
Lauren terlihat menuruni kereta kuda yang sudah berhenti tepat didepan mansion berada.
Kereta kuda yang memulai perjalanannya dari Celestine itu nampak disambut dengan wanita yang berpakaian maid, bersama seorang lelaki yang paling terlihat mencolok berdiri paling depan.
Bagaimana tidak mencolok, selain wajahnya yang terbilang sangat tampan dan pakaiannya yang menggambarkan bagaimana seorang bangsawan kekaisaran, lelaki itu juga memiliki netra yang berwarna hijau terang.
Dibenua ini yang memiliki rasio kepunyaan atas netra hijau, lebih didominasi oleh para keluarga kekaisaran.
Apa yang seorang pangeran lakukan disini?
"Selamat datang di kekaisaran Destegraf, tuan putri Lauren van Cyles Celestine."
Lauren menyambut uluran tangan lelaki itu untuk membantunya menuruni tangga kereta kuda. Jika membahas mengenai etika kerajaan, pasti tindakan ini menjadi salah satu pelajaran penting bagi kalangan pemuda.
"Terimakasih, em tuan.." lidah Lauren tiba-tiba kelu. Bukan karena gugup atau apa, lebih tepatnya dia sama sekali tidak tahu nama lelaki didepannya ini.
"Aamon tuan putri, nama saya Aamon." Lelaki itu mengerti dengan maksud Lauren, mau bagaimanapun ia sejak awal sama sekali belum menyebutkan namanya.
Senyuman itu seakan tak memiliki akhir. Sungguh, kesan ketika melihat Aamon untuk pertama kalinya bagai sebuah hal tersendiri bagi Lauren.
Di Celestine tidak kekurangan, bahkan terbilang banyak orang tampan nan cantik disana. Baik itu ada pada kalangan rakyat biasa dan bangsawan.
Tapi ketika melihat sosok Aamon, itu seperti...
Bukannya dia cocok untuk kakak?
Oke, kita akan sedikit beralih sekarang.
Kenapa Lauren bisa berfikiran begitu, ya karena status jomblo kakaknya yang sudah cukup lama itu!
Falley van Cyles Celestine, wanita itu tepat sudah menginjak tahun ke dua puluh enam usianya dibulan kemarin.
Dan diusia yang kedua puluh enam itu, ia masih sangat sangat kaku pada yang namanya asmara.
Jika untuk berbicara masalah bisnis, politik dan sesuatu yang berbau-bau pengembangan, Falley jagonya tidak perlu ditanyakan lagi.
Bagaimana untuk asmara? Nol besar.
Di Celestine memang terdapat sebuah aturan bahwa seseorang dari anggota kerajaan dilarang untuk memasuki akademi pembelajaran. Mereka lebih diarahkan untuk belajar diistana, dengan pastinya mendatangkan berbagai guru terbaik disetiap generasinya.
Untuk pembelajaran juga, para anggota keluarga kerajaan Celestine bebas untuk memilih apa yang paling mereka suka.
Contohnya Fansev yang mengambil lebih banyak kelas pedangnya, Falley yang lebih menekankan ilmu pengetahuan dan sihirnya, lalu Lauren yang sudah seperti kalian tau.
Karena peraturan inilah yang menjadi alasan terkuat Falley untuk tidak mengenal yang namanya asmara.
Berbicara mengenai kepribadian, Falley juga cukup berbeda dari ayah dan adiknya.
Fansev dan Lauren tergolong orang yang sangat mudah berbaur dengan orang baru, mereka selalu menyambut dengan baik jika pihak sana memulai dengan baik.
Berbeda untuk Falley, wanita ini lebih terkesan sangat dingin dengan orang baru. Apalagi seseorang itu sama sekali tidak memiliki sebuah keuntungan ataupun timbal balik, uh bahkan untuk melihatnya Falley terkesan ogah.
Sifatnya yang amat tidak dapat mempercayai orang lain itu menjadi salah satu faktor utama kenapa hanya seorang Silla yang sampai sekarang dapat berdiri disebelahnya.
