
Lima tahun telah berlalu
Dunia yang dulunya tak lebih hanya kuanggap mimpi dan sekedar sebuah ilusi, kini telah menjadi kehidupan sehari hariku.
Ya, ini lah diriku sekarang. Seorang tuan Putri ke 2 dari kerajaan Celestine, Lauren van Cyles Celestine.
Prang..
"Baik baik aku menyerah!"
David yang giat mengajariku ilmu berpedang, selalu menyerah dihadapan diriku yang sekarang.
"Ayolah David, aku baru saja mulai!"
"Cih, dasar kau monster!"
Aku bukanlah lagi putri yang kerjaannya hanyalah pesta teh dan bersantai diistana, aku juga bukan tipe putri yang bisa tahan jika hanya selalu berada diistana terus menerus.
Salah satu tujuanku kali ini adalah, Akademy.
Tempat dimana aku bisa dengan bebas berbaur dengan orang luar, tempat dimana aku bisa mendapat pengalaman serta ilmu-ilmu baru dan sekaligus, tempat yang bisa menunjukkan ku semakin dekat dengan misteri dibalik surat miliknya.
"Melihatmu melamun seperti itu, apa ada sesuatu masalah yang menyangkut diotak kecil itu?" David berjalan ke arahku, nampaknya ia masih tak terima dengan kekalahan yang tiba-tiba terjadi barusan
"Hm, ya kira-kira be-"
Salah satu alisku dipaksa naik tak kala melihat tingkahnya, "-untuk apa kau menyarungkan lagi pedang itu?" heranku.
David menjadi panggilan sehari-hari untuk guru berpedangku satu ini. Hey jangan panggil aku tidak sopan ya!
Bagaimanapun, aku ini dulunya salah satu daripada banyaknya rakyat Indonesia yang terkenal dengan sopan santun dan budayanya.
Memanggilnya dengan nama bukan berarti aku tidak menghormatinya. Semenjak kejadian dimana tekat berpedangku muncul, ia selalu memaksaku untuk memanggilnya dengan sebutan nama.
Setelah melewati perdebatan yang cukup lama, akhirnya kami sepakat dengan aku yang memanggilnya David dan dia memanggilku Lauren.
"Ini sudah kekalahan keempat puluh tujuh untukku, apa lagi yang harus kuharapkan dari pertandingan ini?" ia mulai menatap ku tak terima, "Kau berharap aku akan selalu kalah darimu? dasar kau bocah nakal!" tambahnya.
Ekspresi tak terimanya sungguh menggelikan, membuat mau tak mau tawa kecilku lepas. "Hehehe, tau aja (*´ω`*)"
David berdecih dengan raut wajah jeleknya, "Memang salah rasanya aku membesarkan ilmu ber-"
"David, aku akan pergi besok."
..._____...
David tersentak mendengar ungkapan tiba-tiba dari sang murid, "A-apa maksudmu? kau tidak cocok untuk menjadi seorang pelawak, Lauren."
Setiap inci dari wajah Lauren tak luput dari perhatian David, "Kau serius? apa yang ingin kau cari sekarang?"
Wajah cantik itu sama sekali tidak menggambarkan adanya candaan, itu yang David tangkap sekarang.
Jangan-jangan bocah ini ingin menaklukkan suatu kerajaan? Bahkan dengan seluruh kekuatannya sekarang, itu bukanlah hal tidak mungkin! Atau mungkin-
Semua kemungkinan mulai bermunculan dibenak David. Lelaki itu guru Lauren, meski tak begitu tau tapi ia dapat memastikan satu hal.
Lauren selama kurang lebih dua setengah tahun ini tak pernah sama sekali serius dalam melawannya.
Dalam menjalani latihan dan berbagai hukumanpun, gadis itu melakukan seakan sudah seperti hal yang membosankan.
Dan tambahan, dari yang David dengar dari beberapa gosip yang ada, bahkan Lauren itu dapat menggunakan sebuah sihir yang amat misterius.
"Kau tidak berencana untuk menaklukkan suatu kerajaan bukan?" Tak tahan dengan berbagai argumen yang muncul dikepalanya, David mulai mengungkapkan.
