Reinkarnasi Seorang Putri

Reinkarnasi Seorang Putri
Temanmu bodoh ya


__ADS_3

"Lauren, sudah lama ya." Leo memecah keheningan.


Kenapa aku bilang keheningan? Itu karena sekarang hanya ada kita berdua didalam ruangan!


Silla sebelumnya keluar, katanya sih untuk memberikan kita ruang agar dapat berbicara empat mata.


Tentang perkataannya mengenai ksatria tadi, aku dengan jelas menolaknya.


Aku hanya ingin memulai perjalanan yang santai, tanpa harus diawasi dan diperhatikan.


Jika ada seorang ksatria, bukannya itu sudah seperti aku diawasi? Ah aku ini sudah bukan anak kecil lagi, aku bahkan sudah bisa solo gerombolan monster!


"Iya Leo, sudah lama." Jawabku dengan senyuman.


Setelah aku menjawab seperti itu, kami kembali dilanda keheningan.


Entah kenapa, ini rasanya canggung sekali!


Uh, apa aku yang harus membuka topik pertama?


"Le–"


"Maaf jika semuanya terjadi tiba-tiba, Lauren."


Leo memotong ucapanku dan melihatku dengan raut wajah sedih, "Sepertinya kamu tidak menerimaku, ya." Lanjutnya lesu.


Ah, entah kenapa melihat wajahnya itu membuatku makin dihantui rasa bersalah.


"Kak Silla, aku tidak membutuhkan seorang ksatria!"


Kata-kata itu seakan kembali berputar di ingatanku. Penolakan keras yang kuucapkan itu nyatanya bukan untuk Leo, tapi untuk Silla.


Aku tak mau terus dianggap sebagai anak kecil, terlebih untuk Silla. Dia harus tau, aku tak bisa selamanya ada untuknya.


Kak Fall sudah mengerti tentang masalahku, tapi untuk wanita keras kepala ini? Aku sama sekali tidak tahu.


Semua orang pastinya berkembang, aku juga tidak bisa berharap bahwa ia akan selalu menjadi sekertaris kakak selamanya.


Dan untuk situasi Leo sekarang, mungkin lelaki ini tengah salah paham.


Hufh, aku harus menyelesaikan salah paham ini!


"Leo." Aku mendekap kedua pipi Leo, membuat wajah tampan itu menghadap kearah ku.


"Bukan berarti aku tidak menerimamu, aku mengucapkan itu sebelumnya hanya karena kesal ke Silla." Jelasku, berharap agar lelaki itu tidak salah paham.


"Benarkah?" Aku mengangguk dan melepaskan dekapan tanganku, kembali memberikan Leo ruangan untuk bebas.


Tinggi Leo ini cukup menyusahkan, masa aku harus sedikit berjinjit hanya untuk mendekap wajahnya!


"Kamu menjadi ksatria bukan atas perintah Silla bukan?" Pertanyaanku dijawab oleh gelengan cepat dari Leo.


Jika ku perhatikan, Leo yang ini lebih seperti anak yang takut dibenci oleh ibunya.


Padahal aku tahu bahwa ia ingin menjadi ksatria pribadiku karena keinginan sendiri, tapi entah kenapa rasanya aku ingin mengerjainya.

__ADS_1


"Tapi, bukannya kamu ingin menjadi ksatria pribadiku karena paksaan dari Silla? Itu karena perjanjian kalian berdua kan?"


Mendengar ucapanku, Leo menggeleng brutal. "Tidak!" Ucapnya.


Aku tersenyum padanya, tak tahu kenapa aku menjadi tertarik hanya untuk mendengar suaranya.


"Jadi, bisa kamu jelaskan?"


Aku menuntun Leo untuk duduk kembali disofa. Kenapa begitu? Karena lelaki ini sama sekali tak mau melepaskan genggaman tangannya padaku!


"Awalnya..."


Dari sana, aku mendengar cerita yang sama sekali tak terduga.


..._____...


"Leo, kita akan langsung berangkat."


