
Setelah jam kerjanya selesai, Julia langsung mengendarai mobilnya menuju sebuah kafe. Dia melangkah masuk seraya mengedarkan pandangan untuk mencari orang yang telah menghubungi sebelumnya.
Tepat di sudut ruangan kafe, seorang lelaki berwajah bak dewa Yunani melambaikan tangan. Julia mendengkus kesal sebelum akhirnya melangkah mendekati lelaki tersebut.
Ketika sampai di samping meja, pria itu menarik kursi untuk Julia dan dokter cantik itu mendaratkan bokong ke atasnya. Dia menatap tajam lawan bicaranya yang masih tersenyum miring itu.
"Lemah sekali," ejek Morgan sambil terus menyeringai.
"Terserah apa katamu! Yang jelas aku sudah tidak mau terlibat dengan urusanmu! Aku memang menyukai Jordan hingga detik ini. Tapi ...." Julia mencondongkan tubuh ke arah Morgan sembari menatap tajam lelaki di hadapannya itu.
"Mencintai tidak harus memiliki. Aku melihat cinta Jordan bukan untukku. Jika aku terus berusaha mengejarnya, pada akhirnya hanya aku sendiri yang lelah." Julia tersenyum miring kemudian kembali menyandarkan punggungnya pada kepala kursi.
"Lagi pula, aku tidak ingin mengejar laki-laki. Kalau bisa, aku yang dikejar-kejar!"
Julia beranjak dari kursi kemudian berlalu meninggalkan Morgan. Lelaki berwajah bule itu menggebrak meja untuk meluapkan kekesalannya kepada Julia. Usahanya untuk menghancurkan Jordan dan ibunya kali ini gagal.
Morgan kini menyipitkan mata dan berusaha memikirkan cara lain untuk menghancurkan keluarga Jordan. Sebuah ide yang menurutnya cemerlang pun melintas. Dia tersenyum miring, kemudian mulai meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
Morgan mengeluarkan selembar kartu nama dan mulai menghubungi nomor yang tertera di sana. Setelah panggilan diangkat, lelaki itu tersenyum penuh arti.
"Saya Morgan, saya bersedia bekerja sama dengan Anda, Pak."
Di sisi lain, Jordan sedang menggenggam jemari Amy. Meski istrinya itu masih tampak merajuk, Jordan paham betul kalau sebenarnya Amy sudah tidak marah. Dia terus mendaratkan kecupan pada punggung tangan sang istri.
"Sudah, dong, ngambeknya ... setelah ini, kamu bebas meminta apa pun! Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan!" Jordan terus mencoba untuk membujuk Amy agar istri manjanya itu kembali tersenyum.
"Bagaimana dengan babymoon? Atau kita makan makanan kesukaanmu? Atau mungkin membuat jus lagi langsung di perkebunannya? Aku tidak akan pernah mengeluh!" Jordan menyodorkan jari kelingkingnya di depan wajah Amy.
__ADS_1
Amy melirik kelingking Jordan sekilas, lalu memalingkan wajah. Akan tetapi, sebuah senyum tipis terukir di bibir perempuan cantik tersebut. Dia menyembunyikan senyumannya dengan memasukkan bibir ke dalam mulut.
"Aigoo ... bagaimana aku bisa hidup jika kamu terus begini?" Kedua ujung alis Jordan tampak menurun sehingga wajah lelaki itu terlihat sedih.
Tawa Amy langsung pecah karena tidak sanggup lagi menahannya. Dia langsung mengambil posisi untuk duduk secara perlahan. Jordan pun membantunya dengan sigap.
Jordan mengatur ketinggian sandaran ranjang agar Amy merasa nyaman saat duduk. Amy tersenyum lembut kemudian merangkum kedua pipi sang suami. Jempolnya bergerak lembut mengusap permukaan kulit Jordan yang terasa halus.
"Maaf, ya? Aku berlalu egois. Aku hanya memikirkan perasaanku tanpa mau peduli dengan apa yang kamu rasakan." Amy tersenyum tipis dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Jordan menempelkan telunjuknya ke bibir Amy. Dia tersenyum lembut, kemudian merangkum wajah pujaan hatinya itu. Tatapan mereka bertemu seakan memancarkan cinta tanpa batas.
