Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Apa rencana mereka?


__ADS_3

"I-itu maksudnya, em setulus-tulusnya dalam hati!" Lauren meruntuki dirinya sendiri dalam hati, dasar mulut suka ceplas-ceplos! Batinnya.


Olivia tentu sadar akan gelagat aneh gadis didepannya. Itu pasti bukan hal biasa sampai-sampai dapat membuat Lauren, seseorang yang dapat mengendalikan penuh ekspresinya hingga dapat terlihat seperti itu.


"Lauren, kamu tidak menutupi apapun padaku bukan?" Selidik Olivia, ia berdiri dan mengambil tempat duduk tepat disebelah Lauren.


"Ti-tidak!" Bantah Lauren.


Kereta yang sudah kembali berjalan sepertinya membuat alasan tersendiri untuk Lauren, gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah pohon-pohon yang terhalang oleh kaca jendela.


Olivia tak kehabisan akal tak kala melihat itu, "Lauren, kamu tak mau aku tau bukan arti dari kata ikhlas itu?" Tekan Olivia akhirnya.


Dapat dilihat Lauren yang sesaat menegang, "Sudah kubilang bukan, ikhlas itu artinya setulus-tulusnya dalam hati!"


Perkataan itu menjadi akhir dari obrolan mereka, tanpa tahu jika portal telah dilewati dan mereka sudah sampai di tanah Celestine.


..._____...


"Lauren, gadis kecil kurang ajar!" Umpatan Silla terasa samar, tanpa satupun orang yang mendengar.


Wanita itu beberapa kali terlihat mengambil nafas dalam-dalam, lalu ketika mengeluarkannya pasti disertai beberapa keluhan.


"Falley brengsek, banyak sekali memberikanku pekerjaan!"


"Kenapa ini harus terjadi padaku?"


"Dan lagi, kenapa pelakunya seakan tak pernah dapat ketemu?!"


"Kekaisaran bodoh! Kenapa mereka sangat bodoh sampai tidak tahu tentang ini!"


"Akh, ingin sekali kubakar mereka semua!"


Semua keluhan Silla keluarkan, sungguh jika setiap hari begini bisa jadi pensiun dini saja ia.


Impiannya untuk pergi ke pedesaan kecil, membangun keluarga kecil dan memiliki anak. Itu semua tidak akan terwujudkan jika saja ia terus menerus harus menerima tugas seperti ini!


Dan terlebih, ayahnya juga mengatakan bahwa ia tidak boleh menikah dulu sebelum sahabatnya itu tidak menikah!


Oke-oke, semua biang masalah itu ada pada Falley!


Sudah banyak lamaran yang diajukan, ditolak mentah-mentah oleh Falley. Bahkan tanpa sempat membacanya, wanita itu sudah merobek dan membakar semuanya.


"Jika terus seperti ini, apa aku akan berakhir sebagai perawan tua?"


Meski dikenal sangatlah populer ketika diakademi, Silla sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.


Pernah timbul sebuah rasa cinta, tapi itu dengan cepat ia pendam karena sadar orang yang dicintainya sudah memiliki orang lain dihatinya.


Sakit memang rasanya, bahkan untuk seorang Silla yang dapat mengalahkan ratusan monster dengan bengis bersama pedangnya.


Menangis? Iya wanita itu menangis, hampir tiga malam bahkan.


Sakit hati, tidak terlihat tapi sangat sakit nyatanya.


Setelah melewati beberapa tahun lamanya, akhirnya ia sudah mulai berhasil melupakan perasaannya pada Aamon.


Aamon mencintai Falley, aku sama sekali tidak boleh berada diantara mereka. Itu yang terus Silla tanamkan tak kala mengingat setiap momen indahnya bersama Aamon.


Momen indah yang sangat sulit untuk dilupakan, apalagi untuk dibuang begitu saja.


Dan sekarang, ia tiba-tiba saja dipertemukan kembali dengan Aamon. Lelaki itu bahkan tampak santai saja saat berinteraksi dengannya, tanpa ada satupun rasa kehilangan seperti Silla yang menangisi kelulusan mereka berdua.

