Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 33. USG


__ADS_3

"Jantungku kenapa berdetak cepat sekali! Apa aku benar-benar akan menjadi seorang nenek?" Mona memegang dadanya yang berdebar tak beraturan ketika menanti Amy keluar dari toilet.


"Bu, ini belum pasti. Aku harap Ibu jangan berekspetasi terlalu tinggi, ya? Takutnya nanti kecewa." Jordan mengusap perlahan bahu sang ibu sembari tersenyum lembut.


"Aigoo ... aku tidak akan kecewa. Misalkan belum hari ini, pasti suatu saat nanti Amy akan mengandung, bukan? Tapi, misalkan benar-benar hamil sekarang Ibu pasti akan sangat bahagia!" seru Mona dengan mata berbinar.


Jordan tersenyum tipis melihat ibunya yang bisa tersenyum hanya dengan membayangkan kehamilan Amy. Dia paham betul bagaimana sifat Mona. Ibunya itu biasanya hanya akan tersenyum lebar jika melihat uang dengan jumlah yang banyak.


Jordan sudah yakin bahwa sang ibu benar-benar berubah menjadi lebih baik. Lelaki itu berharap, nantinya keluarga kecil mereka akan selalu dilimpahkan kebahagiaan. Dia berjanji akan terus menjaga ibu, istri, serta anak-anaknya sepenuh jiwa dan raga.


Tak lama kemudian, Amy keluar dari toilet. Wajah Amy tampak tegang. Dia menyembunyikan alat tes kehamilan di balik punggung. Langkah perempuan itu tampak ragu ketika mendekati Jordan dan sang ibu mertua.


"Bagaimana?" tanya Mona antusias.


"Ah, i-itu ...." Amy berkata-kata ketika hendak mengungkapkan hasil tes kehamilannya.


Mona yang tidak sabar langsung berjalan cepat ke arah Amy. Jordan pun menelan ludah kasar karena melihat sang ibu yang tampak begitu antusias. Dia takut kalau ternyata Amy belum hamil, sehingga membuat sang ibu kecewa.


"Kamu ini kenapa, Amy?" Nada bicara Mona sedikit kesal kali ini.


Perempuan itu langsung merebut alat tes kehamilan yang digenggam oleh Amy. Dia sempat menatap sebal ke arah menantunya karena merasa Amy sedang mengulur-ulur waktu. Sedetik kemudian, Mona menatap benda kecil yang digunakan Amy untuk mendeteksi kehamilannya.


Mona pun terbelalak ketika menatap garis dua yang tercetak pada benda kecil tersebut. Bibirnya menganga lebar, dan tak lama setelahnya dia menutup mulut dengan satu telapak tangan. Tiba-tiba Mona berteriak histeris dan memeluk tubuh mungil Amy.


"Ya Tuhan! Amy! Kamu beneran hamil! Anakku! Selamat, ya!"


Jordan pun langsung berlari ke arah Amy dan Mona, kemudian ikut memeluk sang istri. Mereka bertiga saling berpelukan untuk mengekspresikan kebahagiaan. Rasa haru kini menyeruak di hati Amy.

__ADS_1


Amy kembali bersyukur karena sekarang memiliki keluarga yang begitu menyayanginya. Meski semuanya berawal dari sebuah ketidaksengajaan, Amy tidak pernah menyesali pernikahan ini terjadi.


"Besok kita antar Amy ke klinik kandungan untuk memastikan usia kehamilan serta pertumbuhan janinnya!" seru Mona seraya menatap sendu anak mantunya itu.


Jordan dan Amy mengangguk bersamaan. Hari itu mereka pun pulang dengan hati gembira. Hadirnya calon buah hati Amy dan Jordan semakin melengkapi kebahagiaan keluarga mereka.


Keesokan harinya, Jordan memutuskan untuk membuka kedai siang hari setelah selesai mengantar Amy periksa. Dia ingin segera mengetahui kondisi kesehatan istri serta calon anaknya.


Mona pun begitu antusias. Dia sudah menyiapkan segalanya. Semalaman Mona sudah mencari informasi mengenai klinik serta dokter kandungan terbaik di Busan.


