
"Lauren, apa yang kamu pikirkan sampai-sampai melamun seperti itu?"
Lauren tersentak, membuat hampir saja kepalanya itu terbentur dengan kaca kereta kuda. "Ti-tidak apa-apa, kak Silla." Ucapnya spontan.
Silla mengangguk menanggapi, "Jangan banyak melamun, perjalanan kita masih cukup panjang." Jelasnya menambahkan.
"Bukannya kita dapat menggunakan portal untuk menuju kesana?" Lauren bertanya mengenai sihir kuno perpindahan, seperti yang biasa ia pakai.
Jika saja sihir itu dilafalkan lebih dari lima orang penyihir dengan standar kekuatan yang sama masing-masing diantara mereka, maka mereka dapat dipastikan mengirimkan benda bahkan seorang manusia sekalipun.
Sejauh yang diketahui saat ini. Untuk dapat mengirimkan rombongan Lauren yang berisikan tiga orang dalam kereta, satu orang kusir bersama empat kudanya dan enam orang ksatria beserta kuda mereka masing-masing, diperlukan paling tidak sepuluh orang penyihir.
Jika saja itu hanya untuk benda mati. Mungkin mau berapapun bendanya, selama Mana dari sang penyihir cukup dan memadai untuk terus digunakannya sihir pemindahan itu, maka lima orang saja sudah termasuk lebih dari cukup.
Tapi jika menyangkut makhluk hidup, maka beda lagi kasusnya.
Setiap makhluk hidup yang hidup dieldegard ini dipastikan memiliki sumber energi, baik itu yang sudah membentuk sebuah lingkaran Mana ataupun tidak.
Nah jika saja energi Mana yang digunakan untuk mengirim sebuah objek hidup itu kurang saja, dapat dipastikan makhluk yang memasuki portal itu tidak dapat kembali.
Istilahnya orang itu akan terjebak didalam dunia tanpa ruang, dunia tanpa sebuah ambang batas.
Bagus jika orang itu memiliki sumber Mana yang memadai, sehingga ia dapat merapalkan sihir pemindahan dan kembali ke dunianya.
Bagaimana jika yang terjebak itu orang yang sama sekali buta akan sihir? Orang yang sama sekali tak pernah mengetahui mengenai kebangkitan lingkaran Mana?
Dapat dipastikan ia akan mati didalam ruang hampa itu.
Yah, cukup mengerikan.
Karena masalah inilah, para masyarakat biasa kadang lebih memilih untuk menempuh sebuah perjalanan dari pada harus menyewa seorang penyihir untuk membuka portal untuk sebuah perjalanannya.
Selain harganya yang terbilang cukup mahal untuk satu perjalanan, portal juga tidak menjamin keselamatan seseorang.
Memang lebih baik melakukan perjalanan saja, lagi pula itu cukup menyenangkan mengingat bagaimana sensasinya ( ╹▽╹ )
"Kita nantinya akan melewatinya ketika sampai diluar kawasan ibu kota, tuan putri." Viana menjelaskan.
Penjelasan sedikit, orang yang bernama Viana ini merupakan orang kiriman langsung dari kekaisaran.
Wanita berambut blonde pendek dengan armor lengkap itu datang bersama dengan kereta ini, dan mengatakan bahwa ia yang akan menjaga dan bertanggung jawab atas keselamatanku hingga sampai di istana kekaisaran.
Netra coklat itu sama seperti milik Silla, tapi bedanya netra Silla yang selalu terlihat hangat sedangkan netra Viana yang selalu memancarkan aura dinginnya.
Wajah poker itu sama sekali tak pernah berubah. Bahkan sejak awal pertemuan hingga sampai saat ini yang mana sudah hampir sampai pada gerbang ibu kota, wajahnya sama sekali tak dapat satupun perubahan.
"Nikmati perjalanan anda, tuan putri."
"Pastikan untuk bersenang-senang ya disana, tuan putri!"
"Apakah sudah saatnya tuan putri kami untuk pergi keluar?"
"Bodoh! Kau kira tuan putri siapamu?!"
"Tuan putri, tolong jaga kesehatan disana!"
Beberapa prajurit penjaga gerbang menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan sang putri sembari menunggu gerbang besar ibukota terbuka, diantara mereka juga sempat beradu argumen dengan ksatria yang ikut mendampingi rombongan Lauren.
Memang seluruh prajurit yang ada diibu kota ini cukup dekat dengan Lauren, yah mau bagaimanapun tuan putri satu ini sering sekali membantai mereka ketika sedang beradu pedang.
"Tentu saja! Oh iya, aku pastikan akan membawakan kalian beberapa oleh-oleh ya paman-paman sekalian!"
"Kami akan selalu menantikannya, tuan putri!"
Lauren terlihat memberikan salam perpisahan lewat jendela. Tepat setelah Lauren masuk, kini gantian Silla yang terlihat mengeluarkan kepalanya lewat jendela.
__ADS_1
"KALIAN! TUNGGU PENDERITAAN KALIAN KETIKA AKU KEMBALI NANTI!"
Setelah berteriak seperti itu, Silla kembali memasukkan kepalanya dan dengan segera menutup jendela kereta kuda. Senyuman yang dipasangnya sama sekali tidak menggambarkan apapun.
Entah karena penasaran atau apa, Lauren mulai tergerak untuk bertanya. "Kak Silla, untuk apa peringatan tadi?"
"Tidak, anak kecil tidak boleh tau."
Oke, kita dapat menganggap Silla aneh sekarang.
...___...
"Tuan putri, harap bersiap karena kita akan segera melewati portal yang sudah disiapkan."
Ucapan Viana menarik minat Lauren untuk melihat sekitar. Dari jendela kereta kudanya, gadis itu dapat melihat sekumpulan orang dengan jubah dan masing-masing tongkat ditangannya.
Ada beberapa yang mengenakan tongkat panjang dan ada juga yang mengenakan tongkat pendek. Tapi yang pasti, disetiap ujung dari setiap tongkat terdapat sebuah batu Mana.
Fungsi dari batu Mana yang pasti yaitu untuk membantu jumlah energi sihir yang harus seseorang keluarkan untuk sihirnya, sekaligus pemasti agar sebuah sihir dapat terbentuk tanpa adanya sebuah kesalahan.
Yah bagiku benda seperti itu seperti mainan anak-anak.
Senyuman tipis Lauren terbentuk tak kala melihat para penyihir itu mulai merapalkan mantra mereka secara bersamaan.
"DENGAN MEMINJAM KEKUATAN DARI SANG PENGUASA YANG AMAT PERKASA, YANG MENGUSAI BERBAGAI MACAM BENTUK ELEMEN DI DUNIA!"
"SIHIR KUNO : PEMINDAHAN!"
Setelah perapalan itu selesai, terbentuk sebuah gerbang hitam berbentuk bulat yang timbul dari lingkaran sihir besar yang terlihat membentuk ditanah.
Bersamaan dengan perintah langsung dari Viana, rombongan Kerajaan Celestine sudah mulai resmi memasuki daerah kekaisaran Destegraf.
"Lauren, persiapkan dirimu."
Lauren mengangguk menanggapi perkataan Silla. Kedua netra biru laut itu dapat perlahan-lahan melihat bagaimana kereta yang dinaikinya mulai memasuki lubang hitam itu.
Yang Viana ucapankan tak sepenuhnya salah. Mungkin jika orang tanpa pengetahuan akan sihir melewati portal ini, dapat dipastikan orang itu akan mengalami mual-mual. Sama kasusnya seperti mual kendaraan ketika perjalanan.
...___...
Sepertinya memang informasi mengenai tuan putri kedua, akh tidak.
Sepertinya memang informasi mengenai tuan putri kerajaan Celestine sama sekali tidak diketahui oleh orang luar, termasuk sekelas orang penting dalam kekaisaran sekalipun.
Aku dapat melihat itu semua. Mulai dari pandangan kagum Viana ketika pertama kali melihat parasku, lalu ia yang sama sekali tidak tau akan kemampuanku.
Jika saja wanita itu mengambil kesimpulan melalui kakak dan ayahku, sudah dapat dipastikan bahwa ia mengetahui bahwa setidaknya aku mengikuti jejak salah satu diantara keduanya.
Aku memang diketahui tak pernah meninggalkan ibukota, bahkan untuk pergi keluar istana saja hampir tidak pernah.
Tidak pernah, hm untungnya hanya itu yang dapat diketahui oleh para penjual informasi.
Yah biar kutebak, pasti setelah mereka berhasil menyebarkan itu masa hidup mereka pasti tak lama lagi.
Di Celestine, kak Fall memiliki caranya tersendiri mengenai pemblokiran informasi. Dan cara itu bukan main-main, tidak pandang bulu baik itu informasi sekecil apapun.
Jadi tidak heran jika sedikit orang yang mengetahui kebenaran mengenai seluruh isi kerajaan, sangking mengerikannya penjagaan informasi.
Kak Fall bilang informasi itu segalanya dalam sebuah pemerintahan. Dengan mengetahui banyak mengenai musuh dan menjaga ketat informasi mengenai kita sendiri, dapat dipastikan kemenangan menjadi milik kita.
