi bahunya.


"Disana kita akan membasmi sisa-sisa serangga yang ada." Sebelum melanjutkan, Silla mulai mendekatkan mulutnya pada telinga Lauren.


"Sekaligus mencarikan Falley pasangannya untuk masa depan." Ucapnya dengan bisikan.


"Wahh!! Aku ikut!!" Lauren terlihat gembira dengan ia yang melompat lompat kecil bak anak kecil yang habis diberikan permen.


"Sttt, jangan ngomong-ngomong sama siapapun ya tentang rencana kita!" Peringat Silla.


Wanita itu merasa suara Lauren terlalu kuat. Yah bukannya apa, tapi ya baginya ini merupakan salah satu misi yang amat rahasia.


"O-okee!" Lauren menutup mulut dengan kedua tangannya, tapi tak urung setelahnya ia mulai tersenyum aneh.


"Kalau begitu aku kembali dulu ya kak, aku masih harus latihan hari ini!"


Menjawab seruan Lauren, Silla masih dengan senyumannya. "Iya, pastikan untuk menjadi lebih kuat!"


"Baikk!"


Lauren pergi berlari meninggalkannya. Sebenarnya ini bukanlah waktu yang pas untuk memberitahukan berita yang amat penting ini, apalagi ini tadi Silla yang tiba-tiba saja menjegal Lauren yang tadinya ingin pergi berlatih.


Tapi hanya waktu ini yang sangat pas. Dimana tidak ada siapapun, tanpa ada satu telingapun, dan yang terpenting...


"Aku yakin salah satu sihirnya tidak terpasang disini." Silla mulai melihat sekeliling, memastikan untuk yang kelima kalinya.


Apa yang dimaksud dari perkataan Silla itu merujuk pada salah satu sihir aneh milik Falley. Wanita yang bergelar Yang mulia Ratu kerajaan Celestine itu memiliki sihir aneh yang dapat membentuk sebuah unit pengawasan. Mereka dapat menempel di manapun, dapat bergerak kemanapun, sungguh sihir yang amat merepotkan.


Dengan menggunakan Mana sihir yang entah berapa kapasitasnya, Falley dapat membentuk unit itu hampir puluhan setiap harinya.


"Aku tidak tau seberapa pemakaian Mana untuk makhluk bulat-bulat itu, tapi membuatnya berjalan setiap harinya juga merupakan salah satu hal yang tidak masuk akal bukan?!" Silla berucap cukup kesal.


Ia selalu merasa bahwa setiap inci dari Falley semuanya hampir tidak masuk akal. Mulai dari parasnya, yang cantiknya mampu membuat seluruh lelaki yang melihatnya merasakan cinta pertamanya.


Kepintarannya, bahkan sekelas politik kerajaan saja sudah seperti taman bermain untuknya.


Keahlian? Jangan ditanya, selain sihirnya yang sudah masuk ranah tidak masuk akal itu ia juga dapat bertarung jarak dekat dengan pisau kecil andalannya.


Kalau orang bilang, ia merupakan salah satu manusia yang hampir sempurna dari segi apapun.


"Yah mungkin kekurangannya, wanita itu sangat sangatlah siscon dengan si adik. Uhh."


Satu hal yang masih tidak dapat disangkal oleh Silla, bahkan untuk seluruh orang istana Celestine yang bekerja. Tidak ada satupun diantara mereka yang tidak tahu bagaimana siscon nya Falley terhadap adiknya.


Memang mereka sempat mengalami perpisahan sementara, tapi itu bahkan termasuk perpisahan jangka pendek yang dimana Falley masih dapat menemui Lauren yang tengah koma.


Jika kita lihat situasi sekarang, apapun segala urusan Lauren harus meminta persetujuan Falley dulu. Bahkan hanya untuk jepitan rambutnya, melihat keinginan Falley dulu.


Memang aneh, entah itu kasih sayang, perhatian, atau obsesi yang berlebihan. Silla sendiri tidak tau.

