Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 37. Taktik


__ADS_3

Rasa lelah yang menghujam badan Jordan tidak lagi berarti sekarang. Malam itu dia memutuskan untuk keluar dari rumah dan hendak pergi ke pusat kota. Lelaki itu keluar dari rumah tanpa berpamitan kepada Mona atau pun Amy.


Jordan memilih untuk keluar dengan mengendarai motor. Dia menyusuri jalanan Kota Busan yang masih terhitung ramai. Lelaki itu menikmati setiap embusan angin yang menerpa wajahnya.


"Hah, berat sekali ternyata menjadi seorang laki-laki." Jordan menghela napas panjang.


Sedetik kemudian Jordan terkekeh. Malam itu dia seperti orang gila. Terkadang merenung, lalu tak lama kemudian tertawa. Hidup memang aneh.


Ketika menghadapi hal sulit ini, rasanya Jordan ingin kembali menjadi lelaki bebas saja. Namun, saat mengingat bagaimana manisnya Amy dalam kondisi normal, dia langsung berubah pikiran.


"Aigoo, semoga Amy segera kembali menjadi dirinya sendiri. Perempuan mandiri, ceria, perhatian, dan ...." Jordan membayangjan liarnya Amy ketika di atas ranjang.


Pikiran kotornya itu sontak membuat wajahnya memerah seketika. Jordan terkekeh sebentar, kemudian menelan kembali tawanya. Dia harus bersabar karena usia kehamilan Amy yang masih muda.


Jordan memutuskan untuk berhenti di depan minimarket. Dia masuk ke dalam toko itu dan membeli mi instan cup dan soda. Sebenarnya Jordan ingin sekali meminum soju, tetapi dia menahannya karena harus mengendarai motor untuk pulang.

__ADS_1


"Totalnya ...." Kasir menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar Jordan.


Lelaki itu langsung mengeluarkan ponsel dan membayar makanan serta minuman menggunakan aplikasi dompet digital. Setelah selesai, Jordan langsung menyeduh mi instannya. Dia memilih untuk duduk di luar toko sambil menikmati semilir angin malam.


Lelaki itu membuka kaleng soda dan menyeruputnya perlahan sambil menunggu mi instan matang. Ketika sedang melamun, seseorang menyapanya. Jordan akhirnya menoleh ke arah sumber suara.


Julia mengangkat tangannya dengan telapak tangan terbuka sambil tersenyum lebar. Dia langsung bergabung di meja Jordan tanpa permisi. Bahkan Julia mengambil mi instan Jordan dan langsung memakannya.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Julia sambil mengunyah mi instan.


"Cari angin." Jordan membuang wajah, lalu kembali menyeruput sodanya.


"Apa kabar? Maaf, tadi tidak sempat menyapa lebih banyak. Bisa kita mengobrol sebentar? Aku rindu masa sekolah dulu." Julia berusaha tersenyum meski rahangnya terasa kaku.


"Maaf, sepertinya aku harus pulang."

__ADS_1


Jordan berniat berdiri dari kursi. Akan tetapi, Julia menahan telapak tangannya. Jordan menatap sinis jemari lentik Julia, kemudian menarik lengannya.


"Apa kamu tidak merindukanku, Jordan?" Mata Julia tampak berkaca-kaca.


Jordan terdiam. Sebenarnya dulu dia memang pernah menyimpan rasa untuk Julia. Akan tetapi, masa itu sudah lama terlewati.


Perasaannya kepada Julia terkikis seiring berjalannya waktu. Terlebih lagi sejak bertemu dengan Amy. Bayangan Julia sudah hilang tak tersisa.


"Tidak," jawab Jordan singkat kemudian terus berjalan meninggalkan Julia.


Baru berjalan beberapa langkah, Julia pun ambruk ke atas jalan. Jordan yang mendengar suara sesuatu terjatuh akhirnya menoleh. Jordan langsung terbelalak dan berlari ke arah Julia.


Jordan berusaha menepuk pipi Julia untuk menyadarkannya. Namun, perempuan itu tidak merespons sama sekali. Jordan yang cerdas pun akhirnya meminta bantuan kepada seseorang yang lewat.


"Ahjussi, bisa minta tolong antar dia ke klinik terdekat? Aku hanya membawa motor!"

__ADS_1


Lelaki berusia paruh baya itu pun menyetujuinya. Jordan meminta lelaki itu untuk memindahkan tubuh Julia ke dalam mobil. Namun, ketika lelaki itu hendak menyentuh Julia, perempuan itu membuka mata.


"Dasar, Jahat!" seru Julia sehingga membuat Jordan melongo.


__ADS_2