
"LAUREN! KAKAK SANGAT MERINDUKANMU!" Baru saja keluar dari kereta, aku dapat melihat Lauren sudah diseruduk oleh seseorang.
Dahiku berkerut bersama alisku yang bertaut, sedikit terkejut sambil menatap wanita cantik yang tengah menempelkan pipinya ke pipi Lauren.
Fitur wajahnya memiliki beberapa kemiripan dengan Lauren, hanya saja wanita itu terkesan lebih cerah dari Lauren yang dingin.
Surai madunya berpadu indah bersama mahkota yang ada diatas kepalanya, netra matanya coklat terang ditambah bibir tipis yang sangat menggoda.
Wanita yang sangat cantik!
Tapi tunggu sebentar, ada yang aneh dengan apa yang kulihat sekarang.
Lihatlah bagaimana Lauren yang nampaknya biasa-biasa saja, tanpa menunjukkan satupun ekspresi tak mengenakannya.
Malahan, aku dapat melihat senyuman kecil darinya. Sungguh jika saja aku bereinkarnasi bersama handphoneku, akan ku abadikan momen ini.
Ngomong-ngomong soal reinkarnasi, aku baru mengingat bagaimana karekteristik dari putri Lauren.
Putri Lauren diceritakan sebagai salah satu peran pembantu yang penting untuk karakter utama.
Dia diceritakan sebagai salah satu teman masa kecil dari tokoh utama entah yang dari mana, sepertinya dia hanya mengaku-ngaku menurutku (人 •͈ᴗ•͈)
Menurutku ya, catat!
Teoriku sih, dia berkata sebagai teman masa kecilnya hanya untuk menolong tokoh utama.
Tidak pernah dijelaskan adanya sebuah pertemuan antara putri Lauren dengan si tokoh utama, baik itu lewat flashback ataupun beberapa kejadian sebelumnya.
Putri Lauren yang nantinya akan berperan sebagai penolong tak terduga ketika sang tokoh utama dibuli oleh para antagonis ketika di pesta.
Tapi istimewanya, karena berbeda kerajaan maka putri Lauren hanya muncul ketika masuk di event pesta.
Ketika di akademi, apalagi jika sang tokoh utama hanya mengambil rute ml guru di akademi, dapat dipastikan tokoh utama tidak akan dapat bertemu dengan putri Lauren.
Putri Lauren memang diceritakan sebagai gadis yang dingin nan pendiam, ketika ia menolong tokoh utama saja itu karena ia yang merasa kesal sebab mengganggu waktu tenangnya.
Tapi sekarang, semua sudah berubah.
Mungkin saja ini faktor utama dari aku yang tak lagi mengganggu Viona, karena bagaimanapun Olivia adalah antagonis pengganggu paling utama.
Tidak adanya pengganggu Viona, maka bisa dibilang peran dari karakter Lauren itu tidak ada.
Intinya, gadis itu bak pengangguran cerita sekarang.
Dan alasan kenapa gadis ini membawaku, pasti karena kejadian dialun-alun itu!
Aku memang awalnya hanya mengira Lauren itu hanya bangsawan biasa, tentu anggapan itu kuambil karena pesta yang dibuat oleh pangeran mahkota mewajibkan para bangsawan untuk menetap sambil meramaikan pawai yang ada.
Pasti ia hanya seorang bangsawan yang juga sama sepertiku, yang tidak tahan harus terus ada dimansion.
Tapi siapa yang mengira, kalau tindakan tak terduga dariku itu malah menyebabkan ini semua.
Dipaksa untuk ikut, lalu tiba-tiba dijadikan sebagai tangan kanan.
__ADS_1
Penuh kejutan sekali dunia ini.
Awalnya rencanaku hanya sebatas untuk bertahan hidup. Berteman dengan sang tokoh utama dan secara terang-terangan mulai menjauhi semua tokoh yang ada, sembari itu sambil perlahan-lahan mulai mengenal seluruh lingkungan yang ada.
Aku juga memulai beberapa bisnis berbekal ilmu pengetahuan di duniaku sebelumnya, yang syukurnya semuanya berjalan sangat sukses.
Sejak dari awal aku memang tidak bisa berharap hanya dengan uang bulanan dari Duke, karena bagaimanapun impianku juga agar bisa dapat berdiri sendiri dan bebas ingin pergi kemanapun.
Intinya, aku ingin menjadi seorang mommy kaya yang akan mengelilingi seluruh dunia.
Koin setiap harinya datang, bahkan ketika aku melamun pun mereka akan terus masuk.
"Olivia, ini yang nanti dan seterusnya akan menjadi kamarmu."
Tanpa sadar, aku dan Lauren tiba-tiba saja sudah sampai didepan sebuah pintu.
Ah karena terlalu asik berfikir, aku sampai-sampai tak terlalu memperhatikan keadaan sekitar.
Bahkan sepertinya tadi, aku belum sempat memperkenalkan diri kepada ratu Celestine.
Oh astaga kami-sama!
"Lauren, bukannya aku harus memperkenalkan diri secara resmi pada yang mulia Ratu?"
Aku pelan-pelan bertanya. Lupakan untuk apa dan bagaimana aku yang dibawa secara paksa sebelumnya, mau bagaimanapun aku yang sekarang seorang tamu disini.