__ADS_1


Dengan aku yang memberi tahu masalah ini langsung pada Lauren, kuharap semuanya cepat selesai.


Silla sudah merasa mengeluarkan semuanya untuk ini. Jika saja cara ini gagal, ia tidak tahu lagi bagaimana nantinya mewujudkan impian adik kecil kesayangan nya.


"Lauren, kupastikan impian mu pasti akan terwujud!" Gumaman Silla seakan lenyap bersama dengan kepergiannya.


...___...


"Paman, aku pesan Otla-nya dua!" Lauren menunjuk makanan berbentuk bulat yang ditusukkan sebuah lidi ditengahnya.


Makanan bulat itu berisi lima dengan bentuknya yang hampir sama dengan dua jari jempol orang dewasa. Dibakar diatas batu bara dan dilumuri dengan bumbu diatasnya, uh sangat mengingatkan Lauren sebuah makanan pada kehidupan dirinya sebelumnya.


Memang pentol juaranya!


"Ini dia nona kecil." Paman penjual memberikan dua tusuk yang sudah nampak matang kepada Lauren, dan tanpa ba bi bu Lauren segera menyambarnya.


"Semua seperti biasanya ya paman!" Lauren mengambil beberapa koin disaku jubahnya.


"Tidak usah, nona kecil ambil saja!" Uang yang sudah siap diberikan ditolak oleh sang paman. Tangan besar itu perlahan mulai mendorong pelan koin-koin itu kembali kepada sang pemilik.


"Paman sudah sangat berterimakasih kepada nona kecil karena selama ini nona kecil sudah sangat membantu paman dalam pengenalan makanan ini, jadi paman mohon nona kecil ambil saja ya."


Memang awalnya makanan bernama Otla ini cukup dikenal aneh oleh masyarakat. Diantara mereka sama sekali tidak dapat membayangkan bagaimana campuran antara ayam dan tepung yang dibentuk bulat lalu dibakar itu dapat dimakan.


Mereka masih mengenal dengan yang namanya kepraktisan, yang dimana hasil tangkapan atau tanaman langsung dibakar diatas bara api tanpa harus ribet mengolahnya.


Diantaranya seperti jagung bakar, ubi bakar, ikan bakar, ayam bakar dan lain-lain.


Karena keanehan itu, paman yang membuat makanan ini hampir saja tutup STAN seandainya saja Lauren tidak datang untuknya.


Sejak pengakuan keras Lauren saat itu, beberapa orang mulai mencobanya satu persatu.


"Ini enak!"


"Iya benar, apa nama makanan ini?!"


"Aku baru pertama kali melihatnya dan aku langsung jatuh hati!"


Kekuatan paras memang tidak bisa diremehkan, bahkan untuk sekelas dunia lain sekalipun.


Jika saja benar memang kurang enak, semua orang bisa memakluminya karena itu hal aneh dan baru untuk mereka. Tapi ketika mereka melihat seorang bocah cantik yang sampai harus berteriak untuk makanan itu, apa lagi yang harus dipertanyakan?


Lauren menyunggingkan senyumnya tak kala kembali mengingat kejadian itu, "Kalau begitu terimakasih paman, kapan-kapan aku akan kemari lagi!"


Lauren pergi dengan kedua Otla dikedua tangannya, membuat antrian panjang yang tadinya sempat terhenti kini mulai berjalan kembali.


...____...


"Baik Silla, kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin." Falley berkata dengan datar sambil menatap malas Silla yang duduk didepannya sebagai lawan bicara.


"Kalau kau perlu tau, aku sudah dingin sejak tadi." Silla menjawab dengan tak mau kalah. Matanya yang sudah memicing tajam bak pedang mulai membalas tatapan kurang mengenakkan yang Falley berikan.


"Oke, kalau begitu aku mau tau sesuatu." Falley terdiam sesaat, seakan sengaja menjeda perkataannya.


"Tidak perlu ada yang harus kau tau."

