
"Nona Olivia, saya meminta maaf terhadap apa yang sudah adik saya perbuat terhadap anda."
Falley terlihat menggenggam erat kedua telapak tangan Olivia, sambil menatap gadis itu penuh penyesalan.
Olivia yang tiba-tiba saja diperlakukan seperti itu tentu gelagapan, "Ti-tidak apa-apa yang mulia, semua bukan salah putri Lauren sepenuhnya." Ucapnya.
"Kak Fall, kan sudah Lauren bilang semua bukan salah Lauren." Ucap Lauren tiba-tiba, gadis itu terlihat masih stay ditempatnya.
Kembali beberapa menit yang lalu. Tepat setelah mereka berdua mendapatkan izin untuk masuk, Lauren tanpa basa-basi main masuk saja.
Diruang makan sudah ada Falley, wanita itu duduk tepat di kursi yang berada pada kepala meja panjang meja makan.
Lauren mengambil tempat disebelah kiri Falley. Sempat sebelumnya ia memberikan kode untuk Olivia agar duduk tepat di seberangnya, yang mana berada di kanan Falley.
"Kak, kenalkan dia Olivia." Belum saja Olivia sampai pada kursi yang dikoordinasikan, Lauren tiba-tiba saja berucap.
Padahal niat Olivia ingin mengenalkan dirinya sendiri, agar terkesan sopan. Tapi lagi dan lagi, dengan seenaknya saja Lauren melakukan semua sesuai kemauannya.
Mau tak mau Olivia harus mengikuti. Ingatkan Olivia nantinya kawan, ia berniat untuk melemparkan Lauren kelautan bebas!
"Salam sejahtera untuk yang mulia Ratu, perkenalkan nama saya Olivia De Ferdian Vealiq." Olivia sedikit menurunkan dirinya, mengangkat kedua ujung kecil gaunnya.
"Mulai hari ini dan seterusnya, saya akan berperan sebagai tangan kanan putri Lauren." Mengangkat kepalanya, Olivia tersenyum sambil kembali melanjutkan.
"Saya akan senantiasa dalam pengawasan anda, mohon bantuan–"
Belum sempat Olivia menyelesaikan kalimatnya, Falley tiba-tiba saja berdiri.
Olivia sempat tegang tak kala melihat wanita itu berjalan mendekat kearahnya, segala kemungkinan mulai muncul di otaknya.
Jangan-jangan, yang mulia Ratu tidak menyukaiku?
Tanpa sempat Olivia sadar, kedua tangannya tiba-tiba saja digenggam kuat oleh seseorang.
Seperti itulah kejadiannya, kita kembali ke waktu sekarang.
"Lauren, sudah kakak bilang bukan untuk tidak memaksa orang lain!" Falley kini mengalihkan pandangannya kearah Lauren, sambil memberikan tatapan tajamnya.
"Kak, kan sudah Lauren bilang itu bukan salah Lauren." Lauren mengucapkan itu untuk yang kedua kalinya, namun kali ini gadis itu berucap dengan cukup kesal.
"Bukan salah kamu gimana? Ini kamu bawa pergi anak orang semaunya!" Falley kini berkata seperti ibu yang tengah memarahi anaknya.
Genggaman tangannya dengan Olivia ia lepas. Dengan langkah cepat, Falley mulai mendekati Lauren yang nampak sudah berdiri dari kursinya.
"SINI KAMU LAUREN!"
"TIDAK! KAK FALL MAU MAKAN LAUREN!"
Bukannya makan, malah terjadi lomba kejar-kejaran mengelilingi meja makan.
Olivia sedikit mengambil jarak untuk menjauh, tak mau kena imbas dengan Falley yang sudah mulai melemparkan beberapa kue kearah Lauren.
"SINI KAMU, JANGAN KABUR LAUREN!"
"TIDAK MAU!"
"KAMU HARUS KAKAK HUKUM, LAUREN!"
Setelahnya, entah kenapa makan malam yang tadinya merupakan acara menegangkan untuk Olivia, kini menjadi lebih santai.
Apalagi ketika ia yang tak sengaja terkena lemparan kue dari Lauren, rasa sebal yang menguasainya membuatnya malah ikut kedalam perkelahian antar dua saudari disana.
"RASAKAN INI!"
"OLIVIA, KAMU MENGENAI KRIM TART DIWAJAHKU!"
"OLIVIA, AYO KITA SERANG LAUREN BERSAMA!"
Olivia yang sudah tak peduli dengan penampilannya tersenyum, senyuman lebar yang rasanya tak pernah sama sekali ia tampilkan ketika berada dikekaisaran.