__ADS_1


"Sepertinya memang aku sudah tidak punya harapan ya?"


Entah wanita itu bertanya pada siapa. Tapi yang jelas, rasa kecewa tak pernah dapat disembunyikan oleh wajah cantiknya.


"Nona Silla, Tuan Duke Hristo ingin menemui anda."


Suara ketukan terdengar, disusul suara seorang lelaki yang Silla yakini betul adalah salah satu prajuritnya.


"Masuk."


Dalam pikirannya, Silla mulai memutar kembali ingatannya.


Duke Hristo merupakan salah satu dari empat orang Duke yang ada di kekaisaran Destegraf, letak wilayahnya ada dibagian utara kekaisaran.


Keluarga ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kaisar. Itu semua karena pada zaman pembentukan kekaisaran, leluhur dari keluarga Hristo juga merupakan anak dari kaisar pertama. Lebih tepatnya, adik dari kaisar kedua.


Apa yang orang itu inginkan dariku?


Silla dapat melihat pintu ruang kerjanya yang terbuka oleh dua prajurit.


Dengan langkah kaki santai, kaki jenjang itu mulai melangkah masuk. Seorang lelaki berwajah rupawan dengan hidung yang mancung dan rahang yang tegas, bersurai pirang kecoklatan dan yang paling mencolok, netra hijau yang sedikit nampak menyala.


"Silakan duduk, tuan Leonardo."


Leonardo De Trean Hristo, lelaki itu mengangguk pelan mengikuti arahan dari Silla untuk duduk.


Dirinya menempati salah satu sofa panjang yang tersedia didalam ruangan, lalu Silla yang dengan cepat menempatkan dirinya juga pada sofa yang bersebrangan.


"Jadi, apa maksud kedatangan tuan Leonardo kemari?" Tanya Silla tepat setelah para pelayan selesai menyajikan teh untuk mereka berdua, keheningan yang ada mau tak mau harus dibuka oleh Silla.


"Aku ingin menawarkan bantuan untuk masalahmu."


Leo memilih tak menjawab. Setelah meletakkan kembali gelasnya, tanpa Silla sadari lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari tangannya.


Se-sejak kapan?!


Sebuah kertas yang terlipat kecil terlempar tepat disamping gelas Silla berada. Menanggapi raut heran Silla yang makin menjadi-jadi, Leonardo mengeluarkan senyum tipisnya.


"Didalam itu terdapat tempat dimana orang-orang yang tengah kamu cari ku sekap, kamu bisa melakukan apapun pada mereka."


Sambil mendengarkan perkataan Leo, Silla meletakkan kembali kertas yang sudah dibacanya.


Semua nama yang tertera di kertas itu sepenuhnya benar, sangat jauh dari Silla yang hanya dapat sepotong dari setiap penyebutan namanya.


Orang-orang yang Leo maksud semuanya benar adalah semua orang yang tengah Silla cari, mereka adalah orang-orang yang sudah membuatnya harus menetap lebih lama dikekaisaran.


Organisasi Provokator, itu nama yang Falley berikan untuk mereka.


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, para tikus-tikus yang mencoba kembali memecah kerajaan dan kekaisaran tak lain dan tak bukan ialah organisasi ini.


Mereka semua yang selalu menjaga setiap informasinya membuat Falley sangat kewalahan, tapi itu semua terbayar tak kala anggota ke sebelas dari mereka tertangkap.


Orang itu tanpa sengaja mengatakan tujuan dan sebuah perkumpulan tentangnya, yang membuat Falley dan Silla yakin bahwa semua orang yang sudah mereka tangkap itu satu kesatuan.


Dan satu lagi yang paling menyakinkan, setiap tato dua ular yang tergambar pada setiap telapak kaki mereka.


"Aku terlambat menyadarinya." Monolog Silla pada dirinya. Wanita itu berdiri, menghadap tegas Leonardo yang terlihat masih menatap datar dirinya.


