Runtuhnya Benteng Hati Sang Mafia

Runtuhnya Benteng Hati Sang Mafia
Aku Sih Siap Tapi Kamu?


__ADS_3

Lexi melangkah dengan tergesa menuju ruang ICU rumah sakitnya,dia lalu masuk keruangan tersebut di tatapnya wajah istrinya yang seolah terlelap tidur di sana.


"Sayang...maafkan aku,pasti kamu kesakitan ya..."ucapnya lirih seolah lupa beberapa waktu yang lalu tangannya sudah menumpahkan banyak darah.


"Ricard..."panggil Lexi.


"Iya tuan"Ricard mendekat pada Lexi.


"Buang nih baju, bawa baju yang baru gue nggak mau ngedampingin istri gue kaya penjagal begini"ucapnya asal.


Padahal memang anda habis menjagal astaga tuan...kepribadian anda sungguh berbeda bila sudah berhubungan dengan nyonya muda.


Batin Ricard.


Ricard pun menuruti perintah Lexi dia membuang baju bernoda darah Tersebut dan mengambilkan pakaian ganti yang baru untuk di gunakan Lexi.


"Ini tuan pakaian anda"Ricard memberikan kemeja berwarna biru pada Lexi.


"Kapan dia akan sadar?"tanya Lexi saat sedang memakai pakaiannya.


"Saya tidak dapat memastikan tuan,nyonya koma luka yang di deritanya sangat serius,selain luka tembak nyonya juga terkena racun yang telah di lumuri di dalam peluru tersebut"jelas Ricard.


"Kita hanya bisa berdoa berharap nyonya lekas sadar dari komanya"jelas Ricard lagi.


Wajah Lexi langsung terlihat sendu menatap wajah istrinya.


"Sayang...cepatlah sadar...bukan kah kau berjanji pada ku akan selalu menemani ku dan selalu ada di sisi ku hem..."ucapnya lembut.


Mesin yang ada diruangan tersebut begitu nyaring terdengar saat ini,suara pip...pip...pip... yang menunjukan garis tak beraturan di layar monitornya,saat ini menjadi suara yang menemani Lexi di ruangan tersebut.


Lexi tetap tinggal di ruangan tersebut meski itu ruang ICU tapi pengecualin bagi Lexi karena ini rumah sakitnya sendiri,rumah sakit yang sengaja dia dirikan untuk dirinya dan rekan mafianya bila terjadi masalah saat bertarung di luaran sana.


Lexi selalu setia menemani istrinya dia tak pernah beranjak dari sana kecuali saat dirinya ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan membuang sisa makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuhnya.


Hingga waktu terus berlalu.


Tak terasa 2 bulan sudah Kimi masih juga belum bangun dari tidur panjangnya.


Dan selama itu juga Lexi menyerahkan urusan bisnisnya pada Rey,sesekali Rey memberikan laporan kepada Lexi di rumah sakit,bahkan bosnya itu saat ini sudah tak karuan wajahnya.


Rambut halus tumbuh tak beraturan di wajahnya bahkan rambutnya yang biasa rapih saat ini berantakan dan mulai memanjang,sungguh Lexi sangat kacau saat ini.


Malam ini Lexi yang kelelahan tertidur di sofa yang tersedia di ruangan tersebut,dan samar-samar dia seperti mendengar suara wanita memanggilnya.


"Kak...kak...kak Lexi"suara wanita serak terdengar samar-samar di telinganya.


Lexi berusaha membuka matanya untuk memastikan asal suara tersebut,saat membuka mata dia langsung menatap ke arah ranjang istrinya melihat wanita itu tersenyum kepadanya.


Lexi mengerjapkan matanya dan mengusap matanya kasar,seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya,Kimi terbangun dan tersenyum padanya.


Lexi langsung bangkit dari sofa dan mendekat pada ranjang Kimi.

__ADS_1


"Sayang...kau sudah bangun?"tanyanya lirih.


Kimi hanya tersenyum dirinya saat ini masih belum bisa banyak bicara.


"Oh...tuhan...akhirnya ke ajaiban mu datang"ucap Lexi senang.


"Ricard...Ricard"Lexi memanggil Ricard dari tombol pemanggil yang ada di ruangan tersebut.


"Ya tuan ada apa?"tanya Ricard khawatir.


"Cepet lu kesini Istri gue udah bangun"ucapnya senang.


Ricard nampak lega karena Kimi akhirnya bangun juga setelah sekian lama tertidur.


Ricard langsung berjalan cepat ke ruang ICU tersebut dan memeriksa kondisi Kimi saat ini.


"Nyonya...apa yang anda raskan saat ini?"tanya Ricard lembut.


"Aku merasa pusing dokter"ucap Kimi pelan.


Lexi nampak panik mendengar keluhan istrinya.


"Tuan jangan khawatir nyonya hanya pusing karena tertidur sangat lama"jelas Ricard.


Lexi langsung terlihat lega.


