Satu Atap Dengan Pria Asing

Satu Atap Dengan Pria Asing
Bab 6. Asisten Rumah Tangga


__ADS_3

Jordan bangun lebih awal hari itu. Lelaki itu langsung membereskan sofa tempat dia tidur. Setelah selesai, lelaki tampan tersebut langsung menyapu serta mengepel lantai.


Tidak lupa Jordan juga menggunakan mesin menghisap debu untuk membersihkan setiap celah yang ada di rumah itu. Jordan menyalakan pelembab udara dengan aroma bunga mawar. Lelaki tampan tersebut memejamkan mata, sambil tersenyum ketika menghirup aroma menenangkan dari bunga dengan kelopak berwarna indah itu.


"Ah, aku selalu suka bunga mawar!"


Jordan bersenandung ketika berjalan ke arah dapur. Lelaki tersebut membuka lemari pendingin makanan dan mengamati isi kulkas. Jordan memutuskan untuk membuat nasi goreng kimchi untuk sarapan.


Jordan menyiangi beberapa sayuran serta isian lain dan menatanya di atas meja. Setelah selesai, lelaki tersebut memanaskan wajan yang sudah diisi dengan minyak. Dia mulai menumis bumbu dan memasukkan semua bahan ke dalam wajan secara bertahap.


"Hemmm, aku memang koki terbaik!" Jordan menghirup aroma sedap yang keluar dari nasi goreng buatannya.


Setelah semua selesai, Jordan menatanya di atas meja makan. Dia menyiapkan dua piring nasi goreng kimchi, susu, air putih, dan salad buah untuk penutup. Tak lama setelah selesai menyiapkan sarapan, pintu kamar Amy terbuka.


Gadis berkacamata itu terdiam dengan mata terbelalak dan bibir menganga lebar. Jordan tersenyum lebar dan menunjukkan semua hasil kerjanya sejak matahari belum terbit. Lantai yang bersih dari debu dan mengkilap, aroma wangi yang menguar memenuhi ruangan, serta sarapan pagi yang sudah suap di atas meja.


"Apa-apaan ini!" seru Amy di antara keterkejutannya.


"Kamu sudah bangun? Ayo, sini makan! Aku sudah menyiapkan nasi goreng kimchi untukmu!" Jordan menarik kursi kemudian menepuknya pelan.


Amy masih mematung. Gadis itu justru menyipitkan mata karena curiga dengan sikap Jordan. Jordan kini beranjak dari tempatnya berdiri.


Lelaki itu menarik lengan Amy dan mendudukkan gadis itu ke atas kursi secara paksa. Jordan pun menyelipkan sendok ke dalam genggaman tangan Amy. Dia tersenyum lebar kemudian meminta gadis tersebut untuk segera menyuapkan nasi goreng buatannya ke dalam mulut.


"Makanlah! Ini adalah nasi goreng terenak di Busan! Kamu tidak akan menemukannya di mana pun kecuali membawaku ke dapurmu!"


Jordan terdiam seraya terus tersenyum lebar. Amy akhirnya menyendokkan nasi goreng kimchi tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Sebuah rasa baru menari di lidah Amy.

__ADS_1


Pupil mata gadis itu melebar. Seakan ada pelangi yang kini terbit di mata gadis tersebut. Nasi goreng itu benar-benar terasa nikmat di lidah Amy.


Melihat ekspresi Amy, tentu saja membuat Jordan tersenyum lebar. Lelaki tersebut mencondongkan tubuh ke arah Amy. Dia meneliti setiap ekspresi yang muncul di wajah gadis itu.


"Gimana?" tanya Jordan penuh harap.


"Nggak enak!" seru Amy.


Mendengar jawaban dari Amy, tentu saja membuat bahu Jordan merosot. Nafsu makan lelaki tersebut mendadak hilang. Dia melangkah gontai ke arah sofa kemudian merebahkan tubuh tegapnya di sana.


Tanpa rasa bersalah, Amy menghabiskan nasi gorengnya. Dia terus menyuapkan nasi ke dalam mulutnya hingga piringnya bersih. Setelah selesai sarapan, Amy baru sadar kalau dia melakukan kesalahan.


Amy menatap Jordan yang masih merebahkan tubuh di atas sofa sambil menutup wajah menggunakan lengan. Amy menghela napas kasar. Gadis itu berjalan menuju meja kerjanya dan mengetikkan sesuatu.


