
"Kamu, bisa kita bicara sebentar?" Seseorang memegang pundak kananku pelan, sambil berkata seperti itu.
Aku sedikit terkejut awalnya, apalagi ketika berbalik dan menghadap orang itu.
Dilihat dari perawakannya, ia terlihat seperti seorang gadis. Terlebih ketika mendengar suaranya tadi, sudah pasti itu seorang gadis.
Meski ia menggunakan jubah panjang yang bertudung, tak dapat menutup sepenuhnya gambaran dari pakaian khas seorang bangsawan.
Sepatunya berjenis Medieval, sepatu yang memiliki harga yang lumayan untuk bangsawan dan mahal untuk rakyat biasa.
Jepitan poni rambutnya, aku yakin itu terbuat dari kristal Briva. Salah satu bahan yang cukup sulit ditemukan dibenua, ah tidak, mungkin didunia ini.
Lalu antingnya, aku dapat dengan jelas merasakan energi roh yang kuat dari sana.
Apa yang orang ini inginkan?
"Apa yang membuatku harus berbi–" Tak jauh dari gadis itu, aku melihat beberapa orang pria besar tengah mengikuti.
Ah rupanya gadis ini tengah diikuti para preman, tak ayal jika suaranya seperti nampak ketakutan begitu.
Mereka terdiri atas empat orang pria dewasa, dengan badan yang berotot dan penampilan yang bisa dibilang tidak sehat. Rambutnya acak-acakan, bajunya terdapat robekan diberbagai bagian, kedua matanya yang sayu dan bau alkohol yang bahkan tanpa mendekatpun aku dapat mencium itu semua.
Tidak disangka, orang begini ternyata masih ada dimanapun.
Masih tidak dapat dipungkiri, bahkan di daerah terbesar dan termaju di kekaisaran pun masih ada orang seperti ini.
Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan yang seperti ini. Dulu ketika awal aku mencoba berkeliling di Cives, aku pernah merasakan yang persis seperti ini.
Kalian tahu, aku yang saat itu bahkan mungkin saja baru berumur sepuluh tahun! Dan mereka sudah berniat yang aneh-aneh atas tubuhku.
Mungkin jika orang biasa yang melihatku saat itu akan berfikir seperti, "Akh anak ini tersesat, mungkin aku bisa saja mengantarkannya ketempat para prajurit penjaga."
Untuk para figuran, mungkin akan seperti, "Gadis cantik ini sepertinya tengah berjalan-jalan bersama orang tuanya, tapi karena terlalu bersemangat ia jadi terlihat berjalan-jalan sendiri."
Atau mungkin jika mereka jahat, "Sepertinya anak ini bagus untuk dijual ke pasar budak, selain cantik bocah ini juga putih dan menawan. Bisa jadi harga yang bagus!"
Tapi para bajingan itu berbeda, apa yang mereka ucapkan itu tidak lebih dari sampah.
Maaf kawand, aku tidak dapat mengatakan apa yang mereka katakan. Yang pasti, mereka saat itu memiliki niat yang amat besar untuk tubuhku.
Beberapa orang mungkin berkata, "Oh itu biasa saja."
Hai bung, pernahkah kalian berfikir atas perasaan gadis yang dicabuli para kaum pedofil itu?
Jangan seenaknya berkata bahwa itu hanya sesuatu yang terjadi dimasa lalu. Setiap anak memiliki apa yang disebut sebagai trauma, dan apa yang membuatnya trauma pasti dirasakan atas dasar masa lalu.
Untung saja saat itu aku sudah memiliki kekuatan Exsalia sebagai perlindungan diri, entah apa yang terjadi jika saja para bajingan itu berhasil melakukan sesuatu pada diriku.
Beberapa gadis selalu berpesan kepada dirinya sendiri, bahwa hanya orang yang menjadi takdirnya saja yang dapat mengambil seluruh kehormatannya.
Tapi beberapa orang gadis diluar sana ada juga yang bahkan memberikan kehormatannya atas dasar apa yang mereka sebut sebagai cinta, melakukan semuanya tanpa tau bagaimana akhirnya.
Kehormatan? Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah ego diri semata, bahkan mereka yang ada didalam pemikiran itu dengan rela menjual kehormatannya untuk sebuah permata dan harta.
