
Kimi masih cemberut saja,sampai Racel dan James pergi.
"Sayang kamu kenapa sih?"tanya Lexi bingung melihat istrinya cemberut begitu.
"Kakak bohong sama aku semua orang bohong sama aku aku benci?!"jaawabnya ketus.
"Bohong apaan sih hem?"Lexi berusaha sabar.
"Kata semua orang bilang hanya nama ku yang langsung kakak ingat tapi ternyata tidak nama tante itu juga selalu kakak ingat"Kimi mode cemburu.
Lexi tertawa melihat istrinya cemburu.
"Oh astaga istri ku sedang cemburu rupanya"Lexi mencubit hidung Kimi karena gemas.
"Asal kau tahu ya...awalnya aku juga lupa dengan nama dia,tapi karena dia teman baiknya Tari maka aku jadi ingat namanya,sudahlah ayo dong jangan cemburu begitu sayang"bujuk Lexi.
"Masa sih?"tanya Kimi polos.
"Iya sayang cuma nama kamu yang langsung melekat di fikiran ku,saat tahu nama mu aku tak pernah lupa sedikit pun"ucap Lexi yakin.
Kimi lalu tersenyum kembali saat mendengar ucapan suaminya.dan mereka pun berjalan kembali memghampiri wahana yang akan mereka naiki.
Namun keceriaan itu tak berlangsung lama ketika ada seseorang berjaket hitam dan bertopi membidik senapan laras panjang dari ketinggian ke arah Lexi.
Kimi yang menyadari nyawa suaminya dalam bahaya langsung mendorong tubuh Lexi,senjata yang di gunakan oleh orang itu kedap suara hingga tidak menimbulkan kebisingan di taman bermain.
Jelb...
Cres....
Bruk....
Kimi terjatuh dengan luka di dadanya,peluru menembus dadanya.
Lexi melihat itu langsung panik,melihat istrinya langsung tak sadarkan diri.
"Akh sial...gagal"umpat orang yang mengincar Lexi dari ketinggian disana.
Lexi mencari kesekeliling siapa yang telah menembak,tapi tak ketemu.
Hingga akhirnya dirinya langsung menggendong tubuh Kimi dan membawanya ke mobilnya untuk di bawa ke rumah sakit pribadinya.
"Sayang....bertahanlah sayang...."ucap Lexi cemas.
Dia pun segera mengubungi Ricar.
Dan Rey di minta Lexi untuk mencari orang yang telah menembak istrinya melalui rekaman cctv yang berada di sana.
"Ricard segera siapakan operasi istri gue kena tembak"ucap Lexi tanpa basa basi lagi.
Lexi mengendari mobil bagai cahaya,kecepatan maximal dia gunakan untuk mengendarai mobil tersebut.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan dirinya sangat kesal karena bisa kecolongan seperti ini,dirinya semakin khawatir saat melihat darah sudah membasahi semua pakain bagian depan milik istrinya.
"Sayang bertahanlah ku mohon"ucap Lexi lirih.
Baru seminggu di tinggal ibunya sekarang melihat istrinya di penuhi darah bagaimana hatinya tidak menjadi pilu.
"Akh...sial kenapa mobil ini lama sekali jalannya"Lexi kesal dan memukuli stri mobil.
Hingga tak lama mobil pun sampai di area rumah sakit.
Dan Lexi langsung berteriak untuk meminta pertolongan kepada petugas yang ada disana untuk membawa istrinya masuk.
Tubuh Kimi segera di pindahkan ke brankar dan langsung di bawa ke ruang operasi,disana Ricard sudah bersiap dengan baju operasinya.
"Card gue mohon selametin istri gue"Lexi memohon dengan iba.
"Saya akan melakukan yang terbaik tuan"ucap Ricard.
Lexi menuggu operasi di luar ruangan operasi.dirinya terus menyesal dan berdoa agar tak terjadi sesuatu yang fatal dengan Kimi.
Ricard berusaha di ruang operasi dia berusaha mengeluarkan proyektil peluru dari dada Kimi,namu dia menemukan bukan hanya peluru yang menembus dada Kimi tapi sepertinya juga racun masuk kedalam tubuh Kimi.
"Astaga pasti pelurunya di lapisi racun"gumam Ricard saat melihat luka di dada Kimi seperti luka terkena racun mematikan.
Ricard langsung mencari obat penawar dan langsung menyuntikannya ketubuh Kimi dan mengoperasi Kimi lagi.
Namun saat di tengah operasi layar mesin menunjukan garis lurus,Ricard mulai panik.
Ricard berusaha menekan bagian dada Kimi memberikan oksigen agar wanita itu bernafas kembali,air mata Ricard pun mulai membasahi wajahnya.dia khawatir sekali saat ini.
"Ayo nyonya...ayo...tuan Lexi menunggu anda nyonya ku mohon bernafaslah lagi"Ricard terus berusaha memacu jantung Kimi bahkan dengan alat pemacu jantung.
Peluru sudah berhasil dia keluarkan dari tubuh Kimi tapi Kimi masih tidak bernafas juga.