__ADS_1


Senyuman Falley merekah tak kala mendengar jawaban datar Silla, "Kalau begitu, sejak kapan kau mulai memberitahukan semuanya ke Lauren?"


"Sejak tiga hari yang la-" Silla dengan cepat menutup mulut dengan kedua tangannya. Merasa ada yang salah dengan perkataannya, wanita itu mulai mengibas-ibaskan tangan kanannya sambil melihat keberbagai arah.


"Ma-mana a-ada, a-aku sam-sama sekali tidak ta-tau a-apapun." Lanjutnya gugup.


"Silla, kau tidak perlu lagi menyembunyikan nya lagi."


Kedua pipi Silla berhasil memerah sempurna, "Po-pokoknya, aku melakukan semua ini juga untuk Lauren!"


"Lauren?" Silla terlihat tak mau menghadap Falley yang kini menatapnya seakan bertanya akan kata-katanya.


Falley mulai berdiri dan mengambil tempat tepat disebelah Silla, yah karena wanita itu duduk disofa yang cukup besar. "Silla, bisa kamu jelaskan? Aku sama sekali tidak mengerti."


"Aku melakukan itu untuk impian Lauren." Silla menghadap Falley disebelahnya, mimik wajahnya mulai menggambarkan keseriusan.


"Kau pernah dengar bukan kalau dia ingin sekali menjadi seorang petualang? Seseorang yang bisa dengan bebas berkelana kemanapun yang ia mau?"


Kedua nerta Silla terlihat nampak bernostalgia, dimana kedua bola matanya itu menangkap bagaimana pertumbuhan adik kecilnya tumbuh menjadi seorang gadis remaja seperti sekarang, bagaimana seorang gadis kecil yang selalu menyatakan dengan keras berbagai impiannya.


"AKU INGIN JADI SEORANG YANG KUAT!"


"AKU INGIN JADI SEORANG GURU!"


"Akh Silla aku ingin jalan-jalan keluar!"


"Bagaimana kalau jadi aku jadi seorang petualang? Bukannya itu bagus, yakan kak Silla!"


"Bagaimana caranya agar kak Falley dapat mempercayai ku, katakan kak Silla!"


Perkataan yang terakhir sangat ia ingat sekali, bahkan seperti diukir dalam dalam diingatannya. Itu dimana ketika Lauren yang kedapatan kepasar oleh Silla.


Saat itu ketika ia yang sedang berkeliling untuk mencari sesuatu, secara tak sengaja bertemu dengan bocah yang mirip sekali dengan adik sahabatnya.


Ketika tertangkap, dugaan Silla ternyata benar. Itu adalah Lauren, yang pergi keluar dengan mengubah warna rambutnya.


Dari sana ia mulai tau satu fakta, yaitu Lauren yang adalah seorang Penyihir Roh.


Tidak, Lauren bukan penyihir seperti kakaknya. Silla tau itu karena ia sejak kecil bisa merasakan mana itu energi roh murni, dan energi roh yang sudah tergabung dengan Mana sihir manusia.


Entah itu termasuk bakat atau bukan, Silla sendiri tidak tau.


Tapi lupakan tentang itu semua. Yang dapat Silla pastikan untuk saat ini ialah ia dapat mengatakan bahwa Lauren itu jauh, jauh jauh lebih kuat darinya.


Gadis itu dapat menggunakan sihir roh dalam berbagai jenis elemen, yang harusnya sangatlah mustahil untuk kategori seorang penyihir Roh sepertinya.


Gadis itu juga dapat dengan lihai menggunakan pedangnya sekarang, bahkan Guru David bilang kemungkinannya sangat besar untuk Lauren dapat membangkitkan Aureliannya.


Seorang manusia yang dapat menguasai tiga kategori keajaiban sebuah makhluk hidup, seluruhnya ada padanya tanpa terkecuali.


"Falley, dari sekarang aku akan menjelaskan semua yang kutahu padamu."


Falley terkejut dalam diam memandangi keseriusan Silla, "Apa itu?"


"Semuanya bermulai..."

__ADS_1


__ADS_2