
"Dari mana saja kamu, Olivia." Olivia yang tadinya ingin menutup pintu balkon kamarnya dibuat tegang seketika oleh pertanyaan seseorang.
Suaranya bisa dibilang cukup tajam, tapi jika diperhatikan lebih jelas lagi terdapat banyak kekhawatiran didalamnya.
Tanpa melihat pun Olivia tau siapa orangnya, "A-aku ha-habis ke-keluar sebentar, kak." Cicit kecil Olivia.
Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya, ia sama sekali tak berani untuk menghadapi wajah Lelaki yang tidak lain adalah kakaknya.
"Hufh..." Helaan nafas lelaki itu terdengar pasrah, setelahnya ia mulai berjalan mendekati Olivia yang masih setia berdiri ditempatnya.
Tangan besar itu mengusap pelan surai hitam adiknya, "Kakak tidak marah, hanya saja kenapa kamu tidak bilang sebelumnya." Ucapnya lembut.
Olivia mengangguk kecil. Mau bagaimanapun, kakaknya adalah seorang satu-satunya yang paling paham mengenai dirinya lebih dari siapapun.
"Kak Lukas, aku sebelumnya hanya mencoba menenangkan diri saja." Dipeluknya erat-erat tubuh kakaknya itu, entah kenapa itu terjadi tiba-tiba saja dari Olivia.
Lukas tersenyum kecil, tapi tak urung ia membalas bagaimana pelukan sang adik.
"Apa mereka menyusahkanmu lagi?"
Pertanyaan ini sering sekali Olivia dengarkan dari mulut kakaknya. Bagi orang luar yang sama sekali tidak mengerti, mereka pasti akan mempertanyakan kata 'mereka' atas pertanyaan itu.
Tapi bagi Olivia yang sudah biasa, maka jawaban atas pertanyaan itu dapat dijawab bahkan hanya dengan mendengarkan kalimat awalnya.
"Tidak, hari ini tidak apa-apa." Olivia menghadap keatas, melepaskan wajahnya yang sejak tadi ia tempelkan pada dada sang kakak.
Wajah sang kakak nampak teduh menghadapinya. Meski dengan ruangan gelap yang hanya bercahaya kan sinar bulan dari gorden balkon yang belum ditutup sempurna, Olivia masih dapat dengan jelas menatap wajah tampan kakaknya.
"Oh iya kak, aku bertemu dengan orang yang menarik hari ini."
Keantusiasan Olivia yang tiba-tiba mengambil penuh minat Lukas, "Menarik?" Tanyanya.
Sorot mata ungu Lukas mulai berubah datar. Didalam hatinya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan akan orang yang berhasil menarik perhatian sang adik.
"Dia gadis yang sangat menarik, aku sangat ingin bertemu dengannya lagi!" Olivia menambahkan, tentu diiringi dengan nada yang amat riang.
Dilain sisi, seseorang entah kenapa tiba-tiba saja merasa lega. Terlebih ketika ia mendengar kata 'gadis' pada kata-kata Olivia.
"Kakak harap kamu dapat bertemu lagi dengannya."
__ADS_1
Untung saja bukan seorang pria yang menarik perhatiannya.
...____...
"Lauren, aku sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi sekarang." Silla masih saja tidak melepaskan tatapan antusias itu padaku.
Kami sekarang tengah berada di dalam kereta kuda, dengan tujuan menuju ke istana pusat kekaisaran.
Mengikuti tujuan awal bagaimana aku bisa ada dikekaisaran ini, yah tentu saja dengan mengambil undangan pesta.
Pesta kali ini diadakan tidak lain tidak bukan karena pertunangan pangeran mahkota. Dari yang kudengar-dengar, pangeran mahkota ini hanya memiliki selisih tiga tahun saja dengan ku.
Ia baru saja dinyatakan lulus dari akademi Finden, akademi paling bergengsi sekekaisaran.
Akademi Finden sudah berdiri sejak pemerintahan kaisar kedua Destegraf. Mereka yang saat itu sudah cukup akan politik dan ekonomi, kini mulai beralih kearah pendidikan.
Mau bagaimanapun pendidikan itu sangat penting. Selain dapat memajukan SDM yang dimiliki suatu kerajaan, itu juga dapat menciptakan bakat bakat tersembunyi dan menimbulkan berbagai macam cetusan para penemu yang selama ini tak pernah ada.
Akademi Finden juga merupakan salah satu pilar utama dari kekaisaran, jadi tak heran jika seluruh anggota kekaisaran disekolahkan disana.
Aku tidak pernah tahu bagaimana pembelajaran didalamnya, tapi yang kudengar dari cerita Silla cukup menarik.
Di Celestine, orang-orangnya masih hanya terpaku pada tiga jenis keahlian. Ilmu pedang, sihir dan energi roh. Tidak heran, karena disana terdapat gelar tertinggi untuk ketiga jenis keahlian itu.
