Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 10. Maksud Mona


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil yang melaju santai membelah jalanan Busan, Morgan dan Mona tengah berbincang ringan sambil menikmati perjalanan. mereka berencana kemnali ke Seoul dan menyiapkan beberapa hal terkait oernikahan Amy dan Jordan.


"Sayang, kenapa kamu bersikukuh untuk meminta Jordan menikah dengan Amy?" tanya Morgan seraya fokus menatap jalanan di hadapannya.


"Amy itu tambang emas baru untuk kita. Kamu ingat dulu ketika dia membeli rumah? Aku tanpa sengaja mengintip saldo di rekening gadis itu. Dia memiliki sejumlah tabungan yang fantastis! Terlebih lagi sekarang ini dia merupakan seorang penulis yang sedang naik daun. Aku rasa tidak akan ada ruginya menikahkan Jordan dengan Amy!" Mona menyeringai seraya melirik ke arah Morgan.


Sebuah senyum licik kini terukir di bibir Morgan. Dia melepaskan satu tangan dari roda kemudi untuk mengusap puncak kepala Mona. Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu pun tersenyum.


"Aku tidak salah memilihmu menjadi istriku." Morgan tersenyum penuh arti, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.


Seminggu berlalu setelah kejadian mengejutkan itu, kini Amy sedang duduk di depan meja rias. Di belakangnya ada Iris yang sudah siap dalam balutan gaun pengantin berwarna putih dengan kerlip berlian hampir di seluruh bagiannya.


"Amy, kamu yakin? Kamu masih bisa menolak semua ini. Jangan mau lagi ditindas oleh orang lain!" Iris mencoba mengingatkan sahabatnya itu.


Terdengar hela napas panjang keluar dari bibir Amy. Gadis itu akhirnya beranjak dari kursi kemudian berjalan perlahan dan duduk di samping Iris. Dia menatap sendu ke arah Iris.


"Aku tidak bisa berkutik kali ini, Iris. Pihak penerbit mengancam jika sampai ada hal buruk yang terjadi kepadaku, maka mereka akan mengakhiri kontrak secara sepihak. Selain itu aku akan dikenakan denda karena dianggap sebagai pihak yang bersalah." Bahu Amy merosot dan tatapan gadis itu kini menatap ujung gaunnya.


"Hei, lihat aku." Iris menarik dagu Amy kemudian tersenyum tipis.


Mata Amy mulai berkaca-kaca. Rasa sesak dalam dada kini mengimpit sanubarinya. Menjadi sebatang kara di dunia, ternyata bukanlah hal yang mudah.

__ADS_1


Sejak kecil Amy selalu merasa sepi di tengah keramaian. Tidak ada tempat untuk berbagi cerita. Ketika mendapatkan seseorang yang bisa diajak menjadi teman berbagi, mendadak dia meninggalkan dunia untuk selamanya.


"Kamu bisa menolak apa pun yang tidak kamu sukai. Masih ada waktu untuk membatalkan pernikahan ini. Aku akan membantumu jika kamu tidak menginginkannya."


"Kamu tidak mengerti bagaimana dilema yang aku rasakan sekarang, Iris." Amy menghela napas kasar seraya tersenyum kecut.


"Aku dikenal oleh banyak masyarakat Korea Selatan khususnya Seoul sebagai penulis berbakat. Jika kabar pernikahan sudah tersebar dan tidak terlaksana karena aku kabur, apa kata dunia?"


"Inilah penyakitmu sejak dulu! Kamu terlalu memedulikan ucapan orang lain!"


Selisih pendapat itu berlangsung hingga asisten Lily masuk ke dalam ruangan. Dia memberitahukan bahwa prosesi pernikahan akan segera dimulai. Dua perempuan itu sama-sama akan memulai kehidupan pernikahan.


Akan tetapi, perasaan mereka bertolak belakang. Iris bahagia dengan pernikahan yang ada di depan mata, sedangkan Amy merasa kecewa dan buruk atas pernikahan yang akan berlangsung beberapa menit lagi.


"Maaf," ucap Jordan kepada Amy yang duduk di dalam mobil setelah acara selesai.


