Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 14. Gadis yang Kesepian


__ADS_3

"Jangan pergi lagi, Bu. Kamu meninggalkanku di panti asuhan dan hingga sekarang aku kesepian!" seru Amy sembari menggenggam erat lengan Jordan.


Kalimat yang meluncur dari bibir Amy sontak membuat hati Jordan terasa nyeri. Dia bisa membayangkan bagaimana rasa sepi yang membelenggu Amy hingga saat Ini. Jordan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Amy.


Ujung mata perempuan itu tampak basah. Bahkan isak tangis lolos dari bibirnya. Hidung Amy pun mulai terlihat memerah.


"Aku nggak akan pergi. Selama kita bersama, aku berjanji akan membuatmu tidak merasa kesepian. Aku akan selalu ada di sampingmu. Menemani kemana pun kamu ingin pergi. Mengukirkan senyuman serta menghapus air mata yang mengalir di pipimu."


Jordan mengatakan semua itu penuh keyakinan. Perlahan rasa sayang muncul di hati Jordan untuk Amy. Dia menyadari rasa itu, tetapi enggan untuk mengungkapkannya langsung kepada Amy. Jordan memutuskan menyimpan rasa itu untuk dirinya sendiri sementara waktu.


Setelah Amy kembali tidur lelap, Jordan melepaskan jemari lentik yang menggenggam lengannya. Dia akhirnya memasak bubur untuk Amy. Setelah selesai, Jordan kembali ke kamar.

__ADS_1


Amy masih tertidur pulas, tetapi kini hampir seluruh tubuhnya tertutup selimut. Gadis itu sesekali menggigil kedinginan. Jordan kembali mengecek suhu tubuh Amy.


"Masih belum turun." Jordan menatap nanar termometer yang ada dalam genggamannya.


Perlahan Jordan membangunkan Amy. Dia ingin menyuapi sang istri agar bisa segera minim obat. Setelah berulang kali membangunkan Amy, perempuan itu akhirnya membuka mata.


Amy mulai menggeliat. Jordan pun membantu Amy untuk bangun dan menyandarkan punggung pada headboard ranjang. Wajah perempuan itu tampak pucat dengan tatapan yang begitu sayu.


"Makan dulu, ya? Kamu demam, jadi harus segera minum obat." Jordan tersenyum tipis kemudian menarik kursi.


"Aku sudah kenyang," ucap Amy lesu.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang minum obat dulu, ya?" Jordan menyodorkan sebutir obat penurun panas dan pereda nyeri kepada Amy.


Amy pun meraihnya dan langsung menelan obat tersebut dengan bantuan air putih. Jordan kembali membantu Amy untuk berbaring. Dia menutup tubuh sang istri menggunakan selimut.


"Sekarang istirahatlah. Maafkan aku tadi lupa kalau kamu masih ada di kamar mandi. Ibuku sepertinya memasukkan obat perangsang atau semacamnya ke dalam makanan dan minumanmu saat sarapan."


Amy hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Badan perempuan itu terasa tidak nyaman sekarang. Amy merasa matanya begitu berat dan sangat mengantuk.


"Mulai sekarang, aku akan membawa makanan ke atas sini. Kita akan hidup berdua saja tanpa campur tangan ibuku meskipun satu atap dengannya. Kamu tenang saja, aku akan tetap tidur di ruangan sempit itu." Jordan menunjuk kamar berukuran kecil di sudut ruangan menggunakan jempolnya sambil tersenyum kecut.


Setelah itu, Jordan mengemasi semua bekas alat makan Amy. Barulah dia menyantap makanannya yang sudah tertata rapi di atas meja kecil. Ketika Jordan menyantap makan siangnya, Amy diam-diam mengamati lelaki asing yang kini berstatus sebagai suaminya itu.

__ADS_1


Ada sebuah perasaan aneh yang menyelusup ke dalam hatinya. Perasaan yang menggetarkan jiwa dan membuat jantungnya berpacu tiga kali lipat. Amy memegang dadanya yang terus berdebar berharap ia kembali bekerja secara normal.


"Amy, tenanglah! Dia adalah pria asing yang sebentar lagi akan menjadi mantan suamimu. Jangan lupakan satu hal. Dia sudah membuat kehidupanmu jungkir balik!" seru Amy dalam hati.


__ADS_2