Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Pengambilan misi


__ADS_3

"Misi, kalian tau bukan bahwa itu penting?"


Aku dapat mendengar Olivia berucap keras disampingku. Apalagi dengan ekspresinya yang seakan sudah seperti penagih hutang dengan nasabah yang selalu lelet bayar, cukup menyeramkan (⁠゜⁠o⁠゜⁠;


"Kita petualang tingkat B sekarang, kau tak berharap kita mendapatkan misi mudah bukan via?"


Karena kecuranganku, party kita bisa dengan mudah ada di tingkat B petualang. Hehehe (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)


Petualang sendiri terbagi menjadi delapan tingkatan. Mulai dari tingkat yang paling rendah ada F, lalu disambung E, D, C, B, A, S dan SS.


Semua dihitung dari kekuatan, pengalaman, berapa banyak misi yang diselesaikan dan lain sebagainya.


Umumnya, para petualang memulai dari peringkat bawah. Menjalankan misi yang dapat mereka jangkau. Semakin banyak misi yang mereka berhasil kerjakan, maka semakin cepat peringkat mereka naik.


Ibaratnya seperti mengambil sebuah job freelance di sebuah aplikasi. Semakin banyak kamu berhasil menyelesaikan berbagai job, maka rank profil pada aplikasi milikmu akan terus meningkat.


Dengan adanya peningkatan, maka aplikasi tersebut semakin percaya akan usahamu. Akhirnya, kamu akan diberikan tugas yang kemungkinan besar lebih sulit dari tugas sebelumnya.


Intinya, peringkat itu sudah bagai kepercayaan. Guild percaya akan kemampuan hebatmu, dan jangan harap kamu dapat dengan mudah mengambil tugas yang seharusnya diluar dari batasmu.


"Padahal aku ingin merasakan bagaimana rasanya berjuang dari nol!"


Oke, lagi dan lagi Olivia mengeluh. Apalagi dengan nada sindirannya itu, cukup membuatku muak.


"Jangan menatapku seperti itu." Kupalingkan wajahku, malas hanya untuk sekedar melihat wajahnya.


"Humh!"


Memang bangsawan. Diberikan yang sulit, marah-marah. Giliran diberikan yang mudah, malah ngeluh.


Ga manuk akal (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)


"Lagian, aku melakukan semuanya demi kesuksesan kita!"


Dengan penyamaran yang memiliki status, kita tak perlu lagi membongkar status asli kita hanya demi mengakses sesuatu.


Lagian, petualang dengan tingkatan tinggi itu cukup mempunyai banyak keuntungan.


Dihormati masyarakat, serta tak mudah untuk ditindas oleh para bangsawan. Tak buruk berada diantara keduanya.


...___...


Terus berjalan, tak terasa Holden sudah didepan mata.


Leo yang sejak tadi berjalan dibelakang kami, mengambil langkah duluan untuk membuka pintu jalan masuk.


Meskipun terbilang dingin, tapi lelaki ini cukup peka. Apalagi mengingat bagaimana banyaknya tatapan aneh ketika kami pertama kali memasuki guild ini, semua cukup membuatku merinding.


Yah, lagi pula dia laki-laki. Sudah sewajarnya dia melakukan hal gentel seperti itu!


"Aku tau lelaki mu itu tampan, tapi jangan sampai terpesona juga didepan pintu." Via menarik tanganku, tentu saja dengan cara yang cukup begis sampai aku hampir saja terjungkal dibuatnya.


"Ayo cepat, kau mengganggu jalan orang lain!"


Uh, apa yang kulakukan!


Lihat bagaimana Leo yang tersenyum sekarang, pasti dalam hati lelaki itu tengah menertawakanku!


"Siapa yang kau bilang terpesona, dasar Via bodoh!"

__ADS_1


Menuju resepsionis, Via menarikku melewati beberapa orang yang menatap kami dengan berbagai bentuk tatapan.


Via dan Leo nampaknya hanya acuh, meski dengan jelas beberapa bisikan terdengar jelas di telingaku.


Dari yang kudengar, sepertinya beberapa dari mereka mempertanyakan peringkat dari party kami. Jelas, karena kami yang tiba-tiba saja datang dan mendaftar bisa ada di peringkat B petualang.


Dan lagi, penampilan ini.


Meski sudah mengubah warna rambut, tetap saja itu tak dapat menutupi fakta bahwa darah bangsawan mengalir di aliran darahku.


Memang, Lauren ini terlalu cantik ಡ⁠ ͜⁠ ⁠ʖ⁠ ⁠ಡ


Terlebih, Via dan Leo yang memilih polosan untuk tampilan mereka. Lebih tepatnya, hanya mengubah warna matanya.


Sepertinya rumor mengenai Lu punya uang, lu punya kuasa bakal menyebar di guild ini.


Yah, lagian aku tak peduli.


"Permisi nona, bisa berikan kami quest untuk petualang rank B?"


Nona resepsionis, yang masih tidak kuketahui namanya itu mengangguk menanggapi permintaan Via.


"Baik nona, mohon ditunggu."


Setelah menunggu beberapa saat, ia kembali dengan sebuah gulungan ditangannya.


Aku dan Leo menunggu bersebelahan, tak jauh dari Via yang nampak sedang mendiskusikan bagaimana misi kita kedepannya.


Selama bersama Via, aku dengan nyaman bisa kembali pada tabiat asliku. Seorang introverd dan pendiam.