"AYO, YANG MULIA!"
..._____...
Makan malam, ah tidak-tidak. Perang malam telah selesai, tentu semua diakhiri dengan menyerahnya individu dari pihak Lauren.
Dia dibantai oleh dua orang. Falley yang melemparkan seluruh makanan manis dan Olivia yang melemparkan seluruh lauk makan yang ada dimeja makan.
Terkesan sangatlah membuang-buang makanan memang, tapi entah kenapa para pelayan yang melihat malah cekikikan sendiri tanpa mau menghentikan.
Sampai dikamarnya, Lauren berniat langsung berendam. Krim tart yang menempel dibeberapa bagian tubuhnya membuat rasa lengket yang amat sangat, jadi mau tak mau ia harus berendam untuk menghilangkan semuanya.
Padahal sebelumnya ia sudah mandi dan berendam, tapi sekarang harus kembali mengulangi itu semua.
"Dasar kak Fall dan Olivia, sungguh mengesalkan."
[Master, bilang saja anda menyukainya bukan?]
Lauren menyandarkan dagunya diatas lengan terlipat nya yang menyandar manis pada bathtub, "Entahlah, aku sekarang sama sekali tidak merasakan perasaan apapun terhadap perempuan." Ucapnya.
[Bukan perasaan seperti cinta kan yang memang awalnya master harapkan?]
Senyuman tipis Lauren terbit, perlahan mulai kembali menenggelamkan tubuhnya kedalam bathtub.
__ADS_1
Wajah cantik itu nampak tenang, kedua matanya tertutup mencoba mulai kembali merilekskan dirinya. "Dari mana kamu bisa menebak itu?"
[Tidak menebak, saya hanya menghubungkan semuanya]
Lauren berdehem, mengode agar Exsalia kembali melanjutkan perkataannya.
Sebuah cahaya tiba-tiba muncul tepat didepan wajah Lauren. Cahaya yang mulai menampakkan wujudnya sebagai seorang peri bersayap itu sama sekali tak mengganggu ketenangan Lauren, malahan ia makin menenggelamkan dirinya.
"Master itu kesepian, bagaimanapun sejak awal pertemuan dengan nona Olivia anda merasa nyaman bukan?"
"Anda membawa nona Olivia bersama agar dapat mendapatkan seorang sahabat bukan? Tempat dimana anda dapat menumpahkan semuanya."
Lauren memilih untuk tak menanggapi perkataan peri kecil didepannya, telinganya entah kenapa rasanya tuli sesaat.
"Master, anda ingin nona Olivia untuk menemani perjalanan anda bukan?! Sudahlah jujur saja! Anda tidak bisa jika melakukan perjalanan sendirian!" Cerca Exsalia sinis.
"Iya-iya, aku mengaku!"
Tanpa Lauren dan Exsalia sadari, ada seseorang didepan yang tak sengaja menguping pembicaraan mereka lewat celah pintu yang ada.
Senyuman manisnya terbit, entah rasanya tiba-tiba senang saja dia.
"Si tsundere-san ternyata ingin aku menjadi sahabatnya."
Selesai terkekeh dan meletakkan sesuatu yang menjadi alasannya kemari, Olivia segera bergegas kembali menuju kamarnya.
Tak mau ia tertangkap basah oleh Lauren.
..._____...
Falley selesai memeriksa dokumen terakhir yang ada diatas mejanya, "Beberapa monster yang mendadak meningkat jumlahnya."
Helaan nafas berat terdengar, Falley meletakkan kembali kertas itu dan memilih untuk menyandarkan diri pada kursi kerjanya.
"Kenapa tiba-tiba saja?" Tanyanya entah pada siapa.
Asik memikirkan segala kemungkinan, tiba-tiba saja ia kembali memikirkan perkataan adiknya semalam.
Kak, Lauren ingin melakukan perjalanan.
Sempat terjadi perdebatan sengit tadi malam. Sampai-sampai aura mereka berdua sempat menguar kemana-mana, membuat orang yang sekedar lewat saja bisa mati rasa dibuatnya.
Setelah melewati panasnya perdebatan, Falley putuskan untuk mendinginkan kepala masing-masing dan kembali melanjutkan semuanya besok.
Kembali dimana waktu mereka berdua telah tenang.
Dan sekarang ini waktunya, karena hal itu dengan cepat Falley menyelesaikan semua pekerjaannya.
Ia mau membicarakan semuanya secara baik-baik dengan Lauren hari ini, tidak seperti tadi malam yang tiba-tiba saja ia yang meledak.
