
"Harry, siapa mereka sebenarnya?"
Tepat setelah para tamu keluar, Selena akhirnya mengungkapkan isi hatinya. Gadis itu memegang lengan kanannya, seakan-akan hawa dingin menggerogoti seluruh tubuhnya.
Kehadiran ketiga orang itu menimbulkan kesan tersendiri pada Selena, apalagi saat dimana ia harus berdiri satu ruangan dengan mereka.
Atas pertanyaan Selena, Harry lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya. Ia sendiri tidak tahu, mau bagaimanapun ia juga baru mengenal mereka baru-baru ini.
"Kamu yakin, mengenai menjadikan mereka bagian dari kita?"
Harry tersenyum tipis. Lelaki itu berdiri, berjalan pelan kearah jendela yang ada di ruangan guild master. Dari sana, ia dapat melihat ketiga orang tadi yang mulai melenggang pergi meninggalkan daerah guild.
Netranya tak lepas untuk memandangi gadis yang terlihat berbicara sejak tadi. Itu Via, atau setidaknya itulah nama yang Harry tau sekarang.
Gadis itu nampak mengoceh pada kedua temannya, tapi sepertinya ia hanya dianggap angin lalu oleh kedua temannya.
Kedua pipi Via yang sudah menggembung dengan bibirnya yang mengerucut kesal membuat Harry gemas sendiri. Jika dia ada disana, sudah mungkin ia akan mencubit kedua pipi itu .
Tunggu, kenapa aku harus mencubit pipinya?!
Harry yang memukul pelan kedua pipinya sama sekali tidak menggangu fokus Selena yang sudah berdiri disebelahnya, gadis itu nampaknya juga melihat kearah ketiga orang itu.
"Menurutmu, apa yang dilakukan bangsawan seperti mereka disini?"
Dapat sekali melihat pun, Selena dapat menarik kesimpulan bahwa ketiga orang itu adalah bangsawan. Nama yang mereka berikan tidak lebih dari sekedar samaran, bukan nama aslinya.
Harry dan Selena sering beberapa kali mengambil permintaan dari para bangsawan, apalagi kalau bukan untuk membasmi para monster. Puncaknya pada permintaan kemarin, permintaan langsung dari keluarga kekaisaran.
Dari yang mereka lihat, para bangsawan jarang sekali ingin berinteraksi dengan orang-orang seperti mereka. Apalagi untuk seorang petualang, yang hanya dapat menyambung hidup dengan kekuatan tanpa punya latar belakang.
Para petualang sering sekali dianggap remeh oleh para bangsawan. Hanya karena mereka memiliki banyak pasukan, petualang sudah dianggap bagai tentara semut yang menjaga para semut-semut lainnya.
Semua juga tak terlepas dari permintaan itu sendiri. Guild-guild diluar sana sama sekali tidak mematok harga untuk sebuah permintaan, tergantung pada si petualang sendiri ingin mengambilnya atau tidak.
Bahkan untuk permintaan darurat sekalipun, pihak guild masih memberikan keringanan kepada orang yang tak dapat membayarnya langsung dengan dicicil secara berkala.
Diantara banyaknya permintaan pada guild, masyarakat biasa memiliki angka yang paling dominan.
Karena itu, kadang juga para petualang disebut sebagai babunya rakyat jelata.
Tentu, itu hanya dari para kalangan atas saja.
"Aku tidak tahu pasti, tapi apa para bangsawan memang sekuat mereka?"
Harry kembali mempertanyakan hal sebelumnya, yang mana gadis bernama Ren secara dengan mudah dapat menghancurkan segel yang ada pada gulungan.
"Kalau aku hancurkan kedua sihir ini, apa kamu bisa langsung menjadikan kami petualang dengan sendok emas?"
Setelah mengucapkan itu, lingkaran sihir berwarna putih mulai terbentuk di kedua ujung gulungan.
Tepat setelah lingkaran sihir itu terhisap kedalam, Ren dengan mudahnya dapat melepaskan ikatan pita pada gulungan. Gulungan yang sudah terbuka itu ditunjukkan kepada seluruh orang yang ada, seakan-akan itu hanyalah sebuah gulungan surat biasa.
Hal itu lantas membuat kedua alis Harry berkedut heran, "Lingkaran putih, aku tak pernah melihat itu sebelumnya."
Bukan hanya Harry, Selena bahkan Via juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Sihirnya, menghilang." Selena baru saja mengucapkan fakta yang baru saja dilihatnya.
Meskipun bukanlah seorang penyihir, Selena tau batasan dan kekuatan dari para penyihir. Dan jelas, yang dilihatnya barusan cukup berada diluar nalar manusia.
Bagai debu yang ditiup angin, jejak sihir berwarna hitam dan ungu yang sebelumnya terbentuk pecah dan mulai membentuk serpihan yang terbang terbawa bebas oleh angin.
"Sekarang, apa kita sudah boleh menerima mendali emasnya?"
"Harry, apa kamu yakin akan keputusan yang baru saja kamu buat?" Harry terperanjat kaget tak kala Selena membuyarkan semua lamunannya.