"Hah?"
"Hah?"
"Hah?"
"Kenapa hah?!"
"Ya kau yang aneh David, apa yang sebenarnya kau tanyakan itu!"
Lauren mulai bersedekap dada. Diantara dua pegunungan yang amat besar itu, ia terlihat cukup kesulitan untuk menyilangkan kedua tangannya.
"Ya apalagi yang bisa kau pikirkan selain itu, Lauren." David mulai berjalan menjauh menuju kursi taman yang ada, tentu diiringi Lauren dibelakang yang masih menatapnya penuh tanya.
"Aku hanya ingin pergi ke Akademy, kenapa kau berfikir aku akan menaklukkan sebuah kerajaan?!" Lauren menarik satu kursi untuk duduk.
Disini mereka sekarang, duduk diantara indahnya taman istana.
Terlihat dari kejauhan, beberapa pelayan datang menghampiri. Satu diantara ketiganya mendorong sebuah troli.
"Nona, ini teh anda."
Lauren menoleh bersama dengan bibirnya yang mengerucut manja, "Marin, bukannya sudah kubilang jangan bawakan aku teh ketika sehabis latihan."
Pelayan itu -Marin- tersenyum lembut, "Nona, ini kiriman langsung dari yang mulia ratu untuk anda." Meletakkan satu cangkir didepan nonanya, ia kembali tersenyum. "Bukannya tidak baik untuk menolak?" lanjutnya.
__ADS_1
"Tapi kenapa David diberikan teh yang berbeda?! Dia bahkan juga diberikan kopi!" Lauren melancarkan protes.
Didepan David tersaji berbagai varian kue, oh jangan kalian lupakan juga dua cangkir yang entah tiba-tiba saja telah tersedia itu.
"Lauren, itu teh khusus untuk para anggota kerajaan." Menyelinap diantara tingginya susunan kue, David tersenyum. "Jika ingin kesetaraan, jangan juga terlalu berlebihan."
Teh Derfiena, jenis teh yang dikenal sangat disukai oleh raja pertama Celestine kala itu. Bahkan dalam wasiatnya, ia menuliskan bahwa teh Derfiena akan menjadi menu minuman paling utama bagi seluruh keturunannya.
"David, teh itu memiliki rasa yang aneh jika kau belum tau."
"Kau menyuruhku untuk meminum itu? maaf aku ingin belum mati."
Tidak hanya karena rasa dan ciri khasnya yang pas untuk menjadikan teh ini prioritas bagi keluarga kerajaan dulunya. Teh ini dipilih juga karena memiliki berbagai khasiat, contohnyq seperti dapat menambahkan kapasitas mana, memperkuat stamina tubuh, menahankan mental, mempertajam insting dan lain-lain.
Dan curangnya, hanya seseorang darah keturunan kerajaan Celestinelah yang dapat menikmatinya.
Lauren masih dengan ekspresi tak terimanya, "David, kau tau bukan kalau aku ini pembenci giveaway!"
Gadis dengan rambut putih abu-abu itu menyilangkan kedua tangannya kedada. Melihat dari ekspresinya, sepertinya itu tengah merajuk. "Pokoknya Lauren mau teh biasa, TITIK!"
Wajahnya ia palingkan, kedua pipi yang menggembung dan rambut yang sedikit berantakan.
Ugh nona Lauren sangat imut!
Marin hampir saja melepaskan senyum profesionalnya. Jika saja dibolehkan, ia ingin sekali rasanya mengarungi nonanya itu dan segera membawanya pulang.
"No-nona, anda bi-"
"Marin, pokoknya Lauren ga mau!"
David yang memperhatikan sejak tadi hanya dapat geleng-geleng kepala. Bukan karena tingkah Lauren, tapi lebih tingkah laku Marin.
Sampai kapan kamu tidak dapat terbiasa dengan monster berwujud makhluk imut ini, Marin?
Setidaknya itulah yang dipikirkan David sekarang.
..._____...
"Permintaan macam apa lagi ini, Lauren?" Falley menatap datar adik perempuannya, "Kamu mau masuk akademi?!" sambungnya.
"Kak, aku bosan jika harus terus diistana." Adu Lauren.
