Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Canggung


__ADS_3

"Olivia, bisa kau jalan lebih dulu?"


Olivia tak banyak mengeluh. Tanpa menanyakan alasannya pun ia sudah tahu, karenanya ia memilih untuk menuruti perkataan Leo kali ini.


Sebenarnya didalam hati sih terdapat sedikit rasa iri, tapi apalah daya diri ini.


Tenang Olivia, cita-citamu itu menjadi seorang Sugar mommy kaya!


Begitu sadar Olivia yang sudah berjalan cukup jauh, Leo kembali menetapkan eksistensinya kepada gadis dihadapannya.


Gadis cantik dengan netra biru laut, ditambah dengan rambut putih sepunggung yang sudah menjadi ciri khas tersendiri untuknya.


Lauren, nama itu sudah tercetak mati dihatinya. Wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan banyaknya perubahan membuatnya semakin candu hanya dengan menatapnya, bahkan wangi gadis itu sama sekali tidak pernah berubah.


Leo mengambil beberapa helai panjang rambut Lauren, lelaki itu mendekatkannya ke wajah dan menciuminya.


"Harum yang merindukan ini sama sekali tidak berubah." Ucapnya.


Tatapan lembut Leo membuat rasa aneh yang Lauren rasakan mendadak hilang. Gadis itu ikut tersenyum, membalas senyuman Leo untuknya.


"Apa hanya itu yang membuatmu merindukanku?"


Entah dapat keberanian dari mana, sehingga Lauren dapat berkata-kata seperti itu.


Netra biru laut itu terus menelusuri wajah tampan dihadapannya, membuat si empu yang terus ditatap salah tingkah dan dengan cepat mengalihkan pandangannya.


"Leo, kemana kamu melihat?!"


Lauren mendekap wajah Leo untuk menghadapnya, dapat dilihat wajah lelaki itu yang masih memerah.


"Wajahmu masih tampan saja, ya." Lauren melebarkan senyumnya, memberikan tatapan mata yang teduh untuk Leo yang bahkan tak kuat atas semuanya.


Lauren sepertinya sama sekali tidak sadar, bahwa hanya dengan tindakan itu saja sudah cukup untuk membuat jantung Leo berdetak makin kuat.


"Ren, boleh aku mendapatkan pelukanmu?"


Leo tiba-tiba saja membuat permintaan yang aneh. Merasa tak kunjung mendapatkan jawaban dari Lauren, Leo hanya bisa pasrah.


"Tidak apa-apa kalau kamu kebe–"


Belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, sebuah dekapan hangat menyelimutinya.


Lauren memeluk Leo. Gadis itu meletakkan kepala Leo di bahu kanannya, diikuti dengan sebuah usapan lembut yang turut Leo rasakan disurai belakangnya.


"Leo, apa kamu tau bahwa aku dulu sempat mencari keberadaan mu?"


Mendengar ucapan Lauren, Leo tak kuasa sudah menahan senyum bahagianya.


"Aku juga, Ren."


Leo berdiri tegak dan mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Lauren. Lelaki itu menarik Lauren kearahnya, semakin memperkecil jarak diantara mereka.


Lauren tampak tak mempermasalahkannya. Bahkan kini, gadis itu dengan santainya menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Leo.


"Aku kadang selalu mampir di tempat kita pertama kali bertemu, tapi aku sama sekali tidak pernah menemukan Leo disana."


Apa yang diucapkan Lauren tidak sepenuhnya salah, dan tidak sepenuhnya benar. Entahlah, hanya tuhan, author dan gadis itu sendiri yang tau.


Leo terperangah, merasa terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia kira dulu gadis ini akan dengan mudah melupakannya, mengingat bagaimana kepolosan Lauren dulu.


Tapi apa yang didengarkannya sekarang, uh entah kenapa kadar cinta Leo makin meningkat saja.


"Benarkah? Maafkan aku." Leo mengangkat dagu Lauren, membuat gadis itu mau tak mau harus menghadap kearahnya.


Netra biru laut itu bersitatap langsung dengan netra hijau terang milik Leo. Seakan tenggelam pada pesona masing-masing, hanya ada keheningan diantara mereka.


