Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Tangan kanan


__ADS_3

"Kamu ingin membawa putri Olivia bersamamu?"


Belum selesai dengan kejutan yang pertama, kini kaisar besar kekaisaran dilemparkan secara paksa melalui kejutan lainnya.


Sebelumnya ia tak akan pernah menyangka bahwa putri dari kerajaan Celestine ingin bertemu langsung dengannya, bahkan ia sempat membentak orang kepercayaannya atas berita itu.


Tapi melihat gadis itu yang dikatakan sudah menunggu diruang tunggu, mau tak mau harus ia datangi.


Ia bukan orang bodoh, sampai harus mengabaikan panggilan putri dari seseorang yang sudah meluluhlantakan ribuan pasukannya.


Fansev Van Cyles Celestine, lelaki bertubuh besar nan berotot itu mengikatnya sebuah janji kontrak antara kedua pemimpin.


Selain ia yang harus kembali menyerahkan wilayah Celestine yang sudah ia rampas dan membayar kembali semua kerugian dari pihak sana, perjanjian juga mengikat damai antara dua pihak selama setidaknya sepuluh tahun.


"Iya, saya ingin membawa putri Olivia." Gustavo dapat dengan samar melihat tatapan tak enak yang dilemparkan Lauren untuknya.


"Sekaligus menghitung kerugian saya dan keuntungan untuk nona Olivia." Lanjut Lauren.


Gustavo mengangkat satu alisnya tak paham, "Apa maksudmu, putri Lauren?" Tanyanya tegas.


Lauren masih dengan senyum tipisnya, tapi Olivia yang melihat dapat dengan mudah tau kalau gadis itu pasti tengah cekikikan sendiri didalam.


"Saya datang kesini tidak untuk melihat drama dari putra anda–" Lauren menjeda kalimatnya, ujung matanya sesaat melirik Olivia yang masih setia berdiri disebelahnya.


"Juga mengingat tingkah putra anda yang mempermalukan sahabat saya, jadi untuk mengembalikan kerugian saya sekaligus menjaga harga dirinya, saya akan membawanya langsung ke Celestine." Terang Lauren, sepertinya ini sudah kali kedua ia mengucapkan kata-kata itu.


Kedua tangan Gustavo melipat didepan dada, bersandar pada lembutnya sandaran sofa sambil menatap bergantian dua gadis muda dihadapannya.


"Aku memang tidak bisa menyalakan kalian, karena bagaimanapun juga ini merupakan salah Dale sepenuhnya."


Gustavo menepuk kedua tangannya, membuat lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka berjalan mendekat.


"Siapkan sebuah kertas sebagai saksi tertulisnya." Ucap Gustavo pada bawahnya.


Sadar bahwa dua gadis itu mendengar dengan jelas ucapannya, tatapan Gustavo kini kembali mengarah ke Lauren disana.


"Putri Lauren, saksi tertulis itu penting bukan?"


Lauren hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, entah kenapa tiba-tiba saja senyuman liciknya mengembang.


Cukup mengasikan bagaimana melihat babi tua ini ingin menunjukkan taringnya.


..._____...


"Putri Olivia, apa anda juga ingin membawa boneka beruang kesayangan anda?"


Sebuah pertanyaan antusias dari pelayannya menyadarkan lamunan Olivia, gadis itu secara sadar menepuk kedua pipinya untuk memastikan seluruh kesadarannya.


"Vi, tolong buatkan aku teh panas."


Pelayan yang dipanggil Vi itu mengangguk, tubuh kecilnya dengan cepat melesat keluar melakukan apa yang nonanya perintahkan.

__ADS_1


Sudah hampir seminggu lamanya semenjak pesta yang diselenggarakan oleh sang pangeran mahkota, dan sudah selama itu juga ia masih belum percaya dengan apa yang selama ini dilaluinya.


Dalam beberapa hari ini, pertunangan yang sudah dibangun sejak kecil hancur dan entah kenapa tiba-tiba saja putri kerajaan sebelah tertarik tentang dirinya.


Dan hebatnya, dengan santainya sang kaisar dan ayahnya dengan mudah menyetujui permintaan gila putri Celestine itu.


Pagi ini, Olivia sudah resmi akan pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuju tanah kerajaan Celestine.


Gadis itu menatap tak tega pada mansion milik keluarganya yang terletak di ibukota, mansion yang memang memiliki beberapa kenangan indah didalamnya.


"Olivia, sampai kapan kamu akan terus berdiri disana?" Suara seseorang terdengar mengusik pendengaran Olivia, tanpa melihat pun gadis itu dengan jelas tau siapa sang pemilik suara.


Berbalik, dibelakangnya sudah terparkir kereta kuda mewah dengan pintu yang terbuka. Tak jauh juga, Olivia dapat melihat Lauren yang menimbulkan kepalanya dari dalam.


"Bisa sabar tidak?!" Olivia menghentakkan kedua kalinya kesal, tapi tak urung ia tetap berjalan mendekat.


Lauren terlihat acuh, gadis itu kembali memasukkan kepalanya. "Cepat, kamu terlalu banyak membuang waktuku." Ujarnya.


Pantat Olivia dengan mulus mendarat di kursi empuk yang tersedia, mengambil tempat tepat diseberang Lauren yang terlihat tengah menatap datar dirinya.


"Kenapa melihat begitu?" Satu alis Olivia terangkat, sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan yang dilemparkan kepadanya.


Terdengar helaan nafas pelan dari Lauren, "Aku penasaran dengan anting yang kamu pakai itu." Ungkapnya.


