
Namaku Olivia De Ferdian Vealiq, satu-satunya putri dari Duke Vealiq.
Duke Vealiq merupakan salah satu Duke dari empat Duke yang berdiri didalam otoritas kekaisaran Destegraf, mereka berwilayahkan didaerah selatan kekaisaran.
Untuk sekarang, bisa dibilang kekuatan dari Duke Vealiq cukup berpengaruh terhadap kekaisaran. Mereka memiliki pelabuhan terbesar di seluruh kekaisaran, dengan pengguna yang tak hanya dari tanah kekaisaran.
Beberapa pengunjung benua lain selalu mengenal pelabuhan Vee sebagai tempat paling tepat untuk berlabuh, entah itu membawa pengunjung ataupun barang dagangan mereka.
Terlepas dari itu juga, Duke Vealiq juga memiliki sumber daya laut yang melimpah. Bisa dibilang, wilayah tempatku ini sangatlah kaya.
Karena pengaruh dan kekayaan itu, bukan hal yang aneh jika kaisar saat ini sangat ingin sekali memperdalam ikatan antara kedua keluarga. Salah satu cara yang sudah disepakati antar dua pihak adalah sebuah perjodohan.
Sejak kecil, aku sudah didoktrin oleh setiap orang sebagai seorang calon permaisuri kekaisaran.
Seluruh pembelajaran yang terbilang sangat berat menjadi pil pahit atas perjalanan tumbuh kembangku.
Sejak kecil aku sudah diharuskan mempelajari ilmu etika, beranjak remaja aku diharuskan mempelajari seluruh tren kekaisaran yang ada, masuk diusia remaja aku dipaksa masuk kedalam akademi yang berbasis keseluruhan pada ilmu pengetahuan.
Perjalanan yang berat, sangat berat malah.
Melupakan itu semua, aku juga mengalami tekanan tersendiri oleh keluarga.
Ayahku, Duke Vealiq memiliki dua orang istri. Satu istri sah yang merupakan hasil perjodohan antar keluarga dan satunya lagi ialah seorang selir yang merupakan wanita yang amat dicintainya, ia adalah ibuku.
Tapi rupanya takdir berkata lain, ibuku meninggal tak lama setelah melahirkanku.
Karena hal itu, aku yang masih bayi menjadi bentuk dendam tersendiri bagi ayahku, bahkan sampai sekarang.
Setelah aku lahir, aku sama sekali tidak pernah mendapatkan satupun kunjungan dari ayahku. Bahkan ketika aku menangis, hanya ada dua orang pelayan yang menenangkanku.
Tidak hanya abaian keras dari ayahku, ibu tiri ku juga terlihat sangat membenciku. Sering kali ia memukulku, menggunakan otoritasnya sebagai seorang guru.
Cambuk, kayu, bahkan panasnya api dari ujung lilin pernah mendarat dan membekas di punggungku.
Beberapa pelayan yang kuyakini adalah suruhannya juga kadang mengerjaiku. Mulai dari menaruh sesuatu di tehku, mengganti makananku hanya dengan roti keras dan air keruh dan kadang juga menaruh bangkai tikus didalam bak mandiku.
Mereka juga sering menyebarkan berbagai rumor buruk mengenai diriku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka dapatkan, tapi itu terus saja berlanjut.
Dikediaman Vealiq, awalnya hanya ada dua orang yang dapat kupercayai. Mereka adalah dua orang pelayan wanita sebelumnya, yang sudah kuanggap seperti ibu dan kakakku.
Mereka berdua membesarkan ku layaknya anak sendiri. Ketika balita, sering kali pelayan lain memberikan susu basi untukku. Menggunakan gaji dari mereka sendiri, mereka membelikanku susu bagus yang dapat dikonsumsi.
Terlepas dari itu, kadang mereka berdua juga mengajakku berkeliling entah kemanapun. Menggendongku, mengajariku untuk berjalan, mengajariku bagaimana sopan santun dan bagaimana menjadi selayaknya seorang manusia.