"Apa yang anda inginkan? Pastinya ini tidak gratis bukan?"


Senyuman tipis itu kian melebar tak kala mendengar ucapan Silla, "Ternyata kamu tidak sebodoh itu ya, nona Silla." Ujarnya.

__ADS_1


Silla mendadak merinding ditempat. Senyuman tipis yang ada pada wajah tampan itu seakan-akan melumpuhkan setiap indranya, tatapan yang dingin itu juga serasa makin menembus ulu hatinya.


"Aku punya satu permainan."


Leonardo De Trean Hristo, entah apa yang akan direncanakan lelaki itu.


..._____...


"Yang Mulia Edmond."


Lelaki dengan surai perak bergaya curtain itu menoleh, netra merahnya menangkap seorang lelaki tua tengah menyerahkan sebuah gulungan padanya.


"Apa itu?" Edmond sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki tua itu, meskipun mereka sudah hidup ratusan tahun lamanya bersama.


"Yang mulia, pelayan ini sudah menemukan sesuatu yang selama ini yang mulia cari." Ucap lelaki tua itu.


Edmond mengangkat satu alisnya tak paham, tapi tak urung ia tetap mengambil gulungan yang sejak tadi terarah padanya.


Dibukalah gulungan itu, "Celestine?" Gumam Edmond. Lelaki itu mulai melemparkan tatapan heran pada Gon, sang pelayan setianya.


"Kau ingin aku menghancurkan kerajaan ini?" Lanjut Edmond, sedikit kesal karena Gon yang bukannya menjawab pertanyaannya malah terkekeh.


"Bukan itu yang mulia." Gon menjeda kalimatnya, mencoba untuk menormalkan kembali ekspresinya.


Apa yang nantinya akan ia sampaikan akan sangat berpengaruh terhadap tuannya, karena bagaimanapun ini sudah penantian dari ratusan tahun lamanya.


Ini sangatlah serius, jangan sampai tuanya mengaggap ini hanya sebagai lelucon belaka.


Gon tak mau selamanya hanya melihat tuanya dengan ekspresi tak enak setiap harinya, apalagi aura suram itu yang terus menguar kemana-mana.


"Ditempat itu, tempat dimana nona Nuela berada." Ungkap Gon akhirnya.


Dapat dilihat Edmond yang menegang ditempat, "Nu-nuela katamu?"


Gon mengangguk pelan, mencoba menyakinkan dirinya untuk melanjutkan kembali laporannya. "Iya, sayangnya disana nona Nuela sudah memiliki seorang suami dan dikaruniai dua orang anak perempuan."


"Dan tepat beberapa tahun lalu, nona Nuela meninggal dunia akibat penyakit mematikan yang ada didalam dirinya."


Penjelasan Gon sama sekali tidak dapat membuat Edmond berkata-kata. Tanpa ia sadari, bulir air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh melewati kedua pipinya.


"A-aku, aku sepertinya terlambat ya..."


Gon tak dapat menjawab, lidahnya terasa kelu tak kala melihat keadaan tuannya.


Baru kali ini dalam hidupnya, Gon melihat seorang raja dari segala bangsa Vampir menangis dihadapannya.


Meski hanya seorang pelayan, tapi Gon sudah menemani Edmond bahkan sejak lelaki itu baru lahir ke dunia.


Semua yang Edmond lalui, juga ikut dilalui Gon bersama. Apa yang Edmond rasakan, juga terasa oleh Gon disana.


"Gon, aku akan pergi langsung kesana."


Belum sempat Gon menjawab ucapannya, Edmond tiba-tiba kembali melanjutkan.


"Kamu cukup persiapkan seluruh pasukan, tunggu aba-aba dari ku dan liat bagaimana akhirnya."


Kedua tangan Edmond terkepal kuat, aura hitam yang keluar dari dalam dirinya tanpa terasa dapat menerbangkan beberapa helai rambutnya.


"Aku akan menghancurkan mereka, semua yang sudah merenggut nyawa Nuela."


..._____...

__ADS_1


__ADS_2