Olivia refleks memegang kedua antingnya tak kala melihat Lauren yang mulai mendekat kearahnya, "Ja-jangan mendekat!"


Dahi Lauren mengkerut heran, "Kenapa? Aku hanya ingin menyentuhnya." Ucapnya, yang dengan cepat disambut dengan gelengan brutal dari Olivia.


Lauren bukan tipe orang yang akan mati hanya karena penasaran. Melihat penolakan keras dari Olivia, membuatnya tidak egois.


Setiap orang pasti memiliki apa yang harus mereka jaga. Mungkin suatu saat, ia akan tahu sendiri apa rahasia dibalik antingnya itu. Pikirnya.


Sang kusir meminta izin untuk jalan, tak lama setelahnya kereta kuda mulai bergerak mengikuti kemana semua kaki kuda yang membawanya.


"Peton, jalannya sama-sama yang lain!"


"Eh Deton, itu ada lubang disana!"


"Giton, moncongnya jangan maju-maju begitu!"


"Coba kalian tiru itu Heton, dia nurut tanpa harus diatur-atur!"


Lain halnya diluar dengan sang kusir yang sibuk berbicara dengan para kuda kesayangannya, kedua orang terhormat yang berada dalam kereta masih dalam keheningan.


Lauren yang hanya diam saja sejak tadi membuat suasana menjadi canggung, apalagi untuk seorang Olivia yang sangat membenci dengan kecanggungan.


"Em, Lauren."


Lauren yang sedang asik melihat pemandangan dibalik kaca jendela sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, "Ada apa?"


Olivia menarik nafasnya pasrah, ia seperti sudah biasa dengan sifat tuan putri disana.

__ADS_1


Meski baru kenal dengan Lauren, Olivia sudah tau persis bagaimana sifat Lauren kepadanya.


Lauren itu pendiam. Sepanjang ia bersama gadis itu, tak banyak ia mendengar kata-kata yang keluar darinya kecuali menyangkut hal yang penting.


Lauren itu juga pandai mengatur ekspresinya, sampai-sampai Olivia sendiri bingung menyebut Lauren itu dengan kepribadian seperti apa.


Lauren bisa terlihat seperti gadis yang polos, itu Olivia tangkap ketika gadis itu salah paham mengenai dirinya ketika di alun-alun ibukota.


Lauren juga bisa terlihat seperti gadis licik penuh siasat, dapat dilihat dari ia yang beberapa kali dapat mematahkan perkataan kaisar yang tertuju untuknya.


Apalagi ketika mengingat kejadian malam itu, dimana kaisar yang membuat perjanjian gila deng–


"Kenapa kamu jadi melamun sekarang?"


Pertanyaan Lauren berhasil mematahkan seluruh pikiran Olivia, gadis itu dengan gugup menggeleng.


"Tidak, aku hanya memikirkan beberapa hal."


Lauren nampak mencebik, "Aku sudah mengurus semuanya, termasuk seluruh tempatmu disini dan fasilitas disana." Ucapnya.


Satu hal lagi yang Olivia tau dari Lauren, gadis ini sangatlah egois!


Ia bahkan sama sekali tidak pernah mendengar pendapat dari Olivia dan langsung menyetujui semuanya secara sepihak, bahkan untuk bertanya pada Olivia saja tidak!


Maksud dari kata 'tempatmu disini', itu pasti mengacu pada keluarga dan seluruh reputasinya di kekaisaran ini.


Olivia beberapa hari yang lalu sempat mengenal seorang wanita bernama Silla, wanita yang Olivia sangat tau karena prestasi hebatnya ketika masih berada di Akademi Finden.


Sempat tak percaya bahwa wanita pintar nan berbakat itu menjabat sebagai tangan kanan ratu Celestine yang sekarang. Tapi ketika tak sengaja menguping seluruh titah Lauren atasnya, mau tak mau Olivia harus percaya.


Silla yang ia tau itu tidak akan mendengarkan siapapun. Ah tidak-tidak, pengecualian untuk pangeran Aamon.


"Jadi sebutkan alasanmu, kenapa kamu tiba-tiba ingin membawa ku?" Tanya Olivia akhirnya, dibalik senyumnya dapat terlihat gunung berapi yang sudah meledak disana.


Sudah cukup ia menyimpan ini hampir seminggu lamanya. Jika bisa, sebenarnya Olivia ingin sekali menjambak rambut gadis didepannya ini, apalagi ia yang terus menerus menolak untuk menemuinya.


Sekalinya mau bertemu, Olivia tiba-tiba saja disuruh beberes untuk pindahan.


Sungguh gadis laknat!


Lauren kini benar-benar mengalihkan perhatiannya sepenuhnya untuk Olivia, senyuman tipis gadis itu terbit ketika dapat melihat ledakan Olivia dibalik sana.


Kedua bahunya terangkat acuh, "Kakakku memintaku untuk mencari tangan kanan, dan akhirnya aku menemukanmu."


Olivia tak dapat menemukan kebohongan dikedua netra biru laut yang tengah menatap datar dirinya.


"Menemukan? Kau kira aku barang hah!" Kedua tangan Olivia terlipat dibawah kedua melon bulatnya, suara yang sudah naik dua oktaf menggambarkan bagaimana kekesalannya.


"Kau cukup mengesalkan ju–"


"TUAN PUTRI, ADA SEGEROMBOLAN MONSTER YANG MENGHALANGI KITA!"

__ADS_1


..._____...


__ADS_2