"Aku juga salah, karena tidak bisa memahami dengan baik kondisi psikismu. Lain kali aku akan banyak mengalah. Aku akan menahan semuanya hingga emosimu kembali stabil. Aku berjanji akan terus ada di sampingmu." Jordan tersenyum lembut, kemudian mengecup punggung tangan Amy.
Lelaki itu menempelkan dahinya dengan dahi Amy, sehingga napas keduanya bersatu dan membelai wajah satu sama lain. Perlahan Jordan menempelkan bibirnya pada bibir sang istri.
Mereka berdua mulai bertukar rasa. Keegoisan masing-masing seakan menguap dan menghilang. Namun, ciuman penuh kasih itu berhenti karena pintu kamar mendadak terbuka.
"Ah, aku tidak melihatnya! Lanjutkan lagi! A-aku hanya mau mengantarkan makanan ini!" Mona berjalan menyamping seperti kepiting ketika mendekati meja yang ada di sudut ruangan.
"Lanjutkan! Ibu akan berjaga di depan ruangan!"
Mona langsung menutup pintu sedikit kasar sehingga menimbulkan suara. Setelah Mona keluar dari ruangan itu Amy menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan karena malu. Jordan terkekeh, kemudian memeluk tubuh sang istri.
"Sudah, nggak apa-apa. Nggak sengaja juga." Jordan menarik lengan Amy agar dia bisa melihat wajah pias sang istri.
"Aku malu, Jordan!"
__ADS_1
"Lupakan rasa malumu itu."
Jordan beranjak dari atas kursi, kemudian melangkah ke arah pintu. Dia mengunci pintu bangsal lalu balik badan seraya menyeringai. Lelaki itu melipat lengan sembari mengangkat salah satu alis.
"Jadi, mau lanjut sekarang?"
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir sang suami membuat Amy tersipu malu. Dia menyembunyikan senyuman di balik selimut dan sebuah anggukan kecil pun terlihat. Jordan bersorak dalam hati.
Lelaki itu langsung melangkah cepat menuju brankar, lalu segera menghujani Amy dengan ciuman. Keduanya pun kembali larut dalam kemesraan. Mengungkapkan rasa sayang dan rindu melalui ciuman.
Setelah dirawat selama tiga hari, akhirnya Amy diperbolehkan pulang. Hari itu dia dibantu Mona untuk berkemas. Jordan pulang untuk mengurus kedai dan akan tutup lebih awal.
"Dia sudah dalam perjalanan ke sini." Mona menatap ponsel sembari melirik Amy yang sedang memandang langit senja melalui jendela.
"Jordan berangkat sejak tadi, 'kan? Kenapa belum sampai, ya, Bu?"
Entah mengapa ada perasaan tidak enak yang kini memenuhi hati serta pikiran Amy. Hatinya terasa gusar dan tidak tenang. Seharusnya Jordan sudah sampai di rumah sakit sekitar satu jam lalu.
Namun, hingga matahari hampir tenggelam, lelaki itu tidak kunjung datang. Mona melangkah mendekati Amy kemudian merengkuh lengan atas sang menantu. Dia tersenyum tipis, kemudian mengusap puncak kepala Amy.
"Mungkin dia mampir untuk membeli sesuatu lebih dulu?"
Mona berusaha menenangkan sang menantu yang tengah dihantam rasa khawatir. Amy mengembuskan napas kasar. Dia berharap sang suami baik-baik saja dan segera sampai ke rumah sakit secepat mungkin.
"Kalau begitu, sebaiknya kita segera turun dan menunggunya di lobi."
Mona menepuk lembut pipi Amy kemudian berjalan ke arah koper yang sudah dia rapikan di dekat pintu. Amy pun berjalan pelan mendekati Mona. Sang mertua mengulurkan tangan dan segera disambut oleh Amy.
__ADS_1
Keduanya pun segera meninggalkan kamar dan berjalan dengan bergandengan tangan menuju lobi rumah sakit. Setelah sampai, Amy duduk sambil memperhatikan sekitar. Mencari sosok sang suami yang tak kunjung datang.
Ketika Amy sedang sibuk mengedarkan pandangan, sebuah panggilan masuk ke ponsel Mona. Perempuan itu mengerutkan dahi karena mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal.