
Julia menghentikan mobil ketika sampai di sebuah apartemen. Amy melongo karena heran dengan Julia yang bahkan mengetahui tempat tinggal Rosa, perempuan yang diakui Morgan sebagai kekasihnya.
"Ba-bagaimana kamu busa mengenal Rosa?" tanya Amy dengan mata terbelalak.
"Dia adik tiriku!" seru Julia sambil tersenyum miring.
"Apa!"
"Nanti akan aku jelaskan semua, yang penting sekarang kita harus memastikan Rosa ada di pihakmu!"
Julia keluar dari mobil, diikuti Amy yang berjalan perlahan di belakannya. Keduanya melangkah ke arah lift dan benda itu membawa mereka naik ke lantai delapan. Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung berjalan beriringan menuju kamar 5 paling dekat dengan lift.
Julia menekan bel beberapa kali. Namun, tidak ada seorang pun yang keluar dari ruangan itu. Sedetik kemudian, Julia mundur satu langkah dan mengambil ancang-ancang.
Perempuan itu menendang pintu apartemen hingga benda itu terbuka lebar. Any sempat melongo karena baru menyadari bahwa sistem keamanan apartemen itu sangat minim. Bahkan pintunya masih dikunci secara manual.
__ADS_1
"Rosa! Keluar! Atau aku bakar apartemen jadulmu ini!" teriak Julia sambil terus berjalan memutari ruangan.
Masih tidak ada sahutan dari Rosa. Kini mata Julia tertuju pada jendela apartemen yang terbuka. Dia bergegas keluar menuju balkon.
Benar saja, Rosa sedang meringkuk di sudut balkon. Julia langsung berjalan cepat ke arah sang adik. Dia mencengkeram kerah kemeja Rosa, lalu menatapnya tajam.
"Apa maksudmu tidak membukakan pintu untukku?" teriak Julia tepat di depan muka Rosa.
Rosa tidak menjawab sepatah kata pun. Dia justru menangis tersedu-sedu. Julia langsung menghempaskan tubuh sang adik hingga tersungkur di atas lantai.
"Bicaralah! Apa yang terjadi?" geram Julia dengan nada tinggi.
"Siapa ayahnya? Jangan bilang kalau Morgan lari dari tanggung jawab!" teriak Julia frustrasi.
Rosa lagi-lagi tidak menjawab. Tangisnya kembali pecah. Dari ekspresi dan emosi Rosa, Julia pun tahu bahwa sang adik tengah mengandung bayi dari Morgan.
__ADS_1
"Pria brengsek itu benar-benar! Aku akan memberinya perhitungan!" Julia menendang udara sambil terus berteriak frustrasi.
"Kalau begitu, apakah kamu mau membalas perbuatan Jordan? Aku tidak mau dia menjadi ayah dari keponakanku! Jadi, cara satu-satunya adalah membuat sisa hidupnya terasa seperti di neraka!" geram Julia dengan mata menerawang, menatap tajam langit terik siang itu.
Di sisi lain, di salah satu sel tahanan khusus yang ada di Seoul seorang pria paruh baya sedang menikmati makan siangnya. Dia adalah Roby, mantan bos Jordan. Dia mendapatkan perlakuan khusus di dalam bui.
Bahkan Roby beberapa kali bisa keluar dari penjara untuk berlibur ke Busan atau Jeju. Semua itu berkat kekuasaan serta kekayaan yang dua miliki. Koneksi kuat menjadi salah satu alasan kenapa dia mendapatkan perlakuan khusus, meskipun berstatus sebagai tahanan.
"Bagaimana kerja lelaki asing itu?" tanya Roby setelah meneguk jus apelnya.
"Dia bekerja dengan baik di Busan, Tuan."
"Terus awasi dia dan semua orang yang terlibat! Aku mau Jordan mendapatkan hukuman maksimal di dalam penjara!" Roby terkekeh seraya menatap tajam dinding putih di hadapannya.
Tak terasa waktu persidangan pun datang. Hari itu Amy datang ke pengadilan dengan dijemput oleh pihak Julia. Sepanjang perjalanan, Julia menjelaskan semuanya. Dari cerita yang diungkapkan oleh Julia, Amy mengetahui bahwa memang awalnya dokter cantik itu bersekongkol dengan Morgan untuk memisahkan dirinya dengan Jordan.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi Julia mengatakan bahwa memilih mundur karena merasa bahwa Jordan tidak menyukainya. Rosa gari itu berangkat secara terpisah. Dia memilih untuk pergi dengan kawalan polisi.
Rosa tahu semua rencana Morgan. Jadi, dia mencoba menyiapkan antisipasi untuk kemungkinan terburuk. Semua akan ditentukan hari ini di pengadilan. Langkah mereka semua sebagai saksi memiliki tujuan yang sama yaitu ingin menegakkan keadilan.