Kalau saja mengambil orang luar, mungkin saja ada yang melampaui keuletan dan kekonsistenan Silla, bahkan mungkin melampaui kekuatan Silla.
Tapi semua kembali lagi, sangat sulit mempercayai orang baru.
__ADS_1
Dari semua kesimpulan tadi, yang dapat kita ambil adalah...
Lauren yang ingin mendekatkan kakaknya dengan lelaki ini.
Apa alasannya? Entahlah, hanya Lauren yang tau.
"Tuan putri, para pelayan akan mengantarkan anda keruangan anda." Perkataan lembut Aamon membuat empat orang pelayan wanita yang sejak tadi berdiri dibelakangnya maju mendekati Lauren.
"Saya tau bahwa perjalanan kesini cukup memakan energi, jadi saya harap anda bisa menikmati waktu istirahat anda disini." Lanjut Aamon, tentu masih dengan senyumnya.
"Tuan putri, mari kami antarkan keruangan anda." Ujar salah satu pelayan.
Lauren tidak langsung membalas melainkan ia malah melihat sekilas kearah Silla yang baru saja turun dari kereta kuda, diikuti Viana setelahnya.
Tatapan Lauren mulai terfokus mengarah ke Silla. Tatapan itu bukan seperti tanpa alasan, itu seperti bertanya "Bagaimana ini? Diterima?"
Silla merespon dengan anggukan kecil. Yah, lampu hijau sudah untuk Lauren.
"Baik, mohon kerjasama nya ya semuanya."
Kepergian Lauren bersama empat orang pelayan wanita itu seakan menjadi pemunculan batu pemberat tersendiri untuk Silla.
Pintu mansion tertutup menandakan Lauren dan para pelayan sudah masuk disana. Kini, hanya tertinggal tiga orang yang masih setia berdiri didepan.
Aamon dengan senyum tipisnya, Viana yang masih dengan sifat es batunya, dan Silla.
Tidak ada sebuah bentuk pembicaraan, sampai akhirnya suara Silla tiba-tiba terdengar.
"Aku tidak tahu bahwa kau tidak sesibuk itu untuk datang kesini, pangeran Aamon?"
Viana tak bergeming, lain halnya dengan Aamon yang terlihat sedikit melebarkan senyumnya.
"Mantan teman, catat itu." Silla memotong ucapan Aamon, terdengar nada yang amat datar dari wanita itu.
"Apa sebenarnya rencanamu sampai mengadakan pesta yang tidak perlu ini?" Lanjutnya.
Aamon paham kemana arah pembicaraan yang Silla buat, "Bukan aku, tapi adikku."
"Putra mahkota yang sudah membuat pesta ini." Lanjutnya pelan.
Rasa keterkejutan Silla hampir tak dapat disembunyikan, "Bo-bocah tujuh belas tahun itu maksud mu?"
Sebuah pesta besar tidak dapat dirayakan tanpa sebuah alasan yang jelas. Silla tau itu, dan sedikit yang ia baca digulungan lembaran itu ternyata bukan sebuah candaan.
Apa yang tertulis disana menunjukkan bahwa pesta ini diadakan atas dasar acara tunangan sang putra mahkota kekaisaran. Silla, ah tidak, lebih tepatnya Silla dan Falley sudah menganggap itu semua hanya bentuk alibi semata.
"Bukannya pertunangan tidak harus mengundang kerajaan-kerajaan lain?"
"Aku juga sepemikiran Falley, mana mungkin hanya dengan alasan pertunangan sang kaisar dapat setuju."
Setelah peperangan hebat yang cukup lama berlangsung, kini kerajaan Celestine dan kekaisaran Destegraf setuju untuk mengambil jalan damai.
Memang diatas gulungan perjanjian damai sudah tertulis kedua tanda tangan sang penguasa dengan banyaknya saksi yang melihat, tapi itu semua tidak menutup kemungkinan untuk para tikus melancarkan aksinya.
Mereka, para tikus yang terus menebarkan provokasi ini tidak tergolong dalam bentuk apapun. Jikalau pun berbentuk, itu pastinya sebuah organisasi gila yang sangat berani karena secara terang-terangan berurusan dengan perisai timur dan pedang barat.