"HEY, AYO JALAN JANGAN ASIK BERDUAAN!"

__ADS_1


Suara teriakan keras dari Olivia kembali menyadarkan dua insan disana. Dengan gugup, Lauren keluar dan mengambil langkah lebih dulu untuk menyusul Olivia disana.


"Nanti lagi ya, Leo."


...______...


"Ren, kalau mau mesra-mesraan itu ingat-ingat!"


"Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Kamu pikir aku ini apa?!"


"Setidaknya kalau mau bermesraan itu ketika aku tidak tahu!"


Omelan Olivia sama sekali tidak ku hiraukan. Tak tahu gadis itu berbicara apa, yang pasti aku hanya terus mengaggukinya.


Pikiranku terus melayang ke kejadian sebelumnya, yang melibatkan antara aku dan Leo.


Awalnya aku hanya berniat menggodanya. Lucu rasanya jika melihat lelaki tampan itu cemburu, apalagi aku sudah mempersiapkan skenario yang matang agar nantinya aku bisa merajuk dan ia yang akan ku abaikan sepanjang perjalanan.


Tapi ketika ia mencium helaian rambutku, entah kenapa tiba-tiba saja semuanya bubar!


Bahkan saat itu, aku berani mengatakan hal-hal yang diluar rencana!


Apanya yang "Hanya itu yang membuatmu merindukanku" ಠ⁠﹏⁠ಠ


Lalu, "Wajahmu masih tampan saja ya" (⁠ノ⁠`⁠Д⁠´⁠)⁠ノ⁠彡⁠┻⁠━⁠┻


Akh, apa yang sebenarnya mengendalikan diriku ini ⁄(⁠⁄⁠ ⁠⁄⁠•⁠⁄⁠-⁠⁄⁠•⁠⁄⁠ ⁠⁄⁠)⁠⁄


Aku tak kuasa mengingat itu semua. Kedua tanganku sudah menutupi seluruh bagian wajahku, bahkan aku terus menggeleng-gelengkan kepalaku.


Ayolah ingatanku, hapus semua itu!


Sekilas aku dapat melihat Olivia yang tengah menatapku aneh, "Dasar bocah kasmaran!"


"Kamu juga, dasar kalian berdua budak cinta!"


Aku yakin Olivia menunjukkan ucapan setelahnya itu untuk Leo, dapat didengar dari suaranya yang tak lagi mengarah untukku.


Apa ia juga malu sepertiku? Karena itu memilih untuk berjalan dibelakang?


Uh, aku juga sebenarnya sedikit canggung jika harus berjalan bersebelahan dengan Leo.


Meski begitu, entah itu ia yang juga canggung atau peka, itu merupakan keuntungan tersendiri untukku.


Lelaki yang peka, aku suka itu!


E-eh, maksudnya suka dalam artian Leo yang adalah lelaki sejati!


Hanya itu! Ingat hanya itu (⁠๑⁠•⁠﹏⁠•⁠)


..._____...


Kota Sorgol, kota yang disebut banyak orang sebagai kota pinggiran.


Wilayahnya dihampit langsung oleh tiga perbatasan kekuasaan. Tapi meski termasuk kota perbatasan, kota ini dikenal cukup makmur.


Selain disebut kota perbatasan, Sorgol disebut juga sebagai tempatnya para tentara bayaran dan kumpulan pemburu monster.


Meski berada di wilayah kerajaan Busquets, tapi mereka tidak bisa sepenuhnya mengendalikan kota ini.


Kota ini memiliki beberapa kumpulan yang disebut sebagai Guild, nah kumpulan ini lah yang membuat kota Sorgol menjadi kota yang amat leluasa.


Walaupun tetap mengambil hukum dari Busquets, tapi tidak seketat dan sekompleks kota-kota lainnya.


Intinya, kota ini termasuk kota yang bebas. Banyak pelancong yang tak yakin bahwa semua penduduk disini membayar upeti kepada kerajaan, yah itu semua urusan mereka.


Disebuah penginapan, yang mana bersatu dengan tempat berkumpulnya sebuah Guild.

