Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 27. Mengungkap Tabir


__ADS_3

Mendengar bahwa suaminya digoda, tenru saja Mona langsung naik pitam. Dia berjalan cepat ke arah Amy dengan jemari mengepal kuat di samping badan. Setelah berada tepat di depan sang menantu, perempuan itu langsung mendaratkan telapak tangannya ke atas pipi Amy dengan keras.


Rasa panas pada pipi Amy tidak seberapa sakitnya, jika dibandingkan dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Morgan. Jordan pun langsung memeluk tubuh sang istri. Dia menatap tajam ke arah sang ibu yang masih tampak marah.


"Kenapa Ibu hanya mendengarkan dari satu pihak?" tanya Jordan seraya menyipitkan mata.


"Bukankah kamu juga hanya mendengarkan dari cerita Amy saja? Apa salah jika aku juga melakukan hal yang sama dengan mendengar serta mempercayai apa yang suamiku katakan?" Mona tersenyum miring seraya menyipitkan mata.


Jordan menarik napas, lalu mengembuskannya kasar. Dia benar-benar heran dengan sang ibu yang terlalu percaya kepada Morgan. Padahal sejak awal kejadian, Jordan mendengar sendiri apa yang sudah dikatakan Morgan kepada Amy melalui sambungan telepon yang masih menyala.


"Masalahnya Ibu sudah dimanfaatkan serta dikelabuhi oleh lelaki bajingan itu!" seru Jordan seraya menatap tajam Morgan yang sedang menyembunyikan senyum dengan menundukkan kepala.


"Dia tidak pernah membohongi aku!" Mona tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


Mona langsung menarik lengan Morgan secara perlahan dan memapahnya keluar dari kamar Jordan. Perempuan itu membanting pintu kasar. Jordan hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang ibu yang sudah di luar nalar.


Mona lebih percaya kepada orang asing yang baru dikenal daripada putranya sendiri. Akan tetapi, Jordan tidak bisa memaksakan pendapatnya kepada sang ibu. Dia berharap ketika sang ibu sadar, semuanya belum terlambat.


"Sayang, gantilah pakaian. Lain kali, selalu pakai kacamata gunung kembarmu itu jika aku tidak di rumah." Jordan terkekeh sembari menatap gundukan kenyal pada dada sang istri yang kini tertutup kimono handuk.


Amy sontak kembali menyilangkan lengannya di depan dada. Tak lama kemudian Amy menangis histeris. Hal itu tentu saja membuat Jordan kebingungan.


"Hei, kenapa kamu malah menangis? Diamlah ... aku sudah ada di sini. Lain kali ikutlah bersamaku jika aku keluar, mengerti?"


Amy mengangguk. Tangisnya masih belum bisa berhenti karena dia terus teringat bagaimana Morgan menggerayangi tubuhnya penuh napsu. Tatapan menjijikkan yang keluar dari Morgan membuat Amy mual.

__ADS_1


Amy langsung berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya. Jordan pun menepuk pelan punggung sang istri. Sesekali dia memijat lembut leher Amy.


"Sudah?" tanya Jordan ketika Amy sudah mengeluarkan semua isi perutnya.


"Apa kamu sakit?"


"Aku mual saat teringat bagaimana Morgan menatapku dengan cara menjijikkan!" seru Amy sembari mengusap peluh yang membasahi dahinya.


"Baiklah, sekarang kita jangan pernah berpisah barang sedetik pun. Aku tidak mau hal serupa terjadi. Jika saja kalian tidak meleraiku, aku pasti akan membunuhnya detik itu juga!" Rahang Jordan mengeras ketika kembali mengingat raut wajah Morgan yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.


Mereka brrdua pun keluar dari kamar mandi. Jordan menyiapkan makanan untuk sang istri, dan mereka pun makan bersama sambil bertukar cerita mengenai pekerjaan masing-masing.


Tiga hari kemudian, Amy menemani Jordan menata perabot untuk kedai. Setelah selesai, mereka berencana untuk pergi ke kota. Jordan harus membeli bahan makanan untuk persiapan pembukaan kedai dua hari lagi.


"Kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu hari ini?" tanya Jordan seraya melihat Amy yang masih sibuk di depan laptop.


Jordan paham betul bagaimana Amy sibuk akhir-akhir ini. Perempuan itu tinggal menyelesaikan sedikit lagi untuk novel yang akan dikirimkan kepada editor. Jadi, hari ini Jordan menata semua dibantu oleh karyawan toko furniture yang mengirim semua perabotan.


Lelaki itu membiarkan sang istri fokus dengan pekerjaannya di sudut kedai. Dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Amy. Akan tetapi, dirinya juga tidak bisa membiarkan Amy sendirian di rumah tanpanya sejak kejadian beberapa hari lalu.


"Ayo!" Amy beranjak dari kursi, kemudian memasukkan laptop ke dalam tas.


Jordan tersenyum lebar kemudian merentangkan tangannya. Amy pun menghambur ke pelukan sang suami. Keduanya bergandengan tangan menuju mobil.


Sementara itu, Mona yang sedang bersama Morgan ke pusat kota sedang makan di sebuah restoran. Keduanya mendapatkan tatapan aneh dari pengunjung lain karena tampak terlalu mesra untuk ukuran ibu dan anak. Ya, melihat selisih umur yang terlihat jauh, tentu saja orang lain mengira mereka berdua adalah ibu dan anak.

__ADS_1


"Apa kamu tidak malu jalan denganku?" tanya Mona sambil melirik ke arah para pengunjung yang menatap aneh ke arah mereka.


"Malu kenapa?" tanya Morgan sambil menyodorkan sumpit dengan potongan daging sapi.


Mona pun membuka lebar mulutnya, dan Morgan segera memasukkan potongan daging itu ke dalam mulut sang istri. Mona mengunyah daging beraroma khas itu perlahan. Setelah dirasa halus, dia segera menelannya.


"Mereka menatap aneh pada kita." Mona menyapukan pandangan ke arah para pengunjuk lain yang masih menjadikan keduanya pusat perhatian.


"Abaikan saja! Mereka hanya melihat sesuatu dari permukaan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya. Sudah, abaikan saja. Ayo, buka lagi mulutmu!" perintah Morgan.


Mona pun langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan Morgan kembali menyuapkan makanan ke dalamnya. Tak lama berselang, ponsel lelaki itu berdering. Dia tampak mengedarkan pandangan ke seluruh restoran seperti sedang mencari sesuatu.


"Ada telepon penting, di sini terlalu berisik. Aku pergi dulu, ya?" Morgan tersenyum lembut, kemudian keluar dari restoran.


Makanan di atas meja tinggal sedikit, tetapi Morgan tidak segera kembali. Mona yang khawatir akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan makannya lebih cepat. Dia membayar semua tagihan dan langsung keluar restoran untuk mencari keberadaan sang suami.


Perempuan itu mencoba untuk menghubungi Morgan. Namun, sang suami tidak menjawab panggilannya. Dalam keadaan putus asa dan pikiran yang melayang entah ke mana, Mona terus mengikuti langkah kakinya.


Tiba-tiba seakan ada yang menarik perhatian Mona ketika melewati sebuah gang sempit yang berjarak beberapa gedung dari restoran. Dia berhenti sejenak kemudian menatap gang sempit yang terletak di antara toko pakaian dan perhiasan itu.


"Kenapa aku ingin memasuki gang ini?"


Akhirnya Mona pun perlahan memasuki jalanan sempit yang sedikit basah karena sisa hujan itu. Dari kejauhan, dia dapat melihat separuh tubuh Morgan yang duduk bersandar pada sebuah tempat sampah yang terbuat dari beton.


Mona langsung mempercepat langkah karena khawatir Morgan dirampok atau semacamnya, mengingat bahwa dia merupakan warga negara asing yang belum fasih berbicara menggunakan bahasa Korea. Mona terus berlari mendekati Morgan yang terlihat lemas. Setelah sampai di dekat lelaki itu, Mona pun terbelalak.

__ADS_1


"Morgan!" teriak Mona dengan tubuh bergetar hebat.


__ADS_2