
Amy menunggu Jordan di depan pintu bangunan penjara. Jantungnya berdegup kencang dengan irama tidak beraturan. Dia berulang kali menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
Perempuan itu berulang kali mengusap perutnya yang mulai membuncit. Gerak halus pun kerap dirasakan oleh Amy. Ada rasa sedih yang menyelusup ketika momen pertama bayinya terasa bergerak, tetapi Jordan tidak ada di samping mereka.
"Aku sudah menelepon pihak Lapas, katanya Jordan akan keluar sekitar 15 menit lagi." Mona memasukkan ponsel, kemudian memegang bahu sang menantu.
Amy hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. Ibu hamil itu kembali menatap pintu lebar yang ada di hadapannya. Dia terus mengusap lembut perutnya yang tertutup daster berbahan katun.
"Kita sebentar lagi akan bertemu dengan ayahmu, Nak. Jantung ibu berdegup begitu kencang sekarang!" Amy bermonolog, seakan sedang mengobrol dengan buah hati yang masih ada di dalam perutnya.
Mereka berdua menunggu dengan sabar. Mona berulang kali meminta Amy untuk masuk lebih dulu ke mobil. Namun, anak mantunya itu menolak.
Amy menolak dengan alasan takut terlewat momen pertama di mana Jordan kembali menghirup udara bebas. Akhir-akhir ini memang Amy cepat sekali merasa lelah, sehingga mudah tertidur di mana pun dalam posisi apa pun.
Setelah hampir 15 menit menunggu, perlahan pintu penjara terbuka. Seorang petugas penjara keluar diikuti oleh langkah kaki seorang laki-laki. Akan tetapi, bahu Amy merosot ketika mengetahui bahwa yang keluar bukanlah suaminya.
"Yah, ternyata bukan ayahmu, Sayang." Ujung bibir Amy melengkung ke bawah.
Amy pun balik kanan dan melangkah menuju mobil, menyusul sang mertua yang sedari tadi duduk di sana. Akan tetapi, ketika baru dua langkah berjalan, terdengar Jordan memanggil namanya.
Mendengar suara sang suami, membuat Amy mematung. Semua terasa seperti mimpi. Selama dalam masa tahanan, dia seakan dilarang bertemu dengan Jordan. Setiap hendak mengunjungi sang suami, pasti ada saja alasan dari pihak penjara agar dia tidak bisa bertemu dengan Jordan.
Amy perlahan memutar tubuhnya. Pandangannya mulai kabur karena air mata yang hampir meleleh. Dari kejauhan Jordan sudah berada di luar pintu yang sudah tertutup, dan sedang bersiap berlari ke arahnya.
"Berhenti!" teriak Amy ketika Jordan hendak melangkah.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" tanya Jordan sambil mengernyitkan dahi.
"Ulangi! Ulangi lagi!" seru Amy kesal.
Jordan yang belum mengerti maksud dari sang istri hanya bisa menggaruk kepalanya. Lelaki itu bingung apa yang harus diulangi. Sampai akhirnya Amy menjelaskan apa yang dia minta untuk diulangi.
"Aku harus melihat momen pertama kamu keluar dari penjara! Mulai dari petugas membuka pintu hingga kami menampakkan wajah melalui sela pintu yang dibuka!"
Jordan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar keinginan aneh istrinya tersebut. Namun, tawanya berhenti seketika saat melihat Amy melipat lengan di depan dada seraya mengerucutkan bibir.
Jordan akhirnya balik kanan, kemudian mengetuk lagi pintu besi berukuran besar di depannya. Tak lama seorang petugas membuka sebuah lubang kecil dan mulai menanyakan kenapa Jordan mengetuk kembali pintu tersebut.
"Pak, bisa bukakan pintu. Aku harus bermain drama karena istriku yang sedang hamil ingin melihatku langsung saat keluar dari penjara."
Awalnya sipir tersebut terdiam. Akan tetapi, sedetik kemudian dia terkekeh. Lelaki berseragam itu pun langsung membuka pintu, lalu Jordan kembali masuk ke dalam lingkungan penjara.
Jordan pun memperpanjang langkah kaki dengan melakukan gerakan yang sama. Setelah mereka berpelukan, Jordan langsung menciumi wajah sang istri. Mereka pun mengurasi rasa rindu dengan saling berpelukan dan mendaratkan ciuman.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang! Kamu kenapa tampak kurus sekali?" Amy merangkum wajah Jordan ketika sang suami melepaskan pelukannya.
"Aku diet! Kamu semakin ...." Jordan menghentikan ucapannya karena takut melukai hati Amy.
Awalnya Jordan ingin mengatakan bahwa Amy semakin gendut. Namun, lelaki tersebut berhasil mengontrol lidahnya. Lelaki itu memutar otak agar kalimatnya tidak terdengar seperti sedang mengejek.
"Aku semakin apa?" Amy mulai menatap curiga sang suami dengan kedua alis yang saling bertautan.
__ADS_1
Jordan tersenyum lebar, lalu mendekatkan bibir ke telinga sang istri. Dia berharap jawabannya kali ini todak membuat sang istri salah paham atau malah mengartikannya sebaliknya.
"Kamu semakin seksi, Sayang," bisik Jordan dengan suara serak.
Wajah Amy langsung terasa panas karena malu. Dia tidak menyangka kalau hormon kehamilan, membuat dirinya menjadi terlihat semakin seksi di mata Jordan. Akan tetapi, memang benar apa yang dikatakan sang suami.
Amy selalu berdiri di depan cermin hanya dengan memakai pakaian dalam. Dia mengagumi bentuk tubuhnya yang tampak indah sekarang. Meski perutnya perlahan mulai tampak buncit, tetapi dada dan bokongnya justru membesar sehingga menambah kesan seksi.
"Kalai begitu, ayo kita pulang! Bayi kita harus segera berkenalan dengan ayahnya!" Amy berbisik seraya tersenyum penuh arti.
Jordan kini menunduk dan menempelkan telinga ke perut Amy. Lelaki itu pun merasakan gerakan kecil yang berasal dari dalam sana. Dia terkejut, lalu mendongak sehingga dapat melihat senyum lembut Amy.
"Malam ini kita makan enak, ya, Boy? Ayah akan memasakkanmu sup bergizi. Ayah tahu betul bagaimana rasa masakan nenekmu! Pasti kamu tersiksa memakan semua makanan itu! Ayah janji akan ...."
Belum selesai mengucapkan semua rentetan kalimat dari bibir, Mona sudah menarik telinga Jordan hingga lelaki itu meringis kesakitan. Jordan terus mengucap ampun agar sang ibu melepaskan jemarinya dari telinga.
Akan tetapi, Mona terap melancarkan aksinya karena kesal kepada Jordan. Tawa Amy pun pecah seketika. Saat air mata Jordan mulai menetes karena menahan sakit, akhirnya Mona melepaskan jemarinya.
Jordan langsung memeluk Mona dan terus mendaratkan ciuman. Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah dengan perasaan riang. Mereka semua berharap kehidupan damai terus menghampiri setelah ini.
"Pertemuan tak terduga beberapa tahun lalu, membawa takdirku untuk mencintaimu, Jordan. Meski awalnya hanya ada rasa tidak suka setiap melihatmu dan ibumu ... nyatanya sekarang sumber kebahagiaanku adalah kalian. Aku merasa begitu beruntung bisa hidup dalam keluarga kecil ini. Semoga kebaikan Tuhan selalu memberikanku kebahagiaan. Aku menyayangi kalian!" ucap Amy dalam hati, diakhiri dengan sebuah ciuman pada pipi Jordan yang sedang fokus menyetir.
Jordan menoleh sekilas, lalu tersenyum lembut. Dia meraih jemari sang istri, kemudian mencium punggung tangannya. Puluhan kata terima kasih dan sayang terus Jordan ucapkan kepada Amy.
Dua orang asing itu pun akhirnya kembali bersatu. Membesarkan anak-anaknya dengan cara hidup yang sederhana, ditemani Mona dalam suka maupun duka. Mona mencoba menghapus rasa bersalahnya kepada Jordan dan Jay dengan ikut merawat cucunya penuh cinta.
__ADS_1
...-TAMAT-
...