
...Happy reading...
.......
.......
"Exsalia, aku bosan! huwaaa (っ˘̩╭╮˘̩)っ" Exsalia spontan menutup kedua telinga panjangnya kala mendengar rengekanku.
"Master, saya tau anda bosan tapi kenapa harus merengek ke saya?" ucapnya menanggapi.
Aku menarik ingusku dan beberapa kali mengerjap-erjapkan kedua mataku yang sudah memerah, "Exsalia, bosan huwaaa!"
Exsalia terlihat menghela nafas gusar, tapi tak urung peri cantik itu berjalan perlahan kearahku.
"Sudah ya, cup-cup-cup." ia mulai membekap tubuh kecilku, wajahku yang mulus terasa terhimpit diantara luas nan besarnya pegunungan miliknya ಡ ͜ ʖ ಡ
Merasa aku sudah mulai tenang, Exsalia mendongakkan wajahku. "Gimana supaya hilang bosannya, hm?" Tanyanya lembut.
Melihat netra hijau daunnya yang menatap tepat dikedua mataku, mendadak aku jadi gugup. "Em, ti-tidak tau." cicitku.
Exsalia tersenyum lalu kembali membenamkan kepalaku diantara dadanya, "Master bosankan di istana? Apa perlu menggunakan kekuatan saya untuk keluar dari istana berpelindung super alot itu?" Tanyanya membelai lembut suraiku.
Aku mendongak, "Apa bisa?" tanyaku merasa tidak yakin.
Yang aku tau, istana pusat milik Celestine ini memiliki perlindungan yang superior dengan sedikit orang yang tau akan keberadaan perlindungan itu.
Aku saja bahkan tidak tau pasti tentang keberadaan perlindungan itu, yang kutau aku tak bisa keluar dari istana ini dengan sihir pemindahan ( ⚈̥̥̥̥̥́⌢⚈̥̥̥̥̥̀)
"Saya bisa, ya walaupun nantinya merepotkan sih." ia terus mengusap lembut suraiku, akh rasanya seperti aku memiliki kakak perempuan yang lain sekarang.
"Apa merepotkan itu berarti kamu menolakku, Exsalia?" aku bertanya kepadanya dengan tatapan polosku, yah tak apa bukan sekali-kali berperilaku sesuai tubuh ini (◕ᴗ◕✿)
Exsalia terlihat mulai berkeringat dingin. Peri cantik itu beberapa kali memalingkan pandangannya ke sekeliling entah mencari apa. Hehehe aku tau, rupanya ia tengah sibuk mencari alasan sekarang!
"Ti-tidak master, sa-saya tak pe-pernah berfikiran ingin me-menolak makhluk imut seperti anda!" Exsalia mengucapkan itu dengan nada gugup.
Aku tersenyum lebar lalu mengangguk antusias, "Yeay kalau begitu kita bisa keluar istana hari ini!" seruku makin mendusel-duselkan wajahku diantara kedua dadanya.
"Baiklah, saya akan membawa anda ketempat saya di ibukota ini." Ucapan Exsalia membuatku mengerutkan kening, "Kau punya tempat?"
Exsalia sedikit menunduk mensejajarkan tingginya dengan tinggiku, "Iya, saya punya toko ramuan di ibukota ini." Mengambil satu tanganku dan mulai menggenggamnya, ia tersenyum. "Siap-siap ya, tuan putri!"
"Kamu pun–"
..._____...
Tok tok tok..
"Tuan putri, ini Silla meminta ijin untuk masuk."
Falley yang tengah asik menyesap teh dibuat menoleh ke arah pintu, "Masuklah!" teriaknya malas.
Kenop pintu terbuka menampilkan sesosok wanita dengan rambut coklat sebahunya, "Tumben aku bisa melihatmu dapat bersantai begitu." ucapnya santai sambil terus berjalan menuju meja kerja Falley dan meletakkan setumpuk perkamen yang tadi dibawanya ke atasnya.
"Silla, kamu terus berharap tugas-tugasku tidak pernah selesai? jahad!" ucap Falley cemberut, tapi tak urung ia kembali menyendok sepotong kue kedalam mulutnya.
Silla terkekeh lucu. Dengan langkah santai, wanita itu berjalan kearah balkon kecil tempat Falley bersantai sekarang. (Ingat tempat ngobrol Falley sama Lauren dichap sebelumnya? dibalkon ini sudah)
Suara decitan kecil kursi terdengar, "Falley, bukannya tidak baik jika makan yang berbau manis-manis terus menerus? Lalu, aku juga barusan mendengar bahwa kamu belum sarapan pagi ini." Silla bertanya dengan cemas, ia tak mau tuan sekaligus sahabatnya ini jatuh sakit lagi karena mengabaikan pola makan.
Falley tersenyum tipis, "Aku tidak apa-apa, Silla." jawabnya lembut.
Falley dan Silla sudah bersahabat sejak kecil. Mereka awal bertemu ketika berumur empat tahun, dimana Silla yang adalah putri pertama Marques Houston saat itu tengah berkunjung ke istana kerajaan karena urusan penting.
Bertemu ditaman karena ketidak sengajaan, mereka mulai menjalin pertema–
Tidak-tidak, salah! Lebih tempatnya Silla lah yang mencoba berteman dengan Falley.
Jika kalian mengira bahwa Falley kecil yang dulu itu anggun dan lembut sama persis seperti sekarang, maka kalian salah besar.
Falley kecil itu dulu adalah seorang anak yang pendiam nan ambisius. Mungkin bahkan lebih terkesan, ia serasa malas sekali untuk menunjukkan suaranya kepada orang selain keluarganya dan hanya belajar belajar belajar dan belajar.
"Perkenalkan, nama saya Silla van Houston. Senang dapat berjumpa dengan anda, tuan putri."
__ADS_1
"Hm."
"Tuan putri, mari kita berteman!"
"Hm."
"Tempat ini bagus ya, tuan putri."
"...."
"Tuan putri! saya datang lagi!"
"Hm."
"Tuan putri, anda tidak bosan terus berlatih sihir?"
"Tidak."
"Tuan putri! Silla yang cantik ini kembali lagi!"
"Pergilah! aku bosan melihatmu!"
"Falley, ayolah sekali-kali kita berjalan-jalan keluar!"
"Kau saja!"
"Falley, tolong ajari aku tentang ini."
"Baik."
"Falley, aku akan pergi ke Akademy sihir minggu depan."
"Ke-kenapa cepat sekali?"
"Silla! kepalaku pusing! rasanya semua sarapan tidak ada rasanya!" Silla tersentak tak kala Falley yang berdiri dari kursi lalu tiba-tiba datang memeluknya, untung saja tidak jatuh dari kursi batin Silla.
Silla terus memandangi wajah cantik Falley. Ia masih merasa tak percaya bahwa Falley yang dulu selalu dingin padanya, cuek, bahkan tak pernah peduli sama sekali tentangnya jadi seperti ini–
"Silla, eluslah kepalaku!"
"Biarkan, aku juga manja hanya padamu!" jawabnya lantang.
Silla terkekeh melihat tingkah imut Falley, "Mana sahabatku yang dulunya dingin itu? kenapa sekarang hanya ada anak manja ini?" Celutuknya.
Merasa tersinggung, Falley mendongak dengan bibir yang sudah mengerucut. "Sudah kubilang untuk melupakan masa-masa itu bukan! mou kamu ini!" ucapnya cemberut.
Melihat Silla yang makin tertawa kecil disertai cekikikan mengejeknya membuat Falley kian geram, "Silla! hapus semua masa-masa itu dari ingatanmu!" serunya kesal.
Silla menaikkan satu alisnya dengan senyuman menggoda, "Siapa ya orang yang saat itu sampai-sampai ingin menangis hanya karena ditinggal duluan ke Akademy?!"
Seluruh bagian wajah Falley memerah seketika, bahkan rona berwarna tomat matang itu sampai terlihat pada kedua ujung telinganya.
"SILLA!!" Teriak Falley, wanita itu mulai mengepalkan kedua tangannya lalu memukul-mukul bahu Silla pelan.
Silla sedikit menghindar atau kadang menangkis pukulan Falley dengan kedua telapak tangannya, "Hahaha, Falley sudah hentikan!" Kekehan Silla mulai berhenti tak kala berbagai pukulan mulai dipercepat.
"Baik-baik, aku tidak akan membahas itu lagi!" lanjutnya meringis.
Falley menarik kedua tangannya bersedekap dada sembari mengalihkan pandangannya, "Huh, bagus kalau kau sudah sadar!" ucapnya.
"Akh, kau memang tidak pernah main-main." Silla mulai melihat bahu kirinya prihatin, "Dasar wanita keturunan bar-bar!" lanjutnya bergumam.
Falley yang baru saja meletakkan bokongnya diatas kursi dibuat melotot, "Apa yang barusan kau bilang?" Tanyanya dingin.
