Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Siapa dia?


__ADS_3

"Sekarang apa yang coba kau pikirkan, Falley?"


Fansev mulai menatap putri sulungnya dalam dalam, tatapan tegas namun penuh akan kasih sayang seorang ayah itu seperti menembus apa yang ia inginkan.


"Ayah tau bahwa perdebatan seperti itu termasuk lumrah diantara kau dan Silla, tapi kenapa kau tidak memikirkan Lauren disana?"


Tidak nampak ada jawaban dari kedua belah pihak yang paling terlibat. Baik itu Falley dan Silla, kedua duanya masih berdiri tegak dengan kepala yang menunduk bersama dengan tatapan penuh bersalahnya.


"Akh lagi dan lagi kalian berdua membuat ayah harus meninggalkan liburan ayah." Fansev mendengus pelan.


Benar, tepat setelah menyelesaikan masalah eksternal mengenai wilayah bersama pedang dan ribuan pasukannya, Fansev segera angkat mahkota dan turun dari tahtanya.


Meski dengan dalih Falley yang sudah amat hebat dalam memimpin kerajaan (Semua masalah internal kerajaan diserahkan pada Falley, dan itu semua selalu berakhir dengan sempurna) alasan sebenarnya Fansev ingin pensiun adalah karena ingin menikmati keindahan masa tuanya.


Ketika awal dimana ia diangkat menjadi raja, kerajaan Celestine banyak sekali mengalami krisis dan tekanan.


Celestine merupakan kerajaan terbesar didaerah barat, mengungguli beberapa kerajaan-kerajaan yang ada.


Tapi meski dibilang besar, tidak serta merta dapat mengungguli semua.


Dibagian timur benua, berdiri sebuah kekaisaran makmur. Kekaisaran itu sendiri bernama Devregaf, atau yang biasa orang sebut dengan Kekaisaran Timur.


Mereka menempati setengah benua dengan otoritas dan pemerintahannya, hampir menguasai seluruh ekonomi dan pasar yang ada. Sungguh sebuah pemerintahan yang sangat mendominasi.


Ukhh cukup membahas itu, kita kembali...


"Ayah, Falley yang memulai semuanya!"


Perkataan Silla yang tiba-tiba membuat kedua mata Falley melotot sempurna, "HAH?! MAKSUDMU?!"


"BUKANNYA KAU YANG MERAHASIAKAN SEMUANYA DARI LAUREN?"


Teriakan Silla membuat emosi Falley kembali naik. Wajahnya memerah menandakan kekesalannya, tak lupa juga kedua tangannya yang sudah membentuk lingkaran sihir entah dari kapan.


"ITU SEMUA DEMI KEBAIKAN LAUREN, BELUM SAATNYA DIA UNTUK KELUAR APALAGI ITU DAERAH KEKAISARAN!"


"Falley, Silla, selesaikan semuanya diluar."


Silla yang ingin membalas perkataan Falley dibuat terdiam. Ia ti- akh tidak, mereka sama sekali tidak menyadari sesuatu.


"Jika semuanya selesai dengan perkelahian istana maka ayah pastikan akan mematahkan leher kalian berdua, camkan itu."


Fansev berdiri dan dengan cepat meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Pintu yang tertutup keras menjadi awal kepergiannya, meninggalkan hawa yang amat dingin diantara kedua wanita yang berada disana.


..._____...


Hallo semua, kembali lagi bersama saya sang putri kerajaan mermaid. Siapa lagi kalau bukan putri Lauren kalian :⁠^⁠)


Bagaimana kabar kalian akhir-akhir ini? Baik? ya mudahan kalian selalu diberikan kesehatan selalu (⁠≧⁠▽⁠≦⁠)


Oke, kita kembali.


Pagi ini aku mendapatkan berita yang cukup menarik untuk dibicarakan, hehehe.


Ketika sedang menyisir rambut ku tadi, Marin tak sengaja menyinggung bahwa ada sedikit cekcok diantara ayah dan kakak.


Entah mereka meributkan tentang apa, yang pasti itu pasti termasuk masalah yang cukup berat.


Jangan kalian kira aku akan diam saja dalam menanggapi masalah ini, kekuatan saya sebagai putri bungsu disini sangatlah kuat <⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠>


"Hmmmm bagaimana ya tuan putri..."


"Ayolah Marin, katakan saja!" Aku mendesak Marin untuk mengatakan semuanya.


Ya meskipun tadi aku bilang dia yang awalnya menyinggungnya, tapi itu semua terjadi seakan ia tak pernah mengatakannya (⁠ノ⁠`⁠Д⁠´⁠)⁠ノ⁠彡⁠┻⁠━⁠┻


"... Tuan putri, saya dengar ada sedikit masalah antara yang mulia Fansev dan yang mulia Ratu. Yang saya dengar, yang mulia Fansev sampai membanting pintu ketika keluar dari ruang kerja Ratu. Oh ya, dan juga tuan putri. Saya dengar pagi ini para koki membuat hidangan yang selama ini tuan putri idam-idamkan, mereka membuat sesuai arahan yang diberikan tuan putri bla bla bla..."