Sampai suatu hari, orang kepercayaanku bertambah. Dia adalah Lukas De Ferdian Vealiq, kakakku yang berbeda ibu sekaligus penerus utama tanah Vealiq.
Dia seringkali melindungiku, baik itu dari kencaman ibunya sendiri atau dari para antek-anteknya.
Sering kali ia juga ikut dihukum denganku, apalagi masalahnya kalau tidak melawan.
"Kalau Olivia tidak, ya aku juga tidak!"
Wajah datar itu selalu ia tunjukkan pada siapapun, kecuali untukku. Bagiku sendiri, kak Lukas itu sudah seperti malaikat pelindung yang dikirim oleh dewa langsung untukku.
Senyuman hangatnya, perkataan tegasnya saat membelaku, kekhawatirannya atasku, aku sangat senang akan hal itu.
Ketika ia dipaksa pergi untuk menghadiri akademi, aku tidak bisa tidak menangis.
Satu hari dimana hariku dipenuhi dengan tangis, sesuatu yang tak terduga datang menghampiriku.
Bangun dipagi hari, aku merasa diriku aneh. Aku merasa pernah hidup didunia lain. Itu bukan hanya sebuah bentuk dari gambaran mimpi, aku sangat yakin itu adalah semua ingatan dan kenangan yang pernah kujalani.
Didunia itu tidak ada sihir, hanya ada ilmu pengetahuan yang amat tinggi. Manusia disana menggunakan seluruh pengetahuan mereka untuk membuat sesuatu, yang mereka sebut sebagai sebuah teknologi.
Aku yang disana merupakan seorang gadis SMA biasa bernama Hitomi Tsukasa, yang meninggal muda karena insiden bus sekolah yang masuk jurang. Aku tinggal disebuah negara yang disebut Jepang, dengan keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, kakak laki-laki dan adik perempuan.
Ayah dan ibu sangat mesra sekali, meski diumur mereka yang tak lagi muda. Kakak laki-lakiku, seorang laki-laki yang mulai beranjak ke arah lelaki. Anak kuliahan yang sering sekali mengajak ku adu jotos.
Adik perempuanku, aku ingat sekali ketika ia mulai mengenal yang namanya cinta, ia sering kali meminta ku untuk mengajarkannya bagaimana caranya mendapatkan seorang lelaki baik.
Aku memiliki banyak sekali teman, tak jarang mereka mengajaku karokean ataupun hanya berjalan-jalan entah kemana.
Aku juga memiliki seorang sahabat, ia termasuk laki-laki yang hebat. Selain sebagai seorang ketua basket sekolah, ia juga baik dan sangat pintar.
Kami sudah kenal semenjak kelas tiga sekolah dasar, karena bagaimanapun ia adalah tetanggaku yang baru pindah saat itu.
Klub yang kuikuti ketika SMA adalah klub drama, yang membuatku sering sekali tampil diatas sebuah panggung dengan banyak orang sebagai penontonnya.
Sungguh, diriku yang disana terasa sangat mengagumkan sekali. Selain pandai berakting, ia sangat cantik, pandai bersosialisasi, ia juga hebat dalam hal memasak, meski dalam pelajaran agak bodoh tapi itu semua tertutupi oleh seluruh kemampuan yang ia punya.
Dari semua ingatan yang banyak itu, ada satu hal yang amat mengganguku.
Itu terjadi ketika aku (yang disana) mendatangi seseorang dari klub game, untuk bertanya masalah apa mereka mau bekerja sama dalam pentas seni sekolah.
Ketika itu, ia tengah memainkan sebuah game otome yang sangat populer kala itu.
__ADS_1
Dari itu, ada satu percakapan yang paling kuingat.
"Aku tidak senang sekali dengan tokoh antagonis didalam game ini, ia sangat egois, selalu mau menang sendiri dan akan melakukan seluruh cara agar ia mendapatkan apa yang ia mau!"
"Bukannya sifat manusia memang begitu?"
"Bukan begitu Hitomi-chan, uhh coba kamu main kan saja sendiri!"
"Karakter berambut hitam ini yang kamu benci?"