Memang dunia politik itu seram, baik-baik kalau aku tidak ikut-ikutan ( ꈍᴗꈍ)
"Tuan putri, selamat datang di kekaisaran Destegraf."
Viana yang kini mengagetkan ku dengan ucapan sambutannya. Meski ia masih menggunakan nada yang terkesan datar, tapi yah jika itu diucapkan secara tiba-tiba ya cukup mengagetkan.
__ADS_1
"Wah aku tidak menyangka akan sampai secepat ini, memang portal itu cukup mengagumkan."
Perpindahan kami tidak langsung menuju tengah kota ataupun tepat didepan istana, melainkan pada jalur masuk ibukota kekaisaran Destegraf. Kota seribu macam, Dilegra.
Dilegra sekarang tengah melalui pemeriksaan yang cukup ketat agar dapat masuk, jadi bagiku tidak heran jika kita tidak dapat langsung berpindah kedalam kota.
"Lauren, apa kamu masih merasa mual?"
Silla terlihat khawatir akan keadaanku. Oh iya aku sampai lupa memberi tahunya, "Ti-tidak apa-apa kak, aku sudah merasa lebih baik daripada tadi."
Kalian bingung kenapa Silla bertanya begitu dan kenapa aku menjawab begini, hm kenapa ya?
Hehehehe, coba cari tau sendiri! Putri yang imut ini tengah malas menjelaskan ♪~(´ε` )
Uh dari pada membahas itu, sekarang kami sudah tepat didepan gerbang besar ibukota Dilegra.
Beberapa kereta kuda yang sudah mengantri sebelumnya memberikan jalan pada kereta kuda yang kutumpangi. Apa karena ini kekuatan orang dalam? Ya tentu saja lah!
Mana ada yang tidak segan dengan kereta kuda kekaisaran ini! Mau bagaimana pun didalamnya terdapat seorang putri dari kerajaan yang hampir menaklukkan mereka!
Theee, aku bercanda 〜(꒪꒳꒪)〜
Entah apa yang dibicarakan kusir disana, tiba-tiba saja gerbang besar itu terbuka.
"Jadi ini ibukota kekaisaran, Dilegra."
Aku tidak pernah melihatnya secara langsung, ternyata kota ini cukup indah.
Jika Cives, ibukota Celestine terkesan elegan dengan susunan bangunan yang rapi dan semua bentuk yang nyaris mendekati model klasik kota Eropa pertengahan, maka Dilegra berbeda.
Kota ini terkesan lebih berwarna. Meski jika dilihat lebih jauh terdapat tumpang tindih yang terlalu signifikan, mereka dapat memadukan semua itu dengan baik.
Beberapa bentuk bangunannya ada yang masih mengambil konsep klasik bahkan sederhana, tapi terlihat dari beberapa bangunan megahnya sudah mulai mengambil desain futuristik.
Meski kubilang futuristik, tapi jika dibandingkan dengan konsep rumah modern masihlah sangat jauh.
Ambil saja contoh bentuk rumah pada kehidupanku sebelumnya. Jika ada, maka Cives bisa digambarkan sebagai kota Bratislava, Slovakia.
Dan Dilegra itu seperti kota Athena, Yunani.
Cukup berbeda jauh, tapi masing-masing dari mereka memiliki pesonanya tersendiri bagi setiap orang yang berkunjung.
Seperti aku saat ini. Aku cukup terpesona dengan kota ini, khususnya untuk keragamannya.
Pakaian mereka tidak harus template antara satu orang dan orang lainnya. Jika umumnya ditempat lain gaun menjadi idaman para wanita baik itu dari kalangan bangsawan maupun jelata, maka ditempat ini lebih bervariasi lagi.
Dan untuk bahasanya, yang kutahu dikekaisaran ini memiliki tiga bahasa. Pertama bahasa benua ini yang adalah bahasa resmi mereka, dan dua lagi sudah seperti bahasa daerah atau bahasa warga sekitar.
Bisa kubilang cukup unik jika membandingkan bentuk kemajuan antara kekaisaran Destegraf dan kerajaan Celestine.
Jika kemajuan kerajaan Celestine sekarang lebih didominasi oleh berbagai pertimbangan pemerintahan, maka kekaisaran Destegraf dipicu dari berbagai ide dari rakyatnya itu sendiri.
Bahkan kudengar pernah ada seorang petani yang dapat menemukan kentang sebagai pengganti gandum untuk sementara. Atas idenya itu, ia diberikan sebuah tanah atas namanya sendiri.
Oke kurasa cukup untuk itu. Sekarang, bagaimana jika kita kelilingi saja seluruh isi kota ini?
...____...
Bonus :
__ADS_1
...Lauren van Cyles Celestine...
*Contoh ilustrasi