
...Happy reading...
.......
.......
Aku melihat berbagai macam jenis jajanan pasar dengan kedua mata berbinar, "Exsalia, apa boleh kuborong semua ini?!" tanyaku antusias (☆▽☆)
Satu garis bibirku mulai memeletkan sedikit air liur yang terlihat sudah ingin jatuh, semua bau yang masuk melalui lubang hidungku ini terasa sangat menggoda sampai perut dan lambungku!
[Master, jika anda ingin belilah secukupnya 。◕‿◕。]
Mendengar kata-kata Exsalia, aku mengangguk ngeri. "Ba-baiklah, a-aku akan membeli secukupnya." jawabku gugup.
Aneh, meski aku tak melihatnya aku yakin sekali sekarang bahwa Exsalia kini tengah menampilkan senyuman iblisnya.
[Untuk uang, Master bisa bukan menciptakannya menggunakan sihir?]
Aku kembali mengangguk, "Ya, untuk masalah sihir penciptaan aku sudah mempelajarinya."
Sihir penciptaan adalah salah satu dari tiga jenis sihir kuno yang kubisa sekarang. Sihir ini terbilang unik dan sangat berguna bagiku, karena hanya dengan menukar sejumlah Mana dan pengimajinasian diri yang baik, kita sudah dapat memiliki sebuah barang tertentu ditangan kita.
Yah, aku punya rencana untuk menciptakan senjata Ak-47 nanti jika sempat ಡ ͜ ʖ ಡ
[Saya cukup senang dengan kinerja Master yang cepat ⊙﹏⊙]
"Hm, aku tak ingin berlama-lama jika sudah menyangkut mengenai ilmu."
Bagaimanapun, informasi adalah segalanya sekarang. Jika aku tak memiliki pengalaman hidup didunia ini, setidaknya dengan semua informasi yang perlahan-lahan kukumpulkan sekarang bisa berguna nantinya untuk masa depanku.
"Paman, berapa yang ini." Aku menunjuk beberapa sate asap didepanku, mereka terlihat sangat menggiurkan dengan bau khas bumbu dan warnanya yang sudah coklat kehitaman.
"Itu 2 Liel nona." jawab si penjual, ia mulai tersenyum dan mengedarkan pandangannya kebeberapa tusuk sate yang berbeda.
"Dan untuk yang diujung sana itu, harganya 3 liel." lanjutnya menunjuk pada sate yang terlihat lebih besar dari pada yang lain.
Aku sedikit terkejut. Bukan karena apa tapi menurutku, harga sate ini sangatlah murah!
Mari Lauren-sensei jelaskan sedikit mengenai mata uang didunia ini (◍•ᴗ•◍)
Untuk informasi pertama, didunia ini sama sekali belum mengenal yang namanya uang kertas.
Tidak ada uang kertas belum tentu mereka menggunakan sistem Barter, sistem barter itu sudah lama menghilang sejak kemunculan pertama mata uang koin.
Liel, Diel, tembaga, perak dan emas. Jika diurutkan menurut rupiah, mungkin satu koin Liel itu akan bernilai seratus rupiah, satu koin Diel itu seribu rupiah, satu koin tembaga itu sepuluh ribu rupiah, satu koin perak itu seratus ribu rupiah dan emas sekitar satu juta rupiah.
Yah tidak rumit sih. Selain warnanya yang berbeda-beda, koin-koin itu juga memiliki beratnya masing-masing (Dengan emas yang berbobot paling berat).
Oke cukup, kita kembali ke laptop!
__ADS_1
Aku menyelipkan satu tanganku kedalam tas selempang yang kupakai. Sedikit berbisik, aku mulai membaca mantra sihir dibaliknya.
"Sihir kuno: Penciptaan."
Sesuai dengan apa yang pernah kulihat, satu koin perak tercipta diantara genggaman tanganku. "Ini paman, aku ambil sepuluh tusuk yang besar!" ucapku menyodorkan koin perak tadi ke si penjual.
Kedua mata si paman penjualan terbelak tak percaya, "No-nona, itu terlalu banyak kalau hanya untuk sepuluh tusuk." jelasnya.
Aku tersenyum lebar lalu menggeleng, "Tidak apa-apa, aku tak ingin punya kembalian karena nanti akan susah membawanya!"
"Ta-tapi nona.."
"Tak apa paman, ayolah terima dan cepat bungkuskan sate-sate itu aku kelaparan!" ucapku dengan beberapa kalimat membatin.
"Baiklah, ini nona." Ia mengambil koin yang kusodorkan dan ditukarkannya dengan sebungkus sate.