"Iya!! Namanya Olivia De Ferdian Vealiq, dia antagonis utama dari game 'True love' ini!"
A-aku, merupakan antagonis utama yang akan berakhir sangat buruk disini!
Ayolah, itu merupakan hal yang sangat tiba-tiba kawan-kawan!
...____...
Semenjak ingatan dari masa laluku itu muncul, aku mulai berhati-hati pada setiap orang yang menjadi karakter yang ada.
Jika kalian bertanya bagaimana alur game yang sekarang menjadi duniaku ini, bisa dibilang ini cukup klise.
Game berjudul True love ini merupakan game otome yang berpusat pada satu orang gadis yang menjadi incaran para lelaki lelaki penting.
Ceritanya mengisahkan seorang gadis pintar yang dapat memasuki kelas atas Akademi Finden dengan menggunakan beasiswanya.
Jika didalam game, kita sebagai pemain yang memerankan sang gadis akan dibuat dekat dengan para Male Lead lewat jalur takdir yang dibuat oleh game.
Entah itu tak sengaja membantu male lead, atau mungkin terlibat perseteruan dengan male lead, atau mungkin bisa saja menyadarkan male lead dari sebuah ketersesatan.
Benang merah dibuat dalam berbagai bentuk, dan kita sebagai pemain bebas untuk memilih rute mana yang kita mau.
Ada rute male lead pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, bahkan untuk Reverse Harem pun tersedia untuk kita pilih.
Melupakan alur yang sudah dibuat, aku disini berperan sebagai seorang antagonis kejam.
Diceritakan Olivia adalah seorang gadis egois yang selalu menempel pada sang pangeran mahkota. Mereka berdua terikat ikatan sebuah pertunangan, terlebih pangeran yang pernah menolong Olivia yang pertama kali kesulitan ketika masuk ke dalam akademi.
Pertemuan mereka saat itu memicu kembali ingatan si kecil Olivia, bagaimana seorang pangeran yang tiba-tiba saja datang kekediaman lusuhnya dan ingin mengajak omong putri yang ditelantarkan sepertinya.
Dari hal itu membuat ia semakin terobsesi dengan sang pangeran, mengalahkan bagaimana besar dan banyaknya nasehat dari sang kakak.
Aku tidak tahu dengan jelas bagaimana alurnya berjalan, tapi yang pasti Olivia akan berakhir pada sebuah kematian.
Untuk itu, aku akan mencari jalur terbaik untuk menghindari mereka semua!
Tak terasa sudah genap dua tahun aku berada diakademi. Tahun ini kakakku, kak Lukas merayakan kelulusannya.
Aku dan kakakku terpaut satu tahun, jelas ia yang lulus terlebih dahulu karena memang lebih tua.
Oh iya, aku lupa memberitahu informasi yang sangat penting!
Selama diakademi, aku berhasil menghindari seluruh tokoh-tokoh yang ada.
Mengambil peran sebagai seorang Npc, aku dapat melihat bagaimana sang tokoh utama menggaet para lelakinya.
Jika diperhatikan, sang tokoh yang kuketahui bernama Viona ini hanya mengambil jalur pangeran mahkota.
Satu lagi sebuah informasi, tokoh yang kita mainkan akan dinamai sebagaimana kita sang pemain yang ingin memberinya sebuah nama.
Aku masihlah tidak menangkap apa Viona ini merupakan salah satu orang yang sama sepertiku, atau mungkin mereka memang asli penduduk dunia ini.
Dari segi sikap, ia terbilang gadis yang amat rajin, ramah pada siapapun, perhatian, baik dan cekatan.
Ia juga pintar, sangat pintar malah. Nilai yang didapatkannya tak pernah lepas dari nilai seratus. Meski ia tak mengambil kelas lain dan hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tapi semua pengetahuan yang dimilikinya mencakup segala bidang.
Bagaimana aku bisa tahu itu semua? Jawabannya cukup aneh jika kamu ingin mendengarnya.
Jawabannya, itu semua karena aku adalah sahabatnya.