Jergerk...jegrek...
Bunyi alat pacu jantung saat dia tempelkan dan di lepaskan dari dada Kimi,hingga tubuh wanita itu terangakat beberapa kali ke atas karena tarikan alat tersebut,namun Kimi tak bernafas juga.
"Oh astaga nyonya ku mohon bernafaslah"Ricard seolah putus asa.
Dia sudah melakukan semampunya agar Kimi kebali bernafas dan jantungnya berdetak kembali namun tetap saja Kimi tak bereaksi sedikit pun.
"Ya tuhan...tolonglah aku selamatkan lah wanita ini dari masa kritisnya"ucap Ricard lirih.
Bahkan ini bukan masa kristis lagi tapi nyawa Kimi sudah melayang.
"Hiks...nyonya ku mohon nyonya"Ricard bersedih bukan karena takut di hukum Lexi tapi karena dia memang menyangi Kimi sudah seperti keluarganya sendiri.
Namun menangis pun sia-sia karena Kimi tak bereaksi sama sekali detak jantungnya tak kembali mesin masih menunjukan garis lurus.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu ruang operasi di buka akhirnya oleh Ricard,dia masih mengenakan baju operasi lengkap bahkan sarung tangan penuh darah pun masih dia gunkan.
Lexi langsung bertanya padanya namun Ricard menunjukan wajah yang tak di harapakan Lexi.
"Jangan bilang elu...Card jangan becanda di saat begini Card nggak lucu?!"Lexi marah marah saat melihat ekspresi kesedihan dari wajah Ricard.
"Maaf tuan tapi aku sudah berusaha sekamsimal mungkin,tapi nyonya sudah menyerah"ucap Ricard lirih.
"Akh...dasar bodoh lu"Lexi langsung merangsek masuk keruangan operasi dan melihat kondisi istrinya yang tak berdaya,kapas berdarah dimana-mana,bahkan di mulut istrinya sudah terpasang alat untuk membantunya bernafas.
Lexi menghampiri tubuh istrinya yang sudah berlumuran darah tak karuan.
"Hiks...sayang...maafakan aku,ku mohon BANGUNLAH!?"Lexi berteriak dia akhir katanyanya dia benar-benar tak sanggup bila harus di tinggalkan Kimi secepat ini.
Prang...brak...
Lexi melempar semua alat yang ada di meja operasi dirinya mengamuk di ruangan tersebut saat melihat istrinya tak bereaksi ketika,dia panggil.
"AAAAAAA sialan bego...elu bego Lexi...bego banget"Lexi berteriak dan memarahi dirinya sendiri.
Dia menyesal karena tidak bisa melindungi istirnya hingga Kimi meregang nyawa di meja operasi karena menyelamatkannya dari incaran musuhnya.
"Tuan...tuan...tenanglah"Ricard berusaha menenangkan Lexi yang sudah kalang kabut di ruang operasi.
Lexi mendorong tubuh Ricard hingga Ricard mental membentur dinding ruangan tersebut.
"Elu nggak tahu gimana rasanya jadi gue,wanita satu-satunya selain ibu gue yang gue cintai di dunia ini,pergi karena gue hiks...dasar bego...bego..."Lexi memarahi dirinya sendiri dan terus menyalahkan dirinya sendiri hingga dia melukai dirinya sendiri dengan pisau yang ada disana.
"Tuan...tuan tenanglah Tuan...nyonya pasti tidak akan senang saat melihat anda seperti ini"Ricard mengambil pisau operasi yang sedang di pegang Lexi dengan perlahan.
Dan saat itu juga Rey datang di ambang pintu,melihat keadaan Lexi dengan tangan berdarah dan terluka,melihat keadaan ruang operasi yang sudah sangat kacau,dia sudah bisa menebak apa yang terjadi disana.
Lexi langsung menatap tajam ke arah Rey.
"Tuan..."ucap Rey ragu.
"Siapa...siapa yang berani nembak gue diam-diam"ucap Lexi dingin tangannya sudah mengepal kencang bahkan tak dirasakannya luka yang ada di tangannya.
"Anda pasti tak akan percaya tuan"ucap Rey ragu.
"Anjing buruan ngomong sialan nggak usah kelamaan"Lexi memaki Rey sangking kesalnya saat ini.
"Itu...biar anda lihat sendiri rekaman cctv yang saya bawa"Rey menunjukan rekman cctv yang ada di ponselnya.
Lexi melihat itu dan langsung melemparkan ponsel ke dinding hingga pecah.
"Anjing...bangsat beraninya main belakang dasar pengecut,bawa orang itu ke markas biar gue yang bunuh"ucap Lexi benar-benar sangat marah.
"Baik Tuan"Rey langsung menjalankan perintah Lexi.
Dan Lexi pun berjalan keluar ruangan dengan langkah dan hati yang sudah di penuhi amarah,bahkan tak ada lagi rasa bersedih di hatinya,seolah hatinya sudah mati bersama dengan kepergiaan Kimi.
__ADS_1
...🦋🦋🦋🦋🦋...