
"Olivia De Ferdian Vealiq, kamu yakin itu namanya?" Edmond terdiam sesaat, memandang Gon dengan tatapan penuh selidik.
"Benar, yang mulia." Gon mengangkat kepalanya, mencoba melanjutkan informasi yang sempat dipotong tuannya.
"Olivia De Ferdian Vealiq, putri bungsu dari Duke Vealiq saat ini. Tercatat menjadi salah satu gadis paling cantik di kekaisaran Destegraf, pemilik title si jenius sihir sekaligus mantan tunangan putra mahkota kekaisaran."
Edmond mengangkat tangannya tepat didepan wajah Gon, ia merasa ada yang cukup janggal lewat didalam Indra pendengarannya. "Putri bungsu Duke, kamu bilang?"
Anggukkan cepat dari Gon berhasil membuat Edmond menghela nafas. Diatas singgasana kebesarannya, ia nampak memijit pelipisnya.
"Yang benar saja, kenapa keturunannya bisa memiliki darah yang sangat enak?"
Gon terkejut, tentu karena tau apa yang dimaksud tuannya. "Anda sudah merasakannya, yang mulia?"
Selama beratus-ratus tahun, tak terhitung sudah banyaknya korban berjatuhan. Semua hanya karena Nafsu darah tuannya.
Sebagai seorang Noblees, Edmond dituntut tak boleh sembarangan dalam meminum darah.
Banyaknya kriteria yang dipilih, bukan berarti Edmond itu orang yang cerewet akan darah. Kadang jika tak sesuai, darah yang diminumnya malah dapat membunuhnya.
Meski kebal terhadap racun, alkohol dan segala macam cairan penghancur lainnya, darah menjadi hal yang cukup sensitif untuknya.
"Ya, darahnya bahkan lebih manis dari milik Nuela." Senyum Edmond terbit. Mengingat bagaimana rasa manis dan enaknya darah gadis itu, sungguh membuat Edmond ketagihan.
Penderitaan ratusan tahun sepertinya akan berakhir, pencarian yang bahkan membuatnya hampir gila akhirnya memiliki titik terang.
"Bagaimana dengan Celestine, yang mulia?"
Perkataan Gon membuat sesuatu yang mengganjal dipikiran Edmond kembali menangkap benang merahnya. Tidak, ia lupa dengan perkataan yang pernah diucapkan sebelumnya.
"Celestine memiliki pelindung yang dibuat langsung oleh Nuela, akan cukup menghabiskan energiku jika ingin memusnahkannya."
Benar, cukup sulit jika harus melawan daerah yang terlindungi. Selain karena kita yang dapat diserang bahkan sebelum menembus pelindung, Edmond juga tau bagaimana kerasnya pelindung yang dibuat oleh mantan rekannya itu.
Nuela itu bukan manusia, ia hanya monster yang berwujud wanita cantik.
"Baik, sesuai keinginan anda." Gon mengangkat wajahnya, sambil perlahan menggeser posisi ujung siku kaki kanannya yang sedikit tertekan oleh posisi hormatnya.
"Untuk gadis bernama Olivia, apakah anda ingin kami menculiknya?"
Edmond nampak berfikir, perkataan dari Gon cukup masuk akal untuknya.
Mengingat ia yang akan memiliki penyimpanan darah pribadi, itu bukanlah hal yang buruk.
"Tidak, kau tidak perlu ikut campur."
Menculik Olivia hanya akan membuat lelaki berpedang itu akan menghancurkannya, belum lagi putri Nuela yang selalu ada di sampingnya.
Monster hanya akan melahirkan seekor monster, tak mungkin rasanya kalau gadis itu hanya manusia biasa.
Edmond cukup yakin, malam itu ia dapat melihat energi lain didalam tubuh gadis itu.
Energi yang pernah ia lihat sebelumnya. Entah berbagai cara sudah Edmond lakukan, tapi ia merasa sama sekali tidak memiliki ingatan apapun mengenai itu.
"Aku hanya perlu mendekati mereka bertiga."
Sepertinya, masa-masa itu akan kembali.
...____...
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Lauren sudah terlihat berkutat di dapur. Setelah berbicara dengan pemilik penginapan, ia berhasil mendapatkan izin menggunakannya untuk memasak.
"Nona, aku tak pernah mengira bahwa sebuah kecantikan dapat menggunakan wajan."
Pernyataan dari bibi Dell, selaku bagian kepala koki untuk penginapan ini cukup membuat hati Lauren teriris.
Memang benar, kebanyakan dari para bangsawan tak banyak yang dapat memasak. Karena mau bagaimanapun, mereka menganggap memasak itu hanyalah tugas para pelayan.
Apalagi ketika melihat penampilan Lauren. Bahkan hanya dengan sekali lihat pun, gen bangsawan nya sudah nampak sangat jelas.
"Aku mempelajari sedikit dari ibuku di desa, bibi."
Jawaban Lauren sepertinya belum membuat Dell puas. Sambil menggunakan celemek nya, ia mulai berjalan mendekat kearah gadis yang masih asik dengan wajahnya.