"Selesai!" seru Amy.


Amy menghela napas kasar. Gadis itu kembali menarik lengan kemeja Jordan, berharap lelaki tersebut mau menatapnya dan diajak bicara. Akan tetapi, lagi-lagi Jordan mengabaikan Amy.


"Hah, tadinya aku mau mengajukan sebuah kontrak kerja sama sampai kamu bisa menemukan tempat tinggal lain. Tapi, karena kamu bersikap acuh kepadaku, aku akan membatalkan niat baikku untuk menampungmu sementara waktu di rumah ini. Aku akan menyobek kertas berisi perjanjian ini!"


Mendengar kalimat panjang yang diutarakan Amy, tentu saja membuat Jordan membuka matanya lebar. Lelaki tersebut langsung bangkit dari sofa. Dia menampilkan senyum merekah, kemudian menatap penuh harap ke arah Amy.


"Perjanjian seperti apa yang kamu tawarkan kepadaku?" tanya Jordan dengan mata berbinar.


"Ini, bacalah baik-baik! Jika menyetujuinya, silakan bubuhkan tanda tangan di sana."


Jordan pun membaca satu per satu poin yang menjadi persyaratan agar dia bisa tinggal di sana. Setelah selesai, tanpa berpikir panjang lelaki tersebut langsung menandatangani surat perjanjian tersebut. Amy terbelalak karena dengan mudahnya Jordan memberikan tanda tangannya di atas materai.

__ADS_1


"Ka-kamu serius? Kamu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga setiap hari tanpa libur, loh?"


"Kenapa tidak? Yang penting aku masih bisa tinggal di rumah ini." Jordan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu.


Kenangan masa lalu kembali hadir. Dulu dia dan Jay tumbuh besar di rumah ini. Namun, ketika sang ayah mendapatkan pekerjaan lebih baik di Seoul, mereka sekeluarga pindah dan menjual rumah itu.


Akan tetapi, ayah Jordan mengalami kecelakaan kerja tak lama setelah pindah ke Seoul. Ayahnya pun meninggal dunia dan Jordan mau tidak mau menjadi kepala rumah tangga. Dia bekerja keras dan terus mengusahakan yang terbaik untuk keluarga.


Pujian selalu Jordan dapat karena selain berprestasi di akademi, dia juga pekerja keras. Hal itulah yang menyebabkan sang ibu menganak emaskan Jordan daripada Jay yang lebih senang menghabiskan waktu di depan komputer.


"Kalau boleh tahu, kenapa kamu ingin bertahan tinggal di rumah tua ini?"


"Banyak kenangan yang tertinggal di sini. Dulu ayahku sempat menjual rumah ini, dan berhasil membelinya kembali setelah bekerja keras. Aku meminta ibuku tinggal untuk merawat rumah ini beserta kenangannya, tapi nenek lampir itu malah menjual lagi kepadamu." Jordan tersenyum kecut ketika teringat kebodohan sang ibu yang menjual rumah itu kepada Amy.


"Cerita yang mengharukan!" Amy tersenyum miring seraya melipat lengan di depan dada.


"Kalau begitu, sesuai isi perjanjian itu ... kamu hanya boleh tinggal maksimal enam bulan. Ah, aku akan memberikan tambahan poin kontrak mengingat kamu sangat mengharapkan rumah ini kembali kepadamu." Amy menatap serius ke arah Jordan yang kini sedang menanti kalimat selanjutnya dari Amy.


"Kamu boleh membeli kembali rumah ini hanya dengan lima kali lipat harga beli dari ibumu!"


Sontak hati Jordan meletup-letup bahagia. Dia spontan menarik lengan Amy dan memeluk gadis itu. Melihat senyum Jordan entah mengapa membuat Amy ikut tersenyum lebar.


Gadis itu selalu suka melihat senyum orang lain yang timbul karena perbuatan baik yang dia lakukan. Sedetik kemudian barulah Amy tersadar. Amy mendorong dada Jordan hingga pelukan keduanya terlepas.


Namun, sialnya Jordan kehilangan keseimbangan. Dia meraih lengan Amy dan tubuh mungil gadis itu berakhir di atas Jordan. Ada hal yang lebih parah dari itu, bibir Amy mendarat tepat di atas bibir Jordan.


"Apa yang kalian lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2