"Apa ada yang perlu dimaafkan? Terima kasih sudah membantuku semakin masuk ke dalam masalah karena pernikahan ini." Amy sama sekali tidak menoleh ke arah Jordan.


Hati Jordan tersentil mendengar ucapan Amy. Dia sebenarnya juga tidak mau hal ini terjadi. Seharusnya Jordan langsung pergi saja dari rumah Amy dan melupakan kenangannya di rumah itu.


Namun, Jordan masih berat melepaskan rumah dengan seribu kenangan itu. Suasana di dalam mobil hening. Malam itu mereka memutuskan untuk menginap di rumah Jay dan Iris.

__ADS_1


Semalaman Amy hanya bisa meringkuk di atas ranjang tanpa bisa memejamkan mata. Semangatnya mendadak luntur. Pekerjaannya terbengkalai dan batas untuk pengumpulan naskah kepada editor semakin dekat.


"Amy, kenapa pintumu tidak dikunci?" tanya Iris yang masih terjaga juga di tengah malam.


Amy yang tadi berbaring, kini mulai bangun dan menyandarkan punggung pada dasbor ranjang. Iris kembali menutup pintu dan melangkah mendekati Amy. Pengantin baru itu mendaratkan bokong ke atas ranjang kemudian menggenggam jemari sahabatnya tersebut.


"Kamu harus menjalani pernikahan ini dengan bahagia karena ini sudah menjadi pilihanmu. Meski awalnya berat, aku yakin seiring berjalannya waktu akan timbul rasa nyaman dan cinta di antara kamu dan Jordan. Kamu ingat bagaimana aku dan Jay bisa sampai menikah, bukan?" Iris tersenyum kecil kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Amy.


"Ketika aku merasa sedang menjalani kehidupan sebagai Lily ... aku bertemu Jay saat hendak mengubah diri menjadi lebih baik untuk balas dendam. Setelah keinginanku terlaksana, aku kembali ke tubuh asliku. Ketika aku menemui Jay sebagai Iris, dia langsung mengenaliku karena memang merasakan getaran cinta yang sama seperti ketika dia bersama Lily." Iris menerawang mengingat kembali bagaimana dirinya bisa bersama Jay hingga saat ini.


"Setelah ini, aku akan kembali ke Paris bersama Jay. Jika ada hal yang sekiranya mengganggumu, segera hubungi aku. Mengerti?"


Mendengar ucapan Iris, semakin membuat Amy bersedih. Dia harus kembali menjalani semua sendirian. Tidak ada lagi orang yang bisa berpihak kepadanya.


Di sisi lain, dua orang saudara laki-laki sedang menyeruput soju di balkon lantai dua apartemen. Mereka saling bertukar cerita mengenai pahitnya hidup masing-masing. Semilir angin dingin menerpa wajah hingga membuat muka keduanya tampak semerah tomat.


"Aku tidak tahu apa sebenarnya yang direncanakan ibu. Sebenarnya aku kasihan dengan Amy. Tapi, untuk sekarang hanya pernikahan ini yang bisa menyelamatkan Amy dari kehancuran kariernya. Aku berencana membuat beberapa perjanjian dengannya. Jika kontrak berakhir, semoga kariernya sudah lebih stabil dan pihak penerbit tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan." Jordan kembali menenggak soju melalui mulut botol berwarna hijau itu.


Jarum jam terasa berputar jauh lebih lama malam itu. Amy sama sekali tidak bisa memejamkan mata sedikit pun karena merasa tertekan. Setelah matahari terbit, Amy bersiap untuk kembali ke Busan.


Setelah berpamitan, Amy dan Jordan pun kembali ke Busan. Keduanya hanya diam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan untuk memecahkan keheningan.

__ADS_1


Setelah melakukan perjalanan selama 4 jam, akhirnya mereka sampai di Busan. Suasana terasa berbeda sekarang. Sebelumnya Amy dan Jordan sedikit lebih akrab, tetapi sekarang suasana jauh lebih canggung dari biasanya.


"Kenapa kalian ada di sini?" Jordan terbelalak begitu pintu rumah terbuka lebar.


__ADS_2