Aroma masakan yang Lauren buat cukup memikat untuk Dell yang sudah sangat mengabdikan hidupnya untuk memasak, "Apa yang kau buat?"
Sesuatu yang berwarna kuning dan agak lonjong, dengan aroma telur yang sangat kuat. "Omelette?"
Lauren hanya mengangguk, sambil perlahan membalikkan omelette ketiga buatannya.
Merasa tak dihiraukan, Dell cukup kesal. Diatas meja yang tak jauh dari mereka, terlihat dua piring bersama dengan dua omelette diatasnya.
Mari kita lihat, bagaimana rasa makanan dari para petinggi tak tahu diri itu.
Gadis itu pasti seorang bangsawan, itu yang terus ada dipikiran Dell. Orang-orang yang selalu seenaknya, dan kebanyakan dari mereka yang sama sekali tidak pernah memanusiakan manusia.
Dell benci mereka. Mau bagaimanapun, rasa benci itu tak akan pernah hilang bahkan sampai ia mati sekalipun.
Melirik ke arah Lauren, ia dapat melihat gadis itu yang masih fokus pada kegiatannya.
Lirikan itu terus ia lakukan, sampai ia tepat berhenti pada meja dengan kedua omelette diatasnya.
Apa perlu kugancurkan saja keduanya?
Brakk
"Aduh, maaf tidak sengaja."
..._____...
"TOLONG!!"
Pagiku dihancurkan oleh teriakan seseorang. Aku yakin, suara itu sangat keras bahkan bisa sampai ke kamar kita yang ada dilantai dua.
"Ren?"
Selesai mengusap kedua mataku pelan, aku sama sekali tak dapat menemukan Lauren yang tadi malam tertidur di sebelahku.
"Ren, dimana kamu?"
"TOLONG SIAPAPUN, GADIS INI SEORANG MONSTER!"
Gadis?
Monster?
Tunggu-tunggu, kalau Lauren tidak ada.
Gadis? Monster?
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Lauren!
"Dasar Olivia!"
Aku dengan cepat keluar, berlari kecil menuju sumber teriakan yang sejak tadi tak berhenti dari lantai bawah.
Teriakan itu sepertinya dari seorang wanita, terlihat dari bagaimana tingginya volume suaranya. Mana suaranya cempreng lagi!
Uh, angin pagi rasanya menabraku. Aku baru sadar, aku keluar masih dengan gaun tidur.
Tidak-tidak, mari kita periksa dulu!
Kalau itu bukan Lauren, aku bisa dapat kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku.
Lagian, aku yakin seratus persen bahwa tuan putri itu tak akan melakukan hal gila seperti ingin membunuh seseor–
"Akan kubuat kau melihat bagaimana itu neraka, wanita tua."
Oke, sekarang aku melihat dia yang tengah mencekik seorang wanita paruh baya dengan sihir anginnya.
"REN, HENTIKAN!"
...____...
Teriakan Olivia berhasil memecah kerumunan. Dengan cepat, gadis itu berlari mengambil jalan untuk masuk.
Area bagian dapur cukup ramai. Sepertinya itu semua buntut dari teriakan Dell yang sangat nyaring.
Para penyewa penginapan disini rata-rata hanyalah para pendatang, pedagang dan mungkin beberapa orang yang datang hanya untuk melakukan pertemuan disini.
Tak banyak, bahkan cukup terhitung tidak ada para petualang dan pengembara yang menginap di tempat ini.
Nampaknya, karena hal itulah mereka sama sekali tak berani untuk menghentikan aksi Lauren disana.
Meski beberapa orang sudah mencoba memanggil para petualang dan keamanan sekitar, sepertinya itu akan memakan banyak waktu.
Bibi itu akan mati jika dibuat menunggu.
Sampai tak jauh dari Lauren, Olivia merasa dirinya seakan terus tertolak oleh angin yang tanpa tahu mendorongnya untuk pergi.
"Pergilah Via, aku harus segera menyelesaikan hama ini."
Olivia dapat melihat bibi disana yang sudah mengeluarkan air matanya, dengan kepala yang terus menggeleng seakan-akan melihat ajal kematiannya.
"Kau sudah menghancurkan semua yang sudah kubuat susah payah, kematian lah yang paling pantas untuk hama sepertimu."
Kubuat?
Apa yang Lauren buat dan dihancurkan oleh bibi itu?
Beberapa detik kedua matanya dipaksa untuk mencari objek yang menjadi biang masalah. Dan akhirnya, sepertinya Olivia paham apa yang dimaksud Lauren sekarang.
"DASAR GADIS BODOH!"
Setelah sangat yakin dengan situasinya, Olivia kembali menatap Lauren dengan tatapan sebal.
"APA HANYA KARENA MAKANAN YANG INGIN KAU BERIKAN KE PACARMU ITU HANCUR, KAU INGIN MEMBUNUH SESEORANG!"
"SI-SIAPA YANG KAU SEBUT PACAR!"
__ADS_1
...____...