Tidak-tidak, seperti kata Fansev, ia yang sekarang haruslah bijaksana dalam menangani setiap perkara.
Terlebih itu mengenai keluarganya, adik satu-satunya sekaligus orang kesayangannya.
"Apa yang harus kulakukan." Falley menghadap langit-langit ruangan kerjanya, "Andai Silla sudah disini, aku dapat meminta saran darinya." Lanjutnya.
Sahabatnya itu tidak juga kunjung pulang, yah itu juga karena salah Falley yang memerintahkan banyak tugas padanya.
Selain Silla, semua daftar orang yang dapat memberinya saran juga sudah tak lagi diistana.
Fansev, lelaki yang berstatus sebagai ayahnya itu sekarang tengah berada pada pertengahan liburannya.
Dan untuk Juliana, wanita itu juga pamit beberapa hari yang lalu untuk melihat perkembangan kebunnya di desa.
Sekarang ia hanya sendirian, dalam artian orang terdekatnya sama sekali tidak bersamanya.
Falley itu orangnya tak mudah percaya dengan orang lain, karena itu ia bingung harus mendiskusikan masalah ini bersama siapa.
"Yang mulia, nona Olivia meminta izin untuk bertemu dengan anda."
Suara seseorang diluar sana menginterupsi pemikiran Falley, wanita itu mengangguk walau ia tau tidak akan ada yang pernah menanggapi anggukannya.
Ia hanya sendirian, lalu siapa yang menanggapi? Setan?
"Tak apa, masuklah."
Kemunculan Olivia diambang pintu membuat perasaan aneh untuk Falley, entah kenapa senyuman yang terpatri diwajah cantik gadis itu memiliki arti tersendiri didalamnya.
"Yang mulia, bisa saya meminta waktu anda sebentar?"
Falley berdiri, menghadap belakang dimana jendela yang berhadapan langsung dengan taman kesayangan ibunya.
"Kita bisa berbicara di taman itu, disini agak panas." Tunjuk Falley pada salah satu rest area berkubah yang tepat dikelilingi oleh taman mawar yang amat indah.
Taman yang mana diminta, ditanam dan diberikan sihir langsung oleh Nuela, tujuan dari sihir itu sendiri agar semua mawar disana tidak ada yang layu ataupun diterbangkan oleh angin yang kuat ketika badai.
Di taman itu juga dulunya Falley bermain bersama ibunya. Meski terkesan Falley yang dijadikan mainan oleh ibunya, tak dapat dipungkiri ia juga sangat senang dan bahagia saat itu.
"Baik, yang mulia."
Ucapan Olivia kini kembali membawa Falley ke dunianya. Senyuman mirisnya hadir tak kala dibuat kembali mengingatnya, entah kenapa semua memori nan kenangan indah itu seakan-akan tidak pernah terlupakan satupun untuknya.
Bersama langkah pasti, kedua perempuan itu berjalan menuju tujuannya.
__ADS_1
..._____...
"Tuan putri, yang mulia Ratu memanggil anda untuk bertemu."
Lauren yang tengah asik mengayunkan pedang kayunya berhenti. Mulutnya yang sejak tadi berhitung terhenti tepat ketika memasuki angka ke dua ribu tiga ratus dua puluh tujuh (2.327).
Mengambil handuk yang tergantung di pohon yang tak jauh darinya, Lauren mulai mengelap setiap keringat yang keluar dari pelipisnya.
"Dimana?" Tanya Lauren akhirnya.
Pelayan perempuan yang tadi memberitahunya itu tiba-tiba saja menepuk kedua pipinya dengan keras, entah apa maksudnya Lauren sendiri tidak tahu.
"Ya-yang mulia Ratu meminta anda untuk datang ke taman mawar, tuan putri." Jawab pelayan itu.
Tak tahu apa ini memang perasaan Lauren saja, tapi sempat beberapa kali ia menangkap pelayan itu melirik kearahnya dengan tatapan gila.
Ketika ia meneguk air minumnya, ketika ia mengelap keringatnya, ketika ia yang tengah mengibas-ibaskan kaos yang dikenakannya untuk mengeringkan keringat yang menempel, bahkan ketika ia menggeraikan kembali rambutnya, rasanya tidak pernah lepas dari curi-curi pandang pelayan itu.
Karena sedikit jengah, Lauren akhirnya berdehem. "Beritahu kakak bahwa aku akan segera kesana, cepat." Titahnya.
Pelayan tadi mengangguk dengan wajah yang seperti akan kehilangan sesuatu. Ketika pergi pun, aura suram yang ia keluarkan bersama dengan punggung yang menjauh itu sangat kentara kemana-mana.