Menjadi seorang putri sempat membuat ku lupa akan jati diri. Selalu bertingkah seakan bocah polos dan energik, serta selalu menjadi sumber energi positif bagi orang lain. Sungguh, semua itu sangat merepotkan.


Kenapa selama ini aku terus membohongi diriku sendiri?


Sejak kapan aku bisa nyaman dengan diriku yang seperti ini?


Aku bukan Lauren, dan bahkan tak pernah tau itu siapa putri Lauren.


Diriku ya diriku, mengapa harus bertingkah seperti layaknya bukan diriku?


Yah, menjadi diri sendiri memang yang terbaik <⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠>


"Ren."


Suara bariton yang amat khas terdengar oleh telingaku, "Hm, ada apa Leo?"


Tumben sekali lelaki ini memanggil namaku, apalagi untuk membuka sebuah obrolan. Biasanya aku yang selalu harus membuka obrolan.


"Kamu tidak enak badan?"


Aku sadar, Leo sedang menatapku sekarang. Uh, entah kenapa aku canggung untuk membalas tatapannya.


Dan apa maksudnya tidak enak badan! Kalau tidak enak ya aku tidak akan ikut kalian kesini (⁠ノ⁠ಠ⁠益⁠ಠ⁠)⁠ノ⁠彡⁠┻⁠━⁠┻


"Ti-tidak, aku tidak apa-apa."


Tatapannya masih kurasakan, jujur itu membuatku makin gugup!


Leo, dasar penggoda!

__ADS_1


...____...


"Ayo, kita mendapatkan misi untuk membasmi para kawanan serigala terjangkit."


Olivia, yang baru saja selesai memilah milih misi menatap aneh kedua rekan seperjalanannya.


Wajah Lauren yang memerah, dan Leo yang masih dengan senyuman tipisnya.


Jika bisa jujur, aku dapat melihat bunga-bunga diantara lelaki itu.


Gelengan pelan Olivia lolos, ia dapat dengan jelas mengira apa yang terjadi diantara keduanya.


Pasti itu karena sikap Leo, yang berujung dimana Lauren yang jadi malu sendiri.


Itu sudah sering terjadi, apalagi kini mereka bertiga yang menjadi terus bersama.


Lauren besar dengan lingkungan istana yang dipenuhi banyak gadis. Mulai dari kakaknya, Silla dan juga para pelayan yang banyak didominasi oleh para gadis. Terlebih juga statusnya sebagai seorang putri, rasanya membuat pertemuan dengan para ksatria juga termasuk hal yang aneh.


Karena itu, Olivia beranggapan bahwa Lauren itu termasuk gadis yang akan sangat gugup jika berdekatan langsung oleh para lelaki.


Hm, itu hanya anggapanku saja.


"Di-dimana kita akan menuju, Via?"


Lauren berjalan cepat ke arah Olivia, mengambil kedua tangan Via dengan kedua matanya yang beberapa kali melirik ke arah Leo entah kenapa.


"Tidak perlu tau, kalian berdua hanya perlu mengikuti ku."


Setelah berbincang sedikit dengan resepsionis tadi, akhirnya Olivia berhasil melobi permintaan yang cukup menggoda.


Misi yang mereka dapatkan kali ini ialah membasmi kumpulan serigala terjangkit. Maksud terjangkit disini bukan semacam virus atau penyakit, melainkan ialah zombie.


Makhluk yang sudah menjadi zombie memiliki kekebalan fisik yang sangat mengagumkan. Walaupun kamu berhasil menghancurkannya, selama masih ada setitik abu yang tersisa darinya, ia tak akan langsung mati.


"Kamu yakin?" Seakan sadar akan sesuatu, Ren mulai menatap Via aneh.


"Bukannya zombie hanya dapat dikalahkan dengan elemen cahaya?"


Itu cukup lumrah, mengingat seluruh kelemahan individu yang sudah mati itu merupakan sihir suci. Baik itu Undead, Vampir maupun Zombie, mereka sama-sama lemah akan cahaya dari sihir suci.


"Kamu, dari mana kamu tau kalau kita akan membasmi zombie?"


Via mencubit kedua pipi Lauren ke kanan dan ke kiri, membuat empu yang menjadi korban terlihat mencoba memukul kedua tangan via untuk melepaskan.


"Sakit, via bodoh!"


Bukannya merasa bersalah, via malah tersenyum puas. "Rasakan itu, dasar pengintip!"


Pasti Lauren sempat melihat kertas misi yang Via lipat ke dalam kantongnya. Penglihatan gadis itu terlalu gila, bahkan kegugupan atas Leo masih membuatnya sempat untuk melihat.


Jika ditarik garis secara umum, Via seakan buta akan sesuatu. Ia merasa kadang Lauren itu sudah seperti gadis dingin dan polos biasa. Tapi jika diperhatikan sisi lain, selalu ada saja tentang Lauren yang dapat membuatnya tak lagi bisa berkata-kata.


"Dari pada terus mengeluh, lebih baik kita cepat berangkat!"


Via mengambil tangan Lauren. Seperti biasa, gadis itu menariknya secara paksa.


Semua pikiran ini akan Via buang. Lagipula apapun wujud, bentuk dan kepribadian nya, Lauren tetaplah Lauren.


Lauren tetap akan selalu menjadi sahabat terbaiknya.

__ADS_1


...___...


__ADS_2