__ADS_1


Guild itu bernama Holden, salah satu guild terbesar yang ada di Sorgol.


"Harry, apa kamu tidak minum?"


Lelaki yang dipanggil Harry itu menoleh, menanggapi ajakan lelaki tua berjenggot dengan senyum.


"Tidak, mungkin lain kali." Jawabannya.


Lelaki tersebut mengangguk, lalu pergi meracau entah kemana mendatangi para pemabuk lainnya.


Mereka sekarang tengah mengadakan sebuah pesta, lebih tepatnya sebuah perayaan.


Perayaan ini diadakan oleh salah satu party dari anggota guild Holden, mengingat mereka yang baru saja pulang dari menyelesaikan quest langsung yang dibuat oleh kekaisaran Destegraf.


Membasmi kumpulan monster. Karena jauh dan permintaan yang dibuat terbilang sulit, maka bayaran pada mereka yang berhasil menyelesaikan quest itu sangatlah besar.


Mereka yang menerima quest itu adalah party bernama Night Owl.


Night Owl merupakan salah satu party terkuat yang ada di Holden. Meski hanya beranggotakan empat orang, mereka semua terdiri dari para orang-orang kuat dan sangat berpotensi.


"Harry, kamu yakin akan langsung kembali ke kamar?" Harry yang tadinya ingin menginjakkan kakinya pada anak tangga berhenti.


Menghadap kearah orang dibelakangnya, ia menggeleng sambil tersenyum.


"Selena, aku lelah."


Harry melihat kearah orang-orang yang mulai bersulang bersama gelas bir mereka, sekilas ia dapat melihat dua temannya yang sudah mabuk entah sejak kapan.


"Kamu tokoh utama disini, apa tidak apa-apa?" Tanya Selena.


Harry tidak terlalu menyukai bir. Sebagai teman masa kecilnya, Selena sangat tau akan hal itu.


Tapi masalahnya sekarang Harry adalah tokoh utamanya, ia yang paling berjasa dan berpengaruh akan misi yang sudah mereka selesaikan.


Dua teman mereka sudah menceritakan seluruh aksi yang Harry lakukan ketika misi, karena itu Selena merasa tidak enak jika Harry langsung pergi begitu saja.


Paling tidak, ladeni lah mereka yang ingin memujinya, ataupun hanya sekedar berterimakasih atas semua traktirannya.


"Energi Manaku sudah sangat tipis, aku tidak yakin akan bertahan besok jika tidak beristirahat sekarang."


Selena tidak bisa menolak jika Harry sudah berkata seperti itu. Mengangguk paham, Selena segera berlalu pergi bergabung bersama kedua temannya yang sudah terlihat tak sadarkan diri.


"Hufh, mereka ini sangat merepotkan."


Menghadap kembali kearah tangga, Selena tak lagi menemukan Harry disana. Sepertinya lelaki itu sudah pergi ke kamarnya.


"Jika dia lelah seperti itu, apa harus kuberikan pelayan malam?"


Tersenyum licik, gadis itu menengadahkan kepalanya.


"Atau mungkin pelayan pagi, ketika Harry baru bangun?"


Selena nampak menimang-nimang pilihannya, ia mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.


"Tapi jika pagi, dua kecoa itu akan menggangguku!"


Selena kembali berjalan mendatangi kedua temannya. Dari dekat, ia sudah dapat memastikan bahwa dua wanita cantik yang merupakan temannya itu sudah tak sadarkan diri. Mungkin karena kebanyakan meminum bir, karena itu jadi begini.


Senyuman licik Selena kembali terbit, dengan cepat ia memanggil beberapa pelayan perempuan yang lewat.


"Hey, kalian bisa tolong angkat mereka kekamar?"


Pelayan yang terdiri dari tiga orang wanita itu mengangguk, "Baik, nona Selena." Ujar salah satunya.


"Nanti kalau sudah kalian baringkan dikasur, segera kunci pintunya dari luar!"


Melihat kedua temannya yang sudah mulai diangkut, Selena sudah tak dapat lagi menahan rasa bahagianya.

__ADS_1


"Aku yang akan memonopoli Harry kali ini!"


..._____...


__ADS_2