
Hampir satu minggu perang dingin antara Amy dan Jordan berlangsung. Mereka tidur di kamar terpisah dan tidak saling bertegur sapa. Jordan memilih untuk ikut diam.
Pagi itu sebelum pergi ke kedai, Jordan menyiapkan sarapan untuk Amy. Dia menatanya rapi di atas meja. Ketika melirik jam tangan, jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan.
"Kok belum bangun?" gumam Jordan.
"Bu, Amy belum bangun, ya, tadi?" tanya Jordan ketika sang ibu keluar dari toilet yang ada di dekat dapur.
"Belum, semalam dia lembur sampai menjelang pagi."
"Astaga! Kenapa ibu membiarkannya?"
Jordan langsung melepas celemek, kemudian membantingnya kasar ke atas meja. Setelah itu, Jordan berjalan cepat ke arah kamar Mona diikuti oleh perempuan tersebut. Jordan langsung membuka pintu lebar, sehingga kini tampak Amy yang sedang duduk bersandar pada dasbor ranjang.
Wajah Amy tampak pucat. Area bawah matanya juga bengkak dan tampak lebih gelap. Jordan langsung menghampiri Amy, lalu memegang telapak tangan sang istri.
"Kamu kenapa?"
"Perutku sakit." Suara Amy terdengar lemah dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
Jordan langsung menggendong sang istri dan berlari cepat ke arah garasi. Dia mengatakan kepada sang istri untuk berpegangan kuat. Jordan langsung melajukan motor menuruni lembah.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat parkir, Jordan bergegas melajukan mobil ke klinik terdekat. Alangkah terkejutnya Jordan ketika dia mendapati Julia juga praktik di sana. Amy langsung dipindahkan ke atas brankar.
Jordan menggenggam jemari sang istri untuk memberinya kekuata. Amy terus merintih dan keringat sebesar biji jagung terus keluar membasahi dahi perempuan itu. Jordan mengecup puncak kepala Amy untuk memberinya semangat.
"Perutku rasanya semakin sakit, Jordan!" Amy terus merintih seraya mendesis kesakitan.
"Bertahanlah, kamu akan baik-baik saja!"
Jordan melepaskan genggaman tangan dari jemari Amy. Amy pun segera dibawa masuk ke ruang UGD. Ketika Julia hendak masuk ke UGD, Jordan mencegahnya.
"Julia, aku mohon lakukan apa pun untuk menyelamatkan Amy dan bayi kami!" Jordan menggenggam jemari Julia.
Mata Jordan tampak merah karena menahan air mata. Julia terdiam sejenak. Ada pikiran buruk yang berulang kali timbul tenggelam di kepalanya.
"Julia, harapanku ada di tanganmu dan kehendak Tuhan." Kini mata Jordan mulai berkaca-kaca.
Julia hanya diam. Tidak ada kalimat apa pun yang keluar dari bibir dokter cantik itu. Setelahnya Julia melirik tangan Jordan yang masih menggenggam erat jemarinya.
Julia mengibaskan kasar lengannya karena teringat perlakuan dingin Jordan di malam terakhir kali mereka bertemu. Dia balik kanan kemudian masuk ke ruang UGD seraya tersenyum miring. Julia begitu kesal ketika melihat bagaimana Jordan memohon kepadanya, lelaki itu menjatuhkan harga diri demi keselamatan istri serta putranya.
"Aku sangat iri kepadamu, Amy!" Julia menatap tajam Amy yang masih kesakitan sambil tersenyum kecut di balik masker.
Jordan menunggu hasil pemeriksaan serta penanganan sang istri. Kakinya tidak bisa diam ketika duduk di bangku. Sesekali Jordan mondar-mandir sambil menggigit ujung jari.
__ADS_1
Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya Julia keluar dari ruang UGD. Dia menatap Jordan dengan tatapan yang sulit diartikan. Jordan pun bergegas menghampiri Julia.
"Bagaimana istriku?" tanya Jordan panik.
Julia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya. Setelah itu Julia melipat lengan di depan dada.
"Kamu membuat istrimu stres! Maaf untuk mengatakan ini. Tapi, aku harus mengatakannya!" Julia berkacak pinggang dengan tatapan menusuk ke arah Jordan.
"Aku cemburu! Aku iri sama Amy karena mendapatkan cinta yang begitu besar darimu! Sayangnya kamu kurang sabar saja dalam menghadapinya! Ibu hamil itu mental dan perasaannya naik turun! Jadi, kamu harus banyak bersabar!" Julia berdecap kesal sembari menggeleng.
"Lalu sekarang bagaimana keadaan Amy?" tanya Jordan lagi.
"Dia sudah membaik, segera minta maaf sana! Selalu ingatkan istrimu untuk istirahat cukup, makan dua kali lipat lebih banyak, dan jaga terus kesehatan mentalnya! Itu merupakan tugas dari seorang suami dan calon ayah! Merepotkan sekali!" Julia berlalu meninggalkan Jordan yang kini mematung.
Setelah terdiam dalam beberapa detik, akhirnya Jordan kembali sadar. Dia balik kanan kemudian tersenyum lebar. Lelaki itu berteriak untuk mengucapkan terima kasih, sampai lupa kalau sedang berada di klinik yang seharusnya tidak boleh berisik.
Julia pun terus berjalan tanpa menoleh. Dia hanya mengangkat lengannya tinggi-tinggi sembari mengacungkan jempol. Setelah sampai di ruangannya, Julia langsung duduk menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Julia merenung sejenak. Tak lama berselang, perempuan itu membuka laci meja kerja dan mengeluarkan sebuah bingkai foto dari dalam sana. Dia menatap foto masa SMP-nya bersama Jordan.
"Ternyata selama ini hanya aku yang terlalu percaya diri, sehingga memendam perasaan sendirian." Julia tersenyum miring ketika menatap bingkai foto itu.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Dia melirik ke arah benda pipih itu dan membaca deretan huruf yang muncul pada layar yang berkedip. Dia langsung membuang napas kasar.
__ADS_1
"Kenapa lagi dia?"