"Sudah siap? Aku sudah mengambil nomor antrean untuk Amy sejak tadi pagi. Kita dapat nomor lima!" seru Mona sambil tersenyum bangga.


"Terima kasih, Bu!" Amy memeluk sang mertua penuh cinta.


Melihat keakraban ibu dan istrinya membuat Jordan cemburu. Dia berdeham sehingga tatapan keduanya tertuju pada Jordan. Jordan menunjuk jam yang melingkar pada pergelangan tangan dan ditanggapi dengan acungan jempol oleh Amy.


Mona ingin Amy menjalani masa kehamilan dengan bahagia supaya bayi yang ada di dalam kandungannya tumbuh dengan baik. Bagaimanapun juga selain nutrisi yang bagus, seorang ibu hamil juga membutuhkan kondisi mental dan psikis yang baik unruk perkembangan janin yang sehat.


"Sudah sampai, ayo kita turun!" Jordan menghentikan mobil di depan klinik kandungan.


Lelaki itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk ibu dan istrinya. Setelah itu, mereka bertiga masuk ke dalam klinik dan duduk untuk menunggu antrian. Setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirnya nama Amy dipanggil.


Jordan dan Amy pun masuk ke ruangan. Sang dokter menyapa keduanya dengan ramah. Dokter perempuan itu berulang kali menatap Jordan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Amy berusaha berpikir positif. Dia menanamkan dalam hati dan justru membesarkan hatinya. Amy tersenyum kecil ketika berpikir dokter tersebut terus menatap Jordan karena memang suaminya itu tampan.


"Baiklah, ayo naik ke brankar!"

__ADS_1


Amy pun berjalan perlahan mendekati brankar. Dia naik ke atas ranjang pasien dengan bantuan perawat. Setelah berbaring, perawat menyingkap sedikit baju Amy dan mengoleskan gel dingin ke atas perutnya.


Setelah alat USG siap, dokter bermarga Lim itu mendekat. Dia mulai memegang transduser dan menggerakkannya perlahan di atas perut Amy. Jordan dan Amy kini menatap layar monitor yang menempel pada dinding.


"Usia kehamilan berdasarkan hari pertama haid terakhir adalah 6 minggu. Bisa kita lihat di layar, ya? Ukuran calon bayinya baru sebesar kacang." Dokter Lim tersenyum lebar dan sesekali mecuri pandang ke arah Jordan.


"Panjangnya sekitar 5 milimeter dengan berat 1,5 gram. Untuk ukuran janin usia 6 minggu, beratnya lumayan banyak. Umumnya janin seusianya memiliki bobot sekitar 1,13 gram."


Amy fokus mendengarkan penjelasan dari Lim. Dia bahkan sampai tidak menyadari kalau ternyata dokter cantik itu sedang berusaha melemparkan senyum menggoda pada Jordan.


"Sekarang kita dengar detak jantungnya, ya?"


Dokter Lim menekan tombol pengeras suara sehingga terdengar degup jantung janin yang dikandung oleh Amy. Rasa haru kini menyapa hati Amy. Perempuan itu sampai berkaca-kaca karena mendengar detak jantung bayinya untuk pertama kali.


"Bayi kita," ucap Amy lirih sambil menatap Jordan yang sedang tersenyum lebar.


Jordan mengangguk pelan. Tak lama kemudian, pemeriksaan USG selesai. Amy pun turun dari atas brankar dan kembali duduk di samping Jordan.


Di momen inilah Amy kembali mendapati Dokter Lim mencuri pandang kepada sang suami. Kali ini Amy tidak bisa lagi berpikir positif. Dia tiba-tiba berdecak kesal sambil melipat lengan di depan dada.


"Dokter Lim, boleh saya menanyakan sesuatu kepada Anda?"


"Ya, tentu saja." Kini Dokter Lim mengalihkan tatapannya dari Jordan dan mulai menuliskan resep untuk Amy.


"Kenapa sejak tadi Anda terus menatap suami saya?"


Sontak gerakan tangan Lim berhenti. Dia langsung menatap tajam ke arah Amy seraya mengerutkan dahi. Sebuah senyum miring pun terukir di bibir perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2