
"Hey, menurut kalian party kita akan dinamai apa?" Ditengah keheningan, Via mengajukan sebuah pertanyaan.
Kali ini Via, Leo dan juga Lauren tengah berada di dalam sebuah kereta kuda salah seorang pedagang.
Mengingat tempat pembasmian serigala terjangkit cukup dekat dengan tempat yang ingin dituju oleh pedagang yang tiba-tiba saja menawari nya misi pengawalan, Via tentu saja tidak menolak.
Selain tak harus menyewa kuda, ia merasa bahwa ini cukup efisien dan sangat menguntungkan. Bayaran yang didapat dua kali lipat, dan mereka tak harus mengeluarkan uang sebagai bentuk operasional.
Sangat menguntungkan bukan?
"Bagaimana dengan Viall?"
Ucapan Lauren menarik perhatian Via. Sedikit mengangkat tudung yang turun menutupi penglihatannya, gadis itu menatap Lauren yang duduk tepat dihadapannya.
"Viall?"
Lauren mengangguk, "Iya, Viall itu berarti Via, Leo dan Lauren."
"Ingat, L nya dua ya!" Tambahnya.
Via cukup mengerti, sedangkan Leo mengangguk setuju mengingat itu merupakan saran dari Lauren sendiri. Sungguh, lelaki itu sudah sepenuhnya buta akan cinta.
Apapun permintaan Lauren, selama ia sanggup pasti dijalani nya. Itulah Leo yang sekarang.
Setelah berfikir sedikit, Via merasa saran dari Lauren tidak buruk juga. Lagipula nama Viall juga tidak terdengar pasaran, tapi tunggu...
"Kenapa singkatan namamu harus bersebelahan dengan Leo?"
Belum sempat Lauren menjawab, ia sudah kembali dibombardir oleh pertanyaan dari Via.
"Bukannya kamu ya yang membentuk party kita, kenapa harus dari singkatan namaku dulu? Ren, apa kamu punya maksud lain?"
Nadanya seakan menggoda, dan Lauren tau ini ujung-ujungnya kemana.
"Hey, nama itu disusun dengan pertimbangan huruf yang ada di nama kita ya!"
Lauren menjelaskan, ia tak mau salah paham ini berakhir nantinya dengan ia yang seakan kalah dari Via.
"Lagipula namamu terlalu sulit untuk dibuat di belakang, maka dari itu bersyukurlah karena sudah kuletakan didepan!"
Via mencibir, jawaban Lauren cukup tak masuk akal. Padahal namanya terbilang mudah, apalagi dengan banyak huruf inti pelafalan didalamnya.
Ingin menjawab, tapi rasanya ia sedang malas untuk berdebat dengan Lauren sekarang.
Wajah Lauren yang ketika kalah berdebat itu cukup imut, apalagi ketika apa yang mereka debatkan menyangkut masalah Leo. Pasti ujung-ujungnya gadis itu akan salah tingkah sendiri.
...____...
"Ren, yang aku dengar dari beberapa pelayan di istana Celestine bilang kalau kamu itu berubah."
Didepan api unggun, Via menatapku. Sambil memegang ikan panggang yang sudah siap untuk disantap, ia menyerahkannya kepada ku.
Tak tau dari mana Leo mendapatkan ikan ini, padahal di daerah ini sama sekali tidak nampak sungai yang mengalir.
__ADS_1
Lelaki itu sungguh ajaib.
"Maksudnya?"
Sambil menyantap daging ikan yang lembut, aku balik bertanya.
Jika bisa berpaling sebentar, aku ingin sekali menanyakan Leo tentang bagaimana ia membuat bumbu bakar ikan ini.
Rasanya sangat gurih, bahkan perpaduan asin, manis dan masamnya pas meresap hingga kedalam. Baunya juga sama sekali tak amis, ini ikan bakar terenak yang pernah kucoba ( ꈍᴗꈍ)
"Mereka cukup bingung, kemana sifat ceria dan manja mu sebelumnya."
Ah itu, ternyata Olivia sudah tau ya. Yah, aku tidak bisa lama-lama menyembunyikan sesuatu ke dia.
"Itu semua hanya topeng."
Daripada menganggapnya kelepasan dan tidak bisa mengendalikan diri, bukannya lebih baik kusebut topeng?
Jiwaku terlalu beradaptasi dengan raga Lauren, hanya itu kemungkinan terbesar yang membuat perubahan sifat yang sangat drastis terhadap diri seorang Lauren.
Jika benar apa yang sudah menjadi kebiasaan ku sebelumnya memang kepribadian Lauren, maka bisa dipastikan bahwa jiwaku yang sekarang berada dalam tubuh ini tidak cukup baik dalam mempertahankan sesuatu.
Semua terasa ketika keluar dari Celestine. Aku merasa jika aku terus ada disana, sudah dapat dipastikan bahwa semua tentang Fardhan Yotsuki akan musnah.