__ADS_1
Lelaki itu menghela nafas pelan, menengadahkan kepalanya keatas seolah sudah siap menerima semuanya.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu."
...______...
Kami baru saja keluar dari Guild. Aku keluar tentu saja dengan rasa bangga, puas setelah mendapatkan sendok emas dengan cara yang mudah dan dapat melihat wajah tak percaya yang mereka tunjukkan barusan.
Sebenarnya, yang kulakukan barusan itu hanya mengembalikan bentuk gulungan disaat dimana gulungan itu baru saja selesai ditulis.
Itu adalah sihir kuno berjenis Pengembalian. Lingkaran sihirnya berwarna putih, sekilas terlihat mirip dengan energi suci. Bedanya energi suci tidak perlu menggunakan lingkaran sihir, karena bagaimanapun itu adalah murni sebuah energi milik dewa yang diturunkan.
Sihir kuno Pengembalian ini merupakan sihir kuno kelima yang ku pelajari, dan menurutku ini merupakan sihir kuno yang cukup berbahaya.
Awalnya aku hanya iseng bertanya ke Exsalia, sihir yang dapat mengembalikan suatu benda ke keadaan semula.
Aku sering berjalan keluar, dan pakaian yang ku kenakan jarang untuk ku ganti apalagi untuk kucuci. Jika harus memberikan pakaian itu ke pelayan untuk dicuci, mereka pasti akan mempertanyakan dimana aku bisa mendapatkan pakaian biasa seperti itu.
Aku bukan seorang desainer, maka dari itu sulit untuk menciptakan pakaian sendiri meskipun itu dengan bantuan sihir Penciptaan.
Karena baju luarku itu kebetulan hanya ada satu dan aku tidak mungkin terus-menerus memakai itu tanpa dicuci, jadi jalan satu-satunya hanyalah mengeluh pada Exsalia.
Terdengar kekanak-kanakan memang, tapi hanya dengan cara itulah Exsalia dapat dengan mudah menuruti keinginanku.
Dari sana, Exsalia mulai mengenalkan sihir ini.
"Ren, tadi itu merupakan salah satu sihir kuno mu?"
Olivia yang sudah sejak tadi menahan pertanyaannya tak kuasa lagi menahannya. Gadis itu berada di hadapanku dengan kaki yang berjalan mundur, wajahnya yang cantik sudah membentuk ekspresi yang mengisyaratkan ingin memakanku hidup-hidup kapan saja.
"Via, kamu bisa menabrak orang lain." Aku mengambil lengan kanannya, menariknya dengan pelan untuk berjalan di sampingku.
"Berjalanlah dengan benar."
"Kamu! Aku sejak tadi bertanya dan belum ada satupun jawaban!" Olivia kini berucap dengan kesal.
Aku merasa kini kita sudah cukup jauh dari kawasan Guild Holden berada. Beberapa saat setelah keluar dari sana, aku merasa ada yang mengawasi gerak gerik kita.
Itu dari lantai tiga, tempat guild master sebelumnya. Sepertinya dua orang itu masih tidak mempercayai penuh kehadiran kita.
"Aku bahkan sudah bertanya hal lain selain itu, tapi baik kamu dan Leo sama sekali tidak ada yang menjawabnya!"
"Aku seperti berbicara sendiri disini!"
Leo sepertinya juga menyadari tatapan dari atas sana, karena itu ia memilih untuk diam. Biasanya, lelaki itu paling tidak akan menjawab "Iya." Atau mungkin berdehem pelan atas semua ocehan Olivia.
"Aku minta maaf Olivia, aku tidak bermaksud seperti itu." Membuat Olivia merajuk bukanlah hal yang baik. Hufh, mau tak mau aku harus menjelaskan semuanya hari ini juga.
"Kalau begitu, ayo jelaskan!"
"Tidak, pertama-tama kita harus mencari penginapan terlebih dahulu."
Hari sudah mulai sore, tidak baik rasanya jika harus terus berjalan tanpa memikirkan istirahat. Bercerita mengenai ini disana juga bukan hal yang buruk.
Akhirnya, setelah melewati beberapa malam tidur dengan alas yang keras berteman kan suara jangkrik dimana-mana, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang juga!
Penginapan, kami datang!
...______...
"Aku membutuhkannya..."
Disebuah lorong diantara ramainya pasar yang ada diluar sana, terlihat seorang lelaki tengah menunduk tanpa tenaga.
Wajahnya yang sudah membiru tercetak jelas diantara kulit pucatnya, ekspresinya yang sudah siap memangsa siapa saja membuat beberapa orang yang memang tinggal disana memilih untuk melenggang pergi.
__ADS_1
Lelaki itu menyentuh dada kanannya, tempat dimana didalamnya terdapat organ tubuh manusia yang harusnya terus berdetak kencang. Miliknya sama sekali tidak berdetak, karena jika berdetak pun itu sama sekali tidak memiliki fungsi didalamnya.
Alasan ia menyentuh itu karena rasa nyeri hebat yang mulai menyerang, membuatnya seakan dibuat kaku dengan apa yang ia rasakan.