Maaf teman-teman, bukannya aku menipu kalian dengan kalimat yang sebelumnya kuucapkan.
Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa-apa.
Karena nama tokoh utama yang dapat kita custom sendiri, membuatku sama sekali tidak curiga pada Viona.
Memang aku sempat berpikir mengenai ciri-ciri visualnya yang sangat menggambarkan seorang heroin. Rambut emas sepunggung, suara yang amat halus, netra kelabu yang cukup jarang, bentuk tubuh yang sangat ideal dan terlebih memiliki wajah cantik yang tidak membosankan bahkan untuk dilihat berkali-kali.
Karena kepribadiannya, aku berhasil tergaet olehnya. Kami menjadi sahabat sejak awal pertama kali memasuki akademi.
Aku yang sedang menunggu kakakku, tak sengaja bertemu dengannya yang tersesat. Dari situ aku mengajaknya berkeliling padahal aku sendiri tidak tahu arah, sampai-sampai kakak tiba-tiba entah datang dari mana dan memarahiku.
Sejak saat itu, hubunganku dengan Viona semakin dekat. Meski harus berbeda kelas karena aku mengambil sihir dan ia yang mengambil ilmu pengetahuan, kami tetap sering bertemu ketika jam istirahat.
Begitu juga ketika diasrama. Kami berbeda kamar, tapi aku sering mengunjunginya dan ia juga sering mengunjungiku. Sampai-sampai teman sekamar kami sudah mengenal kami masing-masing.
__ADS_1
Suatu hari Viona bercerita bahwa ia sedang didekati oleh seorang laki-laki, dan laki-laki itu bukan orang sembarangan.
Ia adalah putra mahkota kekaisaran Destegraf, Dale Le Axsel Grafon.
Mulai dari situ kecurigaanku yang selama ini kukubur dalam-dalam seakan digali paksa olehnya.
Setiap harinya kita bertemu, hampir tak pernah lepas mengenai topik sang pangeran mahkota.
Untuknya yang hanya seorang rakyat biasa, tidak mungkin tahu mengenai status pertunanganku dengan sang putra mahkota.
Aku tidak pernah memberitahukan apapun padanya. Karena bagaimanapun ketika ia menceritakan semua tentang Dale, pasti disekelilingnya selalu dipenuhi oleh bunga-bunga.
Viona gadis yang sangat baik, aku tahu itu. Bahkan untuk sekedar memberikan Dale, bukan menjadi masalah yang besar untukku.
Bagiku juga yang sudah amat menyatu dengan ingatan dan kenangan dari kehidupanku yang dulu, perasaan Dale yang pernah dibuat Olivia ketika kecil sudah kubakar habis tanpa satupun sisa.
Perasaan seperti cinta itu sangatlah tidak penting, aku hanya ingin menikmati hidupku secara tenang sekarang.
Pernah suatu hari aku meminta Dale untuk bertemu secara rahasia.
"Kamu ingin aku menutup mulut semua orang yang mengetahui mengenai pertunangan kita?"
"Kamu menyukai Viona bukan, Dale?"
Ketika itu ia hanya dapat terdiam, dengan wajah yang amat memerah. Layaknya seseorang yang baru pertama kali merasakan cinta, aku dapat melihat semuanya.
Mulai dari sana, desas desus mengenai Viona yang merupakan seorang pelakor tiba-tiba saja lenyap bak ditelan bumi.
Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, karena bagaimanapun itu merupakan poin plus tersendiri untukku.
Hingga saat ini, aku masih bersahabat baik dengan Viona. Dale yang kuketahui sudah menembak Viona, dan mereka sudah menjalin hubungan yang sama sekali tidak terpublikasi.
Viona yang bercerita dengan gembira bahwa ia yang tiba-tiba saja ditembak oleh Dale, dan Dale yang menyatakan perasaan seriusnya atas Viona kepadaku dan ingin mengakhiri pertunangan diantara kita.
Aku hanya dapat mengangguk, sambil mengucapkan kata selamat pada mereka berdua.