Sesuatu yang ada didunia ini tidaklah ada yang gratis lagi, atas statement itu mereka mulai membuat jalan termudah untuk cepat mendaki.
Jika saja semua gadis mengambil jalan mudah seperti itu, perempuan mana lagi yang harus lelaki percayai?
__ADS_1
Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu, sungguh tidak mudah.
Tapi jika kalian berfikir lagi, kenapa kalian harus merasakan apa itu pahitnya sebuah masa lalu?
Semua perempuan diciptakan dengan sifat dan karakternya masing-masing. Bahkan jika kalian hanya sekedar berbicara untuk beberapa menit pun, pasti kalian sudah tergambarkan bagaimana itu sifat seseorang.
Kadang beberapa orang terlahir untuk menggunakan topeng, dan beberapa juga memakai sebuah topeng hanya untuk mencapai tujuan tertentunya.
Jika saja kamu berhasil membuat seseorang melepaskan topeng yang selama ini dia pakai, temanilah ia, jangan pernah berfikiran untuk langsung meninggalkannya.
Terlebih itu seorang gadis, tak mudah untuk membuatnya berbicara mengenai segala tentang dirinya.
Masa lalu yang selama ini ia alami hanya ia sendiri yang tau. Beruntung jika ia memiliki keluarga atau seorang sahabat yang terus berada disampingnya, mensupport nya untuk terus bangkit dari segala macam masalah.
Masalah setiap orang berbeda-beda, besar dan kecilnya suatu masalah diatur oleh sang pemilik masalah.
Ada orang yang memiliki banyak masalah, tapi ia masih bisa dengan asik tertawa lepas bersama teman-temannya.
Ada juga orang yang memiliki masalah, bahkan untuk masalah kecil saja orang itu dengan rela mengakhiri hidupnya.
Seseorang tidak akan mengerti akan sesuatu, sampai ia sendiri merasakan apa itu sesuatu.
Ketika kamu menceritakan penderitaanmu kepada orang lain dan orang itu hanya tersenyum tanpa harus membandingkan dengan masalah apa yang ia miliki, sungguh orang itu sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Baik, cukup sudah berbicaranya.
Sekarang apa yang harus kulakukan atas situasi ini?
...____...
"KAKAK, KEMANA SAJA KAMU INI!" Lauren berteriak cukup keras, mengambil perhatian beberapa orang yang lewat.
Dengan tanpa aba-aba, Lauren mulai menggandeng erat tangan orang yang disebutnya sebagai kakak. "KAKAK, AYO TEMENIN KESANA!"
Jemari telunjuk Lauren terlihat menunjuk kesalah satu toko kue yang cukup terkenal dikalangan masyarakat.
Beberapa orang yang tadinya melihat terlihat bergeleng-geleng kepala. Mereka kira terjadi sesuatu, tapi ternyata hanya seorang adik yang ingin dibelikan kue oleh kakaknya.
Sungguh kakak adik yang lucu (≧▽≦)
Aku juga berharap agar adikku bisa seimut itu.
Apakah aku bisa menukar adikku dengan sesuatu yang seperti itu?
Tak ingin terlihat berlama-lama, Lauren dengan cepat menarik gadis tadi pergi melewati beberapa kerumunan.
Toko kue yang memiliki dua tingkat itu terlihat cukup ramai, bersama dengan orang-orang yang tengah menikmati kue yang mereka pesan.
Tempat duduknya memiliki dua jenis, ada yang didalam dan diluar. Karena diluar sudah penuh, Lauren memilih untuk pergi kedalam untuk mengambil tempat.
Tentunya dengan masih menarik gadis tadi.
Ketika sampai ditempat duduk, seorang pelayan menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan.
"Aku dan kakakku ingin kue yang terenak, berikan kue-kue termahal kalian."
Ucapan Lauren disambut baik oleh pelayan itu. Meski awalnya ia merasa tidak yakin, tapi ketika melihat wajah cantik dari sang pelanggan baru itu membuat keyakinan pelayan kembali seratus persen.