Setelah mendengarkan seluruh cerita Leo, aku akhirnya memutuskan untuk membawanya bersamaku.


Mengingat-ingat aku dan Olivia adalah seorang gadis, jadi tidak ada salahnya membawa seorang lelaki sebagai penjaga.


"Terimakasih, Lauren."


Lagi-lagi Leo mengeluarkan senyumnya, senyuman yang entah kenapa selalu membuat diriku bergetar.


Ada apa dengan diriku ini ⁄⁠(⁠⁄⁠ ⁠⁄⁠•⁠⁄⁠-⁠⁄⁠•⁠⁄⁠ ⁠⁄⁠)⁠⁄


"Po-pokoknya, kita harus cepat!"


Apa-apaan dia itu, memang ada yang lucu?!


Akh, mengesalkan!


"Ren, ada apa?"


Sedang asik menatap taman, Olivia tiba-tiba saja menyentuh pundakku dari belakang. Rasa terkejut tak dapat ku tutupi, ah sejak kapan penjagaanku menjadi melemah seperti ini.


"Olivia, aku ingin bercerita."


Tak tahu apa yang merasuki diriku, kata-kata itu keluar dari bibirku.


Dapat kudengar Olivia yang terkekeh geli di sampingku, entah kenapa kekehannya itu kembali mengingatkanku kepada Leo.


"Apa yang lucu?!" Seruku.


Olivia kini malah tertawa. Gadis itu maju dan mencubit kedua pipiku, "Apa yang terjadi denganmu Ren? Kenapa sejak tadi pipi ini terus memerah?" Ucapnya disertai tawa.


A-apa?!!


Apa sejak tadi pipiku ini terus memerah?!


"Ma-mana ada! I-ini hanya karena panas!" Aku mulai mengibas-ibaskan telapak tanganku didepan wajah, "Wah, hari ini sangatlah panas!"


Olivia melepaskan cubitannya, kemudian mulai menatapku dengan matanya yang sudah membentuk bulan sabit.

__ADS_1


"Katanya mau cerita?" Tanyanya.


Aku menatap Olivia, dapat kulihat ia yang juga membalas tatapanku.


Apa harus ku ceritakan? Tentang aku dan Leo?


Ah, aku merasa tak tahu kenapa tidak bisa rasanya memendam ini semua.


"Vi-via."


Eh, kenapa aku malah jadi gugup?


Olivia mengangguk, ia mundur dan berdiri tepat di sampingku.


"Iya Ren." Ucapnya.


Sekarang, bagaimana aku memulainya?


"Aku punya teman, dan temanku itu bertemu dengan teman lamanya setelah sekian lama tak bertemu."


"Temanmu itu laki-laki atau perempuan?"


"Pe-perempuan."


Olivia beroh ria, dan memintaku untuk melanjutkan.


"Dan ketika temanku itu bertemu dengan teman lamanya, entah kenapa ketika ia berbicara rasanya cukup canggung."


Aku merasakan Olivia yang kembali terkekeh, tapi ia menutupi itu semua dengan tangannya.


"La-lanjutkan." Ucapnya.


Ada apa dengannya ini?!


"Temanku bilang ketika ia melihat senyuman teman lamanya, rasanya seperti perutnya dipenuhi oleh banyak kupu-kupu."


Olivia kini sudah tak dapat lagi menutupi tawanya, gadis itu sudah seperti orang gila yang tertawa lepas.


"Sekarang apa yang lucu!"


Olivia mengambil bulir air matanya, bahkan tawanya itu sampai mengeluarkan air mata.


Sebenarnya apa sih yang lucu!


"Bodoh sekali ya teman mu itu, Ren." Olivia mulai mengatur kembali nafasnya, nampaknya efek tawa berlebihan itu tidak baik.


"Apa teman lamanya temanmu itu lelaki tampan?"


Aku mengangguk.


Leo itu tampan bukan? Yah untuk apa aku berbohong, bocah itu tumbuh menjadi lelaki yang tampan.


"Sepertinya teman mu itu mulai menyadari perasaannya."


...______...

__ADS_1


__ADS_2