Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Berita kedatangan


__ADS_3

"Ren, menurut mu apa yang harus ku bawa lagi?"


Lauren yang tengah memberi makan End, kuda kesayangannya dibuat tersentak. "Bisa tidak permisi dulu, Via?!" Ucapnya memperingati.


Olivia yang menjadi tersangka utama hanya menunjukkan kedua jari peace nya, senyuman lebarnya seakan sama sekali tidak menggambarkan rasa bersalah.


"Bukannya itu terlalu sedikit?" Karena tak kunjung adanya pembicaraan, Lauren akhirnya melirik tas besar yang ada dipunggung Olivia.


Kedua alisnya bertaut, entah kenapa tas punggung milik Olivia itu rancangannya mirip sekali dengan tas dikehidupan sebelumnya.


"Dan lagi, kamu hanya membawa itu yang ada dipunggungmu?" Rasa penasaran memang kadang dapat membunuhmu, karena itu Lauren memilih untuk pura-pura tidak tahu.


Olivia entah kenapa terlihat sangat bangga. Jika dimisalkan, itu seperti dagunya tiba-tiba saja tinggi dengan hidung yang memanjang.


"Apa yang ada di punggungku ini disebut sebagai Bag, perusahaanku sendiri yang merancangnya!" Ucapnya semangat.


Kesombongan Olivia makin kentara, terlihat dari bagaimana ia yang melepaskan tas di punggungnya dan melemparkannya tepat di depan wajah Lauren.


Happ


Untung saja refleks Lauren cepat, apalagi lemparan dari Olivia itu tak terlalu cukup kuat. Amat mudah untuk menangkapnya.


"Coba kamu tekan batu mana kecil yang ada." Ucap Olivia.


Lauren mengangkat bag yang dipegangnya tepat didepan wajahnya. Satu hal yang Lauren tidak paham, bag ini sama sekali tidak memiliki resleting!


Lantas bagaimana membukanya?


Tapi ketika mengingat perkataan Olivia, Lauren mencoba mencari batu mana yang dimaksud.


Dan ya, Lauren dapat menemukan batu Mana itu. Batu berwarna hitam itu ada pada sisi kanan bag, mungkin letaknya tepat berada pada pengganti kepala resleting.


Batu Mana itu ada tiga, yang mana berarti bag ini memiliki tiga kantong.


"Tekan ini? Atau harus dialirkan mana kedalamannya?" Tanya Lauren.


"Bravo!" Olivia menepuk kedua telapak tangannya, ia maju berjalan mendekati Lauren.

__ADS_1


"Alirkan sejumlah Mana kamu didalamnya, dan bag itu akan berfungsi sebagai sihir penyimpanan!" Terang Olivia.


Olivia mengambil dan mulai mengarahkan jari telunjuk kiri Lauren keatas batu Mana itu, "Cepat Lauren, alirkan Mana mu!"


Lauren berdecak kesal, tapi ia tetap melakukan apa yang disuruh oleh Olivia.


Ketika mananya tersalur, bak memakai sebuah resleting tak terlihat yang otomatis, tas itu mulai terbuka dengan sendirinya.


"Wala!" Seru Olivia, "Ini yang ku sebut sebagai, Bag Olivia!" Lanjutnya.


Lauren terperangah melihat wajah penuh percaya diri Olivia, "Via, kamu tidak hanya menjadikan ini untuk perjalanan kita bukan?" Tanyanya.


Perihal tentang Olivia yang memiliki perusahaan besar, Lauren memang sudah mengetahuinya.


Perusahaan itu bernama Evergreen, yang bergerak di bidang manapun. Ada pada bisnis makanan, bisnis perkebunan, bisnis peralatan serta barang, bisnis pakaian dan lain sebagainya.


Seluruh bidangnya terbilang sangatlah sukses. Bahkan khusus untuk pakaian, barang dan makanan, mereka sudah ada hampir disetiap kota yang ada dibenua.


Olivia menjelaskan bahwa ia sudah memulai semuanya sejak kecil, karena itu kesuksesan bukan hal yang mustahil untuk didapatkan.


Berbeda dari Lauren yang mengambil semuanya dari apa yang ia lihat dan pelajari, Olivia itu sudah seperti orang yang dilihat dan dipelajari.


Gadis itu menciptakan semua tanpa harus menjadikan kerangka milik orang lain, yang membuat kepribadiannya sangat kreatif, inovatif dan imajinatif.


Jika Lauren pintar, maka Olivia itu cerdas.


Tanpa tau semua masa lalu masing-masing, kedua gadis itu tersenyum dengan tatapan yang menyatu.


"Olivia, cepatlah bersiap!"


"Iya-iya!"


..._____...


"Lauren, hati-hati ya."


Lauren merasa tak tega tak kala melihat bagaimana senyuman tulus yang kakaknya buat. Ia tau, sangatlah tau kalau kakaknya ini masihlah tidak rela untuk melepasnya.

__ADS_1


"Iya kak, Lauren pastikan untuk berhati-hati."


Falley merasa air matanya sudah jatuh. Tanpa permisi, wanita itu memeluk erat Lauren dihadapannya.


"Pastikan untuk kembali beberapa bulan sekali." Ucapnya. Disela dekapannya, Falley juga tak lupa mengelus lembut surai sang adik.


Melepaskan pelukannya, wanita itu mengeluarkan tatapan tajamnya untuk Lauren. Meski sudah berderai air mata, Lauren tau bahwa tatapan itu dipenuhi ancaman.


"Awas saja tidak pernah kembali, kakak akan cari kamu kemanapun!"


Ancaman Falley itu tidak pernah main-main. Lauren pernah rasanya diancam untuk tidak boleh keluar kamar selama seminggu jika saja terus-menerus memaksakan diri dalam berlatih pedang, dan itu terbukti ketika Lauren ketahuan melanggar.


Falley tidak segan-segan mengurung Lauren dalam kamarnya selama seminggu, bahkan wanita itu sampai rela menggunakan sihir pelindung pada kamar Lauren agar gadis itu tidak kabur-kaburan.


Makanan dan kebutuhan lainnya memang dikirimkan setiap harinya. Tapi bagi seorang Lauren yang energik dan tak bisa diam, dikurung didalam kamar itu sama saja seperti berada di neraka.


Sejak saat itu, Lauren tidak pernah main-main atas ancaman Falley. Terlebih ancaman Falley ketika ia ingin memendekkan rambutnya, uh Lauren tak mau kembali mengingatnya.


"Iya kak Fall, Lauren pastikan untuk kembali beberapa bulan sekali."


Olivia yang melihat dari belakang nampak terbawa oleh suasana, terlihat dari bagaimana ia yang menyeka pelan beberapa air matanya.


Ia merasa dunia ini sedikit tidak adil, itu karena ia yang kemari tanpa berpamitan dengan kakak dan beberapa pelayan dekatnya.


Untungnya beberapa hari kemarin ia sempat menyelesaikan semua surat yang langsung dikirimkan kepada mereka, jadi tak membuat semuanya berfikir bahwa ia pergi tanpa berpamitan.


"Lauren sialan, aku harus membalasnya nanti!"


"Yang mulia Ratu, tuan putri."


Panggilan dari seorang prajurit menghentikan adegan dramatis antara Falley dan Lauren. Dengan sedikit kesal, Falley menoleh kearah prajurit tersebut.


"Ada apa!" Sewot Falley, wanita itu sudah memegang sapu tangan untuk mengelap bekas-bekas air matanya.


"No-nona Silla, memberikan kabar bahwa akan sampai pagi ini."


..._____...

__ADS_1


__ADS_2