Kedua mata gadis itu nampak berkaca-kaca, "A-aku i-ingin sesekali melihat dunia luar, a-apa tidak bisa?"
Suara yang imut berpadu dengan isakan kecil, akh rupanya pertahanan Falley ingin hancur.
"Ka-kamu taukan jika kita keluarga kerajaan dapat memanggil guru kemari." Falley mengalihkan pandangannya, "Da-dan juga, kakak pikir pelajaran dari tuan David sudah cukup untukmu."
Satu mata berkedip, Silla yang melihat tanda itu mulai menghela nafas pasrah. "Tuan putri, apa ada sesuatu yang anda inginkan dari akademi?"
Good job Silla!!
"A-aku hanya ingin seorang te-teman..."
Lagi dan lagi tuan putri kita menjawab dengan nada polos terbata-batanya, sungguh itu sudah seperti senjata tersendiri untuknya.
"Jika anda ingin sekedar mencari teman, bagaimana dengan mengikuti pesta antar kerajaan?" Silla mulai membuka lembaran dokumen yang dipegangnya, "Kekaisaran Timur nantinya akan mengadakan pesta besar, beberapa kerajaan barat diundang termasuk kita."
"SILLA!"
Silla dan Lauren tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, "Fall-"
"BUKANNYA SUDAH KUBILANG UNTUK MEMBAKAR SURAT UNDANGAN ITU! APA KAU TIDAK PUNYA TELINGA!"
Falley mulai berdiri dari kursinya kerjanya. Berjalan mendekati Silla, ia mulai meraih paksa kerah wanita itu.
"KENAPA KAU MALAH MEMBERI TAHUKAN ITU PADA LAUREN!"
Silla terlihat tidak bergeming, bahkan banyaknya dokumen yang tadi dipegangnya entah sudah berhamburan kemana-mana.
"Yang mulia ratu, saya hanya menyarankan sesuatu kepada tuan putri." Genggaman Falley kian menguat, membuat kedua kaki Silla bahkan kini tak lagi menyentuh lantai.
"KAU!"
Sresss..
Aura sekitar mulai berubah menjadi dingin, bahkan beberapa barang yang terlihat dimeja mulai membeku secara perlahan.
Bruakk
Jendela yang tertutup dibuat terbuka paksa oleh angin yang entah dari mana, dinding ruangan perlahan mulai bergetar membuat beberapa lukisan yang tergantung mulai berjatuhan.
"APA KAU MULAI MELAWAN PERKATAAN KU SEKARANG, SILLA?!"
Kata-kata penekanan itu bahkan hampir mengetuk mental Lauren yang melihat.
Selama ia hidup menjadi Lauren, baru pertama kali ia melihat seorang Falley yang seperti itu.
Falley yang ia kenal itu seorang wanita yang anggun, penyayang, selalu perhatian, menjaga tutur setiap kata-katanya, kadang lucu untuk mencari suasana dan yang terpenting, selalu lembut padanya.
Tapi apa yang dilihatnya sekarang? Itu tak lebih dari seorang monster yang tengah mengintimidasi lawannya.
__ADS_1
Apa wanita itu kak Fall?
Tapi tunggu? bukannya kalau tidak dihentikan Silla bisa mati?
"ka-kak Fall–"
"CUKUP FALLEY!"
Diluar dugaan, Lauren yang tadinya berniat ingin membantu Silla kini dibuat lebih terdiam lagi.
Diseluruh tubuh Silla mulai diselimuti aura berwarna kuning emas. Menggunakan tangan kanannya, kedua tangan Falley yang sejak tadi bertengger dikerahnya mulai ia hempaskan secara paksa.
Siapapun yang melihat kedua orang ini pasti akan memasang tanda waspada yang sangat besar untuk itu.
Bukannya yang dikeluarkan Silla itu, Auralian?
..._____...
Auralian.
Setiap ksatria yang cukup terlatih pasti tau apa itu Auralian. Auralian ialah sebuah kondisi dimana seorang manusia dapat menyerap energi alam disekitarnya dan digunakan sebagai kekuatan tubuh dan senjatanya sendiri oleh sipengguna.
