
Suara hening ketika Amy pergi ke kamar mandi. Jordan pun sabar menanti sang istri kembali untuk berbincang dengannya. Sesekali Jordan bersenandung di tengah penantiannya.
Tak lama kemudian, Jordan sudah sampai di tempat parkir. Begitu selesai memarkirkan mobil, Jordan mendadak terpaku. Dia mendengar sang istri sedang berbicara dengan seorang laki-laki.
"Amy, halo! Kamu lagi sama siapa?"
Pertanyaan Jordan tidak dijawab karena memang Amy tidak sedang memegang ponselnya. Jordan terus mendengarkan percakapan Amy dengan lelaki yang belum dia ketahui dan mulai naik ke motornya.
Dari percakapan tersebut, Jordan mengetahui bahwa orang yang sedang bersama sang istri adalah Morgan. Hal itu tentu saja membuat rahang Jordan mengeras. Lelaki itu langsung memutar tuas gas dan melajukan motor secepat yang dia bisa.
Setelah berkendara selama sepuluh menit, akhirnya Jordan sampai di rumah. Dia langsung berjalan cepat menaiki anak tangga dan berusaha untuk membuka pintu kamar yang terkunci. Jordan terus menggedor pintu sambil terus berteriak dan mengumpat.
"Buka pintunya, Bajingan! Jangan sampai kamu menyentuh Amy seujung kuku pun atau akan kupatahkan tanganmu!" ancam Jordan.
Namun, ancaman lelaki tersebut hanya angin lalu bagi Morgan. Dia mengabaikan Jordan dan terus memaksa Amy. Lelaki itu mendaratkan bibirnya pada wajah dan leher Amy.
__ADS_1
Jordan mulai mundur beberapa langkah dan mengambil ancang-ancang. Dia memusatkan kekuatan pada lengan atas, lalu berlari mendekati pintu. Setelah beberapa kali mendobrak pintu, akhirnya benda tersebut terbuka.
Darah Jordan seakan mendidih ketika melihat Amy sedang menangis tak berdaya dalam pelukan Morgan. Kaosnya sudah sobek sehingga tubuh bagian atas Amy terekspos. Jordan pun langsung menarik kemeja Morgan sehingga lelaki itu tersungkur ke atas lantai.
"Brengsek! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh Amy! Kenapa kamu mengabaikan ucapanku?"
Jordan mencengkeram kerah kemeja Morgan. Dia pun langsung mendaratkan kepalan tinju pada rahang ayah tirinya tersebut. Wajah Morgan kini babak belur.
Entah mengapa Morgan tidak melawan. Dia justru tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Jordan semakin tersulut emosi. Tiba-tiba saja, Mordan mulai berhitung.
Tepat pada hitungan ketiga, Mona memasuki kamar Amy. Perempuan tersebut berteriak histeris, lalu mendekati Jordan. Dia menarik Jordan dan berusaha memisahkan sang putra dari Morgan.
"Kamu kenapa diam saja? Cepat bantu aku! Jordan bisa membunuh Morgan!" teriak Mona sambil menoleh ke arah Amy yang masih terpaku di depan kamar mandi sambil menangis.
"Biar saja, biarkan lelaki biadab itu mati!" seru Amy di antara isak tangis.
__ADS_1
Kondisi Amy masih kacau. Dia belum beranjak ke mana pun untuk mengganti kaosnya yang sudah sobek. Amy hanya menyilangkan tangan untuk menutupi area pribadi bagian atasnya yang tidak tertutup oleh pakaian dalam.
"Apa kamu sudah gila, ha? Apa kamu sengaja membiarkan mereka supaya Jordan membunuh Morgan, dan suamimu itu akan masuk ke penjara!"
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Mona, barulah membuat Amy tersadar. Dia langsung meraih kimono handuk yang masih tergantung di balik pintu kamar mandi, kemudian memakainya untuk menutupi tubuh.
Setelah itu, Amy langsung berlari dan memeluk Jordan dari belakang. Dia berusaha menenangkan sang suami dan mengingatkan tentang resiko yang akan Jordan dapatkan jika terus memukul Morgan.
Setelah mendengarkan kalimat penenang yang diucapkan sang istri, emosi Jordan pun mulai turun. Dadanya masih kembang kempis, tetapi amarahnya sudah reda. Jordan akhirnya berteriak keras untuk menuntaskan amarah yang tertahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mona sambil membantu sang suami bangun dari lantai.
"Dia mencoba untuk ...." Ucapan Amy menggantung di udara karena Morgan memotongnya.
"Dia menggodaku dan bertingkah seolah aku hendak memperkosanya!"
__ADS_1
Amy terbelalak karena kebohongan yang diucapkan oleh Morgan. Mona langsung melemparkan tatapan tajam kepada Amy. Dia melangkah cepat dan langsung mendaratkan sebuah tamparan ke pipi menantunya itu.