Suasana yang tadinya tenang tiba-tiba mencekam membuat Silla berkeringat dingin, "Em, me-menurutku ka-kau ca-ca-cantik Falley." jawab Silla asal, ia tak ada jawaban lain selain memuji sekarang.
Silla meneguk salivanya tegang tak kala melihat Falley yang masih melihatnya datar, "Benarkah?"
Falley yang bertanya dengan nada dingin dengan satu alis yang terangkat membuat rasa gelisah Silla makin tak beraturan, "Be-benar! Dari pada itu, bukankah lebih baik kita mengurus beberapa perkamen penting yang baru saja kubawa tadi?" saran Silla sambil beberapa kali melirik kedalam.
"Tidak, sudah aku bilang aku bosan sekarang." Falley menjawab lalu mulai menyesap teh miliknya yang sudah tak lagi beruap, sepertinya kedatangan Silla membuat teh itu badmood sehingga tidak panas lagi. Pikirnya.
Nada bicara Falley yang sudah tak sedatar seperti sebelumnya membuat lampu hijau untuk Silla, "Saat kau tau isinya, pasti kau akab langsung berlari kemeja."
__ADS_1
Perkataan sang sekertaris yang nampak sangat percaya diri membuat Falley berkerut kening, "Memangnya apa isinya?" tanyanya penasaran.
Silla tersenyum miring, "Beberapa surat lamaran untuk sang putri kedua, putri Lauren."
Kedua mata Falley kembali melotot, "Silla, siapkan kayu bakar!" titahnya dan langsung berlari kearah meja kerjanya.
Mendapatkan angin bekas lesatan Falley, kini giliran Silla yang melotot. "JANGAN LANGSUNG KAU BAKAR, DASAR KAKAK YANG TERLALU PROTEKTIF!"
Satu teriakan itu menjadi awal dari acara kejar-kejaran antar sang tuan putri dengan si sekertaris Celestine.
Bahkan konon katanya (Dari cerita yang beredar), hampir satu istana dibuat berhamburan oleh kedua makhluk itu.
..._____...
Aku membuka perlahan kedua mataku, beberapa cahaya yang masuk secara tak beraturan membuatku yakin bahwa sekarang aku tak lagi diatas kasur empuk milikku.
"Dimana ini, bukannya sebelumnya aku ada dikamarku?" Melihat kebawah, aku mendapati hamparan rumput hijau tengah memangku-ku dengan angin yang bertiup manis seakan menyapu setiap helai dari rambut panjangku.
[Master, ayo cepat bangun!]
Ah aku paham sekarang, ternyata si peri dunialah yang membawaku turun dari surga tempat tinggalku untuk datang kemari sebagai pahlawan yang akan menyelamatkan dunia dari sang raja ib–
[Master, sudahlah tolong hentikan drama anda itu dan segeralah berkeliling!]
Mendengar kata-kata ketus Exsalia yang masuk kedalam kepalaku membuat aku mau tak mau mengangguk pasrah, "Baik-baik!"
Hufh, padahal aku tadinya mau berakting sebentar seperti difilm-film atau dianime-anime, dimana sang Mc yang tiba-tiba terdampar disebuah tempat yang tak pernah didatanginya.
Dasar peri tua tidak seru (눈‸눈)
[Anda punya keluhan untuk saya ◉‿◉]
Akh, jangan bilang dia punya kekuatan baca pikiran sekarang ヽ((◎д◎))ゝ
"Ti-tidak, aku hanya berfikir tentang bagaimana kah bentuk permukaan didunia ini. Datarkah atau bulatkah." Jawabku seadanya.
Ingat ya teman-teman, aku masih ingin hidup panjang. Jadi untuk kalian-kalian yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, jangan beritahu Exsalia tentang ini kata-kataku barusan ya (✿^‿^)
[Hm baiklah, ayo segera pergi dari tempat ini Master. Beberapa tanaman ditempat ini mengandung racun, tidak baik untuk berlama-lama ditempat ini.]
[Ah iya, dan sedikit informasi lagi. Sebenarnya kita ada di tempat saya menanam semua ramuan obat saya ಡ ͜ ʖ ಡ]
"Kau yakin Exsalia? tempat sebesar ini milikmu?" Aku bertanya dengan nada yang dibuat seakan sangat antusias.
[Hmpm, tentu saja! <( ̄︶ ̄)>]
"Kau hebat!"
[Hahaha.]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sudah tua, sok-sokan lagi! Dasar peri aneh! (ノಠ益ಠ)ノ