Para penyihir dan penjinak menggunakan roh sebagai tumpuan, itu tertulis jelas diingatan Lauren.
Tapi untuk seorang Ksatria yang sudah memilih jalan fisik dan senjata, sangat sulit untuk menggunakan energi roh.
Karena masalah itu, jalan alternatif berupa energi alam yang ditemukan mulai secara perlahan dikembangkan oleh berbagai orang.
Aurelian, jelas orang biasa tidak dapat dengan sangat mudah untuk mencapai titik itu.
Diperlukan latihan yang amat keras, kegigihan yang amat kuat dan pasti yang paling penting, sebuah fisik bawaan yang kuat.
Jika seorang penjinak terbentuk dari orang yang bermental kuat dan seorang penyihir lahir dari bakat dan cepatnya pemikiran, bagaimana dengan seorang ksatria?
Tidak pernah ada anak berumur dua tahun yang sudah push up dengan benar, tidak ada juga diantara mereka yang sudah ahli pada fisik, tenaga dan senjata bawaan. Bahkan beberapa anak kecil sejak kecil sudah diajarkan untuk menjauhi segala bentuk benda benda tajam.
Jadi intinya, Aurelian ialah tingkatan paling tinggi dari seorang ksatria, tingkatan yang juga amat sulit untuk digapai oleh setiap orang.
Dan yang kulihat sekarang,
itu adalah Aurelian nyata (つ✧ω✧)つ
Selama aku latihan bersama David, lelaki itu sama sekali tidak pernah melepaskan Aurelian miliknya sekalipun. Kukatakan lagi, tidak pernah sekalipun!
Ya sebenarnya harus kuakui juga, jika seorang David ingin serius melawanku hingga menggunakan Aurelian miliknya. Sudah dipastikan, aku akan mati muda sekarang.
Tapi ya setidaknya, biarkanlah aku melihat bagaimana bentuknya (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
Pak tua itu memang sangat kuat perlu kuakui, dan ju–
Akh karena membahas itu aku jadi lupa diri, ayo fokus Lauren!
Yang kutahu, hanya sang raja sebelumnya (ayahku), David dan pemegang mendali Cristal ksatria saja yang memiliki Aurelian.
Tapi apa ini, seorang sekertaris yang hampir setiap hari terlihat hanya memegang pena dan dokumen yang bertebaran, ternyata seorang ksatria hebat.
Sungguh plot twist sekali...
Sepertinya sekarang memeriksa latar belakang seseorang sangatlah penting.
..._____...
Seorang gadis terlihat tengah berbaring diatas tempat tidur mewahnya, sepasang pupil berwarna coklat itu beberapa saat sempat terbuka untuk menunjukkan tanda-tanda kehidupannya.
Rambut panjang dengan warna hitam itu mulai terlihat keunguan ketika cahaya matahari mulai masuk dan secara perlahan melewatinya.
"Permisi, nona."
Kedua mata yang awalnya ingin menutup untuk istirahatnya, kini harus dipaksa terbuka oleh banyaknya langkah kaki tepat setelah pintu besar terbuka.
Sejumlah orang berpakaian khas hitam dan putih mulai memasuki ruangan.
Diantara banyaknya para pelayan yang menunduk hormat, sang kepala pelayan mulai angkat bicara.
"Nona Olivia, tuan memanggil anda untuk sarapan bersama."
Dengan tatapan sinis, ia mulai mengamati sang nona yang masih saja enak diatas kasur.
Dasar pemalas, cepatlah bangun! aku tidak ingin tuan Duke marah hanya karena mu!
Ingin sekali rasanya ia mengatakan itu, tapi apalah daya. Cukup sudah ia tersiksa karena hari hari sebelumnya, tidak lagi dengan sekarang.
"Nona Olivia, tuan Duke me–"
"Iya aku tau, apa kau kira aku ini tuli hah?!" Gadis yang dipanggil Olivia itu bangkit dari tidurnya.
Meski dengan rambut yang berantakan dan tanpa satupun riasan, gadis ini sangat cantik bahkan untuk berkali kali lihat.
"Apa lagi yang ayah antago–ups, ayahku itu inginkan?"
..._____...
__ADS_1