"Terimakasih paman, lain kali aku akan mampir lagi!" ucapku berjalan pergi dan sedikit melambai padanya.
"Terimakasih juga nona!" Melihat pembeli pertamanya yang kian menjauh, sang penjual tadi menggenggam erat koin yang ada ditangannya tepat didepan dada.
"Setelah hampir dua bulan lamanya, akhirnya ada yang datang." Gumamnya, ia menengadah menatap langit biru diatasnya. "Akhirnya Desi, resep buatan kita bisa laku.." lanjutnya sendu.
Satu pagi yang mengubah segalanya. Lauren tidak tau saja bahwa nanti, sate tempat langganannya itu akan menjadi salah satu restoran makan terbesar yang pernah ada dimasa depan.
...____...
"Aduh..."
Ia bertanya sambil menyodorkan satu tangannya padaku, "Em, aku tak apa." Jawabku lalu mengambil sodorkannya untuk berdiri.
Kuperhatikan orang yang baru saja menambrakku. Ia mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya dan yang pasti, ia memiliki sedikit lebih tinggi yang tak terlalu jauh dariku.
"Apa yang kamu perhatikan?" Ia mulai membuka tudungnya perlahan.
Tanpa terhalang apapun sekarang, terlihatlah wajahnya yang tampan dengan surai pirang kecoklatan, hidung mancung bak perosotan, rahang yang sangat tegas dan netra hijau yang sedikit nampak menyala.
"Tidak apa-apa!" Jawabku agak ketus dengan wajah yang sedikit memerah.
Akh kenapa orang tampan ini bisa ada, aku tak mau tau hanya akulah yang boleh tampan ಠ益ಠ
Author Pov
Laki-laki tadi terlihat mengangkat satu alisnya heran, "Apa yang kamu lakukan dilorong kecil seperti ini?" tanyanya datar.
Lauren menggeleng cepat. Dengan sedikit bergetar, gadis itu menghadap kewajah si laki-laki. "A-aku ta-tadi hanya ingin memberi makan kucing." jawabnya gugup.
Laki-laki tadi melihat kearah beberapa potong daging dibawah, rupanya kedatangannya barusan membuat semua kucing yang tadinya ramai kini menghilang entah kemana.
"Aku minta maaf, maaf karena sudah mengacaukan acaramu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, laki-laki tadi berjalan mendekat ke arah Lauren. "Aku Leonardo, kamu boleh memanggilku Leo." ucap Leo menyodorkan tangan kanannya.
Lauren mengangguk lalu menjawab jabatan tangan itu, "Aku Lauren, salam kenal ya Leo!" ucap Lauren ikut mengenalkan diri dengan senyuman lebarnya.
Leo tersenyum tipis. Entah karena reflek atau ingin, ia mengusap pucuk kepala Lauren pelan. "Apa Lauren disini sendiri?" tanyanya lembut.
Melihat Lauren yang bukannya langsung menjawab malah tengok kanan-kiri atas-bawah depan-belakang, Leo dibuat gemas sendiri. "Bukannya aku bertanya?" tanya Leo lagi.
Lauren mengangguk, lalu setelahnya gadis itu menggeleng dengan bibir yang sudah mengerucut. "Aku, tersesat..." lirihnya sedih.
Tanpa permisi, Leo mengambil satu tangan Lauren untuk digenggam. "Dimana rumahmu? aku akan mengantarkanmu pulang." ungkap Leo.
Lauren menahan tangan Leo yang ingin berjalan menariknya, "Leo, aku tidak ingin pulang. Aku ingin mengelilingi kota ini dulu." ucap Lauren menundukkan kepalanya.
"Aku selalu dikurung oleh ayah dan sel- eh kakakku. Aku tak pernah dibiarkan keluar oleh mereka berdua." Lauren yang berkata dengan nada yang amat sedih membuat Leo terenggun.
Selesai memastikan sesuatu (?), Leo mengangguk. "Baiklah, aku yang akan mengajakmu berkeliling."
Lauren mengangkat kepalanya dan menatap Leo dengan senyuman lebar terpatri diwajah cantiknya, "Terima kasih, Leo!" ucapnya antusias dan memeluk erat tubuh Leo dari belakang.
"Sa-sama-sama." Leo menutup rona kemerahan yang muncul dikedua pipinya dengan satu tangannya.
Ia merasa aneh, jantungnya yang biasanya tenang tiba-tiba berdetak kencang dan entah karena apa, perutnya juga seakan-akan tiba-tiba dipenuhi oleh banyak kupu-kupu yang berterbangan.
Sepertinya aku harus periksa kedokter setelah ini. Batin Leo.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...See you to next chapter!!...