Untuk kekaisaran, mereka tidak ada hal untuk membeda bedakan itu. Semua tergantung dengan apa yang kamu ciptakan dan bagaimana kekuatanmu dikatakan.
Keduanya sama-sama ada positif dan negatifnya. Kadang sebuah kejuaraan memang membuat semua orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang juara. Tapi ketika ada masa dimana sudah dilihat siapa pemenangnya, banyak dari mereka yang mulai mundur akan niatnya. Tidak semua orang dapat mengejar satu hal yang masih terombang-ambing oleh ombak lautan. Ada dari mereka yang menyerah, ada juga yang terus berusaha mau bagaimanapun tantangannya.
Jika kesuksesan seseorang dinilai dari bagaimana pahitnya seluruh perjuangannya, tidak pernah akan ada yang namanya sebuah bakat.
Bakat dikatakan sebagai sendok emas seseorang, yang sudah ada dan direncanakan bahkan ketika ia masih dikandungan.
Jika seseorang pemilik bakat jarang mengasahnya sekalipun, mereka akan tetap bisa menang dengan para pekerja keras diluar sana.
Apa yang kumiliki sekarang, kuakui itu semua merupakan sebuah bakat.
Aku yang dulunya tidak pernah menyentuh pedang, dapat mengalahkan salah satu pengguna pedang terbaik dikerajaan. Itu semua hanya dilakukan dengan beberapa tahun latihan, meski cukup kuakui bahwa semua latihan yang digunakan sangat tidak masuk akal.
Jika kamu berhasil melakukan atau mencapai suatu pencapaian dengan usaha kerasmu, anggap saja itu sebuah bakat dalam dirimu.
__ADS_1
Setelah kamu sudah dengan percaya diri dapat berkata, "Aku memang sangat berbakat dalam sepak bola!" Tidak menutup kemungkinan bahwa kamu dapat mempelajari basket setelahnya.
Hidup tidak harus berpaku pada satu jalan, ada kalanya kita harus mengambil jalan lain untuk sampai ketujuan.
Kerja keras seseorang tidak akan pernah terbayarkan, sampai orang itu puas akan seluruh kerja kerasnya.
"Apakah tampilan ku terlalu mencolok?" Aku sekarang mulai mempertanyakan semua pujian Silla.
Sejak awal aku keluar dari kamar bahkan sampai sudah hampir sampai ketujuan, Silla tidak berhenti-hentinya memujiku.
Bukannya aku orangnya curigaan, tapi pujian Silla itu yang terlalu mencurigakan. Aku takut jika saja penampilanku kurang pantas, atau mungkin saja terlalu mencolok.
Aku menggunakan Cocktail dress biru laut sekarang, warnanya setipe dengan warna nertra mataku. Agak risih memang jika memperlihatkan kedua pundakku ini, terlebih mengingat jati diriku dikehidupan sebelumnya.
Tapi ketika mengingat kembali semua yang sudah kulalui, harusnya itu tidak apa-apa.
Iya, tidak apa-apa ( ꈍᴗꈍ)
Rambut panjangku kusanggul, dengan kupu-kupu sebagai bentuk jepit rambutnya. Sekali lagi, sungguh aku sama sekali tidak terbiasa dengan ini.
Biasanya aku hanya mengikat kuda rambutku, tentu itu dilakukan agar mereka tidak menggangu beberapa aktivitasku.
Pernah aku berfikiran untuk memotong mereka semua, sampai kak Fall bilang akan memotong leherku jika aku melakukannya. Ayah juga mendukung keputusan yang dibuat kak Fall itu, dengan alasan janjiku yang kubuat pada ibuku ketika aku kecil. Aku tidak mengingat apapun tentang itu, tapi yah sudah lah.
Ah ya untuk terakhir, sepatu yang kugunakan itu sepatu kaca. Bentuk dan rupanya persis sebagaimana yang ada pada film Cinderella, hanya saja sekarang hanya kurang pangeran yang mencarinya.
Bercanda ಠ◡ಠ
Menurutku penampilan ini standar-standar saja, tidak terlalu mencolok dan enak dipandang. Apa lagi dengan wajah yang sangat cantik ini, siapa yang bahkan rela menolaknya.
Ehem, bukannya aku narsis ya! Tapi memang kenyataan bahwa visual dari seorang Lauren itu sangatlah menawan!
Mau aku menggunakan pakaian apapun, selama tidak menutupi wajahku aku yakin pasti dengan mudah dapat menggaet orang kesisiku.
Ya itu lah sifat asli manusia, pemandang fisik ತ_ʖತ
"Ah keretanya berhenti." Silla yang pertama merespon dengan apa yang terjadi, "Sepertinya kita sudah sampai." Lanjutnya.
Uhh, kenapa aku tiba-tiba jadi seantusias ini?!
__ADS_1
..._____...