Falley sudah menangkap beberapa tikus-tikus yang sudah berani menyusup kedalam kota-kota ujung Celestine.
__ADS_1
Mereka menebarkan kebencian dengan membawa nama kekaisaran sebagai bentuk pengakuan.
Sempat awalnya Silla terprovokasi, karena memang kata-kata yang mereka buat seakan mempengaruhi jalan pikir seseorang.
Mereka bukan orang biasa, itu sudah pasti karena kelompok yang sudah tertangkap memiliki kelebihan dalam diri mereka masing-masing.
Selama ini kerajaan sudah sukses dalam menyelesaikan masalah ini, tapi untuk kekaisaran sendiri masih belum ada informasi lebih lanjut.
Mengambil perumpamaan, coba saja kalian bakar kedua ujung ranting. Memang bagus jika salah satu dari ujung ranting itu telah lepas dari api yang membakarnya, tapi bagaimana dengan ujung satunya?
Percuma jika hanya mati disatu sisi, karena bagaimanapun api itu bersifat menjalar. Kalau saja api sudah membesar, bukan mustahil jika ranting itu akan hangus seluruhnya.
Begitulah situasi yang menggambarkan kerajaan dan kekaisaran sekarang.
Apapun yang mereka rencanakan, pastinya itu tidak hanya akan menyangkut satu otoritas.
Tapi, semua otoritas yang berdiri dibenua.
..._____...
"Aamon, ayo jelaskan semuanya sekarang."
"Huhh Si-silla huh, bi-biarkan aku huhh bernafas dulu."
Aamon terlihat mengambil nafas lebih, lelah juga dirinya tiba-tiba saja ditarik brutal oleh Silla yang sama sekali tidak memberikan jeda pada perjalanannya.
"Cepatlah, selagi Viana tidak mengikuti kita." Silla menoleh kesekeliling, mencoba mencari tanda-tanda Viana yang mungkin saja mengikuti mereka.
"Ti-tidak mungkin dia akan kesini, dia memiliki tugas lanjutan diistana." Penjelasan singkat dari Aamon makin memantapkan niat Silla.
"Kalau begitu, cepat jelaskan semua!"
"Sttt Silla, suaramu terlalu keras bodoh!"
Silla menutup mulutnya spontan, "Ma-maaf, aku hanya terlalu bersemangat."
"Iya, aku tau semangatmu itu..." Aamon menjeda kalimatnya. Seperti sedang kemasukan setan, ekspresi wajahnya tiba-tiba saja berubah. "Tunggu sebentar, Silla."
Lelaki itu mulai menutup telinga kanan dengan jari telunjuk kanan nya. Kedua matanya ia tutup, jika dilihat dari wajahnya ia seperti sedang menerawang sesuatu.
"Aku sekarang memintamu untuk menjelaskan, bukan untuk mencari yang lebih bodoh!"
Silla menarik Rapier dari sarung yang menyelimutinya, lalu mulai menyodorkan senjata tajam itu kearah leher Aamon.
"Si-silla, kau gila sekarang?" Rapier itu memiliki ujung yang sangat tajam. Lihatlah leher Aamon, sudah terlihat titik merah disana bekas dimana senjata kesayangan Silla itu berlabuh.
"Aku hanya ingin cepat, kamu tidak tau apa kalau tuan putri pasti sedang menunggu ku!"
"Iya-iya aku akan langsung keintinya!"
Senyuman Silla terbit, "Cepat, jadi apa!" Ujarnya sambil menyarungkan kembali senjatanya.
Aamon memasang wajah tak ikhlas sambil mengusap sedikit darah yang terlihat mengalir dilehernya, "Adikku itu ingin membatalkan pertunangannya dengan putri Olivia, ditambah ia ingin mengenalkan seseorang gadis yang ingin ia jadikan tunangannya."
Lelaki itu menarik nafas pasrah, "Dan dari informasi yang kuterima barusan tadi. Mereka mengatakan bahwa semuanya akan dilakukan ditengah pesta, ditengah semua orang yang datang." lanjutnya.
"Adikmu sepertinya sudah gila."
__ADS_1
..._____...