Kimi melihat ke arah suaminya yang berpenampilan sangat kacau,Kimi mengulurkan tangannya agar Lexi mendekat padanya.


"Ada apa sayang?"tanya Lexi lembut.


Jadi Kimi ingat dan tahu pelaku penembakan di taman hiburan itu adalah papahnya sendiri.


"Aku tak tahu alasanya apa ingin mencelakai mu"ucapnya lagi.


Lexi langsung terdiam saat mendengar istrinya berbicara.dia sungguh sangat tidak suka bila Glen di maafkan begitu saja.


"Sayang...bisa kita bahas ini lain kali,saat ini yang terpenting adalah kesehatan mu dahulu,kau tertidur sangat lama"ucap Lexi lembut.


"Memang berapa lama aku tertidur?"tanya Kimi polos.


"Dua bulan sayang"jawab Lexi lembut.


Kimi hanya tediam saja seolah dia masih tak percaya dirinya tidur selama itu.


Hingga pagi pun menjelang,seorang perawat membawakan sarapan pagi untuk nyonya mudanya.


Semangkuk bubur dengan bertopingkan ayam suir dan juga kuahnya.


"Sayang makan dulu ya..."ucap Lexi saat menyendokan bubur tersebut dan menyodorkannya ke depan mulut Kimi.


Aroma bumbu dari kuah bubur sungguh menyeruak di indera penciumannya,aroma yang seharusnya menggoda dan menggugah selera tapi saat itu aroma itu seketika membuat perut Kimi mual di kala ia menghirup aroma tersebut.

__ADS_1


"Huek..."Kimi langsung menutup mulutnya menahan muntah.


Lexi segera menaruh sendok dan menyingkirkan mangkok bubur dari hadapanya dan menaruhnya di nakas.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Lexi panik.


"Aku mual kak nggak tahu kenapa huek...huek...aaaa kak singkirkan bubur itu aromanya sungguh membuat ku ingin muntah"keluh Kimi.


Lexi segera menyingkirkan mangkok bubur itu keluar dari ruangannya dan segera memanggil Ricard dan Bianca untuk memeriksa kondisi istrinya.


Ricard dan Bianca langsung berjalan cepat menuju ruangan Kimi.


Bianca langsung memerika kondisi Kimi.dia lalu menekan pelan bagian perut Kimi,dan meminta Ricard mengambil alat di ruangan lain,Lexi panik.


"Istri gue nggak kenapa-kenapa kan?"tanya Lexi panik.


"Sepertinya tidak tuan kita tunggu sebentar tuan"jelas Bianca.


Lexi berharap cemas dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Tak lama Ricard datang mendorong sebuah alat besar bersama dengan beberapa perawat,sebuah alat seperti komputer dan penyedot debu langsung di pasang di ruangan tersebut,Lexi tak mengerti alat apa itu dia hanya terdiam dan memperhatikan semuanya sibuk dengan alat tersebut.


"Nyonya kita periksa dulu ya karena saya takut salah memprediksi"Bianca mengoleskan gel dingin di bagian perut Kimi dan alat seperti penyedot debu itu pun di tempelkan di perut Kimi dan tak lama muncul gambar di layar,sebuah gambar bergelombang dan seolah ada benda kecil disana.


Lexi melihat itu dia panik.


"Itu apa?ada apa di perut istri gue?!"tanyanya panik.


Bianca dan Ricard tersenyum.


"Kenapa elu berdua senyum-senyum nggak jelas begitu jelasin sama gue sekarang?!"Lexi marah.


"Tuan...nyonya hamil dan ini calon anak anda"jelas Bianca akhirnya,dia takut bika terlalu lama menjelaskannya tuannya ini bisa membuat kacau ruangan.


Lexi bengong.


"Hamil?kok bisa bukannya waktu itu dia di suntik penunda kehamilan ya sama elu?apa elu salah kasih obat?"tanya Lexi beruntun pada Bianca.


"Tuan meski saya sudah memberikan suntikan tersebut namun sepertinya saat anda melakukanya, itu saat masa subur nyonya dan anda berhasil membuahi ovarium nyonya saat itu,jadi obat yang saya berikan jadi tidak berekasi dengan baik"jelas Bianca.


"Singkatnya kita salah seharusnya di suntik dulu baru anda suntik tuan,tapi.kejadian waktu itu kan tidak terncana jadi ya...gitu deh...."jelas Ricard santai.


Lexi masih begong Kimi melihat wajah suaminya yang nampak kebingugan.


"Apa kakak tidak siap menjadi ayah"celetuk Kimi.


Lexi langsung bangun dari lamunannya.


"Aku sih siap tapi kamu?"tanya Lexi balik.


"Aku pun mau nggak mau harus siap"ucap Kimi tegas.

__ADS_1


Lexi mengusap wajahnya kasar karena dia masih tidak percaya dengan kenyataan ini,istri kecilnya telah mengandung anaknya saat ini.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2