Dunia ini memang diciptakan hanya untuk berotasi pada seluruh kehidupan Viona, karena bagaimanapun ia adalah tokoh utamanya.
Sama sekali tidak ada tempat untukku, sebagai antagonis ataupun seorang Npc yang hanya numpang lewat.
...____...
"Olivia De Ferdian Vealiq, dengan ini aku sebagai putra mahkota kekaisaran Destegraf memutuskan pertunangan atasmu!"
Pesta yang awalnya ditunjukkan untuk kelulusan putra mahkota dan awal dari perkenalan calon putri mahkota dibuat hening tiba-tiba oleh sang tokoh utama dalam acara.
Dihadapan banyak orang, Dale Le Axsel Grafon menyatakan sebuah perkataan yang mengguncangkan setiap yang memperhatikan.
Mereka semua yang hadir disana rata-rata tau siapa itu Olivia. Seorang putri Duke ternama yang memang digadang-gadang sebagai calon putri mahkota karena kepintaran dan keahlian sihirnya, semua sebenarnya tak juga terlepas dari kekuatan keluarga.
Tapi kebanyakan mereka mengakui itu, bahwa Olivia merupakan salah seorang gadis yang tak salah karena menjadi tunangan putra mahkota.
Melupakan fakta itu semua, sekarang seorang putra mahkota menyatakan pemutusan pertunangannya dengan seorang gadis lain dipelukannya.
Olivia, yang tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian semua orang sedikit menunduk dengan mengangkat kedua ujung gaunnya.
"Maafkan saya yang mulia, apa anda bisa menyebutkan alasan anda?"
Ucapan itu terdengar sangat biasa, tanpa satupun tersirat adanya rasa benci dan kecemburuan. Malah, itu terdengar cukup datar.
"Aku mencintai seorang gadis lain, dan itu adalah Viona." Dale sesaat menatap wajah gadis dipelukannya, ia tau gadis itu sudah seperti ingin menangis dengan semua fakta yang baru saja didengarnya.
"Maafkan alasan egoisku ini, putri Olivia." Lanjut Dale disana.
"Saya dapat menerimanya, yang mu–"
"Tu-tunggu! Viona!" Olivia dapat melihat apa yang terjadi diatas sana. Viona yang entah masuk dan pergi tak tau kemana, lalu Dale yang berteriak dan segera pergi menyusulnya.
Setelah kepergian putra mahkota, seluruh aula pesta tiba-tiba manjadi ramai kembali. Sebagian pembahasan orang-orang terpaku pada Dale dan Olivia, tapi satupun dari mereka sama sekali tidak ada yang berani mendekati sang pemicu utama yang masih ada didalam pesta.
"Hufh, saya tidak datang kesini untuk melihat ini semua." Suara seseorang didepannya mengambil seluruh perhatian Olivia.
Ia menyodorkan sebuah gelas dengan air merah didalamnya, "Itu bukan anggur, anda rasanya masih terlalu kecil untuk itu." Lanjutnya.
Olivia terbilang hafal dengan suara itu, karena bagaimanapun ia memiliki hutang yang terhitung cukup banyak padanya.
"Putri Lauren, bukannya saya yang harusnya mengucapkan itu untuk anda?"
Iya, dia adalah Lauren. Seorang putri dari kerajaan sebelah yang entah kenapa tiba-tiba saja bertemu dengannya dialun-alun ibukota.
"Jadi nona Olivia, bisa saya bertanya kenapa nasib anda cukup buruk disini?" Lauren mengucapkan itu dengan senyum kecil diatas bibir ranumnya, seakan menertawakan secara anggun lawan bicaranya.
Olivia mengambil gelas yang disodorkan padanya, "Saya juga tidak tahu, lagipula untuk apa saya tahu itu." Jawabannya, terkesan acuh.
Senyuman kecil Lauren masih terpampang disana, "Kalau begitu, bagaimana kalau ikut dengan saya?"
__ADS_1
Kedua matanya menyipit, mengikuti sebagaimana senyumnya yang ada. "Tawaran yang tidak buruk bukan, nona Olivia?"
..._____...