Masa tidak memperkenankan diri secara resmi?!
Terlebih itu pada sang penguasanya sendiri!
"Istirahatlah, aku tahu bahwa kamu menahan diri ketika melewati portal tadi." Lanjut Lauren.
Aku sedikit tercengang, menghadap Lauren dengan tatapan tak percaya. "Dari mana, kamu tau?"
"Jangan-jangan, selama perjalanan kamu selalu memperhatikan ku?" Cercaku akhirnya, karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari gadis cantik di hadapanku.
Dapat kulihat Lauren yang menggeleng secara tegas, wajahnya yang tadinya menatap ku ia palingkan dengan cepat.
"Ti-tidak, siapa juga yang memperhatikanmu!"
Entah kenapa nada bicaranya terkesan gugup, tunggu sebentar tunggu sebentar.
A-apa dia ini (☉。☉)!
Sepertinya aku menemukan lagi salah satu sisi imut dari Lauren, apalagi kalau bukan tsundere!
Tsundere-san, tunggu saja waktu dari ku.
Hehehehe ಡ ͜ ʖ ಡ
...______...
Malam sudah tiba, dan beberapa pelayan yang datang ke kamar Olivia sebelumnya telah selesai menghias tuntas semuanya.
__ADS_1
"Nona Olivia, anda cantik sekali!"
Olivia mengenakan gaun yang tadinya ia bawa dari kediamannya. Gaun bermodel Tea length dress itu nampak elegan dengan warna satin yang nampak lembut, ditambah rambut hitam panjang Olivia yang disanggul.
Cantik nan elegan, itu yang akan orang gambarkan ketika pertama kali melihat Olivia dengan tampilan yang sekarang.
"Aku tak percaya dapat secantik ini." Olivia bermonolog pada dirinya sendiri, yang mana juga didengar oleh para pelayan yang memang belum beranjak dari sana.
Mereka semua tersenyum tanpa terkecuali, merasa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak sia-sia.
"Terimakasih, kalian semua sudah bekerja dengan baik."
Uh, makin terbang lah para pelayan itu ketika pujian bersama senyuman manis Olivia keluar.
"Nona, mari saya antar ke ruang makan." Salah satu pelayan mengajukan dirinya. Semua orang tau bahwa Olivia adalah orang baru, tak mungkin bukan ia keruang makan sendiri tanpa tau jalannya?
"Tidak perlu." Semua orang terdiam, semua pandangan setelahnya terarah pada seorang gadis yang berdiri tepat diambang pintu.
Itu Lauren, ia nampak sangat cantik meski hanya dengan gaun kasualnya. Rambut putihnya ia ikat ponytails, sama sebagaimana biasa ia melakukannya
"Kenapa pakaianmu itu..." Lauren mulai memandangi Olivia, dari bawah hingga keatas. "Bukannya terlalu berlebihan? Ayolah, ini hanya makan malam." Lanjutnya mencibir.
Olivia memilih tak peduli. Mengangkat dagunya setinggi langit, gadis itu mulai berjalan mendekati Lauren.
"Cepat, aku tak mau terlambat untuk makan malam." Ujarnya.
Lauren mengendikan kedua bahunya acuh, lalu berjalan lebih dulu keluar dari ruangan.
Bak anak ayam yang mengikuti induknya, Olivia terus berjalan dibelakang Lauren.
Bagi Olivia, istana ini memanglah besar. Meski tak sebesar istana kekaisaran, tapi ini sudah lebih besar dari Mansion utama keluarganya.
Dikekaisaran, para bangsawan apapun tingkatannya dilarang untuk membangun sebuah istana. Jika ingin membangun kediaman, tidak boleh lebih dari sebuah mansion.
Meski terbilang sangat sering sekali diterpa dengan semua kemewahan, Olivia tak pernah bilang bahwa ia menyukai semuanya.
Ia sebagai Olivia memang tidak dapat membentuk penuh kepribadiannya. Tapi dengan adanya jiwanya Hitomi, semua yang pernah ada pada gadis itu seakan menyatu dengan dirinya.
Sifatnya, kepribadiannya, kebiasaannya, kesederhanaannya dan semua tentangnya. Meski ada sedikit permak, tapi secara keseluruhan apa yang ada di Olivia sekarang adalah jiplakan dari seorang Hitomi.
"Bisa tidak pelan-pelan saja jalannya?!" Olivia mengeluarkan keluhannya. Bagaimana tidak, Olivia dipaksa harus berjalan cepat dengan gaun rumitnya.
Sudah sulit, mana tidak sampai-sampai lagi. Sungguh, beberapa kali sudah tak terhitung banyaknya umpatan dalam hati yang Olivia sematkan untuk Lauren.
Dasar gadis iblis!
Lauren yang mendapatkan sebuah keluhan hanya melirik malas, tapi tak urung gadis itu mulai secara perlahan memperlambat laju langkahnya.
"Permisi kak, ini Lauren."
Oke, perasaan Olivia tiba-tiba saja mulai gonjang-ganjing. Rasanya sekarang, seperti ia tengah ingin bertemu dengan calon mertua yang galak.
Kami-sama, tolong lindungilah diriku ini.
__ADS_1
..._____...