Itu seakan, aku ada hanya untuk mengganti yang sudah tiada. Dengan pengetahuan dan seluruh kelebihan yang jiwaku bawa.
Aku tak mau itu. Lauren sudah mati, dan aku disini bukan sebagai penggantinya. Kuhargai raga yang sudah ia berikan kepadaku, dengan aku yang sama sekali tidak mengubahnya.
Inilah diriku yang sebenarnya, Lauren yang hanya jalan berdiri sendiri diatas tujuannya.
"Topeng ya."
Dapat kudengar Via yang bergumam. Kata topeng mungkin saja tak asing baginya, apalagi ia yang juga merupakan seorang bangsawan.
Pasti setidaknya, ada beberapa orang di sekitarnya yang memasang sebuah topeng jika berpapasan langsung dengannya.
"Lagipula aku akan meninggalkan istana cukup lama, rasanya muak jika harus terus memakainya."
Entah kenapa, aku sudah merasa dapat melepaskan semuanya.
Untuk yang kemarin, biarlah semua berlalu. Ketika aku bertemu kak Fall lagi nantinya, tinggal katakan saja bahwa sifat ini terbentuk karena sebuah petualangan.
Sampai kapanpun, rasanya sulit untuk mengungkapkan semuanya dengan jujur.
Apalagi fakta bahwa aku bukanlah adiknya.
...____...
Leo kembali ke kereta kuda. Didalam, ia dapat melihat Via dan Lauren yang sudah terlelap di alam mimpinya.
Beberapa barang yang kemungkinan menjadi bahan dagangan terlihat dijadikan bahan peluk oleh Lauren, yang membuat gadis itu sudah seakan tak peduli akan sekitarnya.
Di perjalanan kali ini terdapat 4 kereta kuda. Kereta pertama yang memiliki interior yang cantik, karena memang tempat si kepala pedagang. Dan 3 sisanya tempat untuk membawa barang dagangannya.
__ADS_1
Party Viall berada di kereta terakhir, yang mana masih memiliki tempat untuk beberapa orang karena tak terlalu sesak dengan barang.
Itu semua dapat dilihat dari kedua gadis yang sudah tidur dengan berbagai gaya disana. Terlebih, kereta kuda yang mereka tempati mengangkut bahan-bahan lembut seperti kain, kapas dan sebagainya.
Mereka sangat lucu, bukan?
Sebuah suara masuk kedalam kepala Leo, dengan nada tinggi yang menandakan bahwa itu seorang perempuan.
"Aku tidak butuh pendapatmu."
Leo menutup kembali kain pintu kereta kuda. Merasa disekitaran aman, lelaki itu berjalan sedikit menjauh.
Ayolah Leo, kamu masih saja dingin seperti biasa.
Suara itu kembali terdengar, kali ini ia nampak seperti gadis yang merajuk.
Namun sayangnya, Leo tetaplah Leo. Ia memilih untuk abai dan terus berjalan mencari tempat yang enak untuk berjaga.
Adanya 4 kereta membuat Leo harus memperluas area penjaganya. Meski sebenarnya malas, tapi ini merupakan misi pertamanya dengan Lauren. Ia tak boleh gagal.
Jadi Leo, bisa kamu ceritakan apa yang spesial dari gadis itu? Sampai-sampai membuat kamu meninggalkan daerah yang ku titipkan padamu?
Dibawah cahaya rembulan, suara itu kembali memasuki kepala Leo. Lelaki itu terlihat cukup geram.
"Bisakah kau tidak mencampuri urusanku?"
Apa tidak boleh seorang kakak mengetahui apa yang sedang dilakukan adiknya?
Nada dingin dari Leo yang penuh akan intimidasi sepertinya tak dihiraukan oleh suara itu, terlihat dari bagaimana ia yang malah balik bertanya.
"Uruslah urusanmu sendiri."
Sambil menyentuh ujung pedangnya, Leo kembali melanjutkan. "Kekaisaran sudah cukup kokoh, mereka sudah tidak perlu penjagaanku."
Jadi karena gadis itu ya, kamu menolak keras permintaan kaisar?
Leo tersentak, tapi dengan cepat ia kembali menetralkan dirinya.
Daripada menjawab, ia memilih untuk abai. Sepertinya apa yang dikatakan oleh pemilik suara itu benar.
Ketika peperangan berlangsung, kaisar meminta bantuanmu dan kamu memilih untuk abai.
Karenanya, perang itu jadi dimenangkan oleh Celestine. Tempat dimana gadis itu lahir dan dibesa–
"Kau, jangan pernah main-main."
Leo memotong, dengan nada yang seakan mengatakan bahwa ini adalah kata-kata terakhir yang dapat kamu keluarkan.
Terdengar suara itu terkekeh. Leo dapat merasakan sebuah seringai yang mengarah padanya, entah itu dari mana asalnya.
Sebagai seorang naga pelindung, kamu cukup ceroboh ya, Leo.
...___...
__ADS_1