__ADS_1
Sepertinya gadis ini bangsawan yang tengah kabur bersama seorang pelayannya, tak ayal ia memesan kue terenak. Batin pelayan itu.
Bukan termasuk hal yang aneh ketika mendengar seorang anak bangsawan yang menyelinap diam-diam keluar hanya untuk berbelanja, terlebih sebentar lagi akan ada pesta yang mempertemukan beberapa kerajaan.
Anak kecil merupakan makhluk yang serba ingin tahu. Meski kadang terkesan berbahaya, mereka tak peduli asalkan apa yang mereka mau itu ada.
Biasanya seseorang bangsawan akan membiarkan anaknya untuk keluar, asalkan mereka harus ditemani oleh orang kepercayaan mereka dan juga harus menggunakan penyamaran.
Tapi kadang ada malah orang tua yang melarang anaknya untuk keluar, membuat sang anak mengambil jalur nekat dengan kabur sendirian.
Rasa ingin tahu itu kadang membunuhmu, memang kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Lauren mengambil tempat paling ujung, dimana tempat duduk yang cukup terisolasi dari tempat duduk lainnya.
Dari ujung matanya, dapat dilihat Lauren tengah memandangi sekitaran. Membuat suasana diantara keduanya menjadi sama-sama diam.
Lauren yang tengah mengamati, dan gadis tadi yang nampak gugup untuk memulai duluan.
Merasa tidak diikuti oleh siapapun, Lauren mulai mengalihkan pandangannya kearah gadis yang tengah duduk diseberangnya.
"Jadi, bisa kamu lepaskan tudung itu? Aku terlihat seperti tengah membawa orang mencurigakan disini."
Ucapan Lauren yang terkesan tajam itu membuat gadis tadi mengangguk kaku. Mengangkat tangan kanannya, ia mulai menarik pelan tudung dikepalanya.
"Maaf, aku sepertinya malah jadi merepo– tapi tunggu, bukannya kamu ya yang tiba-tiba saja menarikku kesini?"
Lauren sesaat tak memperdulikan apa yang dikatakan gadis itu, ia masih sedikit terpesona dengan wajah gadis didepannya.
Wajahnya bisa dibilang cantik, sangat cantik bahkan. Kedua netra itu persis seperti milik Silla, hanya saja ia memiliki warna yang lebih terkesan gelap.
Pipinya tirus dengan dagu yang cukup lancip, sama seperti milik Falley. Freckles wajahnya menambah daya tariknya, ditambah dengan surai hitam panjang yang menyempurnakan pandangan seseorang kepadanya.
"Cantik." Tanpa sadar ungkapan isi hati Lauren keluar, membuat lawan bicaranya tertawa kecil.
"Terimakasih atas pujiannya, aku juga tau bahwa aku itu cantik."
Lauren yang tadinya ingin menutup mulutnya karena merasa keceplosan mengurungkan niatnya, "Sepertinya aku tidak menganggap mu aneh ketika bersama para preman itu." Ucapnya datar.
Gadis itu nampak melotot, "A-aku hanya lewat dan mereka tiba-tiba menggodaku!"
"Lalu kamu yang membenarkan godaan mereka." Lauren dengan cepat memotong omongan gadis itu, "Mereka yang merasa diterima mengajakmu ke suatu tempat, lalu kamu yang akhirnya paham tidak terima dan memukul salah satu diantaranya dan jadinya berakhirlah seperti itu." Lanjutnya.
Gadis itu nampak mengibas-ibaskan tangannya, "Tidak-tidak, kamu salah! Aku hanya menendang biji mereka semua."
Seakan tanpa dosa, gadis itu mulai melanjutkan perkataannya. "Lalu aku kabur deh!"
Lauren menepuk dahinya. Sepertinya ia sudah salah sangka, ia mengira bahwa gadis didepannya ini seperti gadis polos yang tidak tahu apa-apa.
Tiba-tiba saja memanggilnya dengan ketakutan, siapa yang akan menyangka bahwa dia sudah menendang masa depan seseorang!
Ah iya, ngomong-ngomong na–
"Namaku Olivia, bagaimana dengan mu?"
Olivia, apa sepertinya aku pernah mendengar nama itu? itu nampak seperti...
Tidak asing..
__ADS_1
..._____...