"Hey, apa kamu tidak apa-apa?"
Erangan kecil yang ia buat tanpa terasa menarik perhatian seorang gadis yang tak sengaja lewat.
Gadis itu nampak habis berbelanja di pasar malam yang cukup ramai. Niatnya kemari awalnya hanya ingin membagikan beberapa makanan yang sengaja ia beli lebih untuk anak-anak yang memang tidak memiliki tempat tinggal, tapi apa yang ia lihat cukup aneh.
Hanya ada lelaki ini di lorong kumuh ini. Gadis itu yakin, beberapa waktu sebelumnya ia melihat anak-anak lusuh yang kurus berbaring disekitaran sini.
Tanpa memperdulikan niat awalnya, gadis itu berjalan menghampiri lelaki yang dianggapnya sudah cukup mengenaskan.
Lelaki itu terus menunduk, membuat si gadis sama sekali tidak dapat melihat wajah orang dibalik sana.
"Aku memiliki beberapa makanan, bagaimana kalau kamu ambil?"
Gadis itu berucap sambil menyodorkan sebuah roti isi daging yang tadi baru saja dibelinya.
Entah karena bau enak atau hanya sekedar melihat siapa orang yang sudah berani menghampirinya, lelaki itu mengangkat wajahnya.
Kedua netra itu mulai beradu. Netra merah darah milik si lelaki memantulkan bagaimana rupa wajah si gadis, begitupula netra coklat si gadis yang terus mencoba memberanikan diri untuk menatapnya.
Seakan sedang kejar-kejaran, angin bebas berlalu diantara mereka. Rambut hitam sebahu itu sedikit terbawa oleh angin yang menerpanya, membuat fokus lelaki yang tengah menatapnya beralih kearah tengkuk bersih disana.
Seakan netra kucing yang melihat cahaya, bulatan yang awalnya sempurna itu berubah menjadi garis lurus tiba-tiba.
"Tu-tuan, a-apa yang ingin anda lakukan?" Olivia tak bisa tak terkejut tak kala melihat lelaki itu secara perlahan mulai berdiri, dengan tangan yang sudah menyentuh kedua bahunya.
Olivia yang tadinya sedikit menunduk mau tak mau ikut berdiri, mengikuti ritme lelaki di depannya dengan perasaan dongkol.
Tinggi badannya hanya berada pada bahu lelaki itu, membuatnya tak sempat untuk kembali melihat ekspresi orang yang kini menjadi lawan bicaranya.
"Siapa yang memperbolehkan anda menyentuh saya semba–"
Sejak awal Olivia sama sekali tidak menyadarinya. Rasa haus darah yang sejak tadi terpancar hebat, sama sekali tidak membuatnya curiga.
"A–ahh, a-apa yang anda la– ahh.."
Olivia merasa tengkuknya mendingin. Bagian leher sebelah kanannya sedikit perih karena tertancap oleh sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya.
Sesuatu terasa hilang, tapi anehnya Olivia sama sekali tidak mempermasalahkan lelaki yang kini sudah menggigit bebas lehernya.
Kedua taring panjang itu sudah membentuk sebuah jalan, membuat cairan merah kental yang tersimpan manis diantara lapisan kulit yang ada keluar tanpa tau harus berhenti bagaimana.
Melihat gadis yang sekarang dihisapnya sudah mulai memucat, lelaki itu menghentikan aksinya.
Nyeri yang ada pada bagian dadanya seakan lenyap tanpa tau pernah ada. Senyuman yang bahkan tak pernah terpatri di wajah tampan itu kini menjadi ekspresi utama tak kala melihat gadis yang sudah terbaring lemas dihadapannya.
Olivia, gadis yang sudah terkulai lemas tapi masih memiliki kesadarannya itu menatap lelaki tadi dengan sengit.
"Ka-kamu! Apa yang sudah kamu lakukan!" Ucapnya mencoba keras, tapi yang ada hanya sebuah lirihan yang keluar.
Olivia dapat melihat lelaki itu yang menunduk dan mulai mengarahkan tangannya kearah leher yang tadi sudah menjadi sasarannya. Dengan refleks yang masih tersisa, Olivia memukul tangan yang mencoba mendekatinya.
"Apa lagi yang mau kamu lakukan!" Olivia berucap dengan keras, kini serasa pita suara miliknya yang biasanya keras seakan direnggut.
"Maafkan aku, nona." Ucap lelaki itu.
Meski sudah mendapatkan penolakan keras, lelaki itu tetap ingin menyentuh tempat yang tadi menjadi tempat kedua taringnya berlabuh.
Setelah menghadapi ke enam pukulan, Olivia sudah tak kuasa lagi menahannya. Gadis itu sudah membiarkan lelaki tadi menyentuh lehernya.
Sebuah bayangan hitam nampak menyelimuti bekas gigitan itu, membuat darah yang tadinya sedikit merembes hilang dengan bekas luka tadi yang seakan tak pernah ada.
__ADS_1
"Namaku Edmond." Lelaki itu membantu Olivia berdiri dengan mengulurkan satu tangannya, "Bagaimana dengan mu, nona?"
..._____...