Harus kuakui, pengalihan topik seorang Marin memanglah hebat. Wanita itu merancang kata sedemikian rupa bersama dengan topik yang kusuka menjadi satu, sehingga aku dibuat teralihkan oleh gosip tak sengajanya.


Jangan remehkan tuan putri ini ya, Marin ಡ⁠ ͜⁠ ⁠ʖ⁠ ⁠ಡ


"Tuan putri, bagaimana kalau kita ketaman? mungkin saja tuan David sudah menunggu disana!"


Rambut ku sudah rapi, dan itu menjadi alasan terbesar kenapa pelayan hebat satu ini mengajakku pergi ketaman.


Alibi yang hebat.


Yah untuk merapikan rambutmu terbilang cukup mudah. Aku tidak terlalu menyukai bentuk dan gaya rambut apapun, setiap harinya hanya digerai dan dibiarkan bebas. Paling mentok ya diikat kuda, itu pun hanya ketika latihan berpedang bersama David.


"Saya akan memanggil beberapa pelayan untuk menyiapkan semuanya tuan putri."


Hahh, aku sudah tidak mood.


"Tidak, aku akan pergi keluar istana hari ini."

__ADS_1


Sepertinya mencari jajanan menjadi alternatif terbaik untuk mengembalikan mood sekarang.


..._____...


"Tuan Leo, selamat datang kembali." Seorang pria berpakaian Butler terlihat menyambut kedatangan seseorang.


"Hm." Leo, orang yang disambut itu meletakkan jasnya pada pinggang sofa dan segera merebahkan badannya diatasnya.


Wajah tampannya terlihat sangat dingin, hembusan nafasnya yang tenang seakan mengabarkan setiap orang yang didekatnya bahwa ia bisa kapan saja untuk tertidur.


"Bagaimana sekolahnya hari ini, tuan?" sang Butler terlihat tengah mencari topik pembicaraan.


Lelaki tadi mendongak dan menghadap sang Butler, "Tidak ada yang menarik." jawabnya.


"Oh iya, bagaimana tentangnya?" lanjutnya bertanya.


Bagi orang awam yang tidak tahu apapun pasti tidak akan paham apa maksud dari pertanyaannya itu, lain halnya dengan sang Butler.


"Seorang gadis yang selama ini tuan maksud ialah tuan putri kedua dari kerajaan Celestine, tuan putri Lauren Van Cyles Celestine."


Butler itu mulai berjalan kearah meja kerja yang menjadi satu-satunya meja dengan berbagai macam buku-buku diatasnya, "Saya menduga ia menggunakan kekuatan roh untuk mengubah warna rambutnya."


Diantara banyaknya buku yang ada, terdapat sebuah gulungan yang sangat mencolok. Ketika sang Butler membuka gulungan itu, terpampang lah sebuah gambaran sketsa seorang gadis cantik.


"Wajah yang anda gambarkan ini sangatlah mirip dengan putri Lauren." Butler itu kembali menggulung gulungan itu.


"Karena sangat minimnya informasi yang anda berikan dan juga keamanan informasi dari kerajaan Celestine yang amat mengerikan, saya baru dapat menemukannya identitasnya selama lima tahun mencari ini."


Apa yang disebutkan sang Butler bukanlah kebohongan. Jika saja orang biasa mencari sesuatu dalam kurun waktu satu tahun saja, ia pasti cenderung akan melupakan hal itu dengan bermacam macam kegiatannya.


Yah tapi teori itu sama sekali tidak berlaku untuk Leo. Tanpa ada satu orang pun yang menyadari, Ia selama ini berdiri bagaikan tubuh yang kehilangan jantungnya, fisik tanpa adanya jiwa didalamnya.


Intinya, ia seperti selalu ada yang merasa kurang tak kala bertemu gadis itu lagi.


Karakternya yang biasanya pendiam, dapat berbicara banyak dihadapannya. Reaksi jijik tubuhnya tak kala bersentuhan baik itu disengaja atau pun tidak disengaja oleh orang lain, seakan tak berlaku baginya. Rasa penasaran yang dulunya hampir tak pernah ada, dengan hanya sekali kemunculannya dapat bisa membuat seorang Leonardo hampir menjadi orang gila.


Lauren, gadis itu selalu muncul dibenak dan pikirannya. Bahkan dengan ribuan perempuan dihadapannya, Leo bisa yakin seratus persen bahwa hanya Lauren yang berhak ada disampingnya.


Yah, untuk apa wanita lain jika hanya berujung dengan mayat yang harus dibuang?


"Bagus, kamu urus disini dan aku akan segera kembali." Senyum Leo terbit. Lelaki itu mulai mengambil jubah yang tergantung disamping meja kerjanya, "Dustin, awasi semuanya."


Dustin selaku Butler pribadi Leo menundukkan setengah badannya dan mengangguk pelan, "Baik, yang mulia pangeran."

__ADS_1


..._____...


__ADS_2