"Apa sekarang aku menjadi salah satu incaran para yuri?" Lauren sedikit bergidik ngeri, ia sama sekali tak dapat membayangkan itu sampai terjadi.
Meski dulunya ia adalah seorang lelaki, tapi kini ia baik dari segi fisik atau segi manapun adalah seratus persen seorang gadis.
Perasaan akan seorang gadis cantik pun sekarang tak lebih dari sekedar sebuah kekaguman, sebagai mana ia yang kagum akan kecantikan dari kakaknya, Silla maupun Olivia.
Tidak ada satupun sebuah bentuk romansa akan seorang gadis, itu yang mulai Lauren rasakan sekarang.
Dan malahan, mata Lauren kadang suka jelalatan sendiri ketika melihat wajah tampan.
Melihat seorang lelaki yang tampan, tak tau kenapa ia tak dapat lagi dengan percaya diri membandingkan dirinya dikehidupan sebelumnya dengan orang tampan itu.
Yang ada sekarang adalah sebuah perasaan seperti, akh Lauren sendiri tak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
"Apa aku ini, bisa disebut seorang gadis yang matang sekarang?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja terucap tak tahu pada siapa. Mungkin jika pedang memiliki telinga, pasti benda itu yang pertama kali dapat mendengar pertanyaannya.
Selesai menyelesaikan semuanya, Lauren segera pergi memenuhi permintaan kakaknya untuk bertemu.
..._____...
"Lauren, kakak mengijinkan mu untuk melakukan perjalanan."
Garpu kecil yang tadinya Lauren pegang untuk menyantap bolu lembut dihadapannya terjatuh. Meski nyaris tak berbunyi, tapi itu membuat seluruh perhatian yang ada tertuju padanya.
"Ka-kakak serius?" Lauren berucap tak percaya.
Menatap dalam netra coklat terang kakaknya, Lauren tidak dapat sama sekali menemukan satupun kebohongan didalamnya.
"Iya, kakak serius." Ucap Falley menanggapi, "Tapi ada beberapa syarat yang akan kakak ajukan." Lanjutnya.
Lauren mengangguk, "Lauren sama sekali tidak masalah dengan semua syarat dari kakak, selama itu masih masuk diakal."
Perkataan Lauren membuat Falley sedikit tak terima, "Jadi maksud kamu, apa yang biasanya kakak sebutkan itu tidak pernah masuk akal?"
Lauren terlihat mengendikan bahunya acuh, membuat Falley kian menggeram.
Entah kenapa Falley merasa sejak kembali dari kekaisaran, sifat Lauren tiba-tiba saja berubah.
Dari awalnya gadis yang sangat manja dan polos, kini sudah seperti putri es yang sama sekali tidak dapat diganggu.
Apa yang membuat sifat adiknya itu berubah drastis? Apa karena pergaulan bebas dikekaisaran?
Sepertinya Falley harus bertanya langsung pada Silla, wanita itu pasti tau sesuatu!
Sudah kuat akan tekat yang tiba-tiba saja datang, akhirnya Falley menunjukkan sebuah kertas pada Lauren yang sejak tadi menatapnya penasaran.
"Semua syaratnya ada didalam situ."
Lauren mengambil kertas yang tersodor padanya, "Terimakasih, kak Fall."
Keduanya saling menatap dengan senyum. Setelah runyam semalam, akhirnya masalah dapat selesai dengan kepala dingin.
Begitulah harusnya sebagaimana seorang saudara bertindak.
Tak bisa selamanya ikatan persaudaraan harus terombang-ambing oleh permasalahan. Darah lebih kental dari pada air, saudara yang memang berbagi darah tak mungkin harus terus bermusuhan.
"HEY KAK FALL, LAUREN!"
Kedua anak Fansev menoleh tak kala mendengar teriakkan keras, dapat dilihat Olivia yang tengah berlari kecil kearah mereka.
Bruak
Mungkin karena tersandung atau apa, Olivia jatuh dengan sangat tidak elitnya.
Ketika gadis itu bangkit, nampak dahinya yang sedikit memerah karena terhantam kerasnya beton pada jalan taman.
Kedua saudara yang melihat kejadian itu itu saling memandang, sesuatu yang mereka simpan kini tak dapat lagi ditahan.
Falley yang masih sedikit menahan tawanya dengan mencoba menutupi mulutnya, dan Lauren yang memilih untuk tertawa lepas diantara semua penderitaan Olivia disana.
__ADS_1
"HEY, KENAPA KALIAN BERDUA MALAH TERTAWA!"
...______...